<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138</id><updated>2011-08-23T00:29:57.136-07:00</updated><title type='text'>pop | arts whatever</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>102</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3458491444565320360</id><published>2008-09-26T00:20:00.000-07:00</published><updated>2008-09-26T00:23:51.169-07:00</updated><title type='text'>Ketik Reg (spasi) Salat: Komodifikasi Agama pada Bulan Puasa</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Takbiratul ikram yang benar akan menghidarkan Anda dari serangan jantung. Sujud yang tumakninah akan membuat Anda terbebas dari penyakit liver....ingin tahu khasiat gerakan-gerakan salat bagi kesehatan Anda, ketik...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ustad yang jualan salat dengan kalimat-kalimat di atas, tampil gagah dan menggebu-nggebu dalam iklan yang ditayangkan di acara-acara sahur. Begitulah, komersialisasi dan komodifikasi agama di televisi pada bulan puasa tahun ini sudah mencapai taraf yang gila-gilaan. Kita sudah terbiasa dengan iklan-iklan yang mencoba menyentuh sentimen (ah, bilang aja menjilat, susah amat!) kaum muslimin dengan mengaitkan produk-produk tertentu dengan kelancaran aktivitas berpuasa. Misalnya, "berbukalah dengan yang manis" atau "promag mengucapkan selamat menjalankan ibadah puasa" atau yang belakangan "selama puasa kita perlu makanan yang bergzi...makanlah soziz saat sahur dan berbuka." Ya, ya, ya kita sudah terbiasa dengan itu semua tapi ketika kini bahkan salat pun "ikut" dijual, dengan cara yang begitu vulgar, yang mengingatkan kita pada para paranormal yang ramai-ramai berjualan mantra dan primbon lewat SMS, kita pun terperangah. Semua tiba-tiba terasa seperti omong kosong besar yang membuat kita geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat kata-kata Emha Ainun Nadjib suatu ketika, "Puasa kok suasananya lebih ribut dibanding tidak puasa. Puasa cap apa itu. Wong namanya saja puasa kok ribut...ribut jualan kue puasa, jajan puasa, kado puas, lawakan puasa, ustadz puasa, album puasa, kolak gethuk puasa...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laporan terbaru dari komoditas dan industri Ramadhan: Esia mengeluarkan HP Esia Hidayah, yang berisi ayat-ayat Al Quran sehinga umat Islam bisa belajar dengan mudah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dalam iklan terbarunya, sebuah merk cairan untuk mengepel lantai mengingatkan, "lantaimu adalah tempat ibadahmu", dengan produk pembersih lantai ini salat tak perlu lagi pakai alas tikar atau sajadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pemasar di Indonesia rupanya telah menemukan paradigma baru marketing: apa pun produknya, penetrasi lewat agama! Ah, pasti ini sama sekali bukan paradigma baru. Sebab, pada kenyataannya, bukankah sejak dulu telah diyakini dan memang terbukti bahwa menjual agama adalah cara paling ampuh untuk membujuk rayu konsumen di negeri yang penduduknya konon sangat relijius ini? Tak perlu kreativitas tinggi-tinggi, tak perlu banyak energi untuk mikirin yang namanya konsep dan sebagainya. Bikin saja iklan yang ada adegan salatnya, ada toko ustadnya (yang kalau perlu diperankan oleh seorang ustad beneran), dengan dialog yang menggunakan kalimat-kalimat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tayyibah&lt;/span&gt;, seperti "alhamdulillah, sekarang sudah ada bla bla bla..." Umat yang jumlahnya ratusan juta ini masih banyak yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;bodo&lt;/span&gt; kok. Bikin saja &lt;span style="font-style: italic;"&gt;copywrite&lt;/span&gt; semisal, "dengan memakai sarung ini, insya allah salat akan lebih kusyuk", atau "makanlah mie ini, Anda akan masuk surga", pasti mereka percaya. Sumpah. So, ayo, ayo jangan sungkan-sungkan, jual Islam!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3458491444565320360?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3458491444565320360/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3458491444565320360' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3458491444565320360'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3458491444565320360'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/09/ketik-reg-spasi-salat-komodifikasi.html' title='Ketik Reg (spasi) Salat: Komodifikasi Agama pada Bulan Puasa'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6290150596373770217</id><published>2008-08-25T23:43:00.000-07:00</published><updated>2008-08-26T00:03:18.028-07:00</updated><title type='text'>Usaha Menjadi Indonesia dengan Batik</title><content type='html'>&lt;div class="bodytext" id="item_body" author_possessive="rumputeki's" author="rumputeki"&gt;Aku pulang ke Solo dan mendapati pemandangan yang tak biasa. Di mana-mana orang memakai baju batik, laki-laki, perempuan, tua, muda sampai anak-anak. Mereka berbatik ria dalam berbagai kesempatan. Pendek kata, jalan-jalan di mal, di arena-arena nongkrong anak muda, tempat-tempat makan, sejauh mata memandang akan kepentok pada sosok-sosok yang mengenakan busana batik dengan senyum ceria dan aura wajah bangga. Sebenarnya agak ironis juga kalau tadi di awal saya bilang pemandangan yang tak biasa. Secara, ini Solo gitu loh, kota yang dikenal sebagai salah satu asal budaya batik --selain Yogyakarta, Pekalongan dan Cirebon. Tapi, memang begitulah kenyataannya, bahwa di kota asalnya sekali pun, batik baru menjadi budaya massa hari-hari ini saja, tidak sejak dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, yang terjadi, batik adalah busana formal, resmi, yang hanya dipakai untuk keperluan-keperluan terkait seremoni dan resepsi. Dengan kata lain, dalam waktu yang sangat lama, batik identik dengan citra high profile, komoditi para perancang busana, pakaian eksklusif sekelompok masyarakat kelas elit, atau lebih apes lagi, sekedar simbol retorika nasionalisme para pejabat. Tentu saja, sejak dulu batik murah juga ada, yang sesuai dengan pasar masyarakat kebanyakan, tapi sekali lagi, penggunaannya pun sangat terbatas, tidak pernah kunjung populer sebagai "pakaian sehari-hari" atau "baju gaul". Saya sendiri kebetulan (atau bukan kebetulan) punya pengalaman pribadi yang cukup emosional dengan batik. Ketika masih kecil dulu, setiap lebaran, baju baru yang dibelikan oleh ayah saya selalu batik. Dan, itu tidak terjadi pada anak-anak lain di kampung. Saya tidak tahu, mengapa ayah saya selalu memilihkan baju batik untuk saya berlebaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan lagi (atau bukan kebetulan lagi), salah satu kakak saya kemudian bekerja di Pekalongan, dan setiap kali pulang, oleh-oleh yang dibawakan untuk saya tak lain baju batik! Jadi, kalau ngomong-ngomong soal batik, terutama dalam konteks tren fashion belakangan ini, saya sudah kenyang semasa kecil dulu. Termasuk, tentu saja, kenyang diledeki teman-teman sebaya saya. "Nganggo batik koyo wong tuo." Begitulah, bahkan dalam alam pikiran anak-anak pun, sejak dini tertanam bahwa batik itu identik dengan orang tua. Entah, datang dari mana sosialisasi seperti itu. Ketika beberapa waktu lalu tiba-tiba Malaysia mengklaim bahwa batik merupakan budaya milik mereka, bangsa ini mendadak-sontak tersengat, mak-jenggirat, seperti orang yang sedang tiduran tiba-tiba dijambak rambutnya dari belakang, kaget, merasa sakit, marah, lalu mulai menimbang-nimbang, memikirkan kembali banyak hal....dan, hasilnya, batik tiba-tiba --boom!-- menjamur di mana-mana, menjadi tren yang menggoda semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grosir-grosir di Pasar Klewer Solo mendadak sibuk berat, kebanjiran pesanan dari Jakarta, sampai kewalahan, tapi senang, panen uang dan produksi pun terus digenjot. Untuk pertama kalinya, baju batik menjadi begitu massif, layaknya sandal kepit atau kaos oblong yang dicari orang setiap saat. Wali kota Solo yang dipuja-puja warganya sebagai pamong yang kreatif dan jenius, Joko Widodo, dengan sigap menggelar Karnaval Batik. Salah satu produsen batik terbesar di Solo, 22 Agustus lalu meresmikan The House of Danar Hadi, sebuah pusat batik yang prestisius, yang resepsinya dihadiri orang-orang penting dari Ibukota. Memakai batik tiba-tiba tidak hanya terasa begitu membanggakan, tapi juga bergengsi, berbudaya, nasionalis, gaul dan funky. Saya tenggelam dalam histeria itu, tak mau ketinggalan momen, berjalan-jalan menyusuri pusat-pusat keramaian dengan celana jins dan baju batik coklat tua motif sido mukti yang saya beli dari Pusat Grosir Solo dengan harga relatif sangat murah. Dalam hati saya berkata, mudah-mudahan batik adalah "kasus" terakhir, dimana kita sebagai pemiliknya baru merasa bangga dan nyaman menyatakan diri sebagai pemiliknya setelah ada orang lain, negara lain, ujug-ujug mengklaimnya. Kita bukan bangsa yang bebal....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, syahdan, singkat cerita, sambil memasukkan-masukkan baju batik yang telah saya borong ke dalam tas sebelum kembali ke Jakarta, dengan menggebu-nggebu dan berapi-api saya berkata kepada kakak saya, "Pokoknya, saya akan lebih memasyarakatkan batik sebagai busana kerja dan gaul di Jakarta." Saya juga membayangkan, seru juga kali ya clubbing pakai batik. Semua itu membuat saya bersemangat. Kebetulan (aduh, sudah tiga kali kebetulan ya) hari pertama masuk kerja setelah cuti, saya ada seminar di Hotel Mulia. Kesempatan, pikir saya. Kesempatan untuk berbatik ria agar membuat orang terinspirasi dan terdorong untuk lebih terbiasa memakai batik. Dengan dada membusung dan kepala mendongak saya berjalan melintasi lobi hotel. Orang-orang yang sedang duduk di situ memandang saya. Petugas hotel juga memperhatikan saya lekat-lekat. Ketika registrasi di meja panitia, dua perempuan Cina yang cantik menatap saya takjub. Karena saya datang agak terlambat, saya pun menjadi pusat perhatian ketika memasuki ruangan. Beberapa menit duduk, saya mulai merasa tidak pede. Saya merasa berpasang mata dari para peserta seminar berkali-kali menoleh ke arah saya. Saya pun berkali-kali mengedarkan pandangan. Kemeja-kemeja lengan panjang. Jas. Dasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak saya mulai gelisah. Batik lengan pendek yang menempel pas di tubuh saya tiba-tiba membuat saya gerah. Padahal ruangan seminar itu jelas ber-AC. Dingin sekali malah. Saya mencoba menenangkan diri. Sebuah upaya yang mulia biasanya memang penuh tantangan pada awalnya. Santai, Mu. Saya menarik nafas, dan minum air putih yang tersedia di gelas bertangkai di atas meja. Ketika siangnya saya ke kantor, saya sudah siap dengan sambutan teman-teman saya, yang akan terbangkitkan nalurinya untuk lebih mencintai batik dan memakainya sebagai busana kerja, setelah melihat saya hari itu. Saya melangkah memasuki kantor saya. "Mas Mumuuu...waaaaah pakai batik, mentang-mentang habis pulang kampung," teriak teman yang pertama kali melihat kehadiran saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum-senyum saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duduk di depan komputer, teman lain menghampiri. "Habis kondangan di mana, Bapak Mumu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak. Oh, kebangaan nasional, oh identitas budaya bangsa!&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="CLEAR: both"&gt;&lt;!-- --&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6290150596373770217?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6290150596373770217/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6290150596373770217' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6290150596373770217'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6290150596373770217'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/08/usaha-menjadi-indonesia-dengan-batik.html' title='Usaha Menjadi Indonesia dengan Batik'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2840281381493853647</id><published>2008-08-05T02:27:00.000-07:00</published><updated>2008-08-05T02:41:05.926-07:00</updated><title type='text'>Surat Terbuka untuk "Gerhana Kembar" *)</title><content type='html'>oleh D Jayadikarta, dari Sidney&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menghadiri peluncuran Antologi Cerpen &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rahasia Bulan&lt;/span&gt; di Aksara Kemang beberapa tahun yang lalu, salah seorang jurnalis sebuah stasiun televisi swasta mendekati saya untuk melakukan wawancaranya. Dan saya dengan tegas menolaknya. Sebagai seorang gay, bukannya saya takut mendapat stigma buruk masyarakat terhadap status orientasi seksual saya, namun saya tak mau, dengan segala prasangka negatif yang sangat intoleran, profil saya ditempatkan dan disamakan dengan seorang pelacur. Padahal saya bukan seorang gigolo, atau seorang laki-laki yang terjerumus di dunia gay (karena saya tidak merasa dijerumuskan, apalagi menjerumuskan diri), dan saya juga bukan pekerja dunia malam lainnya. Saya memiliki karir yang cukup bagus di studio Fox Sydney. Saya telah menulis beberapa cerpen dan pernah dimuat di media massa, dan saya juga telah mempublikasikan novel pertama saya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Totem&lt;/span&gt; dan saat ini baru saja merampungkan novel kedua. Pendek kata, saya tak kalah sukses dengan beberapa eksekutif muda di Jakarta yang dapat dengan bangga tampil mengisi rubrik-rubrik profil majalah ibukota dan stasiun-stasiun televisi swasta. Namun, pada sebuah wawancara sebuah peluncurun buku di toko buku Aksara (bila saat itu saya menerimanya), profil saya akan berakhir di "Buletin Malam" atau "Jakarta Undercover". Saya tidak akan ditampilkan secara wajar layaknya seorang yang bangga dengan karir dan kehidupannya, namun saya menjadi ikon gelap yang harus bersembunyi (atau dipaksa disembunyikan sehingga berkesan misterius dan dosa) seperti layaknya pelacur di klub-klub murahan ibukota. Hal inilah yang membuat saya menolak mentah-mentah wawancara itu. Bagi kaum gay, mereka sadar dan tahu betul bagaimana tragis dan mirisnya melihat perlakuan media di Indonesia. Tapi bagi masyarakat luas, dunia gay adalah tak lebih dari publikasi media yang penuh kegelapan, misteri, dan dosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kaitannya dengan kasus di atas, setelah membaca &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gerhana Kembar&lt;/span&gt;, Clara Ng telah menempatkan tema GLBT, baik disengaja ataupun tidak, dalam wacana lain kesusastraan Indonesia. Ia juga telah berani menyampaikan pesan khusus kepada publik bahwa persoalan GLBT tidak lagi dilihat dari sudut pandang negatif yang pada umumnya mencoba menafsirkan kaum gay dari sudut pandang yang sangat totalitarian dan disorientatif , yaitu kaum gay adalah tak ubahnya dengan pendosa, dan prostitusi. Hingga, di Indonesia, bila kita berbicara tentang homoseksualitas, pasti lah media telah dengan salah kaprah menempatkannya dalam program khusus dunia malam daripada menempatkannya pada rubrik profil orang-orang sukses, misalnya. Padahal, menjadi gay, tidak lah bisa melihatnya hanya dari orientasi tertentu saja, yang celakanya orientasi itu sangat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;homophobic&lt;/span&gt; dan negatif. Melainkan mendekonstruksi dan merekonstruksinya ke dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;platform&lt;/span&gt; dan perspektif baru, yaitu menjadi gay lebih merupakan pilihan hidup yang sangat dan teramat manusiawi; yaitu permasalahan dunia gay juga tak ubahnya seperti permasalahan masyarakat pada umumnya; berjuang mencari pekerjaan tetap, jatuh cinta dan ditolak, masih berjuang mencari pasangan, masih bergelut untuk melunasi cicilan rumah atau bayar kos, dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila melihat dari sudut pandang seorang penulis seperti Clara Ng ini, ia telah melakukan pendekatan—yang walaupun tidak baru—kepada masyarakat luas; yaitu memandang percintaan hubungan sesama jenis dengan teramat manusiawi tanpa unsur prasangka yang buruk. Sungguh, ini merupakan poin khusus untuk Clara, yang mencoba menggarap novel bertema GLBT. Namun, yang sangat mengecewakan dari literatur-literatur bertema GLBT di Indonesia termasuk &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gerhana Kembar&lt;/span&gt; ini adalah, saya belum pernah membaca karya para penulis yang memberikan ruang kritik 'khusus yang peduli namun tetap toleran' kepada kaum gay sendiri. Hingga karya-karya semacam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gerhana Kembar&lt;/span&gt; ini, untuk kaum gay sendiri, tidak memberikan sesuatu yang baru melainkan proses penyampaian percintaan sesama jenis "biasa" yang dibungkus dalam kemasan yang lebih menyentuh dan manusiawi. Taruh saja bila nama Henrietta saya ganti menjadi Henri dan Diana tetaplah Diana. Novel ini hanya akan berakhir menjadi roman percintaan sepasang kekasih dimasa lalu, seorang laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta dengan segala permasalahan percintaan mereka. Dan lucunya, bila pun Clara mengubah percintaan tokohnya menjadi percintaan heteroseksual, saya tetap menikmati membaca&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Gerhana Kembar&lt;/span&gt; seperti layaknya novel percintaan biasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa bedanya menulis dengan menempatkan karakter gay/lesbian dengan karakter heteroseksual atau sebaliknya bila menulis novel bertema gay tidak menjanjikan apalagi melahirkan kritik dan wacana baru terhadap kehidupan gay sendiri? Bukan kah permasalahan kehidupan gay, khususnya di Indonesia, tidak semata berasal dari penerimaan masyarakat yang homophobic dan media-media yang selalu menghubungkan dunia gay dengan secara salah kaprah dan tragis hingga menjadi gay tak ubahnya menjadi seorang pelacur? Bukan kah permasalahan dunia gay di Indonesia saat ini, bagaimana pun berpulang kembali kepada kaum gay itu sendiri: bagaimana mengubah citra buruk itu ke dalam perspektif baru yang segar; tanpa prasangka yang negatif, bagaimana bergelut untuk menjadi diri sendiri di tengah masyarakat yang masih sangat intoleran terhadap pluralisme, bagaimana mengubah prasangka buruk bahwa menjadi gay bukan lah semata mencari kepuasan seks sesama jenis sebanyak mungkin, melainkan lebih kepada pilihan hidup yang layak dan manusiawi. Sepertinya, Clara Ng tidak atau belum berani melakukan dekonstrusi dan rekonstruksi secara internal terhadap permasalahan-permasalahan yang berhubungan dengan homoseksualitas dan kehidupannya di dalam&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Gerhana Kembar &lt;/span&gt;dan terus terang, sebagai seorang gay yang hidup ditengah prasangka buruk masyarakat, saya sangat dan teramat kecewa karena cerita ini tak ubahnya sebagai bentuk eksplotasi kehidupan gay belaka. Karya ini tidak lebih sebagai sebuah novel percintaan biasa sementara dilain pihak kaum gay sendiri menuntut, jika pun tidak sejauh mendambakan, lebih daripada itu, yaitu karya-karya yang berani memberikan pencerahan dan wacana baru terhadap permasalahan—baik itu internal maupun eksternal--homoseksualitas di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sydney, 4 Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Gerhana Kembar &lt;span style="font-style: italic;"&gt;adalah novel karya Clara Ng yang awalnya dimuat sebagai cerita bersambung di &lt;/span&gt;&lt;span&gt;Kompas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; yang banyak mendapat perhatian khusus karena mengangkat kisah percintaan lesbian. Novel ini akan didiskusikan dalam konteks tema besar "Perempuan, Seksualitas dan Media" di Goethe Haus, Jakarta Pusat, Jumat (8/8/08) pukul 19.00 WIB. Menghadirkan Maria Hartiningsih, Ratih Kumala, Alberthiene Endah sebagai pembahas.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2840281381493853647?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2840281381493853647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2840281381493853647' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2840281381493853647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2840281381493853647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/08/surat-terbuka-untuk-diskusi-novel.html' title='Surat Terbuka untuk &quot;Gerhana Kembar&quot; *)'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3400857662868642857</id><published>2008-06-23T02:33:00.000-07:00</published><updated>2008-06-23T02:38:58.697-07:00</updated><title type='text'>Film "Fiksi.": Dongeng dan Sosiologi Rumah Susun</title><content type='html'>Salah satu perkembangan yang cukup tebal mewarnai dunia penciptaan seni (sastra, film) di Indonesia adalah kecenderungannya untuk sejauh mungkin menghindari realitas. Penyair Afrizal Malna dengan eksentrik tapi benar mengibaratkan gejala semacam itu dengan ungkapan "seperti novel yang malas menceritakan manusia." Namun, jika disimak lebih dalam, karya-karya tersebut sebenarnya bukan menghindari, melainkan mendekati realitas dari arah yang lain. Masalahnya, bagi kita sebagai audiens  (pembaca, penonton), seberapa dalam kita harus menyimak, atau seberapa besar kesabaran kita, untuk sampai pada "kebenaran" bahwa ini tak lain persoalan pendekatan (bentuk) --hingga akhirnya kita tahu bahwa dari segi isi, karya-karya itu justru sebenarnya sangat ingin mengatakan sesuatu tentang realitas, dan bukan hendak menghindarinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton debut penyutradaan seorang pendatang baru bernama Mouly Surya lewat film berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fiksi.&lt;/span&gt;, problem seperti itulah yang saya hadapi. Saya nyaris kehilangan kesabaran sebelum akhirnya menemukan bahwa ini karya yang cukup cemerlang. Sepasang muda-mudi yang nonton bersama saya sore itu tidak memiliki kesabaran seperti saya, sehingga belum sampai separo durasi film berjalan, mereka sudah ngeloyor keluar dari gedung bioskop. Namun, ketika ada satu pasangan lagi menyusul bahkan setelah film melewati tiga perempat durasinya, saya pun berpikir kembali tentang kesabaran --benarkah itu problemnya? Mengapa bagi pasangan yang belakangan saya sebut itu, film ini seperti tidak menggerakkan mereka untuk penasaran, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;ntar ending-nya gimana ya? &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian awal, ketika sedang memperkenalkan tokoh utamanya, Alisha (Ladya Cherryl) saya sendiri merasa, film ini  kurang "menyedot" keingintahuan dan bahkan mungkin kepedulian kita. Seorang perempuan 20 tahun dari sebuah keluarga yang kaya raya --apa yang tak bisa dilakukannya? Kenyataannya, ia tak ubahnya boneka-boneka yang berjajar di kamarnya. Hidupnya sepi dan membosankan. Rumah yang ditinggalinya demikian besar, tapi ayahnya hanya datang sesekali. Ia hidup dengan seorang kepala rumah tangga (Rina Hasyim) dan sopir yang siap mengantarnya ke mana-mana. Ibunya? Belakangan kita tahu, lewat sejumlah kilas balik yang surealis, sang ibu sudah mati karena bunuh diri. Ada perempuan lain di hati sang ayah yang menyebabkan semua itu, namun tidak diceritakan. Alisha sempat menyinggung soal "perempuan (lain) itu" ketika makan bersama ayahnya, tapi lelaki itu tidak menggubris. Sampai akhirnya ada orang asing yang mengusik hari-hari beku Alisha. Dia seorang lelaki bertampang bad boy, yang beberapa hari menggantikan tukang kebun yang sedang mudik. Sepeninggalan lelaki itu, Alisha jadi kesepian lagi. Namun, kali ini dia sudah tahu penyebabnya dan oleh karenanya tahu bagaimana mengatasinya: harus mencari laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berhasil menemukan bahwa lelaki itu tinggal di sebuah rumah susun, Alisha pun nekat kabur dari rumah besarnya dengan mengelabuhi sopirnya, untuk menyewa sebuah kamar di sebelah tempat tinggal lelaki itu. Namanya Bari (Donny Alamsyah), seorang pekerja serabutan yang tengah berusaha menyesaikan novelnya, dan tinggal tinggal bersama pacarnya, Renta (Kinaryosih). Alisha yang dari awal memang terobsesi dengan Bari, akhirnya menyelingkuhinya di belakang Renta. Namun, bukan itu saja. Sejak pindah ke rumah susun itu, Alisha "tiba-tiba" menjadi psikopat yang mengguncang kehidupan rumah susun yang semula tenang. Tempo film yang awalnya "malas-malasan" berubah menjadi penuh ketegangan yang memacu degup jantung. Dan saya terus bertanya-tanya, kenapa sopir pribadi yang konon mantan intel dan disewa khusus untuk mengawasi Alisha itu tidak dikisahkan lagi, misalnya dia sedang kebingungan muter-muter Jakarta karena majikannya "lepas"?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai film berakhir, sopir dan kepala rumah tangga dan rumah besar itu benar-benar tak diceritakan lagi. Alisha menjadi tokoh "baru",  yang sakit jiwa dan membawa malapetaka bagi kehidupan di sekitarnya. Kita hanya bisa memaklumi, sejak awal dia memang misterius. Penampilan dan rias wajahnya mirip boneka, atau putri dari negeri dongeng. Tapi, dari mana sifat iblis itu tiba-tiba datang? Kita tidak diberi petunjuk dari masa lalunya, selain ibunya yang bunuh diri. Pada titik ini, problem psikologi yang melatari film ini menjadi tidak begitu meyakinkan. Saya kemudian justru menemukan, isu-isu sosial yang dikembangkan di sekitar tema utama menjadi lebih solid dan menarik. Inilah yang tadi di awal saya singgung, film yang tampaknya ingin lari dari realitas ini sebenarnya justru memiliki kepedulian sosial yang tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mengingat skenario film ini ditulis oleh Joko Anwar, kita kemudian melihat adanya kemiripan "pola" dengan salah satu karya dia sebelumnya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kala&lt;/span&gt; (bedanya yang satu disutradarai Joko sendiri dan satunya oleh orang lain). Tidak hanya dalam pendekatan noir yang diterapkan, kemiripan itu juga terjadi pada persambungan antara dongeng yang diusungnya dengan realitas-aktual di luar cerita. Pada&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kala&lt;/span&gt; kita masih ingat, ada isu kekerasan hingga politik. Pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fiksi.&lt;/span&gt;, ada isu sosiologis masyarakat kelas bawah yang harus membayar ongkos (baca: menjadi korban) pembangunan kota. Meramu dongeng (tentang putri dari dunia mimpi yang terobsesi pada cinta dan sebagainya) dengan kenyataan (kehidupan rumah susun yang sedang ditulis menjadi novel oleh salah satu penghuninya) bukankah hal yang mudah dan tak berisiko. Film ini dengan baik telah melakukannya, menaklukkan sejumlah risiko yang mungkin, dan dalam hal ini mungkin lebih baik ketimbang yang telah dicapai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kala&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3400857662868642857?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3400857662868642857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3400857662868642857' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3400857662868642857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3400857662868642857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/06/film-fiksi-dongeng-dan-sosiologi-rumah.html' title='Film &quot;Fiksi.&quot;: Dongeng dan Sosiologi Rumah Susun'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-414369806706796021</id><published>2008-05-14T02:49:00.000-07:00</published><updated>2008-05-14T02:52:48.620-07:00</updated><title type='text'>Kompilasi Film Pendek "9808": Cina dan Hal-hal yang Tak Akan Pernah Selesai</title><content type='html'>Baru sepuluh tahun, gumam Lucky Kuswandi. Dia mengingatkan agar orang-orang keturunan Cina di Indonesia tidak melupakan begitu saja luka-luka masa lalu, hanya karena kini Hari raya Imlek sudah ditetapkan sebagai hari libur nasional oleh pemerintah. Baru sepuluh tahun, gumamnya, seperti sebuah bisikan lirih yang nyaris tertelan kembali.  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Apakah kau yakin mereka sudah tak membenci kita lagi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bukan keturunan Cina, tapi saya merinding mendengar peringatan itu, dan pelupuk mata saya memanas oleh air mata yang saya tahan agar tidak tumpah. Lucky, lewat film pendeknya yang puitis berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;A Letter of Unprotected Memories&lt;/span&gt; adalah sebuah suara lain dari komunitas keturunan Cina yang tak pernah kita dengar dari saluran resmi. Dan, sebagai sebuah suara lain, yang mencoba mengatasi formalisme dan basa-basi bahasa kekuasaan, suara itu terdengar begitu lugas, telanjang, jujur. Pada satu titik, kejujuran Lucky bahkan mengagetkan, yakni ketika dia meragukan dirinya sendiri apakah sudah bisa mencintai negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Lucky Kuswandi tersebut merupakan satu dari 10 film pendek yang dikompilasi di bawah judul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;9808&lt;/span&gt;. Di bawah supervisi Prima Rusdi, Hafiz dan Edwin, kompilasi tersebut dimaksudkan untuk menandai 10 tahun reformasi. Setelah diputar perdana di Kineforum, TIM, Jakarta, Selasa (13/5/08) film ini bisa disaksikan oleh masyarakat umum di tempat yang sama hingga 20 Mei 2008, dan rencananya akan dikelilingkan ke kampus-kampus di berbagai kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bentuk respon, referensi dan  gaya ungkap masing-masing, 10 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmmaker &lt;/span&gt;mencoba memaknai dan menafsirkan apa itu reformasi, setelah 10 tahun bergulir terhitung sejak lengsernya Soeharto pada 1998. Kita mendapatkan respon dan tafsir yang beragam, namun ada garis tebal yang menyita perhatian dari sana, yakni separo dari isu yang muncul berkaitan dengan "isu-Cina". Ariani Darmawan lewat karya berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sugiharti Halim&lt;/span&gt; misalnya, dengan pendekatan komedi yang sangat mengena, mengusung ironi di balik peraturan pemerintah yang mengharuskan orang keturunan Cina untuk memiliki nama Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti halnya Lucky, Ariani juga keturunan Cina dan karya mereka menjadi semacam pernyataan (politik) yang bersifat personal tanpa kehilangan daya gugahnya sebagai bahan perenungan bersama. Namun, sebagai sebuah bentuk respon, tidak semua dari 10 karya dalam kompilasi ini bersifat "curhat". Ucu Agustin misalnya, menyajikan reportase atas sosok Sumarsih, ibu dari korban Tragedi Semanggi 1 Wawan dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Yang Belum Usai&lt;/span&gt;. Dengan penuturan yang padu-padat, Ucu tidak hanya mengembalikan ingatan kita pada salah satu luka dari reformasi. Lebih dari itu, ia juga berhasil menggambarkan perubahan hidup seorang perempuan warga sipil biasa dari ibu rumah tangga yang rajin ke gereja menjadi demonstran "radikal" yang gigih --mungkin sampai akhir hayatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk reportase juga disajikan oleh Steven Pillar Setiabudi lewat &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sekolah Kami, Hidup Kami&lt;/span&gt;. Tidak secupu judulnya, film berdurasi kurang dari 12 menit ini mencengangkan kita dengan "temuan" di kota kecil nun jauh dari Jakarta: sebuah gerakan anti korupsi yang dilancarkan oleh pengurus OSIS SMU 3 Solo terhadap kepala sekolah dan guru-gurunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lucky, Ariani, Ucu dan Pillar menurut saya termasuk yang berhasil mengkomunikasikan isi kepala dan kegelisahan mereka dalam merespon tema besar dan gawat "10 tahun reformasi". Artinya, jujur saja, memang tidak semua karya dalam kompilasi ini berhasil berbicara secara jernih dalam merespon isu yang disodorkan. Ada yang terkesan "bingung-sendiri" sehingga kehilangan poin dan tidak nyambung. Ada yang sok-asik, tapi jadinya malah hanya berisik. Ada yang terlalu filosofis sehingga jadinya malah tak bicara apa-apa. Ada yang terlalu "harfiah" dalam menerjemahkan "10 tahun reformasi" sehingga terasa kaku dan gagal memperkaya perspektif penonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira yang paling tampak berkilau adalah karya Ifa Isfansyah, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Huan Chen Guang&lt;/span&gt; (judul bahasa Inggris: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Happiness Morning Light&lt;/span&gt;). Di tangan Ifa, "10 tahun reformasi" menjadi isu yang begitu terbuka untuk dimaknai. Di sini, lagi-lagi, kita bertemu dengan "isu-Cina", namun Ifa mendekatinya dengan cara yang sama sekali berbeda. Ia mengolah satu keping realitas dari puing-puing kerusuhan massa yang mengiringi jatuhnya rezim Orde Baru, yakni perkosaan atas perempuan-perempuan Cina, menjadi sebuah fiksi yang halus. Film ini filosofis, tapi tak kehilangan pijakan; dramatis namun tak cengeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Layaknya kasus perkosaan Mei yang sampai sekarang tak pernah benar-benar diakui pernah terjadi, Ifa bermain-main antara realitas dan fiksi dengan secara simbolis memasukkan tokoh-tokohnya ke dalam dunia antara mimpi dan kenyataan. Secara teknis, Ifa juga menseriusi "proyek" ini dengan gambar-gambar yang diambil di lokasi-lokasi yang sulit sehingga hasilnya begitu utuh dan meyakinkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-414369806706796021?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/414369806706796021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=414369806706796021' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/414369806706796021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/414369806706796021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/05/kompilasi-film-pendek-9808-cina-dan-hal.html' title='Kompilasi Film Pendek &quot;9808&quot;: Cina dan Hal-hal yang Tak Akan Pernah Selesai'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3175776332903924440</id><published>2008-03-26T00:29:00.000-07:00</published><updated>2008-12-08T18:03:49.790-08:00</updated><title type='text'>Novel "So Real/Surreal" Nugroho Nurarifin: Dunia yang Mencekam</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R-n9gZ8yOKI/AAAAAAAAAAg/6Gkp48a6l3w/s1600-h/nugi.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5181951579429943458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R-n9gZ8yOKI/AAAAAAAAAAg/6Gkp48a6l3w/s320/nugi.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Para penulis yang bisa kita asumsikan sebagai kaum heteroseksual cenderung memiliki imajinasi tertentu yang seragam atas homoseksualitas. Ini tentu tidak terlalu mengherankan karena mereka bagian dari masyarakat secara umum yang masih selalu melihat orang-orang homoseksual secara stereotip. Bagi mereka, sepertinya, lelaki-lelaki gay adalah potret paling sempurna dari derita manusia yang kesepian, pecundang sejati, celaka, dengan masa lalu yang kelam (diperkosa ayah tiri).&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Novel kedua Nugroho Nurarifin ini (setelah debut berjudul &lt;em&gt;Bidik&lt;/em&gt;) menampilkan tokoh utama seorang lelaki seperti itu, dan nyaris saja terjatuh ke dalam klise yang sama sekali tidak berguna bagi apa pun. Tapi, Nugi, panggilan akrab penulis favorit saya ini, bukanlah novelis sembarangan. Dua kritikus sastra bernama Nirwan (satu Dewanto dan satu lagi Arsuka) memang belum pernah mentahbiskan namanya. Namun, percayalah, penulis-penulis terbaik yang lahir di negeri ini memang hampir selalu luput dari pengamatan mereka yang dipuja-puja sebagai kritikus (sastra). &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dulu, tokoh sebesar HB Jassin masih sempat dan mau membaca novel &lt;em&gt;Ben&lt;/em&gt; karya Gus tf Sakai yang --kala itu masih-- tergolong “pop” dan “remaja”. Tapi, sekarang, para kritikus sastra yang angker-angker itu kesibukan terbesarnya hanyalah mengangkat-angkat Avi Basuki agar semua orang yakin bahwa mantan peragawati itu bisa menulis cerpen. &lt;em&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;Lho, lho, lho lha ini kok malah ngomel.&lt;/span&gt;&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Kembali ke Nugi, ya, saya senang bahwa di tengah penulis-penulis putus asa yang selalu mengembe-embeli karya mereka dengan label “sebuah novel pembangkit jiwa” atau “novel pemacu motivasi”, ternyata masih ada penulis yang berani melenggang semata-mata sebagai “tukang cerita” dengan elegan, meyakinkan, percaya diri dan tentu saja, serius --yang terakhir ini perlu digarisbawahi karena banyak sekali sekarang ini orang yang frustrasi dengan kehidupan dan kariernya, lalu “menjadi” novelis dan menulis sesuatu yang aneh-aneh, sok nyeleneh, maunya nyentrik, hiperbol, berlagak pemberontak, tapi otaknya mesum belaka, rendah imajinasi, dan seterusnya dan seterusnya &lt;span style="font-size:130%;"&gt;dan seterusnya dan seterusnya&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:180%;"&gt;dan seterusnya dan seterusnya &lt;strong&gt;DAN SETERUSNYA!!!!!!!&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Sampai kita muak.Novel ini, saya bangga merekomendasikannya kepada Anda, sebaliknya: sederhana tapi kuat, tidak menggebu-gebu tapi jernih, tidak terlalu baru dan mungkin juga tak cerdas-cerdas amat tapi berhasil melarikan diri dari kutukan terbesar yang merundung penulis Indonesia: klise. Taruhlah, kau orang yang cukup ngelotok dengan teori-teori Baudrillard, Eco dan filsuf-filsuf kontemporer yang sinting-sinting itu (yang menjadi pondasi tempat novel ini berpijak --sehingga kau mungkin akan menganggap si Nugi ini tak ubahnya mahasiswa puber yang sedang termehek-mehek dengan ide-ide tentang simulacrum, hiperealitas dan sebagainya), novel ini tetap menawarkan sesuatu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan kata lain, inilah novel-ide yang tidak garing (yup, novel-ide biasanya garing dan membosankan), atau dalam bahasa-templete-ala-kritikus: Nugie berhasi memadukan antara kejelasan ide dengan keterampilan mengembangkan alur cerita dengan baik. Novel ini berangkat dari ide abadi tentang keterasingan manusia, namun bukan dalam konteks klasik Marxisme, melainkan dalam konteks budaya (komunikasi) massa era blog sekarang ini. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dari awal, perhatian kita langsung dibetot (atau disedot?) oleh tokoh utama yang memperkenalkan diri sebagai orang yang menjalani “hidup sekali pakai”: &lt;em&gt;Aku makan dengan piring-piring styrofoam, minum dengan gelas-gelas plastik, susuku tersedia dalam karton-karton mungil sekali minum…Celana dalamku kertas, aku tidur di dalam sleeping bag yang kuganti setiap bulan…Hdup sekali pakai. Itulah yang kumiliki…Semua yang sifatnya jangka panjang hanya akan melukai….&lt;/em&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Saya kira saya belum pernah menemukan pembukaan novel seindah dan semisterius itu. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Di belantara dunia nyata sekaligus maya bernama Jakarta, alkisah, dia seorang pegawai biro perjalanan kecil di Setiabudi. Dan, di belantara dunia maya sekaligus nyata bernama internet dia adalah diri yang lain, yang memiliki kepribadian dan obsesi serta harapan yang lain lagi. Hidup adalah kesibukan hilir-mudik dari dunia yang nyata ke dunia yang maya meskipun kita tak pernah benar-benar bisa membedakannya. Dalam ruang tanpa batas antara yang real dan yang khayal, hidupnya yang sepi bersilang jalan dengan Nugroho Nurarifin (ya, si Nugi ini memakai namanya sendiri sebagai tokoh dalam novelnya), seorang penulis novel dan &lt;em&gt;copywriter&lt;/em&gt; di agensi iklan Pantarei, yang terbosesi dengan eksperimen seksual tertentu. Pada saat yang sama, Anisa, pasangan Nugroho, juga terjebak dalam affair singkat dengan seorang pengusaha muda bidang media benama Raymond. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Dengan perangkat teori-teori budaya (massa) kontemporer sebagai bingkai, Nugi telah mempersembahkan dongeng tentang kesepian manusia dengan cara yang paling kelam dan mencekam yang pernah diceritakan. Pada akhirnya, kita memang bisa menerima jika homoseksualitas (masih) ditampilkan dengan begitu stereotip, karena kehadirannya bermakna ganda, simbolis sekaligus sebagai subteks “&lt;em&gt;gay-life&lt;/em&gt;” itu sendiri dalam sosialisasinya di dunia nyata dan maya, dan sebagai bagian dari kehidupan sosial masyarakat urban megapolitan. Meskipun, pada titik ini Nugi gagal menghindari kelemahan yang biasanya menghinggapi novel-novel ide: menyederhanakan sesuatu (hubungan antartokoh dan sebagainya) yang mestinya kompleks, demi mengejar tercapainya (atau terbuktinya) ide yang dihipotesiskan. Misalnya, pada bagian akhir kita akan menemukan, &lt;span style="font-size:130%;"&gt;&lt;em&gt;ooo ternyata Raymond itu bla bla bla&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;….sebuah kejutan kecil ala sinetron atau semacam faktor kebetulan yang selalu menghiasi alur film Indonesia. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;Fakta tersebut sedikit membuat kita &lt;em&gt;down&lt;/em&gt;, karena merasa kehilangan sebuah misteri atau ambiguitas yang sebelumnya menyelimuti kepala kita. Namun, dengan &lt;em&gt;ending&lt;/em&gt; yang masih menunjukkan bahwa Nugi adalah penulis dengan kontrol diri yang terjaga dan tahan godaan, misteri dan ambiguitas yang meneror itu, kalau memang ada, tidak sepenuhnya hilang, sehingga novel ini tetap meninggalkan satu lobang kecil di jiwa kita, yang membuat kita sakit, menjerit, mengumpat dan terkapar dengan nafas terengah-engah, lalu merasakan udara di sekeliling kita &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;g e l a p... &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3175776332903924440?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3175776332903924440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3175776332903924440' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3175776332903924440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3175776332903924440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/03/novel-so-realsurreal-nugroho-nurarifin.html' title='Novel &quot;So Real/Surreal&quot; Nugroho Nurarifin: Dunia yang Mencekam'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R-n9gZ8yOKI/AAAAAAAAAAg/6Gkp48a6l3w/s72-c/nugi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-5375038570450903081</id><published>2008-03-03T20:51:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T18:03:50.006-08:00</updated><title type='text'>Lari dari Blora</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R8ziqkUg3AI/AAAAAAAAAAY/5R83Zx7iTFM/s1600-h/posterLDB-ed.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R8ziqkUg3AI/AAAAAAAAAAY/5R83Zx7iTFM/s320/posterLDB-ed.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5173759292873956354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div id="item_body" class="bodytext" author="rumputeki" author_possessive="rumputeki's"&gt;Dengan segala kekurangannya, saya cukup suka dengan film ini. Bukan karena perasaan ajaib dan haru bahwa di tengah judul-judul film yang makin absurd (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Antara Aku Kau dan Mak Erot&lt;/span&gt;? Oke, itu belum seberapa. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;40 Hari Bangkitnya Pocong&lt;/span&gt;?, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tali Pocong Perawan&lt;/span&gt;? Astagaaa) masih ada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmmaker&lt;/span&gt; (tak peduli dari generasi mana) yang mau bersusah-payah, menempuh jalan sunyi, memikul risiko untuk tidak populer, dengan mengangkat cerita seperti ini. Melainkan, karena saya memang merasa menyukainya begitu selesai menontonnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang narapidana melarikan diri dari penjara Blora, dan dalam pelariannya mereka memutuskan untuk bersembunyi di Desa Samin. Pada saat yang sama, seorang perempuan asal Amerika (yang telah lama tinggal di Semarang) baru saja datang ke desa itu meneliti ajaran Saminisme yang masih dianut oleh penduduk setempat. Ditambah dengan keberadaan seorang guru muda idealis dari kota yang memperjuangkan anak-anak Samin bisa bersekolah, dua narapidana dan peneliti bule yang cantik itu mengusik masyarakat desa yang sebelumnya hidup tenang dengan cara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan sebuah gambar-ala kartu pos seorang perempuan mengayuh sepeda di jalan yang membelah lereng gunung. Bertemu dengan serombongan laki-laki di keramaian, perempuan tadi langsung meninggalkan sepedanya begitu saja, dan beralih ke boncengan motor salah satu lelaki itu. Adegan ini cukup menjadi penjelasan awal tentang satu sisi masyarakat Samin yang serba “bebas”, termasuk dalam soal pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Selanjutnya, penjelasan lebih jauh tentang masyarakat tersebut membombardir penonton lewat adegan di dalam kelas sebuah sekolah sadar, ketika pak guru muda idealis tadi mengajar sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu alur berjalan datar, nyaris tanpa konflik yang berarti, lebih banyak penjelasan-penjelasan verbal yang panjang lebar ketimbang gambar-gambar yang dengan kuat “berbicara sendiri”. Pada titik tertentu, verbalitas film ini terasa sampai membosankan, misalnya adegan ketika guru muda idealis itu berdialog dengan sesepuh desa yang dipanggil Simbah, dan lebih-lebih pada adegan ketika guru itu berdebat dengan Pak Lurah yang tidak setuju dengan program menyekolahkan anak-anak Samin. Sampai di sini, penonton bisa menduga bahwa muara dari konflik film ini adalah tarik-menarik antara kepentingan pemerintah (yang ingin mempertahankan “keaslian” masyarakat Samin) dengan pak guru muda idealis (yang berpretensi ingin memajukan masyarakat).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ternyata tidak. Film ini melangkah lebih jauh lagi, nyaris tak terduga, dengan melarikannya ke dalam konteks “global”, yakni politik anti terorisme yang tengah gencar didengungkan oleh pemerintah pusat. Perjuangan pak guru muda idealis yang pantang menyerah, ditambah kehadiran peneliti dari Amerika dan dua narapidana pelarian menjadi pintu masuk bagi aparat kapubaten untuk melancarkan operasi keamanan dengan alasan, Desa Samin dicurigai berpotensi menjadi tempat persembunyian aliran sesat pelaku aksi terorisme. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Agak&lt;/span&gt; maksa? Atau, bahkan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;terlalu &lt;/span&gt;maksa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, sebenarnya ide mengaitkan ketertutupan masyarakat Samin dengan kemungkinan dijadikannya desa itu sebagai sarang teroris cukup menarik. Sayangnya, indikasi-indikasi yang dimunculkan kurang kuat. Guru muda idealis itu tetaplah hanya seorang guru yang memang masih muda dan idealis. Peneliti asing itu memang dari Amerika, tapi apakah itu serta-merta bisa dicomot sebagai simbol terorisme? Dan, dua narapida itu, setelah “meresahkan warga” dan dengan demikian “mengganggu keamanan”, pada akhirnya hanyalah pintu masuk untuk menguatkan karakter Simbah (diperankan dengan bagus dan selalu mencuri perhatian oleh Rendra) yang eksentrik, aneh, tidak patuh (antara lain karena dia justru “melindungi” dua narapidana yang buron itu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini barangkali akan jauh lebih kuat seandainya berani memilih fokus, tidak berambisi “bicara besar”, dan “hanya” mengulik-ngulik kehidupan masyarakat Samin itu sendiri di saat ada guru muda yang berjuang menyadarkan pentingnya sekolah bagi anak-anak, ketika ada bule datang untuk meneliti, dan ketika ada dua penjahat bersembunyi di desa. Memperdalam hubungan-hubungan mereka mungkin akan menghasilkan sebuah cerita yang lebih solid dan menggugah, ketimbang hanya “memperalat” mereka sebagai cara untuk memasukkan isu terorisme, sehingga akhirnya meninggalkan banyak lobang dari kisah-kisah kecil yang tak selesai. Kisah cinta antara guru muda idealis dengan sesama rekan guru yang juga anak pak camat, terasa hanya tempelan, atau setidaknya tidak tergarap dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga, hubungan antara seorang guru muda yang cantik dengan pak camat itu, dibiarkan misterius, tapi toh tidak berfungsi apa-apa bagi keseluruhan cerita. Puncaknya adalah, bagaimana “operasi keamanan” itu kemudian benar-benar dilaksanakan (kendaraan berat tentara menderu-nderu masuk ke desa, melindas motor seorang polisi lokal, lalu satu per satu mereka berlompatan, berbaris, mengokang senjata di dataran yang tandus) terasa begitu berlebihan. Dramatis sih, memang, apalagi diselang-seling dengan adegan bagaimana Simbah dengan tetap karismatik dan ketenangan yang luar biasa mengatasi kepanikan warga. Dramatis, itu kata yang tepat. Tapi, itu hanya terjadi pada bagian sangat akhir dari film ini, setelah sebelumnya nyaris tak terjadi apa-apa, selain penjelasan demi penjelasan, yang panjang lebar, dialog-dialog yang diplomatis, sering terlalu cerdas untuk tokohnya (jadi, yang cerdas sebenarnya penulis skripnya, yang juga sutradara, Akhlis Suryapati) dan kaku, tentang sejarah dan cara hidup masyarakat Samin, di lereng gunung Kabupaten Blora.&lt;a href="http://rumputeki.multiply.com/reviews/item/45"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-5375038570450903081?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/5375038570450903081/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=5375038570450903081' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5375038570450903081'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5375038570450903081'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/03/lari-dari-blora.html' title='Lari dari Blora'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R8ziqkUg3AI/AAAAAAAAAAY/5R83Zx7iTFM/s72-c/posterLDB-ed.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2507591526443616753</id><published>2008-02-20T01:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-08T18:03:50.131-08:00</updated><title type='text'>Bulu Halus di Perut Dimas Seto: Politik Tubuh Lelaki dalam Majalah Terkini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R7z2v7SGZrI/AAAAAAAAAAQ/2452NDr5wZc/s1600-h/muscleind.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R7z2v7SGZrI/AAAAAAAAAAQ/2452NDr5wZc/s320/muscleind.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5169277775542380210" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa awal pertumbuhan televisi swasta di Indonesia, banyak pengamat, budayawan, sosiolog, feminis –atau, pendek kata pakar-- bicara tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media massa. Khususnya, mereka menyoroti representasi perempuan dalam tayangan iklan, yang intinya dikritik sebagai “melecehkan perempuan, memuaskan hasrat pandangan laki-laki”. Uniknya, kritik tersebut tidak hanya dilontarkan oleh para pakar perempuan, melainkan pakar-pakar laki-laki pun tiba-tiba menjadi begitu bijak menyerang kaumnya sendiri. Saya sendiri, kala itu, berdiri dalam barisan tersebut, meskipun jelas bukan sebagai pakar melainkan mahasiswa culun yang sedang puber dan gandrung setengah mati terhadap feminisme. Begitulah, berbicara membela kaum perempuan, kala itu begitu “intelek” dan “seksi”. (Mungkin sekarang pun masih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang setelah saya pikir-pikir lagi, dalam khasanah budaya pop (televisi, iklan, majalah) posisi perempuan dan laki-laki sebenarnya tak jauh berbeda. Di tangan media massa –arena tempat lahirnya budaya pop— baik tubuh perempuan maupun laki-laki sebenarnya diperlakukan sama, yakni sebagai komoditas. Tapi, mengapa kala itu, bahkan mungkin gemanya masih terdengar sampai sekarang, tidak pernah ada yang berbicara tentang (eksploitasi) tubuh laki-laki dalam iklan, misalnya? Saya punya banyak dugaan, namun ada dua yang terpenting. Pertama, meskipun tubuh baik milik laki-laki maupun perempuan sama-sama dianggap komoditas oleh media, namun harus diakui, frekuensi kemunculannya memang berbeda, dalam hal ini perempuan lebih banyak dan lebih sering dimanfaatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, keberhasilan yang luar biasa dari gerakan feminisme telah mempengaruhi (baca: mengubah) pola pikir dan cara pandang banyak orang (termasuk laki-laki) dalam berbagai lini (akademisi, praktisi, mahasiswa) sehingga “semua orang” tiba-tiba seolah-olah mengenakan kaca mata perempuan dalam melihat berbagai hal. Dampak paling fatal dari fenomena tersebut ada dua. Pertama, semua perempuan tiba-tiba dituntut harus berpikir secara politis –bahwa semua ini tentang dominasi laki-laki atas perempuan, dan itu bersifat menindas, menguasai dan semacamnya. Kedua, tersingkirnya perspektif lain di luar feminisme, misalnya perspektif &lt;span style="font-style: italic;"&gt;queer&lt;/span&gt; (gay dan lesbian). Meskipun yang terakhir ini bisa diperdebatkan: secara teoritis kelompok-kelompok minoritas seksual tersebut berada dalam payung feminisme juga. Namun, kenyataannya, feminisme sendiri terlalu sibuk dengan isu-isu keperempuanan (saja), dan gagal mengakomodasi gay dan lesbian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika pasar media massa (cetak) di Indonesia mendapat serbuan dari majalah-majalah “gaya hidup” luar negeri yang hadir di sini secara &lt;span style="font-style: italic;"&gt;franchise&lt;/span&gt;, dua hal yang tersingkir oleh histeria feminisme tadi –yakni perspektif perempuan non-politis dan perspektif &lt;span style="font-style: italic;"&gt;queer&lt;/span&gt;—seolah menemukan ladangnya. Hadirnya Majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cosmopolitan Indonesia&lt;/span&gt; misalnya, seolah mengumumkan lahirnya generasi baru perempuan yang mewarisi pencerahan feminisme dari generasi ibu mereka, namun “maaf, kami tak ingin terlalu intelektual, tapi jelas tak mau kalah dari laki-laki, dan hei sebenarnya kami hanya ingin bersenang-senang dengan tubuh kami.” Maka, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Fun Fearless Female&lt;/span&gt; menjadi mantra sucinya, dan “29 Tips Seks Panas”, “10 Jurus Jitu Menjerat Pria Idaman” dan “6 Strategi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Makeover&lt;/span&gt; Karier” adalah menu bulannya, plus, 4 halaman &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Man Manual&lt;/span&gt; yang tiap lembarnya menyajikan pria telanjang dada yang siap dipelototi setiap lekuk tubuh atletisnya dan dibawa mimpi wajah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;macho-innocent&lt;/span&gt;-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tidak ada yang dieksploitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Politik tubuh fantastis laki-laki semacam itu kemudian bahkan menjadi semacam strategi sukses bisnis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;franchise&lt;/span&gt; majalah gaya hidup karena kenyataannya, ini semacam sekali merengkuh dayung: tubuh-tubuh terbuka pria itu tidak hanya membuat perempuan-perempuan urban megapolitan ketagihan, namun juga mampu membuat lelaki-lelaki gay jejeritan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Cosmopolitan&lt;/span&gt; pun menjadi majalah yang “dilanggani wanita, diintip pria (gay)”. Demikian pula majalah-majalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;franchise&lt;/span&gt; yang hadir dalam setahun belakangan, yang umumnya mengisi kekosongan pasar majalah khusus pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datanglah ke agen atau toko buku, dan ambil satu dari produk jenis itu, secara acak. Kemungkinan kau akan mendapatkan satu dari majalah-majalah ini:&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;DaMan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;2.&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Men’s Folio&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;3. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Esquire&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;4. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muscle&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, apapun yang kau raih, tak sulit bagimu untuk menemukan artikel tentang tren celana dalam yang membuatmu bisa memelototi model-model pria setengah telanjang, baik dari dalam maupun luar negeri. Edisis terbaru (Februari) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Esquire Indonesia&lt;/span&gt; bahkan memuat artikel tentang celana dalam pria yang model dan jenisnya tak kalah banyak –dan sudah barang tentu juga tak kalah eksotik— dibandingkan celana dalam wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, ketika sudut pandang dunia telah bergeser, di mana perempuan-perempuan non-politis dan kaum gay semakin mendapat tempat dan diperhitungkan secara cermat sebagai konsumen potensial bisnis majalah gaya hidup, maka &lt;span style="font-style: italic;"&gt;boxer&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;G-string&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tong&lt;/span&gt; menjadi komoditas yang penting. Sama pentingnya dengan menampilkan artis film dan sinetron Dimas Seto dalam penampilan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;topless&lt;/span&gt; yang memamerkan dengan jelas bulu-bulu halus di perutnya –dalam edisi terbaru &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Muscle Indonesia&lt;/span&gt; (majalah apalagi ini?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sekali lagi, eksploitasi sudah tidak menjadi tema cerita lagi. Sebab, seperti diteriakkan Cindy Lauper berpuluh tahun silam, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;girls just wanna have fun&lt;/span&gt; –dan termasuk di dalamnya adalah pria-pria gay yang memang suka mengindentikkan diri bagian dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;girls&lt;/span&gt; itu. Hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2507591526443616753?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2507591526443616753/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2507591526443616753' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2507591526443616753'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2507591526443616753'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/02/bulu-halus-di-perut-dimas-seto-politik.html' title='Bulu Halus di Perut Dimas Seto: Politik Tubuh Lelaki dalam Majalah Terkini'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Z-_elqNEq_s/R7z2v7SGZrI/AAAAAAAAAAQ/2452NDr5wZc/s72-c/muscleind.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-902059725089028182</id><published>2008-01-23T02:02:00.000-08:00</published><updated>2008-01-23T02:13:49.753-08:00</updated><title type='text'>Otomatis Romantis: Mengejar Mas-mas Seri Dua</title><content type='html'>Dengan berbagai bungkusnya, semua kisah cinta sebenarnya adalah kisah Cinderella. Tapi, di jagad dongeng modern, tidak semua Cinderella itu perempuan. Film ini adalah komedi Cinderella modern versi laki-laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka dengan memperkenalkan Marsya Timothy yang sedang digandrungi pria-pria &lt;span style="font-style: italic;"&gt;straight&lt;/span&gt; maupun gay di Jakarta, yang berperan sebagai pemimpin redaksi ala-devil wears prada. Bedanya, yang ini masih muda (29 tahun) dan bermasalah dengan jodoh. Oh, tidak, ayahnyalah --yang ia panggil papi-- yang meributkannya. Tekanan sang Papi membuat sang Pemred uring-uringan di kantornya, sebuah majalah gaya hidup untuk perempuan kota.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dunia yang lain, kita diperkenalkan dengan Tora Sudiro sebagai mas-mas Jogja nan culun-polos-setengah tolol yang hidup di bawah tekanan kakaknya yang tukang judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu adegan berikutnya si mas-mas jawir itu terlihat --ternyata-- bekerja sebagai staf rendahan di kantor si devil wears prada, deng deng deng, kita pun tahu belaka, apa yang akan terjadi selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kemasan komedi Jawa ala Srimulat, dan menampilkan salah satu ikon terkuatnya dari generasi lama (Tarzan) dan ikon terkuat dari generasi baru (Tukul), film ini sama sekali tidak menyimpan motif apapun kecuali melucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, saya depresi membaca beberapa &lt;span style="font-style: italic;"&gt;review&lt;/span&gt; atas film ini yang menyinggung-nyinggung soal "benturan antara nilai-nilai lama dan baru", semacam itulah. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Oh my God!&lt;/span&gt; Belum lagi ulasan-ulasan garing media &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mainstream&lt;/span&gt; yang menyebut-nyebut soal "tema dan permasalahan yang sebenarnya mengakar di hampir seluruh keluarga Indonesia, namun belum sempat diangkat menjadi film."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kalau itu belum cukup untuk membentur-mbenturkan kepada di layar komputer, maka simak juga rilis resmi dari pihak produser yang mengatakan, "Film ini...mengenai dua anak muda dalam proses pencarian sebuah cinta sejati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tolong, mana Decolgen saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syukurlah, faktanya tidak sefrustrasi itu. Yang saya jumpai di layar hanyalah&lt;span style="font-style: italic;"&gt; deja vu&lt;/span&gt; dari film-film FTV macam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kutunggu Kau di Pasar Minggu&lt;/span&gt;, sebuah versi lain dari film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Notting Hill&lt;/span&gt; dari Anjasmara dan Dessy Ratnasari pada 2001 (wow, betapa dahsyatnya ingatan saya!), atau pun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ujang Pantry&lt;/span&gt; yang tak lain karya sutradara yang kini menyutradarai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Otomatis Romantis&lt;/span&gt; ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bedanya, sekali lagi, kemasannya yang Srimulatan abis!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tarzan berperan sebagai Tarzan dengan cengkok bicaranya yang meliuk-liuk. Tukul berperan sebagai Tukul lengkap dengan trademark cipika-cipikinya, bahasa Inggris "British"-nya, dan diledek sebagai lele dumbo. Tora berperan sebagai pelawak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Extravaganza&lt;/span&gt; yang kadang-kadang menjadi Gepeng (alm.) dan kadang-kadang sekemayu Didik Nini Thowok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Tukul muncul satu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;frame&lt;/span&gt; --mengutip istilah Tukul sendiri yang diulang-ulang dalam lawakan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Empat Mata&lt;/span&gt;-- dengan Tora, atau dengan Tarzan, maka dialog yang dipersiapkan untuk mereka pun sepenuhnya kalimat-kalimat lawakan. Ketika Tarzan marah, ketika Tukul menangis, semua tidak bermakna apa-apa kecuali mereka sedang melawak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, nama tokoh pun, Bambang (untuk Tora) diperhitungkan untuk mengejar efek lucu, menggugah kenangan fans Srimulat pada pelawak Triman (alm.) yang selalu memperkenalkan diri sebagai "Emmbammbaangg" dengan suara sengau dan mimik idiot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sia-sia saja sebenarnya ketika film ini memasukkan paradoks seorang pemred majalah wanita yang biasanya menulis tips mengejar laki-laki idola, tapi tak bisa membantu dirinya sendiri ketika jatuh cinta dan mengejar-ngejar seorang mas-mas Jogja, bawahannya pula. Itu pun kalau kita setuju bahwa memang ada paradoks di situ. Tapi, siapa yang sempat memikirkannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal saya hanya gelisah, kok Tukul nggak muncul-muncul? Ya, layaknya menonton lawak, saya hanya ingin tertawa, kalau bisa sekeras-kerasnya. Dan, ketika ternyata saya memang bisa, maka saya tidak butuh apa pun lagi selain itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-902059725089028182?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/902059725089028182/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=902059725089028182' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/902059725089028182'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/902059725089028182'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/01/otomatis-romantis-mengejar-mas-mas-seri.html' title='Otomatis Romantis: Mengejar Mas-mas Seri Dua'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-40749383574533552</id><published>2008-01-21T00:56:00.000-08:00</published><updated>2008-01-21T00:59:06.391-08:00</updated><title type='text'>Feminisme Gelombang Kedua</title><content type='html'>Begitu lampu menyala, teman saya langsung menarik nafas dan berkata, “Jadi, kesimpulannya laki-laki itu jahat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya setuju, laki-laki memang jahat. Tapi, pesan moral dari film yang baru saja kami tonton itu, saya kira bukan itu. Apa boleh buat, sebuah film yang secara khusus dibuat untuk menyampaikan sebuah pesan, memang justru berisiko disalahpahami. Atau, dengan kata lain, harus siap ditafsirkan berbeda dengan apa yang dimaui pembuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalahnya terletak pada kejernihan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti tersirat jadi judulnya yang lebih bernuansa faktual (dan politis) ketimbang fiksional, film ini sejak awal memang mengemban misi tertentu, yakni memberi pencerahan (baca: menyadarkan) kepada kaum perempuan mengenai hak-hak mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam acara Silat Lidah di AN-TV edisi promosi film ini, para perempuan yang terlibat dalam film ini, dari sutradara, aktris hingga penulis cerita mengajak para perempuan agar berbondong-bondong menonton film ini bersama suami mereka. Para feminis gelombang kedua –setelah gelombang pertama tampil lewat lembaga-lembaga riset, akademis dan agama, jurnal ilmiah, LSM serta sastra— telah menyeruak ke muka dengan semangat yang menggebu-nggebu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka telah merobohkan benteng terakhir persembunyian ideologi patriarki, yang selama ini belum tersentuh, yakni film. Ah, kadang-kadang saya memang suka agak hiperbol. Kenyataannya, Perempuan Punya Cerita adalah (atau hanyalah?) kumpulan 4 cerita (pendek) dari 4 sutradara dan dua penulis skrip yang berbeda, yang semuanya dimaksudkan untuk mengangkat isu penting dari dunia perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Pulau membawa misi pencerahan mengenai aborsi. Cerita Yogyakarta menyisipkan pesan yang hampir sama, dengan fokus pada pergaulan bebas remaja. Cerita Cibinong mengangkat isu gawat perdagangan anak-anak perempuan. Terakhir, Cerita Jakarta tentang penderitaan berganda terhadap perempuan penderita HIV/AIDS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika tadi di atas telah dibilang, masalahnya adalah kejernihan cerita, kecuali Cerita Jakarta, film ini memang bermasalah dengan itu. Ibaratnya, film ini menempuh jalan yang terlalu berliku untuk sampai pada pesan yang diinginkannya. Seperti kalimat yang berputar-putar, berayap-sayap, sehingga apa yang ingin disampaikannya menjadi kabur atau kurang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Cerita Pulau dan Cibinong, kita melihat begitu banyak “cerita”, begitu banyak "konflik" sehingga cerita kurang berhasil memberikan “kesan tunggal” yang kuat. Bidan yang terpanggil untuk memperjuangkan hak aborsi bagi perempuan yang memang “harus” melakukannya dalam Cerita Pulau, harus bergulat dengan dirinya sendiri yang menderita kanker stadium tiga. Sedangkan, yang “harus” aborsi itu adalah perempuan cacat mental yang rambutnya sangat rapi dan gaunnya selalu mewah –kontras dengan kondisi keluarganya yang (sangat) miskin—yang diperkosa oleh lelaki-lelaki pelabuhan. Fokus dan simpati kita jadi terpecah-pecah. Gambar-gambar yang gelap menambah kesan keruwetan cerita, dan pengadeganan yang “nggak mau repot” membuat film ini tak kunjung sampai pada kepaduan makna yang membekas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Yogyakarta bahkan terjatuh ke dalam sketsa karikatural yang nyaris absurd, dan saya malas sekali untuk membahas bagian ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Cerita Cibinong, perhatian dan simpati kita kembali terpecah, kali ini antara diva dangdut kelas kampung yang bermimpin sukses di Jakarta dengan anak perempuan yang menjadi korban sindikat perdagangan manusia. Memang, kedua “sub teks” tersebut saling berkaitan namun beban konfliknya menjadi terlalu banyak, terutama pada si korban trafficking itu, yang sebelumnya harus menghadapi pelecehan seksual oleh pacar ibunya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian favorit saya adalah Cerita Jakarta: sederhana, rapi, mengalir, matang dan solid. Ini cerita yang paling tidak berteriak, juga paling lembut menyisipkan pesannya, namun justru efektif dan menyentuh. Cerita ini berhasil menggambarkan, betapa perempuan, dibanding dengan laki-laki, jauh lebih rentan terhadap ancaman HIV/AIDS, dan sekali terkena, itu menjadi sumber penderitaan yang berlapis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, film ini tampak dengan sengaja mengedepankan concern terhadap isu tertentu yang berkaitan dengan tubuh perempuan, dan bahkan dipersempit lagi ke organ reproduksi, dari sebegitu kompleksnya masalah keperempuanan di Indonesia yang barangkali masih banyak lainnya yang lebih menyentuh kehidupan keseharian kaum perempuan. Bukan berarti seks, aborsi dan trafficking tidak penting, tapi berangkat dari yang “lebih kecil” dan sehari-hari mungkin akan lebih mengena, mudah dipahami dan "nyampe". Daripada, disalahpahami sebagai, misalnya, mengkampanyekan legalisasi aborsi. Ini misalnya, lho!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-40749383574533552?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/40749383574533552/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=40749383574533552' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/40749383574533552'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/40749383574533552'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/01/feminisme-gelombang-kedua.html' title='Feminisme Gelombang Kedua'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8542630195810772330</id><published>2008-01-18T01:27:00.000-08:00</published><updated>2008-01-18T01:42:43.697-08:00</updated><title type='text'>Kawin Kontrak: Komedi Obat Kuat</title><content type='html'>Film ini sebenarnya tidak lebih buruk --dan itu artinya juga belum tentu lebih baik-- dibandingkan dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Get Merried&lt;/span&gt; atau pun &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Quickie Express&lt;/span&gt; --untuk menyebut dua contoh saja film komedi yang masih segar dalam ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, siapa yang mau jujur untuk Raam Punjabi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun --dan mungkin termasuk saya (hehehe).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raam selama ini identik dengan sinetron yang benar-benar bikin orang jengah, sehingga ketika terjun dalam produksi film, ia seperti memikul "dosa bawaan". Orang akan dengan mudah memvonis film-film Multivision Plus Picture --rumah produksi miliknya-- jelek sebelum atau bahkan tanpa perlu menontonnya. Jangan salahkan mereka. Dalam industri film, politik pencitraan itu penting, dan sekali salah memulai langkah, maka susah memperbaikinya selamanya. Satu-satunya cara untuk menebus dosa itu tak lain memproduksi film-film yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawin Kontrak&lt;/span&gt; berangkat dari kegelisahan paling nyata yang dialami kebanyakan cowok yang mulai beranjak dewasa di zaman ini: gimana sih rasanya ML? Film ini lantas mengambil jalan berliku: cowok-cowok gatal itu memilih untuk kawin kontrak agar bisa melampiaskan keinginannya dengan aman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal, misalnya jalan yang ditempuh lebih simpel, misalnya, pergi saja ke panti pijat plus di Kota, kelucuan dan kekonyolan yang muncul juga tak kalah seru dan kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecuali, jika film ini memang berpretensi untuk menjadi semacam risalah sosiologi yang memotret praktik kawin kontrak yang masih menjadi bagian dari kenyataan masyarakat tertentu di Tanah Air. Kalau iya, ini tentu sangat mulia. Dan, nyatanya ada salah seorang penonton ang berkomentar (di&lt;span style="font-style: italic;"&gt; blog&lt;/span&gt;-nya): wah, baru tahu kalau ada desa yang menyediakan jasa kawin kontrak lengkap dengan penghulunya! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thanks&lt;/span&gt;, Pak Raam, sebuah pelajaran sosiologi yang bagus untuk remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar baiknya lagi, itu semua diungkapkan dalam komedi yang cukup segar. Hanya saja, film ini kemudian terlalu serius dengan membelokkan banyolan-banyolan seksual-vulgarnya menjadi sebuah kisah kepahlawanan yang, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plis dong ah&lt;/span&gt;, klise banget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cowok-cowok gatal yang ditampilkan begitu lugu, jujur dan mesum di bagian awal, akhirnya berubah menjadi detektif-detektif yang menyelamatkan masyarakat desa dari kibul dan kejahatan seorang bos-Arab-gadungan dari Tanah Abang. Dan, yang awalnya hanya ingin mencari kepuasan sesaat untuk melampiaskan kenakalan anak muda, salah satu dari mereka menjadi seorang pecinta-tulus yang "gombal" abis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba kalau film ini konsisten dengan main-mainnya dari awal, dengan keberaniannya menantang orang-orang yang terobsesi pada moralitas, dan dengan komedi obat kuatnya yang tolol-konyol-abdsurd-tapi-yah-memang-lucu-sih itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, saya tetap memuji keberanian film ini untuk "pasang badan" terhadap risiko dianggap mengajari anak muda ngeseks di luar nikah --lengkap dengan petunjuk teknis untuk "tahan lama" segala. Makanya, diam-diam setelah menonton film ini saya menunggu ada tokoh agama atau sekelompok orang memprotes film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata sampai sekarang tidak ada. Saya jadi semakin yakin, para pemrotes itu tidak pernah melihat film yang diprotesnya kecuali hanya menyimpulkan dari judulnya. Tak heran film-film seperti &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Buruan Cium Gue&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Maaf, Saya Menghamili Istri Anda&lt;/span&gt; jadi sasaran. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawin Kontrak&lt;/span&gt;? Orang mungkin justru mikir, wah ini film islami. Dapat salam dari Aa Gym, Pak Raam! Hehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8542630195810772330?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8542630195810772330/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8542630195810772330' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8542630195810772330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8542630195810772330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/01/kawin-kontrak-komedi-obat-kuat.html' title='Kawin Kontrak: Komedi Obat Kuat'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-1715060460058369484</id><published>2008-01-09T01:52:00.000-08:00</published><updated>2008-01-09T02:05:52.998-08:00</updated><title type='text'>Film "Mereka Bilang, Saya Monyet": Sebuah Esei Biografis</title><content type='html'>Film yang tengah diputar di Blitz dan dirayakan sebagai bagian dari "revolusi digital di jagat sinema" ini bagi saya lebih menyerupai sebuah esei ketimbang fiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah esei biografis tentang bagaimana seorang perempuan merebut tempat di tengah pusaran sastra Indonesia. Tentang kekerasan yang melatari lahirnya sebuah cerpen berjudul "Lintah". Tentang menjadi perempuan simpanan seorang mentor, dan tentang menulis sambil menenggak bir kalengan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua terasa begitu "nyata", antara lain diwakili oleh syut atas halaman koran Kompas yang memuat cerpen itu. Dan, penonton pun, sebagian penonton, menduga-duga, siapakah si mentor? Siapa pula pengusaha yang muncul sekilas itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menonton debut penyutradaraan Djenar Maesa Ayu ini jadi terasa seperti sebuah petualangan mencocok-cocokkan antara fakta dan fiksi, dan saya begitu menikmati kesibukan itu. Dan, dalam banyak hal, ini jauh lebih menarik ketimbang filmnya itu sendiri. Sulit bagi saya untuk peduli dengan cerita tentang pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan yang kelak di kemudian hari bisa begitu leluasa untuk memilih lelaki yang menidurinya karena "butuh belanja, bayar apartemen dll".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, apa sih makna pelecehan seksual jika kelak yang bersangkutan bisa dengan sentausa menjadi simpanan seorang penulis tua agar terorbit karir menulisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu banyak gosip tentang Djenar sejak pertama kali kemunculannya di jagad sastra, sehingga ketika semua yang pernah terdengar secara bisik-bisik itu terproyeksikan dalam film ini, sepertinya sudah tak ada yang menarik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya suka dengan metafor lintah itu. Saya suka dengan cara film ini bertutur. Gambar-gambar yang tampil lugu, bahkan mentah, menjadi begitu termaafkan berkat struktur penceritaan yang bagus. Saya terbuai oleh dinamisasi adegan demi adegan yang dengan tangkas keluar-masuk berpindah-pindah dari masa kini ke masa lalu dengan lompatan-lompatan yang smooth. Meskipun, layaknya sebuah esei, film ini memuat begitu banyak ide, dan dalam film kadang-kadang ide hanyalah kata lain dari "komentar sosial" yang disisipkan di sana-sini, dari soal bagaimana realitas harus dipandang sampai ke isu sastra wangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang menarik, soal moralitas. Film ini begitu ngotot untuk melarikan diri sejauh-jauhnya dari unsur tersebut, namun semakin jauh itu bisa dihindari, semakin tampak bahwa ada ketikdajujuran di sana. Hingga pada akhirnya, Djenar menyerah, oke, menjadi liar itu memang tidak mudah, ketika film sampai pada adegan pertengkaran sang tokoh utama dengan dua perempuan sahabatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tokoh kita itu  membentak kedua sohibnya untuk turun dari mobil, kamera terus mengikuti masing-masing, dan saya seperti terbanting ke "dunia nyata": yang satu sampai di rumah menangis karena ingat hidupnya yang hampa tanpa anak, yang satu lagi menangis menyaksikan anaknya tidur di sisi pembantu --wajah-wajah mereka seperti pendosa yang insaf. Gubrak. Jangan-jangan itulah "wajah" Djenar yang sesungguhnya, yang sepanjang film tadi ia tutupi dengan adegan-adegan ngewe, kaleng-kaleng bir kosong dan dialog-dialog vulgar. Duh.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-1715060460058369484?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/1715060460058369484/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=1715060460058369484' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1715060460058369484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1715060460058369484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2008/01/film-mereka-bilang-saya-monyet-sebuah.html' title='Film &quot;Mereka Bilang, Saya Monyet&quot;: Sebuah Esei Biografis'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2519745424028745211</id><published>2007-12-17T02:14:00.000-08:00</published><updated>2007-12-17T02:19:00.998-08:00</updated><title type='text'>Peri Kecil di Sungai Nipah</title><content type='html'>&lt;div class="bodytext"&gt;Novel ini dibuka seolah-olah kejadian yang sedang dituturkan tersebut sedang berlangsung saat ini. Tapi, beberapa halaman kemudian, tuturan sekonyong-konyong melompat, dan pembaca baru tahu, bahwa kisah itu sudah terjadi di masa lampau. Semua yang terjadi dalam novel ini adalah kejadian di masa lalu, dan dengan demikian, pengarang bisa menuturkannya dari mana saja, tiba-tiba&lt;span style="font-style: italic;"&gt; flash back&lt;/span&gt;, lalu balik lagi, dan seterunya. Tapi, "kesalahan" pembingkaian waktu yang dilakukan di bagian awal, telanjur mengganggu kenikmatan saya membaca. Apakah ini problem Bahasa Indonesia yang tidak mengenal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;present&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;past &lt;/span&gt;dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;future tense&lt;/span&gt;? Tidak. Menurut saya, ini sepenuhnya problem kegagapan teknik dari penulisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dia ingin meniru (teknik) yang dilakukan Arundati Roy? Boleh saja, tidak masalah. Tapi, tanpa penguasaan teknik yang memadai, hasilnya memang tak cukup rapi untuk membentuk alur yang memutar berpilin-pilin, seperti tampak pada &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The God of Small Things&lt;/span&gt;, di mana semua kejadian sudah lewat, dan penulis mengisahkannya sedikit demi sedikit, dari bagian mana saja, secara tak terduga-duga. Pada Arundati, teknik ini melahirkan kejutan-kejutan kecil di sana sini, tapi pada Dyah Merta, cerita menjadi terasa benar-benar berputar-putar, lambat tak kunjung sampai ke ujung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih, ia banyak menyisipkan "tema-tema pendukung" yang maksudnya tentu untuk memperkuat dan mempekaya "tema utama", namun apa lacur justru membuat cerita menjadi terasa tidak fokus. Cerita-cerita mistik seputar Sungai Nipah yang menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; cerita misalnya, dan juga demo berdarah ratusan buruh pabrik, gagal menjadikan novel ini menjadi sebuah jalinan kisah yang kompleks, meskipun juga (untunglah) tak lantas membuat karya ini jatuh dalam keruwetan. Belum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'peri' pada judul novel ini merujuk pada tokoh Gora, dan saya pikir itu akan memiliki makna yang khusus. Tapi, ternyata tidak, kecuali bahwa ia adalah peri kecil bagi ayahnya. Selebihnya, ia gadis "biasa" dalam pusaran konflik keluarga. Bersama Dagu kakaknya, ia adalah anak dari Karyo Petir yang berselisih dengan istrinya, Dalloh menyusul kehadiran Kulung, yang tak lain anak Karyo dari hasil perselingkuhan dengan perempuan lain. Kulung si anak haram (atau "anak babi", kata Dalloh) kemudian menjadi sumber bencana di rumah itu; ia mencoba membalas sakit hati ibunya dengan mengaku pada Karyo bahwa dirinya telah meniduri Gora. Karyo yang terpukul makin merana karena Dalloh juga membelas berselingkuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dyah Merta yang sebelumnya dikenal sebagai cerpenis (telah menerbitkan kumpulan cerita berjudul &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hetaira&lt;/span&gt;) berhasil menggambarkan sebuah keluarga yang mengalami kebinasaan perlahan-lahan oleh perilaku anggotanya. Bahkan, dua pembantu keluarga itu, Bibi Kasemi dan Genuk juga terseret dalam konflik, dan semakin menghidupkan novel ini. Sayang, tokoh Dagu justru tak begitu mendapat porsi dalam api perseteruan yang menyala oleh dendam itu, dan sampai di sini kita tahu, untuk apa adegan demo buruh tadi ditempelkan: di sinilah nasib Dagu bermuara. Ia diculik dan disiksa menyudul demo itu, dan itu lagi-lagi berkat ulah si anak haram Kulung. Cerita menjadi begitu hitam putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;setting&lt;/span&gt; pedesaan dan sentuhan ekologi lokal yang kuat, cerita yang ditawarkan Dyah Merta memang tipe yang muda membuat kita jatuh cinta. Namun, masih terlalu banyak faktor pengganggu yang membuat novel ini jadi kehilangan banyak daya tariknya, meskipun tidak semua. Yang paling sepele (dalam mengganggu kenikmatan pembaca) adalah komentar Guru Besar Sastra UI Melani Budianta yang ditaruh di sampul depan. Ini memang strategi dagang yang menjengkelkan, sebab &lt;span style="font-style: italic;"&gt;blurb &lt;/span&gt;--yang memandingkan novel ini dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The God of Small Things&lt;/span&gt; tadi, juga dengan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;The House of the Spirit&lt;/span&gt; karya Isabelle Allende-- tersebut membuat pembaca terus-menerus mencari-cari, di manakah kebenaran penilaian Melanie itu untuk kemudian membandingkannya dengan (kebenaran) penilaian kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Judul: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peri Kecil di Sungai Nipah&lt;/span&gt;, Pengarang: Dyah Merta, Penerbit: Koekoesan, Depok, 2007)&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2519745424028745211?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2519745424028745211/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2519745424028745211' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2519745424028745211'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2519745424028745211'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/12/peri-kecil-di-sungai-nipah.html' title='Peri Kecil di Sungai Nipah'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4755158047101846414</id><published>2007-12-02T23:35:00.000-08:00</published><updated>2007-12-02T23:37:05.285-08:00</updated><title type='text'>Ketika Pilihan Sudah Tak Ada Lagi</title><content type='html'>Setiap hari saya turun dari busyway di halte Mampang Prapatan dan berjalan kaki beberapa puluh meter untuk sampai ke kantor di Jalan Kuningan Barat. Tak ada trotoar kecuali sisa pinggiran jalan, dan itu pun sesak oleh tiang-tiang listrik/telepon, pohon dan motor para tukang ojek. Ah, semua itu pun belum seberapa. Masih ada "rintangan" lain yang benar-benar membuat berjalan kaki di Jakarta ini terasa begitu sengsara dan tidak dihargai. Selalu ada motor yang tidak hanya naik ke trotoar, eh sisa jalan tadi, tapi juga melawan arus laju lalu-lintas. Tidak, tidak hanya itu. Para pengendara motor yang menerobos sisa jalan dan melawan arus itu melajukan motornya dengan kecepatan seolah-olah mereka sedang melenggang di jalan yang mulus dan sepi, sambil mengklakson para pejalan kaki. Oh, tidak, tidak hanya itu. Mereka juga akan melotot sambil meraung-raungkan gas motornya, ke arah para pejalan kaki yang tak mau (dan memang tak harus) minggir (sebab: minggir ke mana lagi coba?). Seolah-olah, para pejalan kaki itu telah menyerobot dan menghalangi para pengendara motor yang sekali lagi tidak hanya menerobos sisa jalan tapi juga melawan arus itu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan ini, semua orang bicara tentang kemacetan Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada yang menuding, ini salah perencanaan ("Quo Vadis" Jakarta? Ivan Hadar, Kompas, Rabu, 28/11/07), ada yang mengaku menderita akibat kemacetan tersebut sehingga mengajukan sejumlah saran perbaikan ("Transjakartaway", Jaya Suprana, ibid). Ada juga yang "sekedar" membuat semacam renungan filsafat (Kota Tanpa Spirit Kekotaan, Triyono Lukmantoro, Kompas, Kamis, 29/11). Sungguh aneh, atau sebenarnya tidak aneh, bahwa orang-orang berbicara mengenai problematika sebuah kota tanpa menengok dan mempertimbangkan penghuninya, dalam hal ini perilaku dan sikap mentalnya. Ini sebenarnya sama dengan ketika orang-orang tiba-tiba ramai membicarakan soal bullying, kekerasan di kalangan remaja, menyusul terungkapnya kasus penganiayaan seorang siswa SMU 34 oleh sebuah geng seniornya. Semua bicara tentang sistem pengajaran, kontrol guru-guru, tanggung jawab kepala sekolah dan banyak hal lagi namun tak sedikit pun memperhitungkan yang terlibat langsung, terutama pelakunya: datang dari keluarga seperti apa mereka, apa yang mereka lakukan sehari-harinya, bagaimana pergaulannya, apa musik favoritnya, dibesarkan dalam lingkungan seperti apa, buku apa yang mereka baca, ke mana mereka biasanya pergi dan apa yang mereka obrolkan ketika berkumpul? Jangan-jangan mereka itu ya anak-anak remaja "biasa", yang humoris, suka cekakak-kekikik --tapi, kenapa ("bisa memilih jalan kekerasan") seperti itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita terbiasa, atau kalau tidak malah selalu, melihat sebuah persoalan "dari atas", pada jarak tertentu, dengan berbagai teori hingga pada akhirnya justru menjauhkan dari inti masalahnya, dan hasilnya adalah sebuah kesimpulan umum yang abstrak, yang sama sekali melupakan akar persoalan dan hal-hal lain yang terkait langsung. Saya menduga, hal itu terjadi karena sebagian sangat besar (atau jangan-jangan semua) yang memiliki akses untuk bicara (menulis di --atau diwawancarai oleh-- Kompas misalnya) biasanya justru mereka yang berada di titik yang jauh dari apa yang mereka bicarakan. Apa, misalnya, makna kata "menderita" jika itu keluar dari seorang Jaya Suprana? Apakah dia setiap hari harus duduk, atau berdiri berdesakan, dalam metromini, kegerahan dan mandi keringat digencet kemacetan di antara mobil-mobil pribadi; atau, dia ada di balik kaca-kaca gelap mobil-mobil pribadi itu, duduk di belakang sopir di ruangan yang dingin, sibuk menelepon atau memangku laptop dan membalas email, setelah menghabiskan pop mie atau burger atau donat atau kentang goreng dan meneguk kopi dalam gelas plastik yang tadi dibelinya di Starbuck?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemacaten Jakarta, yang memuncak belakangan ini, adalah cermin paling jujur yang memantulkan bayangan paling asli dari sikap mental masyarakat bangsa ini (oke, maksudnya kota ini, Jakarta) yang egois, mau menang sendiri, tak peduli dengan orang lain dan tak mau tahu dengan keadaaan asalkan diri sendiri selamat, dan segala perasaan yang berakar pada "kepentingan pribadi jangan sampai dikalahkan oleh kepentingan bersama". Perasaan-perasaan seperti itulah yang antara lain, atau terutama, telah membuat proyek busway --yang sejak awal diadakan dengan maksud agar orang-orang meninggalkan mobil pribadinya untuk bersama-sama beralih ke angkutan umum sehingga volume kendaraan pribadi di jalan raya berkurang-- tidak sepenuhnya berhasil. Mereka, para pengendara mobil pribadi itu lebih suka berpikir sebaliknya: lebih baik macet tapi berada dalam mobil pribadi yang aman dan nyaman ketimbang lancar tapi harus bergabung dengan orang banyak yang nggak jelas dan belum tentu aman. Jadi, benarkah ada kata "menderita" yang disebabkan karena kemacetan sejauh itu keluar dari mulut orang-orang bermobil?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kalau naik mobil saja mengaku menderita, terus yang berdesakan berpeluh dalam angkutan umum itu "harus" mengeluh apa, dong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah uniknya, atau tidak uniknya, bahwa mereka yang naik angkutan umum itu bahkan sama sekali tidak (pernah) mengeluh. Mereka tidak menulis opini di koran, atau surat pembaca atau marah-marah di blog (seperti saya hehehe). Mereka duduk diam, sesekali melongok ke jendela metromini dan menyaksikan bayangan orang di balik kaca gelap mobil mengilap sedang menikmati sarapannya sambil menyandarkan punggunya ke belakang, meluruskan kakinya dengan santai dan bicara di telepon. Mereka tidak mengumpat atau memaki kemacetan di luar, dan juga tidak membicarakannya dengan penumpang lain yang duduk di sebelah, karena mereka tahu masalahnya memang bukan pada angkutan yang mereka tumpangi, yang jumlahnya tak sampai sepersepuluh dari mobil pribadi yang berderet-deret sampai jauh ke belakang seolah tak berujung itu. Mereka tahu memang kemacetan itu tak bisa diapa-apakan lagi, atau bisa tapi tergantung pada "kemauan baik" para pemakai mobil pribadi itu untuk meninggalkan mobilnya di rumah, atau di halte busway terdekat, untuk bergabung dengan penggunana angkutan massal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka tahu, tak ada, tak satu pun, yang mau melakukannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada, mungkin cukup banyak juga, tapi belakangan mereka yang sudah dengan hati mulia meninggalkan mobilnya di rumah untuk beralih ke busway itu kembali membawa mobilnya karena adanya kebijakan "baru" yang mengizinkan mobil pribadi masuk ke jalur busway tertentu. Sehingga, jalur busyway menjadi sama macetnya dengan jalur biasa, dan mereka yang sudah "mengalah" dengan meninggalkan mobilnya di rumah itu jadi berpikir, tak ada gunanya lagi beralih ke busway. Jadi, sekarang benar-benar tak ada pilihan: jalur biasa dan busway sama macetnya. Tuan-tuan, puan-puan, jadi percayalah, kemacetan ini soal sikap mental, baik masyarakat yang egois maupun aparat pemerintah yang bingung diombang-ambing suara para pengamat sehingga mengubah-ubah kebijakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, yang menderita karena macet tetaplah mereka yang berdesakan berpeluh di angkutan umum dan para pejalan kaki, dan bukan orang-orang bermobil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4755158047101846414?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4755158047101846414/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4755158047101846414' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4755158047101846414'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4755158047101846414'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/12/ketika-pilihan-sudah-tak-ada-lagi.html' title='Ketika Pilihan Sudah Tak Ada Lagi'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2567944553944528980</id><published>2007-12-01T22:15:00.000-08:00</published><updated>2007-12-01T22:23:53.761-08:00</updated><title type='text'>Surat (Ancaman) dari Joko Anwar Penulis Skenario Quickie Express</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Elo beruntung kita bukan mafia kayak The Godfather. Kalo iya, elo udah kita sikat di dunia nyata.&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dikirim Joko Anwar lewat milis dunia-film pada Jumat, 30 November 2007 pukul 4:09 pm, menanggapi review atas film Quickie Express yang saya posting di milis yang sama pada 27 November 2007 pukul 12.01 am)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2567944553944528980?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2567944553944528980/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2567944553944528980' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2567944553944528980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2567944553944528980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/12/surat-ancaman-dari-joko-anwar-penulis.html' title='Surat (Ancaman) dari Joko Anwar Penulis Skenario Quickie Express'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>9</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-5898827443282373917</id><published>2007-11-27T00:13:00.000-08:00</published><updated>2007-11-27T00:17:14.823-08:00</updated><title type='text'>Tonjolan Besar di Balik Celana Tora Sudiro</title><content type='html'>&lt;div class="bodytext"&gt;Kalau dengan kemasan vintage, retro atau apalah namanya dan ditambah dengan iringan lagu-lagu dari band-band yang dipuja anak-anak muda yang suka nongkrong di Aksara, sebuah adegan yang memperlihatkan Aming yang hanya bercelana dalam memasukkan tangannya ke bagian bokong dan menggaruk-nggaruk lobang anusnya dianggap, diterima, diamini dan dipuji sebagai bagian dari sebuah komedi dewasa, modern, high concept, punya taste, berkelas, "lain dari film-film remaja yang itu-itu saja dan horor-horor yang nggak jelas" dan dengan demikian ini breakthrough, maka saya tidak akan malu untuk menyatakan menyesal telah meledek karya-karya Nayato, Hanung dan lain-lain. Menonton Quickie Express bagi saya rasanya seperti membaca headline koran Lampu Merah. Bedanya, pada film ini saya harus menunggu selama dua jam dan terbosan-bosan sebelum sampai pada bunyi headline itu. Dengan kata lain, saya seperti tak menyaksikan apa-apa, atau menyaksikan kekosongan yang panjang, sebelum Tora Sudiro akhirnya menyimpulkan film ini dalam satu kalimat narasinya di bagian akhir. Bahwa, seorang gigolo telah membunuh bla bla bla. Dalam kekosongan itu, antara lain saya menyaksikan serombongan cewek berseragam SMU keluar gedung sebelum film berakhir, dan disusul beberapa penonton yang lain lagi. Mungkin selera humor mereka memang buruk, tapi kalau yang disebut humor berkelas itu adalah gigolo-gigolo yang latihan goyang pinggul, kontol kecil dimakan piranha, cewek cantik ngorok di atas sofa, Ria Irawan berperan sebagai tante girang yang memiliki imajinasi seks guru-murid dan mendesah-ndesah di atas ranjang, maka dengan besar hati saya akan bergabung dengan mereka dan tak keberatan untuk dibilang berselera humor buruk, untuk kemudian mungkin kembali nonton acara Tukul atau sinetron sampah. Sebab, sampah atau bukan, sekarang saya tahu, semata hanya soal kemasan, soal gimana kau bisa mendaur ulangnya, memberi sentuhan warna, hiasan dan lain-lain sehingga tampak begitu glamour, sehingga adegan orang kejedot di satu film atau di panggung Srimulat bisa dianggap slapstik tolol tapi di film lain atau di Extravaganza dianggap lucu. Jadi, sekarang sudah jelas, tidak diperlukan upaya apapun bagi film Indonesia karena tonjolan kenti besar di balik celana pendek minim ketat saja sudah bisa bikin orang tertawa terpingkal-pingkal dan sepasang lelaki gay yang sedang marahan merajuk-rajuk manja adalah sumber kelucuan abadi sepanjang masa yang selalu bikin orang bersorak gaduh tergeli-geli sampai melompat-lompat di kursi. Dan, Kalyana Shira Film berikut lingkaran yang ada di dalamnya, atau di sekitarnya, sejak awal paham benar itu, bahwa masyarakat kita memang belum semodern itu, bahwa mereka yang mengaku paling gaul se-Jakarta sekali pun masih menganggap tema-tema seputar seks, gay, brondong, tante girang, gay lagi, gigolo, gay lagi, dan gay itu sensitif, kontroversial dan oleh karenanya menggarap tema-tema itu adalah cara, mungkin satu-satunya cara, untuk menjadi, atau dianggap, modern, cool, intelek, cerdas dan berani.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-5898827443282373917?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/5898827443282373917/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=5898827443282373917' title='12 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5898827443282373917'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5898827443282373917'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/11/tonjolan-besar-di-balik-celana-tora.html' title='Tonjolan Besar di Balik Celana Tora Sudiro'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>12</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4068152190813196617</id><published>2007-11-07T00:35:00.000-08:00</published><updated>2007-11-07T00:40:36.743-08:00</updated><title type='text'>get married? get fucked!</title><content type='html'>oleh mikael johani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;betapa banyak orang yg bilang get married itu lucu, lumayan paling tidak dibandingkan dgn film2 horor yg banyak banget sekarang, bahwa hanung sudah berhasil menyelamatkan diri dari lobang neraka yg dia gali sendiri—semua ini sudah sampai pada tahap yg mengkhawatirkan menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;terus terang, saya nonton get married dengan harapan nanti bisa menulis review dengan judul 'get married lucu? get fucked!' tapi dengan lapang dada saya batalkan rencana saya itu karena ternyata di dalam bioskop saya sempat beberapa kali tertawa. terutama saat aming berakting, atau berGERAK lebih tepatnya, dan karena wajah bodyguard binaragawan yg komik itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi okelah, get married bisa membuat saya tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi saya tertawa karena apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;mumu (lihat: http://rumputeki.multiply.com/reviews/item/21) bilang ada semacam keseriusan dalam film itu yg mungkin bisa dibuatkan filmnya sendiri. keprimitifan bangsa indonesia yg mulia ini dalam mengatasi perselisihan, bagaimana ternyata tidak ada bedanya antara kaya dan miskin sama2 primitifnya, pertentangan klasik antara kompleks v. kampung, sedikit kritik lingkungan, etc.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi apakah pantas bilang bahwa get married itu lumayan, lucu, lumayan lucu, bahkan bagus, hanya karena dia sempat menyindir2 ttg berbagai hal itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;nggaklah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;coba ingat misalnya waktu voice over di awal film itu bilang dengan nada sok dead-pan tentang bagaimana empat sekawan itu waktu kecil bahagia bisa mandi di kali terus gambar di layar mempertunjukkan empat bocah cilik berkecibung di sungai berair hitam penuh sampah yg sekilas kelihatan seperti di pintu air maggarai. banyak penonton ketawa waktu itu, tapi mereka tertawa pada apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan mungkin yg lebih penting, si pembuat film, hanung, the scriptwriter, sedang menertawakan apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yg jelas joke itu sebuah cheap shot, entah pada pemerintah dki, atau pada orang2 miskin kampung yang malang, dan karena itu saya tidak ketawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;contoh lain misalnya waktu si cowok ganteng kaya itu pertama kali datang ke rumah nirina dan disambut bapak ibunya dan bahasa si cowok yg tadinya bersob2 ria berubah menjadi campuran patois puitis dan bahasa birokrat kelurahan dan si babe tidak mengerti dan mengira pertama rumahnya mau ditawar, kemudian mungkin si cowok itu lagi cari barang antik, dan semua penonton tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hanung ingin menertawakan siapa dan ingin penonton menertawakan apa? keluguan dan kebodohan orang betawi? atau stereotipe orang betawi yang seperti itu? yg pertama saya rasa. sekali lagi, a cheap shot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sudahlah, misalnya sekarang saya tidak usahlah mempermasalahkan kritik sosial hanung (betapa lame-nya) dalam film ini, dan melihatnya sebagai cerita sajalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yg membuat saya kecewa pertama adalah, dengan ensemble cast seperti itu, 3 cowok pengangguran dan 1 cewek, saya rasa hanung punya kewajiban untuk memberi tahu saya, atau paling tidak mencari tahu untuk dirinya sendiri, bagaimana semua karakter itu bereaksi, memikirkan, kemudian mencari jalan keluar, dari dilema yg dia (hanung) ciptakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi sekali lagi, semua karakter itu sampai akhir film ya gitu2 aja, stereotipe anak kampung pengangguran, nongkrong seharian, main gaple, berantem. apa yg ada di kepala mereka saya tetap nggak tahu. karena memang nggak pernah diberi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ada mungkin beberapa clue, seperti mereka semua suka nongkrong di rumah pohon, trope klasik untuk sebuah peter pan syndrome. anak2 itu tidak mau beranjak dewasa, karena itu mereka menghabiskan waktu mereka di sana. okelah. bisa juga. atau waktu scene yg dipaparkan satu2 setiap anak bilang ragu2 pada ibunya bahwa mereka mungkin ingin menikah dengan nirina, ini mungkin peluang untuk melihat background setiap karakter itu, bagaimana mereka berbeda satu sama lain. ya ada perbedaannya, tapi bentuknya ya stereotipe2 lagi, yg satu ibunya sunda, yg satu islam banget, yg satu jawir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebagai sebuah film, yg punya begitu banyak kemungkinan untuk memberi tahu kita begitu banyak ttg karakter seseorang, isi kepalanya, hatinya, lewat bukan hanya kata2 tapi juga gestur, mimik, dan entah apa lagi, apakah pantas dibilang bagus atau lumayan kalau sutradara/scriptwriter-nya sendiri, memilih untuk menghiraukan semua kemungkinan itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;menonton get married jadi tak ada bedanya dengan membaca berita koran ttg anak2 muda pengangguran di anyslum, jakarta. tak ada prospek, masa depan suram (sama aja ya?), main gaple, tawuran. tapi berita di koran mungkin cuma punya sekolom, jadi masih masih bisa dimaafkanlah karikatur2 seperti itu (atau tidak?), sementara film ini punya 90 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kadang2 saya berpikir apakah penonton2 yg memaafkan hanung (bukannya lebaran udah lama lewat ya?) masih belum juga sembuh kekangenannya untuk melihat semacam potret yg agak realislah dari kenyataan mereka sendiri sehari2 setelah begitu lama film indonesia tidak ada sama sekali atau diisi dengan fantasi2 ttg rumah pondok indah dan rumah pondok indah ...&lt;br /&gt;yg berhantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi tahu apalah juga penonton2 ini ttg kehidupan di rw 13 bawah tol penjaringan misalnya? jadi saya juga curiga yg diingini penonton2 ini adalah potret realisme jakarta di kepala mereka sendiri. yg mereka dapatkan dari karikatur2 koran dan film2 simplistis macam get married ini. segala macam stereotipe2 tadi. mereka tertawa terbahak2 karena puas merasa mereka benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jadi buat saya tidak ada maaflah buat film2 seperti get married ini. yg bukan hanya tidak jujur ttg dirinya sendiri (udahlah, comedy might sell more than horror!), tapi bahkan terlalu malas untuk mencari tahu dirinya sendiri seperti apa.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4068152190813196617?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4068152190813196617/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4068152190813196617' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4068152190813196617'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4068152190813196617'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/11/get-fucked.html' title='get married? get fucked!'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-5001514850142600307</id><published>2007-10-29T02:21:00.000-07:00</published><updated>2007-10-29T02:35:16.916-07:00</updated><title type='text'>Pesta Blogger 2007: Kemasan Baru bagi Suara Lama Indonesia</title><content type='html'>Tika dan Iphan datang dari Jogja, naik pesawat pukul 5. Seorang teman menjemputnya di Bandara Soekarno-Hatta, dan langsung membawa mereka ke taman depan Plaza Indonesia, untuk berkumpul dengan teman-teman lainnya, nongkrong di situ sampai jam 4 dini hari, sempat foto-fotoan dan paginya, Sabtu (27/10/07) setelah beristirahat sebentar di sebuah tempat kos di Kebon Kacang, mereka pun berangkat ke Blitz, untuk menghadiri Pesta Blogger 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada pagi yang sama, ketika saya tengah bersiap untuk berangkat ke acara yang sama pula, teman sekantor menelepon, mengingatkan agar saya tidak lupa membawa kamera. Kalau Anda lihat blog dia, barangkali sulit untuk percaya bahwa dari mulutnya bisa meluncur kalimat, "Soalnya gue kan banci kamera." Di perjalanan, seorang teman yang lain SMS, mengingatkan saya agar segera berangkat, agar tidak terlambat. Buset! Semua orang begitu bergairah menyambut acara itu! Saya jadi takut, jangan-jangan segalanya tidak seperti yang kami bayangkan. Kami? Saya sendiri tak membayangkan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Termasuk, yang tak saya bayangkan adalah papan putih penuh grafiti Pesta Blogger 2007 itu. Setelah melewati meja registrasi, para peserta melewati papan itu, dan berhenti sejenak untuk foto-foto. Saya segera memanggil teman-teman yang sudah lebih dulu nyampe di situ, dan dengan centil dan heboh kami bergiliran siapa lebih dulu menjepret siapa sambil membayangkan diri kami adalah para calon pemenang Piala Oscar yang sedang melintasi red carpet dan dikerubuti paparazzi. Sebuah awal yang menyenangkan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, 400-an dari 130 ribu pemilik blog di Indonesia terus berdatangan, menyapa sana-sini, berkenal-kenalan, saling tukar kartu nama, haha hihi, cipika-cipiki dan sebagainya. Saya tidak menyiapkan kartu nama secara khusus, dan mendapat dua kartu nama, dari orang yang sama-sama memperkenalkan diri sebagai kang --salah satunya Kang Tutur, dan itu sekaligus adalah nama blognya, yang ternyata kependekan dari "bertutur". Di kartu namanya tertulis begini: bertutur setuju: SEderhana - JUjur - TUlus. Saya langsung teringat motto koran Suara Merdeka: objektif, independen, tanpa prasangka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian teringat tema besar perhelatan itu. Suara Baru Indonesia. Cukup heroik, ambisius dan bombastis. Tapi, apa maknanya? Enda Nasution, blogger pertama di Indonesia yang menggagas dan sekaligus menjadi chairman acara itu bilang, blog adalah suara baru karena memuat ekspresi dari generasi baru yang bukan berdasarkan umur tapi membawa sikap yang baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi Putra, fulltime blogger pertama di Indonesia bilang: karena lewat blog orang bisa menulis apa saja, dan blog di negeri ini unik dan keren-keren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dirjen Aplikasi Telematika bilang, blogger adalah perekat bangsa. Duh, apa lagi ini maknanya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wimar Witoelar yang memandu talkshow itu menyimpulkan, blog menjadi suara baru karena inilah suara Indonesia yang sesungguhnya, yang selama ini tidak muncul di koran dan TV. Tapi, blog Perspektif yang diasuhnya, dulu adalah acara TV dan sempat tampil pula di koran secara sindikasi. Jadi, apanya dong yang baru?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak melihat nama-nama seperti --maaf saya sebut saja-- Andreas Harsono dan Satrio Arismundar di daftar peserta, saya sebenarnya sudah pesimis dengan tema acara itu. Suara baru macam apa yang bisa diharapkan dari "tokoh-tokoh" yang "itu-lagi-itu-lagi" itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai acara kami duduk di smoking room, dan saya sempat bertanya pada Tika, apakah dia cukup puas dengan acara itu, secara dia sudah bela-belain datang dari jauh. Kata dia, "Saya sih nggak peduli acaranya gimana-gimana, yang penting kumpul-kumpulnya, ketemu orang-orang." Saya senang sekali dengan jawaban itu, dan bagi saya itulah suara baru yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari Senin-nya, seorang teman meledek saya lewat YM: gimana, Mu kemarin dapat kesempatan nyium tangan Enda Nasution nggak?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-5001514850142600307?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/5001514850142600307/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=5001514850142600307' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5001514850142600307'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5001514850142600307'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/10/pesta-blogger-2007-kemasan-baru-bagi.html' title='Pesta Blogger 2007: Kemasan Baru bagi Suara Lama Indonesia'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8897516563028220795</id><published>2007-10-25T02:22:00.000-07:00</published><updated>2007-10-25T02:24:22.089-07:00</updated><title type='text'>Surat Kemarahan untuk Trans-TV</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;strong&gt;Pak Ishadi, berhentilah menjejali kepala masyarakat dengan tai anjing busuk bernama Saiful Jamil dan Dewi Persik lewat investigasi sampah bertajuk Insert di stasiun televisi yang Anda pimpin. Terimakasih&lt;br /&gt; &lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8897516563028220795?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8897516563028220795/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8897516563028220795' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8897516563028220795'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8897516563028220795'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/10/surat-kemarahan-untuk-trans-tv.html' title='Surat Kemarahan untuk Trans-TV'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2120772139154470469</id><published>2007-10-24T20:40:00.000-07:00</published><updated>2007-10-24T20:48:29.212-07:00</updated><title type='text'>Pesta Blogger 2007: Undangan</title><content type='html'>Salam blogger!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan email ini, saya Enda Nasution, atas nama seluruh Komite Pesta Blogger 2007, bermaksud mengundang Anda untuk menghadiri acara pertemuan para blogger berskala nasional pertama di Indonesia: Pesta Blogger 2007: "Suara Baru Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai salah seorang blogger yang cukup dikenal di kalangan komunitas blogger Indonesia, adalah suatu kehormatan bagi kami apabila Anda berkenan untuk hadir dalam acara yang sedianya akan diselenggarakan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari/Tanggal: Sabtu/27 Oktober 2007&lt;br /&gt;Tempat: Blitz Megaplex, Grand Indonesia lt. 8, Jl. MH Thamrin no.1 – Jakarta Pusat&lt;br /&gt;Pukul : 10:30 – 15:00&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga melalui acara ini, kita dapat menjalin silaturahmi yang lebih erat antar para bloggers Indonesia; sehingga pada akhirnya juga dapat berdampak terhadap terciptanya iklim nge-blog yang lebih positif di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk melakukan konfirmasi kehadiran (RSVP), silakan mengetik CONFIRMED pada subjek email paling lambat tanggal 25 Oktober 2007*, lebih cepat lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena keterbatasan tempat, bila pada tanggal diatas Anda belum melakukan konfirmasi maka tanda masuk Anda akan kami berikan pada pendaftar berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga tidak lupa selamat Idul Fitri 1428H bagi Anda yang merayakan. Mohon maaf lahir dan batin dari kami panitia Pesta Blogger 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami tunggu Anda di Pesta Blogger 2007!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ENDA NASUTION&lt;br /&gt;Chairman Pesta Blogger 2007&lt;br /&gt;Ph. 0813 9487 1625&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*) Undangan gratis ini berlaku hanya untuk 1 (satu) orang, anda dapat membawa pasangan, keluarga atau teman dengan memberikan donasi sebesar Rp 100 ribu per orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa untuk mengecek &lt;a href="http://pestablogger.com/"&gt;pestablogger.com&lt;/a&gt; secara berkala agar Anda dapat terus mendapatkan informasi dan perkembangan terbaru perihal Pesta Blogger 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2120772139154470469?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2120772139154470469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2120772139154470469' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2120772139154470469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2120772139154470469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/10/pesta-blogger-2007-undangan.html' title='Pesta Blogger 2007: Undangan'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4806028589318679098</id><published>2007-09-18T00:20:00.000-07:00</published><updated>2007-09-23T19:56:08.537-07:00</updated><title type='text'>Opera Jawa: Surat Kesedihan Garin Nugroho</title><content type='html'>Saya menulis ulasan untuk film &lt;em&gt;Opera Jawa&lt;/em&gt; karya Garin Nugroho yang diputar di Blitz mulai 6 September lalu, dan telah saya unggah di blog baru saya &lt;strong&gt;http://rumputeki.multiply.com&lt;/strong&gt; Sekaligus ulasan tersebut saya posting ke milis &lt;strong&gt;dunia-film&lt;/strong&gt;, dan mendapat tanggapan dari beberapa teman. Antara lain dari seorang staf Pusat Kebudayaan Perancis (CCF) di Jakarta Yosef Indra yang mengaku sedih setelah menonton film itu karena menurutnya penggabungan berbagai unsur seni dalam &lt;strong&gt;Opera Jawa&lt;/strong&gt; menyisakan pertanyaan, di mana letak estetika dari sinemanya sendiri?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyataan kesedihan Yosef kemudian mendapat tanggapan dari Aryadni Nataya yang mengatakan, "...akan lebih sedih lagi kalau melihat &lt;em&gt;The Wall&lt;/em&gt;. Akan lebih sedih lagi sebetulnya kalau melihat acara-acara festival yang partisipannya anak muda semua. Ini anak-anak yang nggak menyerah sama apapun, lho Mas. Terus berkarya apa pun yang terjadi. Yang membuat saya sedih adalah dengan bakat dan ide-ide semembludak itu, sebetulnya, di sini yang kita perlu adalah orang-orang yang betul-betul bisa mengarahkan mereka ke jalan yang 'baik dan benar', secara profesional, secara kontekstual dan konseptual sehingga bakat dan ide-ide mereka tidak berlarian ke sana ke mari tanpa arah yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aryandi juga prihatin karena, "Yang maju, majuuu sendirian sampai sukses dan berhenti sampai di situ, ada yang berkarya terus tapi karyanya nggak ketahuan, yang punya &lt;em&gt;link&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;networking&lt;/em&gt; baik tapi karya dan bakatnya pas-pasan justru terekspos dan dijadikan contoh di mana-mana. Padahal, contoh kan nanti akan dicontoh (lagi), dan diharapkan memberikan inspirasi tapi malah tanpa sadar menyebarluaskan kesalahkaprahan. Akhirnya sebelum kita tahu, kita semua sudah terjebak di lingkaran setan yang nggak putus-putus. Di mana di dalam lingkaran itu terjebak orang-orang yang sebetulnya karyanya nanggung dan ilmunya tidak setinggi yang orang-orang kira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya diskusi di milis itu sampai juga ke telinga Garin Nugroho, yang kemudian mengirimkan tanggapannya, begini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Yth sahabat Mumu, Yosef Indra, Aryadni, sahabat-sahabat lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih atas segala kritik, pujian dan pikiran-pikirannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang kesedihan, saya pun sering berulang-ulang merasa seperti itu, baik ketika menyaksikan suatu kondisi penciptaan yang buruk maupun yang luar biasa. Kesedihan adalah bagian dari energi penciptaan untuk diri kita belajar sekaligus khawatir untuk terus mampu mengelola diri kita dengan rendah hati, terbuka, namun sangat kompetitif untuk melakukan pencapaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesalahan yang sering terjadi, menurut pandangan pribadi saya yang terbatas, karena kita sudah cepat puas dan merasa tidak ada penciptaan lain di luar diri kita yang mengagumkan, yang membuat kita cemburu dan mendorong kemarahan untuk mencipta. Artinya, kesalahan yang terjadi seakan di dunia ini, kitalah pengukur dan penggerak segalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, kesalahan kita apabila kita tak lagi khawatir terhadap kondisi sekitar kita, sekiranya penciptaan semakin tidak memberi ruang tumbuh pada bakat, dan kita hidup dalam hipokrasi ketidak mampuan kita melakukan perlawanan atau pun bargaining ataupun kompromi yang kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir kata, saya sangat hormat terhadap kesedihan, pujian, juga kritik terhadap keterbatasan Opera Jawa. Saya selalu bilang pada setiap kali mencipta, "Tidak ada karya saya yang sempurna, tapi melakukan penciptaan dengan percobaan-percobaan meski penuh kegagalan adalah jauh bernilai, karena itu akan memberi inspirasi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu film ini meraih Film Terbaik Asia, saya katakan, "Film ini sama sekali tidak penting, tapi upaya mempertemukan film dengan seni-seni lain, yang langka tumbuh, menjadi penting, karena di situlah berbagai kegagalan ditemukan tetapi juga hal-hal baru lahir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru saja sangat sedih sekaligus cemburu dan bodoh serta kagum menyaksikan karya-karya perupa Salvador Dali dalam mencipta ketika kerjasama dengan Walt Disney atau pun Alfred Hitchcok, dll (di Museum London). Beberapa karya itu gagal terwujud dan kemudian direkonstruksi, dan dari rekonstruksi yang tidak sempurna itu kita menemukan upaya kerja sama yang memberi inspirasi pada diri kita, bahwa disiplin seni dan ilmu lain memberi daya hidup penciptaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan saya pun setiap melihat kembali Opera Jawa, saya sering sedih, melihat begitu banyak kegagalan di situ, namun saya juga sadar, bahwa ada banyak yang bernilai yang akan disebarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga baru saja menyaksikan Pameran Lukisan Raden Saleh dan Perayaan Affandi di Jogja, begitu banyak bakat baru dan penciptaan yang membuat saya merasa bodoh, sedih namun mendorong saya untuk menggali baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film saya yang baru akan dilakukan di Bali dan saya sedang berjalan bertemu dengan maestro-maestro tari Bali. Banyak yang bertanya, "Apakah Anda tidak takut untuk gagal dengan mengajak maestro-maestro berusia 80-90 tahun?" Tentu saja saya khawatir, namun bagi saya, ketika film itu gagal, namun mampu berdialog dan merekam para maestro tari yang murid-muridnya menggemparkan Broadway tahun 1950-an adalah suatu kehormatan dan nilai itu sendiri. Proses dialog dan rekaman itu jauh lebih penting dari diri saya dan karya saya. Karena kemampuan diri sangatlah kecil dibanding kehidupan yang harus kita hormati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SET tahun ini berusia 20 tahun, untuk itu kami melakukan workshop dengan kerjasama sponsor dan mengundang banyak pembimbing dan pengajar baik dari Indonesia dan Luar: John de Rantau, Monty, John Tores (Philipina), Hanung, Gotot Prakosa, Lulu Ratna, David Hanan (Australia), Wulan Guritno, Anchalee (kritikus Thailand), Enison, dll. Tujuannya sederhana, sebisa mungkin memberi ruang penciptaan dan segala keterbatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kita di sini bisa mengakses banyak komunitas dengan berbagai bentuk workshop dan kerja yang luar biasa, di sinilah ruang untuk menemani kesedihan menjadi energi penciptaan, kekaguman menjadi transfer pengetahuan, kritik menjadi referensi, dan dialog menjadi forum berbagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam hormat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Garin Nugroho&lt;br /&gt;Sains Estetika dan Teknologi&lt;br /&gt;Jl. Sinabung No 4-B Kebayoran Baru Jakarta Selatan&lt;br /&gt;Indonesia 12120&lt;br /&gt;Telp (62-21) 72799227 (Hunting)&lt;br /&gt;Fax (62-21) 7229638&lt;br /&gt;Mobille: 0813 10699 493 &lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;e-mail : &lt;a href="http://www.blogger.com/group/dunia-film/post?postID=gl2aFJWgWCodB_4UeTNEduDvPN1YxA_b9icWvCMf15rgIL3IjeF3Ng_T6c5PufrSgy8a1wo"&gt;set@...&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.blogger.com/group/dunia-film/post?postID=0OBN4PfJpDowiF5k6n-EdymCdnPRd8SoBLAjxWacmKALbenRjbRmpREpl1e3FxwFdRO0wDjejt4WUnjGPFjtsWLf"&gt;setfoundation@...&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4806028589318679098?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4806028589318679098/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4806028589318679098' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4806028589318679098'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4806028589318679098'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/09/opera-jawa-surat-kesedihan-garin.html' title='Opera Jawa: Surat Kesedihan Garin Nugroho'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3988141575881294941</id><published>2007-08-31T02:18:00.000-07:00</published><updated>2007-08-31T03:01:44.739-07:00</updated><title type='text'>Bukan Ikan Bukan Daging</title><content type='html'>Selamat malam, teman-teman. Terimakasih atas kehadirannya. Sesuai dengan nama acaranya, Q! Gossip, maka kita ngobrol santai saja ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sejak awal kemunculannya, homoseksualitas dalam film Indonesia tidak pernah sangat jelas. Tidak mudah diindentifikasi secara pasti. Sehingga sampai sekarang kita tidak bisa mengatakan, apakah representasi yang tampak saat ini sebuah kemajuan atau kemunduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Sejauh yang bisa saya lacak, homoseksual muncul pertama kali dalam film Indonesia lewat &lt;em&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh&lt;/em&gt; (Chaerul Umam, 1982). Dalam film ini, laki-laki gay ditampilkan dengan begitu wajar, alamiah, jauh dari stereotip. Namun, sayangnya kehadirannya hanyalah simbol untuk kebobrokan moral masyarakat suatu desa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hal yang kurang lebih sama terulang dalam &lt;em&gt;Berbagi Suami&lt;/em&gt; (Nia Dinata, 2006). Lesbianisme ditampilkan begitu alami, wajar, namun lagi-lagi lebih bersifat simbolis ketimbang otonom mewakili dirinya sendiri. Lesbianisme di situ menjadi simbol perlawanan perempuan (atas dominasi laki-laki yang mewujud dalam praktik poligami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam rentang itu, begitu banyak hal terjadi, tokoh-tokoh gay maupun lesbian bermunculan, namun sama sekali tidak mengubah atau apalagi memperbaiki keadaan. Dari &lt;em&gt;Istana Kecantikan&lt;/em&gt; (Wahyu Sihombing 1988) sampai sekuel &lt;em&gt;Catatan si Boy&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Baru kemudian muncul &lt;em&gt;Arisan&lt;/em&gt; (Nia Dinata, 2003) yang cukup menyentak, namun tetap menyisakan sejumlah catatan kecil: bagian dari gaya hidup urban, dan hanya sub-plot. Artinya, sampai &lt;em&gt;Arisan&lt;/em&gt; pun kita belum bisa mengatakan bahwa kita pernah punya sebuah film yang secara utuh dan menyakinkan bisa disebut sebagai film gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Film &lt;em&gt;Tentang Dia&lt;/em&gt; (Rudi Soedjarwo, 2005) bahkan muncul sebagai sebentuk pernyataan homofobia: keintiman perempuan justru dipinjam untuk mengatakan bahwa cinta homoseksual merupakan suatu kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Dalam latar belakang seperti itu, &lt;em&gt;Coklat Stroberi&lt;/em&gt; (Ardy Octaviand, 2007) adalah sebuah lompatan. Untuk pertama kalinya dalam film Indonesia, homoseksualitas tampil dalam wajah dua lelaki yang sejak awal langsung berpacaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Alkisah, Aldi dan Nesta sudah berpacaran selama dua tahun. Mereka datang ke Jakarta untuk kuliah, dan akan tinggal di rumah kontrakan yang sebelumnya telah dihuni oleh dua orang cewek. Interaksi antara sepasang kekasih gay dengan dua cewek itulah yang kemudian menjadi fondasi dasar untuk membangun narasi-narasi kelucuan, maupun keharuan sepanjang film ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Sampai di sini, apa yang tadi saya bilang sebagai lompatan, ternyata tidak serta merta dan seluruhnya berkonotasi positif. Kecuali hubungan percintaannya yang sudah berjalan dua tahun, Aldi dan Nesta hanyalah pengulangan dari representasi-representasi wacana homoseksualitas dalam film-film Indonesia sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Aldi adalah pengulangan dari Nico dalam &lt;em&gt;Istana Kecantikan&lt;/em&gt;, dan Nesta adalah reinkarnasi dari Nino dalam &lt;em&gt;Arisan&lt;/em&gt;. Yang pertama dilukiskan sebagai lelaki lemah lembut nan gemulai, posesif, cemburuan dan pandai memasak, yang kedua macho dan jantan. Bedanya, jika Nino memiliki konsepsi dan penerimaan diri yang positi sebagai gay, Nesta sebaliknya, dia cenderung denial terhadap identitas seksualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. Tingkat penolakan yang tinggi itu pada satu titik sampai melahirkan teori tentang coklat dan stroberi. Nesta membedakan adanya unsur maskulinitas (coklat) dan feminitas (stroberi) dalam diri seseorang; dan dia berprinsip bahwa seseorang harus memilih salah satu dari keduanya. Oleh karenanya ia gerah melihat pacarnya cenderung memperlihatkan diri sebagai stroberi. Ia tak mau hal itu membuat dua cewek di rumah kontrakan itu curiga akan identitas diri dan status hubungan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. Dengan penokohan seperti itu, pembuat film ini sebenarnya telah melakukan politik seksual --menarik keluar wacana intimasi individual ke dalam konteks luas yang ber-referensi politik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. Term politik seksual datang dari pemikir Marxist Kate Millet, yang memaknai politik sebagai hubungan struktur kekuasaan, bangunan yang diatur sedemikian rupa di mana satu kelompok orang diatur oleh yang lain, satu grup dominan dan yang lain subordinat. Dan, kita semua tahu kelompok yang dominan itu laki-laki dan yang subordinat perempuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14. Dalam konteks hubungan homoseksual, Nesta yang macho dan jantan mendominasi Aldi yang lemah lembut, bahkan begitu kuasa menentukan bagaimana Aldi harus bersikap: perlihatkan dirimu sebagai cokelat meskipun "rasamu" stroberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15. Politik seksual menonjolkan fakta tertentu, dan menyederhanakan atau bahkan cenderung menyembunyian fakta yang lain, lalu mendukungnya dengan indoktrinasi --yang tujuan akhirnya mengontrol individu-- dan tak jarang disertai tindak kekerasan baik&lt;br /&gt;yang terekam maupun tersembunyi (fisik maupun psikis).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16. Dengan gamblang, film &lt;em&gt;Coklat Stroberi&lt;/em&gt; telah memperalat dirinya sebagai tempat bekerjanya politik seksual itu: bagaimana mitos dan stereotip cowok gay dilestarikan: kelemahgemulaian di satu sisi dan penolakan diri di sisi lain; yang pertama menghasilkan gambaran-gambaran karikatural tentang sosok seorang gay, yang kedua berujung pada kebingungan tiada akhir, persepsi diri yang negatif dan upaya untuk "sembuh" dan menjadi normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17. Film ini contoh paling aktual dan barangkali merupakan puncak dari kecenderungan selama ini, bahwa, ketika menampilkan wacana homoseksualitas dalam berbagai wajah dan strategi diskusifnya, film adalah bagian fundamental dari proses konstruksi mitos-mitos, mengokohkan mitos-mitos itu berikut stereotip-stereotip yang menyertainya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3988141575881294941?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3988141575881294941/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3988141575881294941' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3988141575881294941'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3988141575881294941'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/08/bukan-ikan-bukan-daging.html' title='Bukan Ikan Bukan Daging'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8589134368150753615</id><published>2007-08-16T00:01:00.000-07:00</published><updated>2007-08-16T00:38:30.763-07:00</updated><title type='text'>Fashion, Seksualitas, Kelas</title><content type='html'>Kacamata berbingkai plastik warna putih, kalung manik-manik logam menjuntai panjang, dan rambut tampak-basah tegak mencuat ke langit sama sekali tak mampu menyembunyikan fakta bahwa lelaki itu sebenarnya sudah tak muda. Wajahnya yang hitam terlihat makin legam seiring malam yang semakin tua. Kilat keringat menerangi kerut-kerut ketuaannya. Duduk di beton pembatas antara jalur busway dengan jalur bus-bus reguler di Terminal Blok M, Jakarta Selatan, dia tampak sibuk dengan HP-nya seakan terpisah dari riuh dan bising di sekitarnya: tukang rokok dan gorengan, para penunggu bus dan orang-orang yang melintas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sisi lain beton pembatas yang terbentang memanjang itu, tampak pemandangan yang lebih "down to earth", kalau tak bisa dibilang kontras: lelaki muda bertubuh tinggi, kurus, berbalut kaos polo putih dengan tas selempang dan topi "skater". Jins-nya yang megar di ujung kaki membuat dia tampak seperti "mas-mas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya duduk di antara dua "versi" penampakan itu. Waktu itu malam Minggu, menjelang pukul 22.00. Dengan frekuensi yang agak jarang, busway masih bemunculan dari jalurnya, melaju menuju Kota. Saya mencoba untuk tidak menarik perhatian dengan penampilan yang "ala kadarnya": celana bahan motif kotak-kotak kecil warna hijau, kaos biru bergambar lambang Superman warna merah di bagian dada, memakai sandal jepit dan menenteng tas plastik. Berusaha secuek mungkin, saya mulai menyulut sebatang Malboro filter kretek. Demi ilmu pengetahuan, bisik saya dalam hati dengan penuh kepalsuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seberapa lama, seorang lelaki datang, duduk tepat di sebelah saya. Badannya agak besar, mengenakan kaos berwarna dasar kuning garis-garis coklat berkrah putih, tas selempang besar, dan merokok. Duduk sebentar, ia mulai bersenandung. Ngondek sekali. Seperti ada bara di tempat yang didudukinya, ia tampak begitu gelisah, lalu ngeloyor pergi. Saya pun kembali bergantian memperhatikan dua cowok yang duduk di sisi yang berbeda tadi, dan mendapati masing-masing sudah tak sendirian lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kubu si kacamata bingkai putih, terlihat antara lain seorang pria cukup berumur dengan kaos merah berlengan hitam yang kebesaran, sandal jepit, topi "Allstar". Sedangkan pada kubu si down to eart terlihat antara lain cowok muda dengan kaos donal bebek bersandal "Diadora". Awalnya tampak begitu manly tapi begitu bicara, ternyata agak-agak kemayu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbaur di tengah ruang terbuka seramai dan "sekasar" terminal, memang membuat lelaki-lelaki itu tak mudah diidentifikasi sebagai anggota dari komunitas orang-orang dengan orientasi seksual tertentu. Apalagi, secara umum, penampakan fisik mereka cenderung tak jauh berbeda dengan lautan manusia lain di lokasi yang sama. Namun, dengan sedikit kepekaan saja, siapa pun yang cukup akrab atau sudah terbiasa dengan denyut kehidupan di area itu, akan dengan mudah mengindentifikasi mereka sebagai cowok-cowok gay. Masalahnya, siapa sebenarnya yang peduli dengan keberadaan mereka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di terminal, orang-orang hanya datang dan pergi, tak henti-henti, duduk lama atau pun sebentar di beton pembatas itu, merokok, makan gorengan, ngobrol, menelpon, menunggu bus, minum teh botol dan sebagainya. Hanya seorang seperti saya --yang berlagak sebagai peneliti, padahal sebenarnya punya pikiran-pikiran lain tersembunyi yang malu untuk diakui-- sajalah yang memperhatikan mereka dengan seksama. Ah, tapi sumpah, ini demi masa depan ilmu pengetahuan, pekik hati saya makin munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kembali memperhatikan dua kubu itu bergantian, dan masing-masing semakin ramai. Tiba-tiba tiga cowok datang, duduk tepat di sebelah saya dan mengalihkan perhatian saya dari kedua kubu itu. Dua di antara cowok yang baru datang itu masih brondong dan yang satu sudah agak lebih dewasa, cukup keren dengan kaos polo coklat yang mudah ditebak bermerk mahal. Kehadiran si kaos coklat ini segera menarik perhatian salah seorang anggota kubu down to eart. Dia, seorang lelaki berbadan bagus namun agak pendek, berkaos putih ketat bertuliskan "Spirit Bro" dan kunci mobil menyembul dari balik saku celana jins-nya, terdengar seperti bertanya pada diri sendiri, "Yang baju coklat itu sekong nggak sih?" sambil terus mencuri-curi pandang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dipandang dengan cara mencuri-curi agaknya sadar, dan mulai berlagak pasang sikap cool, tapi jatuhnya malah jadi tampak pongah dan kege-eran. Selanjutnya, kubu down to earth ini memang lebih banyak menyita perhatian saya, karena orang-orang baru terus berdatangan, bergabung. Salah seorang dari mereka, lelaki berumur yang mengenakan kaos hitam ber-resleting yang dipadu dengan celana 7/8, dengan gaya yang sangat kemayu. Datang-datang dia langsung menyarankan pada seorang tukang roti yang ada di situ untuk ikutan acara Dangdut Mania di TPI. Dari obrolan selanjutnya saya tahu dia kru acara tersebut. Dia mencatat nomer HP si tukang roti, seorang lelaki berkulit hitam, berambut agak ikal, berwajah cukup manis untuk ukuran mas-mas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai dari urusan tersebut, kru TPI itu meneriaki lelaki bertopi "Allstar" berkaos kedombrongan yang ada di kubu kacamata bingkai putih. "Hai, Mariance Mantau!" Dipanggil dengan nama artis tahun 80-an, dia segera menghampiri. Ikut pula menyeberang kubu bersamanya, seorang lelaki --ya, lagi-lagi berumur-- berpenampilan sangat jadul: topi yang dibalik ke belakang. Berkaos ketat garis-garis ungu dengan warna dasar putih, anting mungil menghiasi telinga kirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sahabat yang lama tak saling berjumpa, mereka bertiga tenggelam dalam canda yang seru dan saling meledek. Sementara, si "Spirit Bro" masih juga penasaran dan mengincar si coklat yang sok-cool itu. Si kaos donal merespon dengan sengaja mengeras-ngeraskan suaranya, "Katanya pengen kenalan sama baju coklat?" Kru TPI ikut-ikutan menimpali, lalu berseru ke arah si coklat sok-cool. "Jangan didengarin, Mas, dia banci."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si coklat menatap sekilas kubu itu, dengan kilatan sinar mata tak suka, bahkan seperti meremehkan. Seolah ia merasa terlalu keren untuk lelaki-lelaki yang sedang berusaha menggodanya itu, atau sebaliknya, ia sebenarnya juga cukup tertarik dengan si "Spriti Bro" yang sekali lagi harus diakui berbadan bagus. Masalahnya, siapa yang tahu kalau si coklat cool yang anggota rombongannya dua cowok berusia brondong bergaya punk itu juga gay?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa saja bisa singgah di beton pembatas itu, dari pengamen yang meruapkan aroma badan tak sedap hingga serombongan lelaki berbahasa jawa timuran berkaos The Beatles, Che Guevara dan sebagainya yang mencomot tahu dan bakwan dan memakannya sambil berdiri di depan penggorengan. Dan, malam terus merambat, membuyarkan bayangan orang-orang yang bergegas. Busway terakhir baru saja lewat, tapi di jalur reguler, metromini masih berderet panjang sampai nanti jauh malam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang pria bertampang bapak muda yang sedang gundah, dari balik jendela kaca Kopaja jurusan Kampung Rambutan menatap heran ke arah si kacamata bingkai putih, yang kini tinggal berdua saja dengan seorang cowok muda berambut spike ekstrem, bercelana 3/4 dengan kemeja putih transparan yang bagian lengannya digulung tinggi memperlihatkan lengannya yang kurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menoleh ke kubu down to earth, dan satu per satu juga mulai pergi. Seorang perempuan berbedak tebal, bertindik dua di telinga kanannya dan mengenakan kardigan tipis warna hijau tigapuluhribuan muncul begitu tiba-tiba, dan menyapa si tukang roti. Busway terakhir mungkin sudah menyusuri ujung terjauh Jalan Sudirman, tapi malam masih panjang di terminal itu. Karena setelah ada yang pergi, selalu ada yang lain yang baru saja memulai hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8589134368150753615?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8589134368150753615/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8589134368150753615' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8589134368150753615'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8589134368150753615'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/08/fashion-seksualitas-kelas.html' title='Fashion, Seksualitas, Kelas'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6844541439194163145</id><published>2007-08-09T02:19:00.000-07:00</published><updated>2007-08-09T02:30:54.260-07:00</updated><title type='text'>Nggak Ada Hal Lain yang Lebih 'Kurang Kerjaan' yang Bisa Kau Lakukan Ya, Mu?</title><content type='html'>Buaya-buaya tak mampir di pameran. Dan, naga hanyalah nama buah aneh berwarna merah muda yang mudah kau dapat di supermarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, anak itu terus merengek minta dipertontonkan buaya, mungkin dia merasa sedang diajak piknik ke kebun binatang. Dan, sang bapak nyaris putus asa menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan-tuan, nyonya-nyonya, jikalau sekiranya sudah tidak ada hal yang lebih bermakna dan berguna yang bisa Anda sekalian lakukan, ajaklah keluaga dan handai tolan ke Lapangan Banteng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuan-tuan dan nyonya-nyonya tidak usahlah terlalu risau dengan tulisan besar di spanduk itu. Pameran Flora dan Fauna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud saya begini. Tentu saja saja Anda sekalian akan berjumpa dengan aneka rupa aglaonema, adenium, buah-buahan dalam pot, kaktus-kaktus mungil, bonsai berumur tahunan dan sebagainya itu, yang semuanya sudah barang tentu sedap di mata dan menghibur jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda juga akan menyaksikan kura-kura hijau kecil dalam kotak kaca, aneka ular, tikus putih, kelinci dan seekor iguana yang sedih karena tak bisa bergerak di kurungannya yang terlalu sempit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebuah papan pengumuman: di sini tempat pendaftaran Putri Flora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai, kenapa tidak ada pemilihan Putri Fauna?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, tuan-tuan dan nyonya-nyonya, yang jauh lebih menarik perhatian pengunjung justru terutama bukan itu semua. Melainkan: kerak telor di mana-mana; air mineral ajaib dalam bambu apalah itu namanya yang harganya 50 ribu per ruas yang konon bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang membuat orang-orang berebut dalam antrian panjang;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, minuman segar aneka herbal dari teh pegagan sampai lidah buaya, dan buah-buahan yang pohonnya ditanam tanpa pupuk kimia;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, semua orang tiba-tiba ingin sehat;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, jambu air, belimbing, sawo itu...hanya karena dilabeli kata organik, semua orang jadi ingin membelinya dan harganya sudah barang tentu lebih mahal dari biasanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6844541439194163145?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6844541439194163145/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6844541439194163145' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6844541439194163145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6844541439194163145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/08/nggak-ada-hal-lain-yang-lebih-kurang.html' title='Nggak Ada Hal Lain yang Lebih &apos;Kurang Kerjaan&apos; yang Bisa Kau Lakukan Ya, Mu?'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-656705353100172960</id><published>2007-07-30T00:07:00.000-07:00</published><updated>2007-07-30T20:12:54.604-07:00</updated><title type='text'>Kepada Tukang VCD Bajakan di Glodok yang Mendekati Gue -pas Gue Lagi Nyari-nyari CD Snow Patrol- dan Berbisik, "Bokep? Bokep? Yang Gay juga Ada."</title><content type='html'>Maksuuud Looo, Baaang???&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-656705353100172960?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/656705353100172960/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=656705353100172960' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/656705353100172960'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/656705353100172960'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/kepada-tukang-vcd-bajakan-di-glodok.html' title='Kepada Tukang VCD Bajakan di Glodok yang Mendekati Gue -pas Gue Lagi Nyari-nyari CD Snow Patrol- dan Berbisik, &quot;Bokep? Bokep? Yang Gay juga Ada.&quot;'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-694802822057993828</id><published>2007-07-29T23:36:00.000-07:00</published><updated>2007-07-30T20:12:32.791-07:00</updated><title type='text'>Telegram</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;GEMETARLAH DALAM SEPATU KALIAN PARA BIROKRAT TITIK KEKUATAN INTERNASIONAL DEWAN BURUH AKAN LANGSUNG MENYAPU HABIS KALIAN TITIK UMAT MANUSIA TIDAK AKAN BAHAGIA SAMPAI BIROKRAT TERAKHIR DIGANTUNG DENGAN USUS KAPITALIS TERAKHIR TITIK HIDUP PERJUANGAN PELAUT-PELAUT KRONSTADT DAN KAUM MAKHNOVIS DALAM MELAWAN TROTSKY DAN LENIN TITIK HIDUP PEMBERONTAKAN BUDAPEST 1956 TITIK MAMPUS NEGARA TITIK&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-694802822057993828?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/694802822057993828/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=694802822057993828' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/694802822057993828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/694802822057993828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/telegram.html' title='Telegram'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3780378114191032107</id><published>2007-07-27T01:51:00.000-07:00</published><updated>2007-07-27T02:55:12.728-07:00</updated><title type='text'>Hari Terburuk yang Membawaku pada (Ingatan tentang) Hakikat Hidup</title><content type='html'>Aku telah melewatkan satu hari terburuk pada pekan terakhir bulan Juni ketika angin bertiup terlalu kencang sehingga menerbangkan selembar daun kering dari pohon mahoni yang tumbuh jauh di halaman ke hamparan karpet merah di dalam Masjid Istiqlal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari, rekan sekantor memberitahu bahwa saya harus ikut dengannya bertemu orang MUI (Majelis Ulama Indonesia) untuk memperkenalkan produk baru perusahaan kami, sebuah portal tentang bisnis berbasis syariah. Maka, ketika hari yang telah dijadwalkan itu tiba, saya datang ke kantor dengan penampilan yang tak seperti biasa. Kali ini lebih rapi dengan celana bahan, sepatu pantofel dan kemeja lengan panjang yang sebenarnya membuat sekujur tubuh saya seperti diikat dengan tali sehingga tak bebas bergerak. Jam sepuluh lebih kami berangkat dan saya sama sekali tak tahu, akan bertemu dengan siapa nanti di sana, dan apa agendanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya bertanya di dalam taksi, rekan sekantor saya lagi-lagi hanya bilang, akan bertemu dengan orang MUI. Agenda? Yang penting kenalan dulu, kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di sana, kami menunggu di ruang rapat dan tuan rumah yang menyambut kami tampak sibuk menyiapkan layar, &lt;em&gt;in-focus&lt;/em&gt; dan laptop. Saya mulai cengok, autis dan mati gaya. Orang-orang lalu berdatangan. Obrol punya obrol, saya pun mulai tahu, bahwa akan ada meeting persiapan tablig akbar ulang tahun MUI sekaligus pencanangan gerakan syariah nasional. Ternyata, permintaan kami bertemu orang MUI untuk memperkenalkan portal baru kami, dikabulkan dengan melibatkan kami dalam rapat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menunggu lebih dari satu jam, rapat pun dimulai tepat pukul 12.00. Saya terheran-heran, bagaimana mungkin sebuah pertemuan yang berlangsung di kantor MUI, di kompleks masjid, dan bertujuan membahas sesuatu yang berkaitan dengan syariah, justru meninggalkan praktik yang paling syariah itu sendiri, yakni salat tepat waktu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa lacur, saya ikut saja duduk di meja bundar, di antara orang-orang dari lembaga yang baru hari itu saya dengar namanya, yang semuanya berkaitan dengan ekonomi syariah. Ada juga beberapa pejabat bank syariah. Saya ikut mendengar ketua panitia tablig akbar melaporkan persiapannya. Saya ikut mendengar KH Maruf Amin memberikan arahan-arahan singkatnya. Saya ikut mendengar banyak hal yang mestinya tak saya dengar, karena memang tidak berkaitan dengan hajat hidup saya, apalagi hajat hidup orang banyak. Gerakan syariah nasional? Plis deh! Kalangan aktivis pro rakyat pasti akan bilang: masyarakat sekarang ini makan sehari-hari saja susah boro-boro mikir ekonomi syariah...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya bukan aktivis apalagi pro rakyat. Saya hanya merasa telah melewatkan satu hari terburuk saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah dua rapat selesai, dan rekan sekantor saya sambil ngedumel buru-buru mengajak saya meninggalkan ruangan untuk salat dhuhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kembali ke kantor, di dalam taksi saya berpikir bahwa hari terburuk itu akhirnya lewat sudah. Ternyata, sampai di kantor, saya harus menghadapi kenyataan lain yang tak kalah buruk. Bos saya membawa anaknya yang masih balita ke kantor, dan anak itu berteriak-teriak tak henti-henti. Saya duduk di depan komputer dengan konsentrasi yang kacau. Saya ingin pulang, tapi tentu tak enak sama teman-teman. Tapi, terus bertahan di depan komputer, toh tak bisa melakukan apa-apa selain ceting dan brosing nggak jelas. Akhirnya, setelah kenyang dengan kegaduhan kantor yang luar biasa, menjelang setengah 6 saya cabut dan "berlari" ke Plaza E.X.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya harus memulihkan &lt;em&gt;bad-mood&lt;/em&gt; saya akibat hari terburuk yang telah saya lalui. Saya ke Starbucks dan melihat teman saya, Alif sedang jaga. Saya samperin dia. Cukup lama kami tidak bersua. Dia menyambut saya dengan mengatakan, telah membaca artikel saya di &lt;em&gt;Addiction&lt;/em&gt; dan dia merasa menjadi model untuk tulisan saya itu. "Pas baca, eh, tulisan Mumu, dan isinya kok gue banget, behel warna ijo hihihi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia lalu memberi saya secangkir coklat panas. Saya duduk sambil membaca &lt;em&gt;Hers&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Area &lt;/em&gt;terbaru, sambil menikmati musik yang menggema dari lobi bawah, yang dimainkan oleh seorang DJ. Di sela melayani pembeli, Alif menghampiri meja saya dan kami ngobrol. Ketika ada pembeli, dia segera bergegas untuk melayani. Beberapa pembeli tampak sudah akrab dengannya, dan petang itu itu ada yang memberi dia dua dus &lt;em&gt;popcorn&lt;/em&gt;. Lalu, datang seorang lelaki yang sangat gemulai, dengan kaos hitam lengan panjang ketat yang memperlihatkan perutnya, memesan minuman sambil berbincang akrab dengan Alif, kemudian pergi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa, Lif?" tanya saya ketika Alif ke meja saya lagi. "Perancang di sebuah &lt;em&gt;bridal house&lt;/em&gt;, baru pulang dari sekolah mode di Amrik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam setengah 7 Alif &lt;em&gt;break&lt;/em&gt;, dan membawa satu kotak &lt;em&gt;popcorn&lt;/em&gt;-nya ke bangku saya. Kami ngobrol lebih lepas dan lebih santai. Lalu, ia mengajak saya ke &lt;em&gt;smoking room&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru beberapa detik di kotak kaca yang sempit itu, seseorang masuk dan bergabung. Ternyata, Alif mengenalnya. Mereka ngobrol. Dia seorang lelaki cina usia 26-an, berbadan kekar, dengan kaos hitam ketat dan celana militer, membawa salah satu episode &lt;em&gt;Harry Potter&lt;/em&gt; edisi Indonesia. Tak lama kemudian dia pergi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa. Lif?"&lt;br /&gt;"Pramuniaga di Sogo, pacaran sama &lt;em&gt;marketing manager&lt;/em&gt;-nya Selebriti Fitness, cowok juga, tapi cowok itu sekarang pulang ke kampungnya di Malang, jadi dia merana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali ke Starbucks dan sebentar kemudian saya pamit untuk nyari makan. Alif menolak ajakan saya untuk bergabung makan di Pizza Hut di sebelah Starbucks. Usai makan, saya turun menikmati &lt;em&gt;live music&lt;/em&gt; dari sebuah band beranggota empat anak muda tanpa (pemain) dram --melainkan perkusi-- yang menyanyikan lagu-lagu Maroon 5 dan Jamie Culum. Saya menikmati semuanya seorang diri, duduk di sofa sambil mengamati lalu-lalang orang di eskalator.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya melihat teman saya, Erza yang belum lama merilis novel &lt;em&gt;Roman Sarkastik&lt;/em&gt;. Tapi, saya tidak berminat untuk menyapanya. Saya sedang ingin sendiri saja. Lalu, saya juga melihat Ve Handojo yang baru saja pulang berlibur di Turki setelah skrip film horonya, &lt;em&gt;Kuntilanak&lt;/em&gt;, sukses di Malaysia. Tapi, saya juga malas menyapa. Saya benar-benar ingin sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, tiba-tiba sudah setengah sembilan. Saya bangkit dan melangkah menyusuri satu sisi lorong E.X menuju Plaza Indonesia. Di jembatan, saya berpapasan dengan VJ Daniel. Kali ini saya ingin menyapa. Tapi, dia sedang sibuk bicara di telepon dan berjalan buru-buru. Di samping itu, saya tidak mengenal dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tertawa getir dalam hati, dan sambil mempercepat langkah, saya teringat baris panutup cerpen Nuage Kusuma berjudul &lt;em&gt;Lari&lt;/em&gt; yang dimuat di antologi &lt;em&gt;Rahasia Bulan&lt;/em&gt;: Aku terlahir ke dunia ini seorang diri. Sendiri itulah hakikatnya. Percuma mencoba lari dari hakikat itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3780378114191032107?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3780378114191032107/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3780378114191032107' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3780378114191032107'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3780378114191032107'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/hari-terburuk-yang-membawaku-pada.html' title='Hari Terburuk yang Membawaku pada (Ingatan tentang) Hakikat Hidup'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3132650595536427605</id><published>2007-07-20T01:27:00.000-07:00</published><updated>2007-07-20T01:32:44.553-07:00</updated><title type='text'>Aneh, Ironis, Absurd</title><content type='html'>Sebutir buah ciplukan memberi tahu aku, bahwa sebagian dari yang tampak mewah dalam hidup ini, sebenarnya hanyalah sesuatu yang pernah menjadi bagian dari masa lalu orang-orang kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau tahu ciplukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mungkin hanya tak ingat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, aku ingat. Dulu, aku sering menemukannya, meranggas kesepian di sela rimbun rumpun rumput tegalan pinggir kali. Pohonnya berupa perdu rendah, dengan batang-batang lunak tak berkayu. Daunnya nyaris menyerupai lambang 'cinta', dan buahnya --yang kami sebut ciplukan itu-- kecil-kecil, seukuran buah kersen namun terbungkus kelopak tipis yang mengerucut ke bawah. Bila kau kupas kelopak itu, akan tampak buah mungil yang mengkilat. Hijau warnanya jika masih mentah, dan oranye menyala jika sudah masak. Rasanya asem dengan sedikit manis. Kulit ari buahnya cukup keras, sehingga kalu digigit akan bunyi 'pluk' seperti benda berongga yang pecah. Daging buahnya yang lunak berarir banyak seperti tomat bisa muncrat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu selalu mengingatkan agar aku tak menjamah buah-bauh yang bergelantungan itu, karena dalam keyakinan dia, ciplukan tumbuh dari tahi manusia. Tapi, kami, anak-anak, lebih percaya ujaran yang mengatakan bahwa ciplukan itu tumbuhan liar makanan ular kebun. Dan, kami tak begitu menggubris apapun kata orang tentang ciplukan, dan setiap menemukan pohon itu di antara semak belukar, kami merasa seperti menjumpai sebuah keajaiban. Kami langsung memetikinya jika kebetulan buah-buahnya sedang masak, dan memakannya tanpa ragu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seiring bertambahnya usia, masa kanak-kanakku berlalu dan pohon ciplukan pun menghilang dari pandangan, juga ingatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai beberapa waktu lalu, aku menemukan sebuah artikel di majalah gratisan (namanya lupa, saking banyaknya majalah gratis sekarang) tentang ciplukan. Katanya, buah itu cukup bergengsi dan disukai di Prancis, dan dijual di supermarket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, pada suatu siang, dalam sebuah jamuan makan di sela seminar di hotel berbintang, aku menemukan beberapa butir buah yang kucurigai ciplukan, oranye menggoda, dengan kelopaknya yang mengering masih dibiarkan menempel, &lt;em&gt;nyungsep&lt;/em&gt; di kubangan es krim yang lumer bertabur coklat. Penasaran, aku ambil satu dan aku gigit. Benar, ternyata ciplukan. Aku langsung ingat pada hari-hari ketika kami, orang-orang kampung, masih suka berkebun dengan memanfaatkan sebidang tanah di sepanjang bantaran sungai. Ayah menanam singkong dan aku menyusuri jalan-jalan setapak di antara pepohonan, membayangkan diriku Brahma Kumbara Raja Madangkara yang sedang mengembara, menjelma rakyat jelata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai berhari-hari aku masih memikirkan ciplukan dalam kubangan es krim itu. Bagaimana ceritanya, buah yang dalam keyakinan ibuku tumbuh dari kotoran manusia, dan dalam pengetahuan kami tak lebih dari tumbuhan liar makanan ular, ternyata mendapat tempat yang berharga dalam dunia kuliner hotel berbintang, di zaman ketika aku sudah dewasa. Peradaban kota, manusia-manusia modern ini, kadang-kadang memang aneh, ironis dan absurd...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3132650595536427605?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3132650595536427605/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3132650595536427605' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3132650595536427605'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3132650595536427605'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/aneh-ironis-absurd.html' title='Aneh, Ironis, Absurd'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-7081712992797280284</id><published>2007-07-11T02:14:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T02:49:41.095-07:00</updated><title type='text'>Berjuang Meraih Mimpi. Berjuang?</title><content type='html'>Jangan percaya kalau mendengar atau membaca bahwa film &lt;em&gt;Kamulah Satu-satunya&lt;/em&gt; bercerita tentang perjuangan dan kenekadan seseorang mengejar impiannya. Jangan. Nanti kau akan berharap terlalu banyak. Nanti kau akan kecewa. Karya terbaru Hanung Bramantyo ini hanyalah sebuah film konyol yang sangat membosankan tentang kejamnya Jakarta; yang mestinya dibuat pada 1970-an. Selain lagu-lagu yang didaur ulang untuk &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt;, dalam film ini kau hanya akan menemui hal-hal usang: orang desa yang terkagum-kagum melihat Patung Selamat Datang, menumpang mobil bak terbuka bersama kambing-kambing dan tentu saja tersesat, bertemu orang yang tampaknya baik tapi ternyata penipu, dan selebihnya, copet di mana-mana. Ah, tapi film ini mungkin memang dimaksudkan sebagai cerita tentang perjuangan dan kenekadan seseorang mengejar impiannya. Cuman, karena pembuatnya tidak mampu mengembangkan cerita dengan "benar" dan wajar, akhirnya menjadi &lt;em&gt;nggeladrah ndak karu-karuan&lt;/em&gt;. Nirina berperan sebagai cewek desa yang berharap memenangkan kuis nonton konser Dewa di Kemang. Ketika harapan itu kandas, ia berusaha mati-matian, menempuh berbagai cara untuk tetap bisa bertemu dengan band idolanya itu. Dan, ia berhasil. Namun, ini memang film tentang perjuangan dan kenekadan seseorang mengejar impiannya. Jadi, untuk memberi efek yang diinginkan itu, pembuat cerita harus menempatkan berbagai rintangan yang menghadang tokoh tersebut dalam usahanya mewujudkan impiannya itu. Rintangan-rintangan itulah yang kemudian membelokkan film ini menjadi sebuah banyolan yang tidak hanya nggak lucu, tapi juga nggak mutu, nggak penting dan nggak...banget! Nggak percaya, sih bukankah dari awal sudah saya bilang, ini bukan film tentang perjuangan dan kenekadan seseorang meraih impiannya. Jadi, masih nekad mau nonton?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-7081712992797280284?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/7081712992797280284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=7081712992797280284' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7081712992797280284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7081712992797280284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/hanunglah-satu-satunya.html' title='Berjuang Meraih Mimpi. Berjuang?'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4718374787556283952</id><published>2007-07-09T21:30:00.000-07:00</published><updated>2007-07-11T02:25:14.776-07:00</updated><title type='text'>Anak-anak Borobudur</title><content type='html'>"Sebenarnya kamu lebih menderita hantu sawah. Karena belum apa-apa kamu sudah langsung menjadi hantu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah berkata begitu, Amat mencabut orang-orangan yang terbuat dari jerami itu dan memanggulnya, seperti Yesus memanggul salib, dan tertatih-tatih sepanjang pematang untuk membawanya pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, hantu sawah ini harus diruwat, Pak, diruwat. D-i-r-u-w-a-t," kata anak itu setelah sampai di rumah. Sang Bapak yang bisu, malah menyodorkan cangkir minum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, salah seorang dari serombongan abege yang duduk di depan saya berbisik, "Diruwat apaan sih? Dirawat?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film dibuka begini: Amat yang sedang sibuk membuat patung sambil menyanyikan lagu dolanan &lt;em&gt;Cublak-cublak Suweng &lt;/em&gt;disodori sepiring nasi dan lauk-pauk oleh bapaknya, dan dia menyambut dengan kalimat, "Pak, orangtua itu tak hanya perlu memberi makan anaknya, tapi juga harus memberi nasihat." Dan, Amat terus nyerocos mengajari bapaknya tentang nasihat seperti apa yang harus diberikan oleh seorang bapak kepada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan berganti, Amat hendak berangkat ke sekolah. Sang Bapak menyodorkan tangan (kanan). "Pak, masak tangan kanan terus yang harus dicium, nanti tangan kiri iri lho." Sang Bapak pun menurunkan tangan kanannya dan mengulurkan tangan kirinya. Amat menciumnya. Lalu, anak itu mengejar perempuan yang sedang berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbak Mi, Mbak Mi," panggilnya. "Mbak Mi ndak keramas ya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amat adalah tokoh khas ciptaan Arswendo Atmowiloto, sutradara sekaligus penulis skrip film ini: bocah desa (Jawa) yang pintar, &lt;em&gt;kemlinthi&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;celelekan&lt;/em&gt;. Namun, entah karena akting pemerannya (Adadiri Tanpalang) yang kaku, kurang luwes dan sering wagu (sebagai bocah lelaki dia terlalu kemayu) , atau karena dialog-dialog yang dibebankan kepadanya setara dengan ujaran-ujaran seorang filsuf atau setidaknya orang dewasa, ia menjadi ganjalan terbesar dari film ini. Setiap bicara ia begitu tampak bijak dan selalu ingin melucu, tapi hampir selalu gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ketika pada keadaan tertentu, ia bisa berubah menjadi "sangat tua". Lihat bagaimana ia berkali-kali menguliahi bapaknya (Adi Kurdi) yang bisu, yang puncaknya terjadi pada adegan ketika ia merenggut peralatan mematung dari tangan Sang Bapak lalu membuangnya jauh-jauh, dan meradang, "Ini bukan saatnya diam, Pak, ini saatnya bicara, ayo, Pak bicara, Pak, bicara, bicara..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bapak Amat bekerja sebagai pematung. Istrinya, alias Ibu Amat pergi entah ke mana. Amat mewarisi bakat mematung bapaknya, dan suatu hari diminta sekolah untuk mewakili daerahnya ikut lomba tingkat propinsi. Patung amat dinilai terbaik, tapi ketika upacara penyerahan piala, ia mengungkapkan sesuatu yang membuat semua orang merasa tertipu. Amat pun kemudian dijauhi oleh teman-temannya, dan dibenci guru-gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain bersahabat dengan Siti (Acintyaswasti Widianing) yang anak seorang bakul di pasar, dan dekat dengan teman barunya yang datang dari Jakarta, Yoan (Lani Regina) yang cucu seorang ningrat (Nungki Kusumastuti), Amat kecil juga berteman dengan Mbak Mi (Djenar Maesa Ayu) yang merana ditinggal suaminya karena anaknya cacat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan-hubungan itu jalin-menjalin, menganyam satu kesatuan plot yang runtut, mengalir dan solid, yang dituangkan dalam gambar-gambar indah ala kartu pos berlatar panorama Desa Muntilan nan eksotik. Tampak dan terasa, pada beberapa bagian, Arswendo sengaja mencangkokkan suasana-suasana dan analogi-analogi dari karya(-karya) dia sebelumnya, seperti serial televisi &lt;em&gt;Keluarga Cemara&lt;/em&gt;. Kesatuan yang padu ini membuat saya bisa melupakan kekurangwajaran yang muncul dari penokohan Amat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap bahwa &lt;em&gt;Anak-anak Borobudur&lt;/em&gt; adalah obsesi Arswendo pada nilai moral tertentu (dalam hal ini kejujuran), dan ia menempatkan diri sebagai semacam "guru bangsa" yang hendak menyuarakan pesan itu kepada negerinya. Kapasitas Arswendo memang sudah memungkinkan untuk itu, setara dengan Deddy Miswar yang melakukan hal yang sama untuk bangsanya lewat &lt;em&gt;Nagabonar Jadi 2&lt;/em&gt; tempo hari. Mungkin, film ini juga lebih cocok untuk ditonton ramai-ramai para pejabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, film ini minim publikasi dan dianaktirikan oleh 21. Di Studio 6 Blok M Plaza misalnya, film ini harus berbagi jam tayang dengan 3&lt;em&gt; Hari untuk Selamanya&lt;/em&gt;: dari 5 jam tayang, dua untuk &lt;em&gt;Anak-anak Borobudur&lt;/em&gt;, selebihnya untuk &lt;em&gt;3 Hari&lt;/em&gt;. Dan, anak-anak remaja yang sedang liburan sekolah itu lebih memilih untuk menyerbu &lt;em&gt;Die Hard&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Transformers&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Fantastic Four&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mat, mau ke mana?"&lt;br /&gt;"Aku mau ke gunung."&lt;br /&gt;"Untuk apa ke gunung?"&lt;br /&gt;"Ke gunung kok untuk apa! Ke gunung ya ke gunung. Ndak perlu ditanya untuk apa. Ibu pergi untuk apa? Bapak bisu untuk apa?"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4718374787556283952?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4718374787556283952/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4718374787556283952' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4718374787556283952'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4718374787556283952'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/sebenarnya-kamu-lebih-menderita-hantu.html' title='Anak-anak Borobudur'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6959681474799956879</id><published>2007-07-02T00:11:00.000-07:00</published><updated>2007-07-02T00:16:46.563-07:00</updated><title type='text'>Menjadi Wartawan Kompas</title><content type='html'>&lt;em&gt;Aldi tidak digambarkan sebagai cowok yang genit...secara keseluruhan, adegan demi adegan disajikan dengan wajar...sangat menjunjung tinggi sebuah pilihan hidup...cerita yang...bermakna dalam.&lt;/em&gt; (Susi Ivaty, "Pilih Coklat atau Stroberi? Ya Coklat Stroberi", &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;, 1 Juli 2007)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi wartawan &lt;em&gt;Kompa&lt;/em&gt;s, Susi, bukan berarti kamu tidak perlu bergaul, mengenali di mana kamu hidup saat ini, dan dengan orang-orang seperti apa? Kau bukan perempuan berjilbab umur 46 tahun yang tinggal di desa Kemusu, Boyolali yang sepanjang hidupnya tak pernah ke mana-mana selain membantu suami di sawah, mengurus anak-anak serta pergi ke kawinan dan pengajian. Jadi, kalau kau menulis resensi seperti itu, sebenarnya dunia mana yang kau pijak selama ini?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6959681474799956879?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6959681474799956879/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6959681474799956879' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6959681474799956879'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6959681474799956879'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/07/menjadi-wartawan-kompas.html' title='Menjadi Wartawan Kompas'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3562614617755938880</id><published>2007-06-21T03:27:00.000-07:00</published><updated>2007-06-22T01:23:07.010-07:00</updated><title type='text'>Matinya Homoseksualitas</title><content type='html'>Kematian homoseksualitas sebenarnya sudah lama kami ramalkan, bahkan diam-diam kami tunggu-tunggu; karena pada dasarnya kami tinggal menunggu waktu. Siapa sangka, ketika hal itu akhirnya benar-benar terjadi, ternyata kami lebih terkejut daripada yang kami duga. Mungkin kami hanya tak menyangka bahwa akhirnya, yang melakukannya --membunuhnya-- seorang perempuan kemarin sore yang barangkali hanya ingin numpang beken dengan memanfaatkan isu yang tengah ngetren.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin kami hanya tak rela bahwa homoseksualitas mati lebih cepat dari yang kami perkirakan, dengan cara yang teramat sepele bagi kami. Rasanya hampir tak percaya bahwa malam minggu kemarin kami masih melihatnya duduk di tengah keramaian Ohlala - Thamrin, makan &lt;em&gt;beef potatoes&lt;/em&gt; dan menenggak sebotol bir bintang. Wajahnya riang seperti biasanya, tanpa menunjukkan tanda-tanda apapun bahwa ia akan meninggalkan kami. Hanya, memang, malam itu ia tak banyak bicara. Kami malah sempat menggodanya, sedang jatuh cinta ya? Kalem dia tersenyum, lalu melanjutkan makannya. Eh, tak tahunya, seminggu kemudian, tepat pada Senin tengah hari, remaja-remaja yang usai kuliah nomat di Blok M Plaza, menonton film &lt;em&gt;Coklat Stroberi&lt;/em&gt; --gubrak-- homoseksualitas terkapar seperti pria pensiunan terserang penyakit jantung, mati seketika dengan wajah meninggalkan kerut-kerut misteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang keluar dari gedung bioskop dengan perasaan tak menentu. Keesokan harinya koran-koran pagi ramai memberitakan dengan nada yang berbeda-beda: ada yang terang-terangan mensyukurinya, namun tak sedikit pula yang tak bisa menutupi rasa simpati. Harian &lt;em&gt;Benteng Moral Rakyat&lt;/em&gt; menulis dalam tajuknya: Ditandai dengan keberhasilan seorang &lt;em&gt;filmmaker &lt;/em&gt;muda berbakat menyembuhkan seorang remaja gay dari Bandung, homoseksualitas telah menghembusan nafas terakhirnya dengan tenang. Masyarakat tak perlu khawatir lagi akan kemungkinan terancamnya nilai-nilai keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang sejarawan tua, dari atas kursi rodanya, dengan perasan kecut melipat koran itu dan melemparkannya ke sudut. Ia lalu menelepon redaksi sebuah stasiun televisi yang memiliki acara &lt;em&gt;talkshow&lt;/em&gt; berating tinggi. "Tolong angkat ini ya, orang-orang industri perfilman telah menjadi pedagang-pedagang kelontong yang memperalat kata realitas untuk menyusun drama murahan penguras airmata abege-abege tak berotak," Sebelum emosinya tak terkontrol ia menutup telepon dan menarik nafas panjang. Lalu, menyetel acara gosip dan melihat Ivan Gunawan tengah menjawab pertanyaan wartawan tentang kapan menikah dan seperti apa cewek idolanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebulan kemudian, ketika kami sudah hampir bisa melupakan kematian tragis itu, kami melihat homoseksualitas duduk di salah satu sofa di sudut Heaven. Wajahnya putih dalam keremangan ruang diskotek; kami menduganya itu pastilah hantu. Tapi, dia menyapa kami duluan, menjabat tangan kami satu per satu dan mengajak kami bergabung menikmati &lt;em&gt;vodca orange&lt;/em&gt; --ia jadi &lt;em&gt;host&lt;/em&gt; malam itu. Kami tak banyak bertanya, karena toh suara kami akan tertelan oleh hentakan musik yang menggema. Kami hanya menduga-duga bahwa mungkin sebenarnya selama ini homoseksualitas tidak mati. Ia hanya sedikit kecewa dengan keadaan, atau muak dengan sinetron-sinetron relijius yang sudah berlebihan dan keterlaluan dalam mengolok-olok dirinya, dan ditambah film-film dari generasi baru yang ternyata tak banyak membantu. Atau, mungkin dia hanya bosan dengan pekerjaannya, lalu sengaja menyepi sejenak ke sebuah vila di Pattaya atau Seminyak, berbaring di atas pasir pantai pukul tujuh pagi dengan dada telanjang, sambil membaca majalah yang memuat artikel profil Fachry Albar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bayangkan, di sana ia ditemani satu dua brondong lokal berkulit coklat agak gelap, berwajah manis, berbibir irisan buah delima dan mengenakan &lt;em&gt;boxer&lt;/em&gt; putih bergambar bunga cengkeh kartu remi warna hijau; membiarkan jemari mungil mereka memijiti punggung dan bahunya. Malamnya, dia pergi ke klab, dan bertemu serta menyapa basa-basi satu-dua wajah selebriti laki-laki dari Jakarta yang tengah mencari pria bule setengah tua, dan salah satu dari mereka sempat bertanya, apakah dirinya akan datang ke peluncuran novel gay Erza ZT berjudul &lt;em&gt;Roman Sarkastik&lt;/em&gt; di Balcony, 27 Juni nanti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3562614617755938880?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3562614617755938880/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3562614617755938880' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3562614617755938880'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3562614617755938880'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/matinya-homoseksualitas.html' title='Matinya Homoseksualitas'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8610024900743067790</id><published>2007-06-18T03:05:00.000-07:00</published><updated>2007-06-18T03:12:33.951-07:00</updated><title type='text'>Di Rumah Iwan Abdulrachman</title><content type='html'>&lt;em&gt;sebuah akhir pekan akan berlalu di sini&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah bercerobong asap ala desa di negeri empat musim&lt;br /&gt;di antara pohon-pohon pinus&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bangku-bangku kayu mengelilingi api unggun&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sepasang tenda yang hangat dan sepanci bajigur&lt;br /&gt;mendesis di atas kompor gas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;semangkuk serutan kelapa muda dan senampan&lt;br /&gt;ubi madu mengharumkan udara&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan tuan rumah yang ramah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dingin menyusut oleh tawa tak berkesudahan&lt;br /&gt;malam memanjang seperti bayang-bayang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;rumah-rumahan untuk burung itu kosong&lt;br /&gt;tinggal kesunyian yang bersarang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari balik rimbun bougenville angin basah mengendap lewat&lt;br /&gt;meniup api kecil lampu-lampu minyak di kanan-kiri tangga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8610024900743067790?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8610024900743067790/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8610024900743067790' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8610024900743067790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8610024900743067790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/di-rumah-iwan-abdulrachman.html' title='Di Rumah Iwan Abdulrachman'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-3724170972094513574</id><published>2007-06-18T00:53:00.000-07:00</published><updated>2007-06-18T01:05:15.170-07:00</updated><title type='text'>Bandung, 15-16 Juni 2007</title><content type='html'>setelah tol pasteur, udara jadi dingin. menghembuskan rayuan baliho dan memori yang kembali. semua orang punya kenangan dengan kota ini, katamu. jalan-jalan pun seperti berbisik di telingaku. tapi, &lt;em&gt;paris van java&lt;/em&gt; hanyalah sederet toko baju dan gedung bioskop. selebihnya, rumah-rumah tua sebagai pemandangan yang tersisa. siapa bersedih di situ? &lt;em&gt;cihampelas tak seperti dulu. &lt;/em&gt;dan, senja tiba-tiba sudah sampai di ujungnya, padahal kami masih punya banyak lagi cerita, saat terlihat orang-orang dari jakarta melepas baju kerja mereka, berfoto bersama patung wisnu di atas pancuran depan "rumah mode". malamnya, kami bertemu lagi di &lt;em&gt;valley&lt;/em&gt;, menyantap tiga ekor cumi-cumi bakar sambil melempar pandang pada kota yang menjelma belantara kerlip lampu --kota yang selalu membuatmu ingin bertanya, siapa dirimu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;: turis yang tak merasa asing, atau kawan lama yang datang setelah sekian lama dan ingin mendengar tuan rumah berkata, &lt;em&gt;anggap saja rumah sendiri&lt;/em&gt;?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-3724170972094513574?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/3724170972094513574/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=3724170972094513574' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3724170972094513574'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/3724170972094513574'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/bandung-15-16-juni-2007.html' title='Bandung, 15-16 Juni 2007'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8652660578667582682</id><published>2007-06-14T01:58:00.000-07:00</published><updated>2007-06-14T02:24:19.037-07:00</updated><title type='text'>Dondong opo Salak</title><content type='html'>Film ini bisa diberi judul apa saja, sebenarnya: Mie Ayam Gado-gado, Capucino Vanilla Latte, atau Mentos Kopiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua bisa mewakili teori yang mendasari film ini: ada dua macam (rasa) cowok, yakni Coklat dan Stroberi. Coklat itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;straigh&lt;/span&gt;t, dan stroberi itu gay. Maka, demikian antara lain premis yang kemudian hendak diajukan: kalau kamu stroberi, tetap berlakulah seolah-olah coklat. Orang lain jangan sampai tahu kalau sebenarnya "rasa"-mu stroberi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di atas fondasi itulah cerita dibangun: sepasang gay itu baru datang dari Bandung, dan menumpang di rumah kontrakan milik tantenya. Di situ sudah ada dua cewek, yang harus rela berbagi kontrakan dengan dua cowok itu, karena mereka tak kunjung bisa membayar uang sewa. Dan, karena dua cowok itu sepasang kekasih, maka begitulah, setiap upaya untuk menutupi diri mereka, menjadi bahan kelucuan dan terus-menerus dieksplorasi untuk mengembangkan cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya nyaris tak percaya bahwa si pembuat cerita itu adalah orang yang tempo hari menulis (sekaligus menyutradarai) &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Realita Cinta dan Rock n Roll &lt;/span&gt;yang menuai banyak pujian itu. Film tersebut telah melesatkan namanya ke barisan depan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmmaker&lt;/span&gt; di Tanah Air dan memberi dia citra "intelektual". Wajar, kalau lantas dia menjadi salah satu orang yang paling diharapkan untuk kemajuan masa depan industri film Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, film &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dondong opo Salak&lt;/span&gt; ini memperlihatkan bahwa harapan itu ternyata salah alamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini merupakan langkah mundur dia. Dari film ini saya jadi tahu --dan yakin-- bahwa dia tak lebih dari seorang&lt;span style="font-style: italic;"&gt; filmmaker&lt;/span&gt; yang malas. Saya ragu dia paham betul dunia yang dia pindahkan ke layar lebar. Sepertinya dia hanya orang yang merasa sudah tahu, dan dengan demikian tidak mau melakukan pengamatan. Apa yang dia tampilkan adalah apa yang dia yakini dia tahu, dan dia yakini benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, dia bahkan tak sekedar terjatuh ke dalam stereotip, melainkan yang dia tampilkan itu mitos(-mitos) belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di satu sisi ada gay yang lemah-lembut, cemburuan, obsesif, pinter masak; di sisi lain ada gay yang &lt;span style="font-style: italic;"&gt;undercover&lt;/span&gt;, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;macho&lt;/span&gt; dan akhirnya sembuh, jatuh cinta sama cewek, dan berkata pada pacar cowoknya, "Kamu telah salah mengerti hubungan kita selama ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halo???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dua tahun bersama?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"...itu realitasnya, saya nggak ngarang-ngarang," kata dia usai &lt;span style="font-style: italic;"&gt;press screening&lt;/span&gt; di Planet Hollywood, Senin (11/5/07) lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahukah, wahai, tanpa pengetahuan, pendalaman, pendekatan dan penafsiran yang memadai, wajar dan proporsional, realitas hanya akan menjadi kutukan yang mengubah dia menjadi jahat? Sehingga di mata dia, lelaki-lelaki gay hanyalah manusia-manusia karikatural yang absurd, bahan tertawaan, sekaligus makluk tak lengkap yang kelak harus menyempurnakan dirinya dengan mencintai lawan jenisnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oho, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;filmmaker&lt;/span&gt; ataukah satpam moral dia?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8652660578667582682?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8652660578667582682/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8652660578667582682' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8652660578667582682'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8652660578667582682'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/dondong-opo-salak.html' title='Dondong opo Salak'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2551364590660757579</id><published>2007-06-12T02:17:00.000-07:00</published><updated>2007-06-12T03:21:28.862-07:00</updated><title type='text'>Oks Bangs Lah</title><content type='html'>&lt;em&gt;Baks di sins sans tak&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambar hanya menjawab pertanyaan Yusuf itu dengan senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka pun nyimeng lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ingatanmu akan terseret pada sebuah kurun waktu, mungkin 3 tahun lalu, ketika anak-anak gaul kota ini bicara dengan kata-kata yang dipotong dan diberi huruf s di ujungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah hal itu kemudian jadi basi ketika ditampilkan sekarang? &lt;em&gt;Well&lt;/em&gt;, setidaknya memang sudah nggak gaul lagi. Mungkin, lebih tepat kalau dibilang sudah terlambat. Namun, hal itu justru menunjukkan bahwa materi film ini telah mengalami semacam pengendapan, sehingga hasilnya adalah sebuah karya yang bening dan cemerlang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Damn!&lt;/em&gt; Bagaimana sebuah film yang nyaris tanpa konflik dan klimaks, bisa begitu mengena; berhasil merogoh sukma dan menyedot rasa? Ah, kau pasti berlebihan. Tapi, memang sudah terlalu lama kan tak merasakan kemewahan kecil ini: keluar dari gedung bioskop dengan perasaan lega dan gembira?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Studio 2 Citos, Senin, jam 7 malam itu tak menyisakan satu bangku pun dan semua orang begitu menikmati. Ketika di layar tampak poster "Bags Lah" --yang merupakan plesetan dari poster film &lt;em&gt;A Bug's Life&lt;/em&gt;-- semua tertawa, dan sejak itu semua terus saja tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, film itu, yang mungkin sudah kau tunggu-tunggu, karena poster besarnya yang menggodamu di mana-mana, akan lebih jauh lagi menyeret memorimu. Mungkin sampai pada momen-momen ketika kau baru lulus SMU, menjadi manusia yang begitu merdeka, sambil deg-degan menunggu pengumuman UMPTN, melewatkan hari-hari dan malam-malam bersama satu atau dua teman dekat, merasa telah menjadi manusia yang lebih dewasa, ngobrol patah-patah tentang hidup, perjalanan usia, masa depan sampai ke soal pernikahan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;That's all&lt;/em&gt;. Ya. Film ini hanya berisi obrolan sepasang anak muda, laki-laki dan perempuan, mereka saudara sepupu, yang tengah menempuh perjalanan mobil dari Jakarta ke Yogyakarta untuk acara perkawinan kakak perempuan mereka. Namun, baru saja sampai tol di luar kota, keisengan muncul. &lt;em&gt;Ke Bandung dulu yuk.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Kota Kembang, Ambar menginap di markas anak-anak band, di mana seorang personelnya adalah pacarnya. Yusuf sempat mengintip ketika Ambar bercinta dengan kekasihnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, dengan kesengajaan agar terlambat sampai di Yogya, kedua anak muda itu menikmati perjalanan dengan santai, berganti-ganti menyetir sambil berbagi cimeng, istirahat di pinggir jalan atau di pantai, menginap di rumah warga desa dan terakhir sempat tidur di mobil sambil menunggu subuh untuk mampir dulu ke Sendang Sono, sebuah tempat ziarah orang Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, memang begitulah, tak ada kejadian besar yang menegangkan, peristiwa penting yang mengguncang maupun kejutan-kejutan. Obrolan mereka pun bukanlah obrolan yang "cerdas" seperti yang selalu dituntut oleh mereka yang baru saja nonton &lt;em&gt;Before Sunrise&lt;/em&gt;. Sebaliknya, mereka bahkan boleh dibilang mengisi perjalanan itu dengan obrolan-obrolan "bodoh" yang remeh-temeh dan tidak penting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, &lt;em&gt;damn!&lt;/em&gt; justru dengan segala kewajarannya yang sederhana dan kelugasnnya yang realistik itu, film ini begitu efektif menggambarkan alam pikiran dan hasrat terpendam anak muda pada satu momen dalam hidup mereka, di antara jutaan anak muda lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak hal dipertanyakan, dibahas tapi serba tak dituntas, atau memang dibiarkan menguap begitu saja bersama asap lintingan mereka. Atau, jawaban yang telah dengan susah payah mereka temukan, mereka mentahkan lagi begitu saja, untuk kemudian kembali ke obrolan bodoh yang tidak penting. Karena, pertanyaan-pertanyaan itu --tentang hidup, perjalanan usia, masa depan dan pernikahan-- sebenarnya memang tidak lebih penting dari "baks laaah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, mereka pun nyimeng lagi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambiguitas kedua anak muda itulah --yang di satu sisi seolah gelisah dengan berbagai pertanyaan, namun di sisi lain sebenarnya tak terlalu ingin mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu-- yang menurut saya membuat film ini menjadi tampak sangat jujur, jernih dan steril dari pretensi apa pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan film-film serupa yang dinafasi semangat kebebasan anak muda (sebut saja &lt;em&gt;Realita Cinta dan Rock n Roll&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Garasi&lt;/em&gt;), film ini tampak tak berambisi untuk mewakili --atau bahkan sekedar memotret sekali pun -- realitas di luar sana. Ambar adalah Ambar dan Yusuf adalah Yusuf. Mereka bukan siapa-siapa sekaligus bisa siapa saja, tapi sebenarnya bisa juga keduanya adalah satu, ego sekaligus alter ego dari sang pembuat cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai film yang menaruh sebagian besar fondasinya pada dialog, peran penulis skrip Sinar Ayu Massie barangkali memang sangat menentukan. Namun, bila di depan kau telah bilang, "Nyaris tanpa konflik dan klimaks, tapi begitu mengena", tentu itu tak lepas dari peran besar sutradara. Riri Riza telah memberi sentuhan yang ciamik pada naskah Ayu; selain pengaturan dialog-dialognya yang pas, mata kamera dia juga telah membuat film ini menjadi begitu kaya visual. &lt;em&gt;Oks bangs laaah&lt;/em&gt; pokoknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, film dengan hasil seperti ini, hanya bisa lahir dari para kreator (terutama, dalam hal ini penulis skrip) dengan kualifikasi yang pernah dituntut oleh Asrul Sani: benar-benar telah memiliki kekayaan pengalaman hidup yang layak untuk dibagi. Bukan, sekedar seorang pengamat yang tahu dari buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat, Nico, Adinia untuk akting yang bagus. Terima kasih, Ayu, Riri untuk film ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2551364590660757579?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2551364590660757579/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2551364590660757579' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2551364590660757579'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2551364590660757579'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/oks-bangs-lah.html' title='Oks Bangs Lah'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-9182798283084466761</id><published>2007-06-05T02:26:00.000-07:00</published><updated>2007-06-05T02:40:44.766-07:00</updated><title type='text'>Pesta</title><content type='html'>Keluarkan semua buku berdebu dari gudang, bawalah ke Senayan dan kalian bilang itu pesta. Atau: pindahkan saja tokomu untuk memenuhi separo area. Orang-orang pasti datang. Pasangan-pasangan muda dari sebuah masyarakat baru yang membaca buku-buku terjemahan tentang cara mendidik anak yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki-lelaki berbaju badut bertopi kerucut menyambut di setiap sudut, membagi-bagikan balon bertangkai panjang. "Untuk anak-anak masa depan yang cerdas!" kata mereka dengan jenaka. Hati siapa yang tak terharu menyaksikannya? Meskipun anak-anak itu sebenarnya terlalu kecil untuk sebuah acara yang kalian namakan pesta buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ayah itu akhirnya jadi lebih sibuk menggendong dan menenangkan anak-anak mereka yang menangis karena kegerahan dan istri-istri mereka yang anggun dan berjilbab menimang-nimang &lt;em&gt;Menjadi Istri yang Solehah&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Aku Rela Suamiku Poligami&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatkah iklan itu? &lt;em&gt;Jakarta terendam, Jakarta punya monorail&lt;/em&gt;. Tentu saja, Jakarta memang oke, karena kami tidak hanya berbondong-bondong ke Blitz dan gerai-gerai baru Starbucks, tapi juga berdesak-desakan di pameran buku. Ah, ya, pesta, katamu. Mari bersulang. Demi Serambi dan Dastan. Terima kasih telah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa dengan novel-novel detektif dan kisah-kisah nyata tentang orang-orang sakit jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diskon empatpuluh persen yang kalian beri, cukup membuat kami sempoyongan ketika pulang dengan kedua tangan menenteng masing-masing 2-3 tas plastik penuh buku, melintasi &lt;em&gt;boulevard&lt;/em&gt; menjelang malam, membiarkan bunga-bunga kering dari pohon-pohon tak bernama berguguran di rambut kami.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-9182798283084466761?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/9182798283084466761/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=9182798283084466761' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/9182798283084466761'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/9182798283084466761'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/pesta.html' title='Pesta'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-9084748966405206837</id><published>2007-06-04T03:40:00.000-07:00</published><updated>2007-06-04T04:00:54.478-07:00</updated><title type='text'>Greiga</title><content type='html'>Tengah hari yang menyengat tiba-tiba terasa teduh oleh seraut wajah lonjong yang muncul di antara orang-orang yang menunggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku duduk di bangku besi halte &lt;em&gt;busway&lt;/em&gt; Sarinah menjelang jam makan siang hari itu, dan tak begitu yakin dengan siapa yang kulihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ragu, dan merasa telah salah mengenali orang, ktika dia tiba-tiba melihat ke arahku dan tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, jadi memang benar, dia. Berapa bulan tak bertemu dengannya? Tambah cakep saja. Dan, aku nyaris tak mengenali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, kemarin baru diomongin, &lt;em&gt;kangen deh ama Mumu&lt;/em&gt;..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu itu hanya ungkapan kesopanan dari seseorang teman yang sudah lama tidak berjumpa. Namun, aku merasa harus tetap senang mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah obrolan basi-basi yang terpatah-patah, dia pun mulai sibuk menelpon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum terdengar pembicaraan pun aku sudah tahu dia menelpon pacarnya, Boy, yang entah di mana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagi di mana?&lt;br /&gt;"..."&lt;br /&gt;"Coba tebak, gue ketemu siapa?"&lt;br /&gt;..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Boy sedang ada di Kemang, dan mereka memang sudah janjian akan bertemu di Blok M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mumu nggak buru-buru kan, ketemu Boy dulu aja, kita ngobrol..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Busway yang penuh sesak datang, menelan tubuh-tubuh kurus kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam busway aku kembali memperhatikan dia dengan seksama. Dengan penampilan yang sungguh rapi dan formal ala mas-mas kantoran, dia tampak jauh lebih dewasa melampaui umurnya. Aku tidak begitu suka dengan penampakan seperti itu. Namun, ketika itu melekat pada seorang yang belum lagi genap 20 tahun, rasanya begitu beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celana bahan coklat tua, dipadu baju lengan panjang coklat muda bergaris-garis tipis vertikal didobeli rompi warna serasi. Seperti membaca isyarat "keheranan" dari tatapanku, dia berkata, "Iya nih, tiap Kamis ada profesional image gitu di kampus, jadi harus tampil resmi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia baru saja masuk jurusan &lt;em&gt;pi-ar&lt;/em&gt; di Interstudi di Gedung Sarinah. Dengan pancingan-pancingan pertanyaanku, dia lalu banyak cerita tentang kesibukannya selama ini. Dia bilang, selain mulai kuliah, dia sibuk nyari-nyari &lt;em&gt;job&lt;/em&gt; sebagai &lt;em&gt;sales promotion boy &lt;/em&gt;(SPB).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kadang-kadang jaga stan berdua sama Boy, seru deh, kita suka ngaku kakak-adik gitu. Tapi, belakangan Boy dapet &lt;em&gt;job&lt;/em&gt; ngemsi juga untuk acara &lt;em&gt;launching&lt;/em&gt; produk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya membayangkan Boy di atas panggung, memegang &lt;em&gt;mike&lt;/em&gt; dan mulai ngocol. Pasti dia bisa. Mungkin itu lebih cocok buat dia, sebab sejujurnya, dia terlalu keren untuk menjadi SPB. Tapi, untuk merambah dunia sinetron pun mereka dia agak nanggung. Aku menilai ada yang kurang dari dia, tapi aku tak tahu apa, atau aku hanya terlalu tak enak untuk menyebutkannya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha dia selama ini untuk masuk dunia &lt;em&gt;entertainment&lt;/em&gt; hanya menghasilkan beberapa kali kemunculan sebagai figuran, baik untuk tayangan iklan, sinetron tidka terkenal maupun acara komedi yang tidak lucu. Greiga mungkin akan mengikuti jejaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dikenalkan dengan Greiga di tengah kehangatan suasana Zoom oleh penampilan Rika Roeslan yang sedang menggelar konser mini untuk menandai peluncuran album solonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lucu kan?" bisik Boy membanggakan remaja yang waktu itu statusnya masih selingkuhan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya, dia telah cerita bahwa baru saja dapat brondong baru. Baru dalam arti yang sebenar-benarnya karena Boy-lah orang yang pertama kali memperawaninya. sebelumnya, katanya, dia pacaran dengan cewek, layaknya anak-anak usia SMU kebanyakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Abis itu, dia nelpon gue terus gitu, Mu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, setelah beberapa kali bertemu lagi dengan Greiga, aku paham mengapa dia menelpon terus. Tentu saja karena dia bingung. Sampai pada suatu kesempatan, dia curhat, betapa tak mudahnya menjadi dirinya, seorang kekasih gelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan, Mu, di usiaku yang semuda ini, harus sudah jadi selingkungan." Dia bilang, dia tidak mau terus begitu; pacaran secara sembunyi-sembunyi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bingung harus memberi nasihat seperti apa. Kecuali, dengan sok bijak aku bicara tentang pilihan-pilihan dan tentang bahwa orang bisa memilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan mau diperdaya sama Boy," aku merasakan sendiri dari nada suaraku, aku mulai emosi. Kemudaan dan kepolosan Greiga membuat saya merasa Boy telah memperlakukannya dengan jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba tidak memihak siapa-siapa. Tapi, aku tak tahan untuk tak membeberkan fakta-fakta tentang Boy yang pasti belum dia ketahui. Bahwa, Boy bukan hanya sudah punya pacar, namun, dia dan pacarnya itu pacaran lagi dan tinggal di rumah seseorang bernama Mas Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Greiga tampak kaget.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu diam. Sedih. Gusar. Tak tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali dia mengaku senang dan lega telah bertemu dan curhat padaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ingin bilang, kau masih terlalu muda untuk hanya menjadi kekasih simpanan. Kalau memang kau mencintainya, rebutlah dia dan mintalah untuk menjadi milikmu seutuhnya. Kalau dia memang mencitaimu, dia harus melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, semua itu tertelan kembali karena aku ingat, jika itu terjadi, Dodi --yang bagaimana pun juga sahabat baikku- akan menjadi orang yang paling kehilangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, yang terjadi, terjadilah. Siapa bisa menebak perjalanan waktu? Hidup seperti berputar arah. Banyak hal terjadi, dengan muara ini: Greiga akhirnya menggantikan Dodi tinggal di rumah itu, rumah Mas Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum turun dari &lt;em&gt;busway&lt;/em&gt; aku sempat memperhatikan Greiga sekali lagi. Pada dirinya aku seperti melihat cermin, tempat semua orang bisa berkaca dan menemukan satu fakta tentang bagaimana seorang remaja gay lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak yakin dia telah bahagia. Tapi, aku agak yakin, dia telah menemukan apa yang mungkin selama ini memang dia cari dan dia inginkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin ia hanya pasrah mengikuti perjalanan nasib. Tapi, apa itu nasib?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di anak tangga terakhir terminal Blok M, aku berubah pikiran. Aku memisahkan diri dari Greiga, dan berbasi-basi menitip salam untuk Boy. "Kapan-kapan aja, kita ngobrol."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-9084748966405206837?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/9084748966405206837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=9084748966405206837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/9084748966405206837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/9084748966405206837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/06/greiga.html' title='Greiga'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6839277424644082996</id><published>2007-05-28T01:34:00.000-07:00</published><updated>2007-05-28T01:56:00.055-07:00</updated><title type='text'>Menulis dan Melawan</title><content type='html'>Clara Ng (novelis dan penulis cerita anak-anak Gramedia), mengawali diskusi dengan heroik. "Bagi saya menulis itu melawan semua hal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya senang dengan pernyataan itu, karena meskipun agak klise, tapi untuk konteks diskusi sore itu, sangat relevan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami diundang untuk berbicara tentang menulis oleh sebuah komunitas perempuan lesbian di Jakarta, Institut Pelangi Perempuan (IPP).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami duduk melingkar di atas tikar, di teras belakang sebuah kantor sekretariat lembaga donor asal Belanda. Ketua IPP Kamel meminta kami memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami: cerpenis dan seniman teater asal Bali Cok Sawitri yang kini menetap di Jakarta, editor fiksi Gramedia Hetih Rusli, Clara dan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cok yang gagah dan bervokal mantap, yang saya kira akan membuat acara itu menjadi serius dan gawat, ternyata justru sebaliknya, mencairkan suasana dengan gayanya yang teatrikal dan penuh humor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cerdik dan efektif, dia memulai diskusi dengan meminta peserta untuk mengungkapkan kesulitan-kesulitan mereka dalam menulis. Di luar dugaan, perempuan-perempuan yang tampak pendiam dan malu-malu itu ternyata merespon dengan hangat. Satu per satu tunjuk jari untuk bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam saya membatin, &lt;em&gt;saya belum pernah melihat perempuan lesbian sebanyak ini&lt;/em&gt;. Tapi, kata Kamel, pada kesempatan lain yang hadir bisa lebih daripada sore itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbelalak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah mereka cukup menggetarkan untuk turun ke jalan berteriak-teriak atau menggebrak meja pimpinan DPR meminta(-minta) pengakuan dan pengesahan perkawinan sesama jenis. Tapi, saya bahagia karena mereka, dengan jumlah sebanyak itu, lebih memilih berkumpul dua pekan sekali, memutar film, berdiskusi dan -sekarang- ingin belajar menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu giliran bicara, saya berbisik pada Hetih, "Terjawab sudah keheranan saya selama ini, kenapa acara-acara lesbian night selalu gagal. Ternyata, para lesbian lebih suka hal-hal yang bersifat intelektual."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu, di telinga Hetih, bisik-bisik saya itu terdengar serius atau bercanda, sebagai pujian yang tulus atau sindiran yang sinis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, teman saya yang duduk di antara para peserta, Imelda, menghampiri saya usai acara dan berkata, "Memang, Mu selama ini banyak di antara kami para lesbian ini terlalu sibuk, nggak sempat mikirin kesenangan; nggak seksi. Belum lagi, rasa minder kami ini memang luar biasa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cok menampung semua curhat, dan melimpahkan kepada kami untuk menjawabnya.  Hetih yang berpengalaman mengedit naskah banyak membagi ilmu tentang memilih dan memperkaya kosa kata, mengatasi kebuntuan dan hal-hal teknis lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dengan sok-gagah namun gemetar, mencoba lebih menyelam ke filosofi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Menulis itu susah. Tanya diri kalian sekali lagi, apakah benar-benar ingin menulis? Kalau tidak, lupakan saja. Toh, menulis bukanlah segalanya. Tapi, kalau kalian memang ingin menulis, tetapkan dulu, untuk (tujuan) apa?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Sekarang, semua orang telah menjadi penulis, dan kita lihat misalnya di berbagai blog, mereka menjadi komentator dan kritikus sosial-politik; apakah itu yang kalian inginkan? Apakah kalian ingin mengomentari ketidakberdayaan pemerintah menangani kasus lumpur lapindo sementara yang kalian hadapi sehari-hari hanyalah perasaan tertolak yang tiada berakhir, dan upaya terus-menerus untuk menerima diri sebagai seorang perempuan lesbi?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Baiklah, kalian mungkin memang ingin menulis. Maka, saran saya hanya satu, tulislah tentang diri kalian sendiri.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Clara berbagi cerita tentang perlawanannya. Sebagai perempuan yang lahir dalam keluarga keturunan Cina, ia mempertaruhkan banyak hal dengan memilih jadi penulis ketimbang membuka toko elektronik di Glodog. Saya menemukan relevansi dari spirit perlawanan itu sebagai pijakan bagi para lesbian untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, dengan lagak seorang feminis yang sedang menempuh program S-2 UI dan sering diundang sebagai fasilitator pelatihan pemberdayaan kaum minoritas, saya berkata lagi:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Dengan menulis tentang diri sendiri, kita mengungkapkan pengalaman sebanyak-banyaknya, bukan untuk membuka mata dunia bahwa kita ada, tapi lebih sebagai upaya untuk memahami siapa kita, dulu, sekarang dan nanti&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian akhir obrolan, Cok meminta panitia untuk membagikan kertas, dan saya kira ia sangat benar: cara terbaik untuk menulis adalah (langsung) memulainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum forum diakhiri, panitia membagikan &lt;em&gt;doorprize&lt;/em&gt;, berupa buku, yang sebagian diberikan untuk peserta yang tulisannya dinilai terbaik, sebagian lagi untuk yang menjawab pertanyaan dengan benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa kali Mumu pacaran?" seru Cok tak terduga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tersipu dan sibuk menyembunyikan muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tiga kali."&lt;br /&gt;"Sepuluh."&lt;br /&gt;"Duabelas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bujubuneng! Saya geleng-geleng kepala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6839277424644082996?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6839277424644082996/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6839277424644082996' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6839277424644082996'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6839277424644082996'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/menulis-dan-melawan.html' title='Menulis dan Melawan'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-7309695401421025027</id><published>2007-05-25T04:01:00.000-07:00</published><updated>2007-05-25T04:12:35.659-07:00</updated><title type='text'>mengejar umang-umang</title><content type='html'>kematian selalu mengingatkan kami pada chairil, ketika dia berkata, bukan kematian benar menusuk kalbu. tapi, kematian pada suatu pagi dalam film kalian itu terlalu menusuk kalau hanya untuk melahirkan seorang pemberontak, bahkan yang paling busuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sebenarnya dia hanya seorang gadis 17 tahun yang gemar menggenakan celana super-pendek. bukankah semua remaja seperti dia? ingin menjadi burung yang lepas dari sangkar...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, kami sudah terbiasa kok dengan premis-premis yang terlalu klise seperti itu: papa meninggal, mama mau kawin lagi sama oom itu, jadi aku harus pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku tak mau punya mama pelacur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;plak! apa katamu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sinetron-sinetron yang kami tonton tiap malam ceritanya juga seperti itu. jangan-jangan kalian sebenarnya memang sudah bosan bikin film. ya sudah, ceritanya dibikin begini saja: dia minggat ke yogya, agar kalian bisa jalan-jalan juga, lari dari kesumpekan jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, alasannya apa? gampang: pacar gadis itu sedang naik gunung di yogya, jadi dia sekalian menyusul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, apakah anak smu di jakarta sekarang suka naik gunung? dan, hei, di yogya kan nggak ada gunung. jangan nyinyir deh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;baiklah, jadi pokoknya harus yogya ya. meskipun sebenarnya kalau cuma hendak dipertemukan dengan pelacur agar dia mendapatkan pelajaran tentang kehidupan, sih, tak perlu jauh-jauh. kota ini, dan di mana pun, juga banyak mas-mas; mau nyari yang setengik apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tapi, kan dia harus minggat! film-film &lt;em&gt;coming of age&lt;/em&gt; kan harus begitu. harus pergi jauh. tapi, mengapa harus pelacur ya? dan, apa sih sebenarnya yang ada di kepala kalian, sehingga seorang mas-mas harus kalian gambarkan sebagai sosok yang tiap hari berblangkon dan berbaju lurik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan, namanya harus parno, agar kalian bisa membuat lelucon seperti ini, ketika dia-yang-kabur-dari-jakarta tadi bertemu dan berkenalan dengannya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;saya parno&lt;br /&gt;lu parno kenapa?&lt;br /&gt;parno itu nama saya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lucu sih, tapi lama-lama capek deh kalau semua yang kalian bikin itu semata-mata kalian maksudkan untuk mengejar efek tertentu, atau hanya dijadikan sebuah faktor penyebab. seperti kematian di awal tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dan, sampe adegan si mas-mas main balapan umang-umang bersama anak-anak, lalu &lt;em&gt;klelegen&lt;/em&gt; binatang itu, kami pun berunding sambil saling berpegangan tangan: oke, kita tonton sampai habis, tapi begitu keluar dari bioskop, kita lupakan saja semuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami &lt;em&gt;kepontal-pontal&lt;/em&gt; mengikuti logika sampeyan berdua, mas rudi, mas monti.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-7309695401421025027?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/7309695401421025027/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=7309695401421025027' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7309695401421025027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7309695401421025027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/mengejar-umang-umang.html' title='mengejar umang-umang'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-1524938128737692603</id><published>2007-05-14T03:19:00.000-07:00</published><updated>2007-05-14T03:34:38.008-07:00</updated><title type='text'>Cerita dari Jauh</title><content type='html'>"Aku kasihan kalau lihat mereka,"&lt;br /&gt;Kata dia tiba-tiba, setelah melihat sejenak ke sekeliling. saya agak terkejut.&lt;br /&gt;"Kasihan kenapa?" tanya saya.&lt;br /&gt;"Mereka itu ada, tapi mengapa mereka tidak diakui?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti biasa, malam Minggu itu, saya duduk di Ohlala. Yang tidak biasa adalah lelaki yang duduk semeja dengan saya. Seorang lelaki yang nyaris tak bisa berhenti bicara sejak detik pertama saya menyalaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ekspresi wajah yang &lt;em&gt;kenes&lt;/em&gt;, ia bicara seperti menulis kalimat-kalimat yang panjang dan penuh kemarahan. Di ujung kalimat panjangnya itu, tak jarang nadanya melengking tinggi menyerupai suara perempuan. Seseorang pernah meledek gaya bicaranya yang seperti itu, dan dia marah, menganggap itu pelecehan. Dan, malam itu dia banyak bercerita tentang hal-hal yang selalu tampak dan terdengar salah di mata dan telinganya. Hal-hal yang membakar dirinya untuk selalu marah dan melawan. Ia marah ketika masih saja ada orang yang mengatakan dirinya "sakit". Ia marah ketika seorang psikiater yang memeriksanya bertanya, "Apakah Anda pernah mengalami pelecehan seksual pada masa kecil?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keyakinannya, ia menjadi seperti sekarang --mencintai sesama lelaki-- bukan oleh suatu faktor penyebab apa pun, melainkan karena ia memang terlahir seperti itu, karena Tuhan memang menghendaki begitu. Habis perkara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali saya dibuat kaget dengan gelegak-gelegak perasaannya. Wajahnya yang hitam sesekali tampak menahan geram, seperti ada luapan dendam yang sudah lama dipendam, dan ingin ia tumpahkan semuanya di meja malam itu, di hadapan saya. Sementara, makin banyak dia menumpahkan kalimat-kalimat panjangnya, saya makin merasa bersalah telah mengajaknya bertemu di kafe itu. Saya bahkan kemudian juga merasa, saya pasti tak seperti yang dia bayangkan, yang dia harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, ah, toh saya hanya seseorang yang direkomendasikan untuk dia temui...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya Toyo, 32 tahun. Dua bulan sebelum akhirnya kami bertemu malam itu, dia mengirim SMS pada saya dan memperkenalkan diri. Dia bilang, dia tahu saya dari seseorang di Jurnal Perempuan. Dia disarankan untuk menemui saya. Dia baru datang dari Aceh, dan ditampung di Kapal Perempuan. Dia gay korban kekerasan polisi pada Januari 2007. Saya dengan senang hati berjanji untuk ketemuan dengannya, tapi entahlah, mungkin karena kesibukan masing-masing, agenda itu tak kunjung kesampaian. Sampai awal April lalu, tiba-tiba ia muncul di Majalah &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt; sebagai berita, berjudul &lt;em&gt;Karena Bermesra di Kedai Pesona&lt;/em&gt;, dengan &lt;em&gt;lead&lt;/em&gt; "Dituduh berbuat tak senonoh, sepasang gay babak-belur dihajar massa. Polisi menganiaya lebih sadis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, malam itu saya mendengar sendiri, "Saya dikencingi, dan disuruh seks oral di depan polisi-polisi itu, dan harus sampai keluar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ngilu mendengarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari-harinya, Toyo adalah aktivis sebuah lembaga kajian perempuan di Aceh, dan ketika kontroversi rancangan UU antipornografi mencuat, dia getol wara-wiri Aceh-Jakarta untuk mengajukan penolakan di DPR. Aktivitas itu membuatnya dekat dengan "orang-orang gerakan" di Jakarta, termasuk kalangan "petinggi"-nya seperti Nursjahbani Katjasungkana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran, jika kasus yang menimpanya di Aceh kemudian hari itu, langsung terdengar sampai ke Jakarta. Nursjahbani konon menelpon langsung Kapolri, dan Kapolri menelpon Kapolda Aceh. Ketika akhirnya memutuskan untuk "mengungsi" ke Jakarta, jalan pun terbentang mulus dan luas bagi Toyo. Banyak pihak menyambut, menampung, memberinya perlindungan serta pembelaan. Toyo berencana menuntut balik pihak kepolisian Aceh. "Bahkan, sebenarnya saya juga bisa menuntut orang-orang sipil yang menghajar saya," katanya dengan sisa-sisa amarah yang masih ia bawa malam itu. Tak kurang dari Adnan Buyung Nasution kini menjadi pembelanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya nyaris hanya menjadi pendengar malam itu. Saya takjub. Saya tak percaya bahwa kekerasan terhadap orang homoseksual benar-benar ada dan terjadi di negeri ini. Tapi, bukankah apa yang dialami Toyo ini hanyalah sebuah kasus? Yang belum tentu sebulan atau bahkan setahun sekali terjadi? Ah, saya tahu saya memang naif. Saya terlalu apolitis, dan bahkan mungkin ahistoris. Saya terlalu tidak peduli. Selama ini yang saya tahu hanyalah bahwa di Jakarta ini, lelaki-lelaki gay setiap malam Minggu menghabiskan waktu di Ohlala, ngopi sambil ngrumpi sampai pagi. Saya merasa berasalah telah bertemu dengan Toyo karena setelah mendengar ceritanya yang pedih, dan kalimat-kalimat panjang penuh amarahnya, saya tetap saja merasa bahwa cerita tentang diskrimnasi kaum gay itu hanyalah "cerita yang datang dari jauh".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali saya memang harus melakukan semacam --apa yang dibilang Marx dan dikutip Toyo malam itu-- bunuh diri kelas. Kalau untuk memperjuangkan buruh orang harus menjadi buruh, mungkin untuk percaya tentang diskriminasi dan kekerasan terhadap kaum homoseks, saya harus mengalaminya dulu, seperti Toyo. Ah, janganlah. Jangan sampai. Saya tahu saya cukup tergetar dan bersimpati dengan cerita Toyo, dan saya pastilah tak se-apolitis yang saya duga. Tapi, mau apa lagi? Lmbat laun obrolan mulai tersendat dan saya makin merasa sedih, karena saya merasa tidak seideologi dengan Toyo --apa pun arti kata yang berulang-ualng dia selipkan dalam hampir setiap kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya bertanya balik kepadanya:&lt;br /&gt;"Apakah menurutmu orang-orang ini butuh pengakuan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Toyo seperti tak percaya dengan pertanyaan saya. Ia mungkin tak percaya bahwa saya --yang direkomendasi oleh seseroang dari Jurnal Perempuan untuk dia temui-- kok bertanya dengan nada seperti itu. Sebuah pertanyaan yang mematahkan, dan saya menyesal telah mengungkapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nada yang saya dengar agak kesal --mungkin hanya perasaan saya saja yang berlebihan-- dia akhirnya menjawab. Panjang dan berapi-api.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kalau sekarang mereka didatangi satu-satu lalu ditanya pasti jawabnya enggak, tapi kalau diajak ngobrol lebih intens, dalam suasana diskusi yang serius, pastilah semua orang butuh pengakuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai agak capek dengan keseriusannya. Hampir saja saya mau nyeletuk untuk mencairkan suasana. "Kalau gue sendiri sih jujur ya, lebih butuh brondong lucu ketimbang pengakuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, untunglah saya masih mampu mengontrol mulut saya yang suka &lt;em&gt;celamitan&lt;/em&gt; ini. Sehingga saya tidak melukai semangat perjuangannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-1524938128737692603?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/1524938128737692603/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=1524938128737692603' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1524938128737692603'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1524938128737692603'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/cerita-dari-jauh.html' title='Cerita dari Jauh'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-1226986009947615426</id><published>2007-05-11T02:54:00.000-07:00</published><updated>2007-05-11T03:19:57.587-07:00</updated><title type='text'>Mata Asing</title><content type='html'>Saya sering bertanya, mengapa hampir setiap orang yang saya lihat di sepanjang jalan, mal dan pusat-pusat keramaian selalu tampak begitu cakep dan keren? Suatu saat saya menemukan jawaban dan semacam kesimpulan: itu karena saya baru pertama kali melihat mereka. Orang-orang yang sudah sering saya temui, secakep dan sekeren apa mereka, pastilah menjadi tampak "biasa", atau kecakepan dan kekerenan mereka sudah tidak begitu menggetarkan lagi, seperti ketika saya pertama kali melihat mereka. Sesuatu yang asing, selalu memiliki daya kejut yang menyita perhatian. Namun, siapa yang asing sebenarnya dalam hal ini? Mata (dan dengan demikian mungkin juga hati dan seluruh indera) saya ataukah subjek yang saya lihat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintasan-lintasan pikiran semacam itu kembali membelit-mbelit kepala saya ketika saya terjepit di tengah kepadatan tamu undangan pembukaan pameran fotografi &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Libre Journal de Jakarta&lt;/span&gt; di Galeri Nasional, Kamis (10/5/07) malam. Ini pameran karya fotografer Perancis Gerard Rondeau (berlangsung hingga 25 Mei) yang sekaligus menandai pembukaan rangkaian hajat besar Festival Seni Budaya Prancis 2007. Kendati terdapat kata 'Jakarta' pada judulnya, dengan sub-judul &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Portraits et autres voyage&lt;/span&gt;, tidak semua karya foto Gerard yang dipamerkan itu berlatar ibukota tercinta kita ini. Namun, sebagai "penonton dari Jakarta", foto-foto yang berlatar kota inilah yang menarik perhatian saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari Gerard, sebagai seorang fotografer "asing", dia tak semata-mata melihat Jakarta sekedar sebuah "latar". Jakarta dia rekam melalui personifikasi-personifikasi, baik yang hidup maupun yang mati, di dalamnya. Alhasil, karya-karya foto Gerard lebih banyak menawarkan "kisah-kisah" ketimbang "laporan-laporan pandangan mata". Namun, sekali orang asing tetaplah orang asing, dan bagi Gerard, apa yang menarik dan tidak menarik kemudian menjadi nisbi, sebagaimana pandangan pertama saya pada orang-orang di mal. Oleh karenanya, subjek-subjek foto Gerard mengguratkan tanda tanya di kening saya: apa yang menarik dari orang-orang yang dia potret ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jakarta ini, saya bisa ketemu dengan, misalnya Ayu Utami di mana-mana, dari posenya di sampul majalah kebudayaan &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Basis&lt;/span&gt; sampai di &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;food court&lt;/span&gt; Plaza Senayan. Kalau "tiba-tiba" orang yang sama muncul dalam bingkai besar foto karya "orang Prancis" yang dipamerkan, apalagi yang bisa saya lihat dari dia? Saya hanya khawatir bahwa Ayu tiba-tiba menjadi menarik "lagi" hanya karena ia --kali ini-- ditampilkan melalui tatapan mata (orang) asing. Saya berharap, Ayu memang subjek yang selalu menarik. Tapi, Gerard membuat saya ragu karena ia ternyata juga memotret sampul bukunya, &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Larung&lt;/span&gt; dan sampul-sampul buku yang lain, misalnya &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Aku Ingin Jadi Peluru&lt;/span&gt;-nya Wiji Thukul. Bahkan, Gerard juga memotret makam Pram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, makam itu pasti hanyalah sebuah batu, sekali pun tercetak nama pengarang besar di atasnya. Tapi, mata asing Gerard membuat segalanya jadi berbeda, seperti ketika ia melihat Oscar Lawalata, Sujiwo Tejo, Ade Darmawan, pasangan Nano-Ratna Riantiarno, Wien Muldian dll yang menjadi subjek foto-fotonya. Saya kira di sinilah letak makna pameran Gerard, fotografer asing itu: mengingatkan kita bahwa bukan subjek itu sendiri yang penting, melainkan siapa yang melihatnya. Dan, saya jadi benar-benar cemas, jangan-jangan, saya memang harus belajar dari (mata) orang asing untuk menyadari bahwa orang-orang, dan benda-benda, yang ada di sekitar saya selama ini penting dan "benar-benar ada". Dengan kata lain, saya harus menjadi orang asing dulu untuk merasa dekat dan mencintai hal-hal dalam hidup saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-1226986009947615426?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/1226986009947615426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=1226986009947615426' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1226986009947615426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1226986009947615426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/mata-asing.html' title='Mata Asing'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-5552074777179981883</id><published>2007-05-10T03:47:00.000-07:00</published><updated>2007-05-11T01:30:13.563-07:00</updated><title type='text'>Kata Mikael Johani sebelum Kami Berpisah Sore itu</title><content type='html'>aku mau pulang saja. mampir senayan city. makan burger sendirian. mungkin ke gunung agung. ah, nggak males. sebenarnya aku pengen segera di kamarku saja. baca buku lowell yang waktu itu kubeli buru-buru sebelum aku pindah ke sini. tadi malam kubaca. aku suka. ada beberapa coretanku di situ. jadi, ternyata sudah kubaca juga. hanya belum semua -aku ketiduran. bangun sebentar karena sudut buku itu menusuk pipiku. mungkin aku cuma ingin begini-begini saja. tidur karena buku kesayangan, bangun karena buku kesayangan. siapa bilang 'books don't keep you warm at night?' they do.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-5552074777179981883?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/5552074777179981883/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=5552074777179981883' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5552074777179981883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5552074777179981883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/kata-mikael-johani-sebelum-kami.html' title='Kata Mikael Johani sebelum Kami Berpisah Sore itu'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-2020939065380133412</id><published>2007-05-07T01:19:00.001-07:00</published><updated>2007-05-07T02:01:24.365-07:00</updated><title type='text'>Jalan Blog</title><content type='html'>Akhir pekan lalu, dua hari berturutan --Jumat dan Sabtu-- saya menghadiri pertemuan yang tidak saling berkaitan namun memberi saya satu benang merah yang menarik untuk digosipkan. Ya, karena saya tidak suka merenung jadi lebih baik bergosip saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begini ceritanya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumat sore itu saya menghadiri undangan &lt;em&gt;gathering&lt;/em&gt; peresensi buku &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; yang digelar di tengah acara pameran buku Grup Gramedia di Istora Senayan. Salah satu dari sekian peristiwa dan suasana yang tercipta di sana adalah curhat (baca: keluhan) seorang undangan yang telah berkali-kali mengirim resensi buku tapi belum pernah dimuat. Sebagai pelampiasannya, ia kemudian menampung tulisan-tulisan yang ditolak itu dalam blog. "Tapi, jadinya ya seperti onani saja," kata dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pengakuan yang jujur dan polos itu, saya ikut tertawa bersama semua yang hadir di situ. Tapi, sesaat setelah itu saya tercenung. Menulis di blog ibarat onani? Pertanyaan itu terus tergiang di benak saya sampai keesokan harinya, Sabtu sore, ketika saya ikut seorang teman menghadiri pertemuan sebuah komunitas kecil para blogger di Citos. Pemrakarsanya seorang ibu dua anak yang tinggal nun jauh di Bogor. Ia mengaku, sehari-hari hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa, dan satu-satunya kesibukan dia yang penting ya ngeblog itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh teman-temannya ia dianggap sudah masuk golongan yang disebut seleb blog. Salah satu penandanya, setiap tulisan yang dia unggah selalu mendapat komentar yang berderet-deret. Artinya, blog dia dikunjungi banyak orang dan punya pembaca setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dibandingkan dengan &lt;em&gt;crowd&lt;/em&gt; yang pada gathering perensensi buku itu, orang-orang yang saya temui di &lt;em&gt;offline&lt;/em&gt; para blogger itu sungguh menghadirkan nuansa lain di hati saya. Mereka manusia-manusia urban dengan karir kantoran yang cukup mapan, dan di tengah kesibukan mereka menyempatkan diri ngeblog: menulis hal-hal yang "remeh-temeh", tanpa pretensi untuk membuat "tulisan yang bagus", tak berharap "jadi penulis" dan dapat honor. Mereka ngeblog karena senang, dan bukan untuk "melarikan diri" dari kegagalan menjadi penulis (di) koran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada mereka, saya seperti melihat cermin yang memantulkan hasrat-hasrat paling jujur seputar aktivitas menulis dan motif-motif yang mendorong dan melatarinya. Menulis, dan menjadi penulis, di tangan para blogger itu, tak lagi menjadi sesuatu yang angker, bergengsi, dan merupakan "hak istimewa" para penulis, sastrawan, pengamat, peneliti, wartawan, kolumnis, dan budayawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah obrolan di Citos itu, seorang perempuan muda berbusana gaya etnis yang bekerja di sebuah&lt;em&gt; free magazine&lt;/em&gt; tentang HP dan gadget, dengan serius mengatakan, menulis di blog itu awal untuk menjadi wartawan. Saya sih &lt;em&gt;setuja-setuju&lt;/em&gt; saja, tapi maksud saya, di luar soal setuju atau tidak, dan benar atau salah pendapat itu, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa bagi sebagia orang, ngeblog memang bukan aktivitas yang merujuk pada perasaan putus asa, seperti diperlihatkan oleh penulis yang tak kunjung berhasil menembus koran tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang lain, di pertemuan Citos itu, mengaku ngeblog untuk menyalurkan hobi otomotifnya. Lho apa hubungannya? "Saya hobi otak-atik dan memodifikasi motor dan saya ingin berbagi pengalaman soal itu lewat blog," kata dia dengan binar wajah yang bahagia. Berbagi pengalaman. Saya jadi ingat Frederick Jameson yang pernah mengatakan, "&lt;em&gt;Telling of the individual story and individual experience as ultimately involving the whole laborious process of telling of the collectivity itself.&lt;/em&gt;" Atau, dalam bahasa persilatan, mereka telah memilih 'jalan blog' untuk mencari dan menyatakan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blog adalah bagian dari laju perkembangan teknologi yang tiada pernah henti, dan itu berguna atau tidak, dan kalau berguna untuk apa saja, pada akhirnya semua tergantung hasrat yang kita pendam. Bagi yang menulis karena ingin diakui sebagai penulis, menembus koran, terkenal dan dapat honor, blog barangkali memang hanya sebuah onani. Tapi, bagi yang telah menganggap bahwa menulis itu adalah bagian dari aktivitas keseharian yang tak bisa ditinggalkan, seperti halnya berjalan, makan, bernafas dan nonton TV, maka blog --seperti teks iklan sebuah supermarket-- memberi lebih dari yang Anda bayangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu dua anak yang hobi ngeblog tadi dari awal barangkali tidak pernah berambisi dan terobsesi untuk "menjadi penulis". Tapi, dengan blog, dari rumahnya di pelosok pedalaman yang jauh dari Jakarta, ia mampu mengumpulkan berpuluh, bahkan mungkin beratus orang, yang setia membaca cerita-cerita personalnya, dan aktif memberi komentar. Ia tak dapat honor dari tulisan-tulisannya, dan mungkin tidak terkenal se-Indonesia Raya, dan tak ada yang menjulukinya sebagai penulis. Tapi, julukan 'seleb blog' yang melekat padanya cukup besar memberinya kuasa: begitu ia mengumumkan akan mengadakan ketemuan di Citos, orang pun berbondong-bondong datang. Dan, kopdar Sabtu kemarin itu bukan yang pertama kali ia adakan. Penulis yang namanya harum dan berkilat-kilat di halaman koran mungkin tidak akan pernah mendapatkan kemesraan seperti itu: punya massa penggemar seloyal dan seintim itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-2020939065380133412?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/2020939065380133412/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=2020939065380133412' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2020939065380133412'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/2020939065380133412'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/jalan-blog_07.html' title='Jalan Blog'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6896943889882049318</id><published>2007-05-02T02:59:00.000-07:00</published><updated>2007-05-02T03:14:56.925-07:00</updated><title type='text'>Dinding-dinding ini Tak Punya Telinga, Antonieta</title><content type='html'>Dindin-dinding ini tak punya telinga, Antonieta. Jadi santai saja. Dan, ini memang bukan dunia yang pernah dibayangkan Orwell, di mana yang hitam berarti putih dan yang putih berarti hitam. Ini hanya sebuah diskotek tua, mungkin tertua. Kau bilang, atas nama ilmu pengetahuan, kita harus ke sini. &lt;em&gt;Oh My God&lt;/em&gt;, bisikmu berkali-kali begitu kita turun dari taksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian masih sama saja seperti dulu, satu atau dua tahun yang lalu. Lelaki-lelaki bergerombol di halte, sekitar toilet umum, warung kopi hingga depan pintu masuk yang mirip mulut sebuah gua. Tapi, lihat, ada pos ronda juga di situ, tepat di sisi pintu masuk yang mirip mulut sebuah gua itu. Ah, nanti kau akan lebih banyak tahu, betapa segalanya jauh di luar bayanganmu tentang sebuah tempat bernama diskotek, bahkan jika harus ditambahi “yang buruk” sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah lupa kapan terakhir ke sini. Semua lelaki seperti kita, kurasa, pernah ke sini, sedikitnya sekali. Namun, hampir semua akan lupa atau pura-pura lupa ketika ditanya. Mungkin aku juga cuma pura-pura lupa sekarang. Tapi, aku melihat, di antara sebagian yang masih sama saja seperti dulu, ternyata ada juga yang telah berubah. Gerai &lt;em&gt;fastfood&lt;/em&gt; Amerika itu dulu belum ada, juga mini market di sebelahnya. Jadi, tempat ini belum teramat buruk, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kau mungkin hanya telanjur terlalu banyak mendengar cerita-cerita dan prasangka-prasangka. Setelah kita membayar tanda masuk 20 ribu rupiah, dan melewati tangga berlantai tegel penuh debu, dan petugas yang melobangi karcis kita –ah, seperti masuk taman hiburan rakyat saja ya!-- kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri, dan merasakan &lt;em&gt;ambience&lt;/em&gt;-nya. Kecuali musiknya yang norak dan dinding-dindingnya yang kumuh, kukira kau akan menyukainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, dinding-dinding itu memang hanya kumuh saja. Itu tidak bahaya. Mereka tak punya telinga, yang akan mendengar setiap debar jantung kecemasanmu, detak nadi kepenasarananmu dan tarikan napas berat keterkejutanmu. Itulah sebabnya, semua orang yang datang ke sini tiba-tiba seperti terbebas dari segala belenggu, menjadi manusia yang merdeka untuk merayakan tidak hanya tubuhnya, tapi juga hasrat-hasrat yang paling terpendam. Di luar sana, mereka mungkin seorang bapak yang baik, juragan toko emas di pasar pagi, tukang pijat di "&lt;em&gt;man to man massage&lt;/em&gt;" atau murid SMU swasta yang juara kelas tapi &lt;em&gt;introvert&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, kita sendiri, aku dan kamu, siapakah? Dewa-dewa yang sedang turun ke bumi? Pejabat yang meninjau rakyat? Pengunjung kebun binatang? Setelah menukar tiket dengan minuman yang merk-nya kita komentari dengan geli, kita hanya berdiri-berdiri saja melipat tangan di dada, melihat-lihat, sambil terus menjaga jarak. Sampai akhirnya kita duduk-duduk di lorong menuju toilet. Di lorong itu, kita melihat orang-orang tak henti-hentinya mondar-mandir ke toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lelaki yang sejak tadi duduk di samping kita, tak henti-henti &lt;em&gt;cetak-cetok&lt;/em&gt; memainkan permen karet yang dikunyahnya. Dan, bapak-bapak berkumis berperut buncit berkalung rantai itu berkali-kali melirik ke arah kita. Dan, remaja-remaja itu, &lt;em&gt;oh My God&lt;/em&gt;, desahmu berkali-kali. Mereka cakep-cakep. Mereka keren-keren. Mereka begitu belia, dan begitu menggairahkan. Hanya, kaos mereka tidak bermerk. Sepatu mereka bajakan. Gaya rambut mereka "enggak banget". Dan, &lt;em&gt;oh My God&lt;/em&gt;, mereka bedakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mereka sebenarnya cakep. Mereka sebenarnya keren. Mereka hanya miskin. Tapi, apa artinya ‘hanya’? Aku mendengar kesedihan dari kata “sebenarnya” yang berulang kau ucapkan. Dan, di balik bedak murah-tebal lelaki-lelaki yang bahkan belum genap 17 tahun itu, tersimpan lebih banyak lagi kata “sebenarnya” yang tak pernah terungkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali sejak awal kita hanya salah memilih posisi. Kita datang sebagai dewa dan merekalah titah. Kita datang sebagai pejabat dan merekalah rakyat. Kita datang sebagai pengunjung kebun binatang dan merekalah…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga, Antonieta. Siapa kita sebenarnya?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6896943889882049318?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6896943889882049318/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6896943889882049318' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6896943889882049318'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6896943889882049318'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/05/dinding-dinding-ini-tak-punya-telinga.html' title='Dinding-dinding ini Tak Punya Telinga, Antonieta'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-5951598407767647860</id><published>2007-04-27T01:01:00.000-07:00</published><updated>2007-04-27T01:12:33.030-07:00</updated><title type='text'>Kala: Ketika Donat Dibikin Tertawa</title><content type='html'>oleh: seseorang dengan Yahoo-ID &lt;strong&gt;ayo invisible!&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, donat pun bisa tertawa. Itulah hal paling sensasional di dunia film, apalagi sejak teknologi tridi sudah bukan hal asing lagi. Dan, ketika seseorang memutuskan untuk membeli karcis bioskop, sebenarnya ia pun telah bersiap untuk dikibuli dengan, misalnya, cerita-cerita paling konyol macam "donat ketawa-ketiwi" ini. Saya pribadi, masuk bioskop berarti rekreasi. Soal ada film "merengkuh realitas", film "anti-intelek", film &lt;em&gt;noir&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;whatevah&lt;/em&gt; dsb, buset dah, yang saya ingin tahu pertama-tama adalah seberapa cantik film itu "menipu" saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyulap konsep-konsep konyol menjadi "jempol", bisa jadi Hitler adalah teladan sejati dengan teorinya: kebohongan yang diulang-ulang akan menjadi kebenaran. Karena teori itulah dengan penuh penasaran saya menunggu-nunggu nongolnya jilid ketiga &lt;em&gt;Spiderman&lt;/em&gt;. Ada orang jadi laba-laba? Ternyata bisa saja karena si dia dulu begini dan begitu dan dia hidup di kota seperti itu dengan musuh-musuh yang... dst. Ada donat bisa tertawa? Ya, karena di sana semua kue memang cerewet semua, karena...karena... dst. Semua "kebenaran" dibangun dengan "kebohongan-kebohongan" sempurna, tidak asal "pokoknya ya begitulah ceritanya!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya nonton "Kala", saya tak bisa menyembunyikan kekecewaan karena parameter saya adalah &lt;em&gt;Janji Joni&lt;/em&gt; yang lumayan asoi tipuannya. Menurut saya &lt;em&gt;Kala &lt;/em&gt;tidak lebih bagus dari &lt;em&gt;Janji Joni&lt;/em&gt; kerena satu alasan: Joko telah menjadi "egois" dengan menebar banyak sekali "pokoknya ya begitulah ceritanya!" di sepanjang cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- mengapa dia gay? &lt;em&gt;pokonya begitu ceritanya&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- mengapa Jawa-baya? &lt;em&gt;halah, ini kan cuma cerita&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- mengapa hantu? &lt;em&gt;oh, aku emang suka begitu&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- mengapa ogoh-ogoh? &lt;em&gt;emang apa peduli eloh?&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;- mengapa memburu harta? &lt;em&gt;bleh, bikin cerita sendiri sana!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah mulai terbiasa dan gak akan heboh bila "jawaban-jawaban" itu semua sudah jadi epidemi di film-film Indonesia, tapi...Joko Anwar gitu loh!! Masak sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir tidak ada jeleknya bermain di zona aman, mengukuhkan pijakan, dengan membuat &lt;em&gt;another&lt;/em&gt; &lt;em&gt;Janji Joni&lt;/em&gt; yang katanya rendah teknologi tapi saya yakin telah betul-betul dikuasai Joko detil-detilnya. Saya pribadi tak peduli apakah &lt;em&gt;filmmaker&lt;/em&gt;-nya pakai mini-DV ataukah kamera 35 mili, yang penting... &lt;em&gt;cut, mana ekspresinyaaaaa?!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko kali ini memaksa saya percaya ada donat bisa tertawa tanpa peduli apakah saya cukup pintar membedakan mana donat mana tomat. Semoga ini dia lakukan tanpa sengaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, di filmya kali tidak ada donat dan tomat sama sekali. Anda bisa buktikan sendiri. Kalau bisa, ajak juga semua teman, sodara, bapak, ibu, tetangga, semuanya untuk ikut menjadi saksi salah satu tonggak sejarah perfileman Indonesia. Saya serius!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup film Indonesia!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-5951598407767647860?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/5951598407767647860/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=5951598407767647860' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5951598407767647860'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/5951598407767647860'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/kala-ketika-donat-dibikin-tertawa.html' title='Kala: Ketika Donat Dibikin Tertawa'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4755717444462844729</id><published>2007-04-22T21:17:00.000-07:00</published><updated>2007-04-22T21:39:02.459-07:00</updated><title type='text'>Ketika Golum Bertemu Lara Croft: Sebuah Model untuk (Memahami) Indonesia?</title><content type='html'>Begitu makluk berwarna putih berwajah seram itu muncul, partner nonton saya mencengkeram lengan saya dengan geram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh, kan film horor kan, ih bete deh," nada suaranya menyiratkan kemarahan seorang yang sedang merasa tertipu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cukup repot juga saya menjelaskan, bahwa makluk itu (pasti) bukanlah hantu --belakangan, teman saya, cerpenis Ucu Agustin yang sangat piawai mendongeng, menyebutnya manusia terigu-- dan, ini bukan film horor. Tapi, seterusnya, berkali-kali makluk itu muncul lagi, membuat teman saya makin marah (bukan pada filmnya, tapi pada saya yang mengajaknya nonton). Saya mulai putus asa --bagaimana menjelaskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film terbaru Joko Anwar, &lt;em&gt;Kala&lt;/em&gt; memang sesuatu yang baru dalam sejarah perfilman Indonesia. Sulit --untuk tak bilang tak ada-- mencari presedennya. Untuk pertama kalinya, seorang sineas di Tanah Air dengan sadar menciptakan sebuah "dunia alternatif" --sebuah model-- untuk memotret dan memahami "realitas".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang bisa saja mengetahui --dari berbagai pemberitaan di koran-- bahwa film ini berlokasi syuting di kota lama Semarang dan Ambarawa. Tapi, cerita filmnya sendiri sama sekali tak menyebut nama tempat. Kalau situs &lt;em&gt;21cineplex.com&lt;/em&gt; bisa dianggap mewakili pihak produser, maka kita ikuti saja klaim bahwa film ini bercerita tentang sebuah negeri tak bernama. Tapi, adakah yang benar-benar tak bernama, Tuan-tuan dan Puan-puan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak adegan pembuka, sulit bagi penonton untuk tak mengasosiaskan bahwa (negeri) itu tak lain Indonesia. Dua orang polisi berada di lokasi kejadian pembakaran lima lelaki yang diteriaki pencuri oleh massa. Bukankah itu mengingatkan kita pada tindakan main hakim sendiri yang beberapa waktu lalu sempat marak di Jakarta? Dari sinilah, cerita berkembang, menjadi sebuah potret --yang diambil dari sudut gelap-- tentang Indonesia masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, jangan bayangkan sebuah film yang --layaknya &lt;em&gt;Marsinah&lt;/em&gt; tempo hari-- memindahkan mentah-mentah realitas ke dalam bahasa gambar, hingga jadinya sebuah reportase yang pucat dan membosankan. Juga, jangan bayangkan sebuah film --yang layaknya &lt;em&gt;Ekspedisi Madewa&lt;/em&gt;-- yang sebenarnya cukup berpotensi menjadi model alternatif untuk menatap keindonesiaan kita masa kini, namun terjebak dalam formula yang klise, sehingga hasilnya tak lebih daripada banyolan yang tak lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kala&lt;/em&gt; adalah lompatan yang tinggi, yang barangkali selama ini hanya ada dalam khalayan nakal naluri kanak-kanak kita. &lt;em&gt;Apa jadinya kalau Gatotkaca bertemu Spiderman? Seru kali ya kalau perempuan-perempuan perkasa dalam &lt;/em&gt;Underworld &lt;em&gt;atau manusia-manusia kate dalam&lt;/em&gt; Lord of the Rings&lt;em&gt; berada dalam satu&lt;/em&gt; frame &lt;em&gt;dengan Joko Geledek atau Gundala Putra Petir&lt;/em&gt;. Pada sastra, orang sudah lama melakukannya. Ingatkah Tuan-tuan dan Puan-puan pada (cerpen-cerpen) Danarto, dan belakangan teman saya yang sudah saya sebut namanya di atas?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, Kala merengkuh "realitas" yang dekat, tapi sekaligus menepisnya jauh-jauh. Ia menghadirkan sesuatu yang masih lekat dalam ingatan kita, tapi memilih untuk tidak menamainya. Tapi tidak. Tak ada yang pernah benar-benar tak bernama. Ia memotret wajah yang jelas-jelas Indonesia, tapi (menyamarkan dengan cara) dengan keras menolak untuk "menjadi Indonesia".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu-ibu yang muncul dari kegelapan di TKP itu, berbicara dalam tradisi orang Barat. Tanpa ditanya, ketika pak polisi Eros (Ario Bayu) yang ganteng datang, ia langsung menyergah, "Ogoh-ogoh!" Lalu, dengan gaya yang sok-asik dan sok-akrab, ibu-ibu itu meminta rokok pada pak polisi itu dan terjadilah obrolan yang berat: ibu-ibu itu menuturkan teori akumulasi kemarahan yang melahirkan kekerasan dalam masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, kalau tadi saya bilang, "ibu-ibu itu...berbicara dalam tradisi orang Barat"...apa sebenarnya tradisi? Apa itu Barat? Apa itu (ke)Indonesia(an)? Joko memutuskan untuk tak peduli, dan dia bisa jadi benar. Mungkin ketakpedulian itu pula yang mendasarinya untuk agak genit menempelkan identitas gay --meskipun tak secara eksplisit-- kepada tokoh Eros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak penting banget deh, apa kaitannya dengan cerita?" keluh partner nonton saya tadi, yang agaknya mulai bisa melupakan --atau "menerima"?-- tokoh si manusia terigu (Jose Rizal Manua). Ah, bagaimana menjelaskannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ini sama dengan ketika tim pujangga yang ditunjuk oleh Paku Buwana V menyelipkan adegan-adegan seks sesama laki-laki dalam satu-dua lembar dari beribu lembar naskah Centhini. Sebuah impian masa depan tentang masyarakat yang ideal, di mana berbagai perbedaan (termasuk atribut-atribut seksual) tak (perlu) lagi dipersoalkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, sebagai sebuah model, &lt;em&gt;Kala &lt;/em&gt;menjadi leluasa untuk memungkinkan segalanya. Sosok manusia terigu yang datang dan pergi itu menjadi tak bermasalah dengan logika. Demikian juga tokoh Ranti (Fahrani) yang penyanyi kafe itu, yang pada akhir cerita digambarkan dengan sangat keren sebagai pendekar perkasa, dengan pedang di tangan, berdiri di atas reruntuhan candi dan meluncur setengah terbang menyerang musuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko meramu kenyataan dan fantasi, fakta dan dongeng, sejarah dan (impian) masa depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh(-tokoh) dibuat se-&lt;em&gt;real &lt;/em&gt;mungkin, dan disengaja untuk memancing emosi-asosiatif penonton, misalnya menteri pariwisata. Namun, pada saat yang sama tokoh(-tokoh) itu dibuat segila mungkin: rakus, kejam, irasional. Realitas, di tangan Joko, hanyalah impuls bagi ide, untuk kemudian dengan kreatif ia kembangkan menjadi sebuah dunia yang lain, yang serba aneh, dingin, sunyi, mencekam, yang seolah-olah tak memiliki sambungan dengan kenyataan-kekinian, tapi membuat kita justru (semakin) yakin: hei, itu kan wajah kita sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cermin, Tuan, cermin, Puan. Ya, barangkali film ini adalah cermin. Sepanjang film, penonton seperti dituntun untuk mengunjungi jejak-jejak memori kolektif bangsanya sendiri atas mitos-mitos dan isu-isu yang selalu kembali seperti gema: dana revolusi, menteri agama yang memerintahkan penggalian lokasi harta karun, sampai Ratu Adil juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, ya, bukankah hal yang paling tak bisa dipercaya dari bangsa ini adalah sejarahnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Kala menawarkan formula (baru) untuk memahaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iiih keren bangeeet," seru partner nonton saya, ketika Ranti menancapkan pedangnya ke tanah dan menjatuhkan tubuhnya, berlutut di depan Eros.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, sekarang sudah jelas bukan, bahwa tak perlu penjelasan apapun untuk membuat dia melupakan makluk putih itu, si monster terigu itu, atau siapalah dia! Gantian saya yang kemudian jadi kepikiran: saya teringat ibu-ibu yang pintar tadi. Tiba-tiba dia terasa begitu logis di antara yang tak logis, dan dengan demikian justru terasa mengganjal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, hei, bukankah masih ada satu ibu-ibu lagi, yang juga anomim, yang juga muncul begitu saja, dan memberi banyak menjelasan penting untuk menyambung alur cerita? Ternyata Joko tak benar-benar tak peduli. Atau, untuk tak peduli sebenarnya butuh "ketahanan mental" yang besar? Teori cerdas dan berbagai penjelasan dari tokoh-tokoh anonimus itu seperti menjungkirkan dunia alternatif yang sedari awal dibangun Joko dengan rapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi "anti intelek" --dengan menciptakan tokoh-tokoh yang membuat wartawan &lt;em&gt;Kompas &lt;/em&gt;gelisah ("&lt;em&gt;Apa maunya hantu merangkak yang selalu muncul tiba-tiba untuk menakut-nakuti? Untuk mencipta misteri atau atas nama seni?&lt;/em&gt;"), ternyata sulit juga. Dan, Joko tak tahan untuk tak berkomentar, dengan menampilkan tokoh ibu-ibu jalanan yang mungkin penjelmaan sosiolog UI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, &lt;em&gt;Kala &lt;/em&gt;adalah sebuah film tentang ide, gagasan, mungkin tentang sejarah, mungkin yang lain, yang jelas itu ide atau gagasan besar. Tokoh-tokoh, dengan segala karakterisasinya yang kuat --misalnya seorang wartawan yang si penidur-- digerakkan untuk mendukung penyampaian ide besar itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, di manakah manusia di ide itu? Kita tak pernah tahu, misalnya, apa yang terjadi ketika si penidur itu (ter)tidur? Kita hanya (diberi) tahu, setiap kali ia menghadapi ketegangan, ia terkulai, tidur lalu &lt;em&gt;cut to&lt;/em&gt; adegan lain, dan ketika &lt;em&gt;cut to&lt;/em&gt; lagi, kita lihat dia tengah merangkak bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Realitas direduksi ke dalam ide, dan pada gilirannya mereduksi (atau, jangan-jangan menghilangkan) manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya sibuk SMS-an sambil sesekali manggut-manggut biar terlihat bahwa ia masih mendengarkan saya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4755717444462844729?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4755717444462844729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4755717444462844729' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4755717444462844729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4755717444462844729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/ketika-golum-bertemu-lara-croft-sebuah.html' title='Ketika Golum Bertemu Lara Croft: Sebuah Model untuk (Memahami) Indonesia?'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-8968363785794714493</id><published>2007-04-13T01:16:00.000-07:00</published><updated>2007-04-13T01:35:50.837-07:00</updated><title type='text'>Paragraf-paragraf yang Kubayangkan akan Menjadi Pembuka Novelku</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2005&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Kau duduk di dalam taksi, di jok belakang pinggir jendela kiri. Pohon-pohon di sepanjang tepi jalan, hamparan sawah yang tersisa di sela deretan ruko-ruko baru dan baliho-baliho iklan berlarian ke arah yang berlawanan dengan laju taksimu. Kau kira sudah cukup sore. Kau malas mengeluarkan HP hanya untuk melihat jam. Kau juga enggan melongok ke depan –di situ pasti juga ada angka yang menunjukkan waktu. Nanti malah dikira melihat argo. Malu. Lagi pula posisi dudukmu sudah sangat enak untuk digeser dengan gerakan sekecil apapun. Kau benar-benar tak ingin melakukan apa-apa, bahkan hanya untuk sekedar mengetahui sekarang jam berapa. Apa pula artinya bagimu? Di ujung perhentian taksi ini, hidup barangkali sudah tak akan berarti lagi. Setelah taksi ini berhenti, hidupmu barangkali juga akan berhenti&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1991&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; Sebuah mobil mewah menikung tajam memasuki halaman luas rumah besar yang juga mewah. “Ini rumah kamu?” Adit membelalak setengah tak percaya. Dari tempat duduknya di jok depan, Resa menoleh ke arah temannya di belakang, tapi merasa tak perlu memberi jawaban. “Yuk, turun,” katanya sebelum kemudian meloncat lincah. Setelah turun dari mobil, Adit masih berdiri bengong memandangi rumah teman barunya itu. Mereka masih mengenakan seragam sekolah. Akhir pekan yang melegakan. Hari terakhir dalam masa pekan pertama masuk SMP yang baru diisi dengan perkenalan dan orientasi sekolah namun cukup melelahkan.&lt;br /&gt;“Ayo masuk, malah bengong!”&lt;br /&gt;“Rumah kamu bagus sekali, besar sekali…”&lt;br /&gt;“Ah, biasa aja, udah ayo masuk.”&lt;br /&gt;Resa menarik tangan Adit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2029&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt; “Terus, terus…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah truk besar berjalan mundur memasuki halaman sebuah rumah yang sepi dan runggut, dan salah seorang dari empat awaknya dengan riuh memberi aba-aba kepada sopir. Seorang lelaki berusia 52 tahun namun masih tampak gagah dan berpenampilan keren turun dari kabin. Bak terbuka truk itu penuh oleh barang-barang rumah tangga. Dia sedang pindahan. Empat awak truk itu segera bekerja dengan cepat, menurunkan satu per satu barang dari atas truk, dan digotong bersama-sama untuk dimasukkan ke dalam, ditaruh di tempat sesuai petunjuk yang diberikan pemilik rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;LANGKAHMU&lt;/span&gt; begitu ragu-ragu. Seperti ada yang memberati kedua kakimu. Atau, sesuatu yang memberati langkahmu itu sebenarnya ada di dalam kepalamu? Padahal, kau sedang pulang ke rumahmu sendiri. Rumah ibumu. Rumah masa kecilmu. Apa yang kau takutkan? Kau seret langkah beratmu seperti menyeret hatimu yang tertinggal di belakang, penuh debar kecemasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teras rumahmu terasa jauh, dan sebelum kau mencapainya, kau lihat seorang perempuan yang tampak lebih tua dibandingkan usianya yang kau tahu, muncul dari balik pintu. Itu ibumu, tapi kau melihatnya seperti sosok asing yang sedang berusaha kau kenali. Ibumu berdiri terpaku, barangkali dengan perasaan yang sama dengan apa yang berkecamuk dalam dadamu. Kau begitu asing di matanya. Langkahmu makin dekat, dan kau bisa melihat, mata ibumu berkaca-kaca. Mata itu seperti menyimpan magnet yang menarik tubuhmu hingga tiba-tiba kau dapati dirimu berada dalam pelukannya. Atau, ibumu yang berada dalam pelukanmu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangis ibumu pecah dan kau pun tak kuasa lagi menahan airmata yang sejak tadi kau tahan. Sejak kau masih duduk di dalam taksi. Selepas pelukan itu, ibumu melangkah masuk. Tapi, kau masih terpaku di tempatmu berdiri. Ibumu berhenti di ambang pintu dan menoleh. Wajahnya memberimu isyarat yang telah kau tahu.&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Adit langsung diajak ke kamar. Ia ingat kamarnya sendiri di rumah. Sungguh sangat jauh berbeda. Kamar ini dingin dan semuanya ada. Televisi besar dan seperangkat alat permainan. Komik dan majalah-majalah memenuhi rak. Kase-kaset VCD, DVD berserakan di mana-mana. Mobil-mobilan dan berbagai hiasan bagus memenuhi meja-meja dan dinding-dinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kamu bengong terus sih dari tadi.”&lt;br /&gt;“Eh, enggak…aku sedang mengagumi kamarmu.”&lt;br /&gt;“Ah, biasa aja kok, apanya yang dikagumi, aku malah kadang bosan di kamarku.”&lt;br /&gt;“Kamu di rumah sendirian aja?”&lt;br /&gt;“Ada kakakku di kamar sebelah, mungkin belum pulang.”&lt;br /&gt;“Bapak ibu kamu?”&lt;br /&gt;“Papa mama yang kerjalah, pulangnya malam.”&lt;br /&gt;“Ooo.”&lt;br /&gt;“Udah ah, kita makan dulu yuk, Mbok Tum pasti udah nyiapin.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adit mengikuti langkah Resa keluar kamar, menuju ruang makan. Di sana ternyata sudah ada orang lain yang sedang makan. Adit menghentikan langkahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini kak Vio ternyata udah pulang. Kak, ini Adit teman Resa.”&lt;br /&gt;“Hai, Dit, sini makan dulu.”&lt;br /&gt;Adit mengambil duduk di bangku seberang Vio. Kakak Resa itu masih mengenakan seragam putih abu-abu.&lt;br /&gt;“Kakakku juga baru masuk SMU, Dit.”&lt;br /&gt;Adit cuma mengangguk dan tersenyum, lalu melirik ke arah Vio lagi. Ternyata Vio juga sedang melirik ke arahnya. Adit buru-buru mengalihkan pandangan. Tapi, sesaat kemudian ia melirik ke arah yang sama lagi untuk memastikan apakah Vio masih melihat ke arahnya. Ternyata masih. Adit jadi salah tingkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ambil sendiri, Dit nasinya, itu lauknya, ambil aja, jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;“Iya, Dit jangan malu-malu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adit malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sore telah berlalu. Pekerjaan menata barang-barang di rumah baru telah selesai. Awak truk yang mengerjakannya bahkan sudah pamit pulang. Kini dia sendiri, belum bosan-bosan pula melihat-lihat ruangan demi ruangan rumah barunya, sambil mencoba membenai letak lemari yang kurang pas, atau posisi dipan yang miring atau meja sudut yang dirasa kurang serasi. Ada saja yang dirasakannya tidak harmonis dalam penglihatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru hari pertamanya, pikirnya. Tak perlu buru-buru. Dia bukan hendak menempati rumah ini satu-dua hari. Dia tidak sedang menginap di hotel. Ini rumah barunya, yang akan ditempatinya sepanjang sisa hidupnya. Dia melangkah masuk ke kamar. Tirai jendela belum dipasang. Besok saja. Sekalian memasang semua gorden untuk ruang-ruang yang lain. Yang penting semua barang sudah masuk. Yang penting semua sudah tertata. Yang lain menyusul sesuai keperluan. Dia berdiri di kamar. Segalanya asing di matanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;***&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Kau berdiri di kamar. Segalanya asing di matamu....&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-8968363785794714493?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/8968363785794714493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=8968363785794714493' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8968363785794714493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/8968363785794714493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/paragraf-paragraf-yang-kubayangkan-akan.html' title='Paragraf-paragraf yang Kubayangkan akan Menjadi Pembuka Novelku'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4803807879847614719</id><published>2007-04-12T01:04:00.000-07:00</published><updated>2007-04-12T01:10:43.137-07:00</updated><title type='text'>Makan Siang</title><content type='html'>Makan siang kami kali ini cukup istimewa. Kami duduk di ruangan yang luas di sisi dinding kaca yang seolah menjadi kanvas bagi lukisan panorama kota. Gedung-gedung tinggi, rumah-rumah, jalan, pepohonan dan langit. Orang yang menjamu kami, menyambut dengan senyum yang mengkrabkan. Lalu, memperkenalkan kami dengan menu-menu yang sudah terhidang di atas meja. Lidah bebek masak kecap, lumpia kering dan lumpia basah. Menu utama belum datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pramusaji, seorang berempuan berseragam, bertubuh montok dan berpupur tebal, menghampiri meja kami dan membangikan cawan-cawan mungil. Tak lama kemudian, ia berputar sambil menuangkan teh hangat ke dalam cawan-cawan itu. Sambil terus mengobrol, orang yang menjamu kami mulai mengulurkan tangannya, dan menyumpit sepotong lidah bebek yang tadi dia bilang sebagai kesukaannya. Saya pun penasaran mencoba. Enak juga. Manis. Coba sedikit diberi rasa pedas, pasti lebih lezat. Saya jadi ingat, sering masak seperti juga, tapi dari bahan yang beda, yakni sayap ayam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya menyusul mencoba. Rasanya agak aneh, katanya. Dan, setelah itu saya lihat ia tak mengambil lagi. Sedangkan saya akhirnya menghabiskan 3 dari 7 potong yang tersaji di piring panjang. Lalu, datang lagi satu porsi makanan pembuka. Kukira daging goreng. Enam potong tipis-tipis. Ternyata, itu menu vegetarian. Ketika saya cicipi, rasanya mirip daging, tapi lebih empuk dan lebih lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami terus saja makan sajian-sajian pembuka itu sebelum menu utama datang. Lumpia basahnya enak, dipotong kecil-kecil. Sedangkan lumpia keringnya berisi udang. Mbak-mbak pramusaji datang lagi, mengantarkan empat mangkuk sup. Kami langsung menyambutnya. Kental. Dan, agak asam. Isinya jamur dan parutan tahu Jepang. Tidak cocok dengan cita rasa selera Jawa saya. Dua sendok saya berhenti, dan tak pernah menyambanginya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ulala, menu utama yang kami tunggu-tunggu datanglah pula. Udang kupas rebus kuning telur, kepiting goreng telur asin dan cah kangkung campur daging. Semuanya menggoda. Semuanya begitu mengena di lidah. Tapi, kami makan begitu lambat karena sambil tak henti-henti ngobrol. Sesekali saya menyeruput teh hangat dalam cawan. Tawar, tapi enak sekali. Mbak-mbak pramusaji berkali datang untuk menuang teh ke dalam cawan mungil kami yang berkali-kali tandas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi putih dalam mangkuk-mangkuk kami akhirnya tak habis jua. Demikian pula dengan udang, kepiting dan kangkung campur daging itu. Kami kekenyangan, tapi mata masih terus mencari-cari apa yang masih bisa disantap di atas meja. Saya raih lumpia kering terakhir di atas piring. Baru sadar saya, bahwa lumpia ini terbuat dari udang juga. Lalu, saya melirik ke arah lidah bebek --masih satu tapi kini letaknya terlalu jauh dari jangkauan sumpit saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teh dalam cawan tandas lagi. Mbak-mbak pramusaji datang lagi dan mengisinya lagi. Saya masih sempat makan satu butir kepiting goreng telur asin yang gurih dan dua potong udang kupas yang kenyal itu sebelum akhirnya kami mengakhiri makan siang hari itu. Ketika keluar dari ruangan, saya baru sadar bahwa di lobi restauran itu terdapat berderet-deret akuarium, dengan aneka ikan dan binatang air laut lain yang bergerak resah di dalamnya. Untunglah tak terlihat seekor bebek pun yang sedih membisu karena kehilangan lidahnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4803807879847614719?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4803807879847614719/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4803807879847614719' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4803807879847614719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4803807879847614719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/makan-siang.html' title='Makan Siang'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-1061871559859188792</id><published>2007-04-11T00:10:00.000-07:00</published><updated>2007-04-11T00:33:46.833-07:00</updated><title type='text'>Turunkan Tanganmu, Jenderal!</title><content type='html'>Nagabonar, yang kini sudah tua, diajak anaknya, Bonaga ke Jakarta. Sang anak, setelah disekolahkan sampai S-2 di Inggris dari hasil kebun kelapa sawit di Medan, kini telah jadi pengusaha sukses. Di Jakarta, Nagabonar ternyata harus menyetujui rencana anaknya menjual kebun kelapa sawit itu kepada investor asing. Jenderal mantan copet itu tak setuju, terutama karena di sana ada makam leluhur yang dia junjung tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemarahannya pada sang anak, Nagabonar menghabiskan waktu dengan jalan-jalan keliling Jakarta. Selain ke Tugu Proklamasi untuk menjenguk Bung Karno, ia juga sowan ke Jenderal Sudirman di Dukuh Atas. Ketika melihat Jenderal Besar itu menghormat, ia terheran-heran. Nagaonar tak melihat apapun yang harus dihormati oleh Jenderal Sudirman, kecuali mobil-mobil yang berderet dalam kemacetan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak semua dari mereka pantas kau hormati!" teriak Nagabonar masygul. "Turunkan tanganmu, Jenderal!" ia mulai meradang. Tapi, tak ada sautan dari sang Jenderal Besar. Nagabonar makin kalap. Ia raih tali yang terjulur dari atas, dan ia panjat patung itu sambil terus meraung-raung, "Turunkan tanganmu, Jenderal." Teriakannya membelah langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah lama saya tidak dibuat menangis oleh sebuah film (Indonesia), dan menonton adegan Deddy Miswar dalam &lt;em&gt;Nagabonar Jadi 2&lt;/em&gt; yang dia sutradarai sendiri itu saya &lt;em&gt;mrabak&lt;/em&gt;. Sebuah adegan yang mungkin berlebihan, bahkan absurd, tapi -entahlah- saya tidak bisa membendung airmata saya. Saya bergidik. Saya meriding. Saya jadi melupakan betapa ringannya cerita film itu sendiri. Saya juga tak peduli lagi bahwa banyak adegan yang agak membosankan dan bahkan mungkin tak perlu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini film yang begitu mudah kita maafkan kekurangan-kekurangannya untuk kemudian kita sukai dengan sepenuh hati. Emosinya yang naik-turun dan tak rata, printil-printil yang sebagian tidak berkaitan langsung dengan cerita, ungkapan "apa kata dunia" yang begitu basi...semua termaafkan, antara lain, oleh akting Deddy Miswar yang menggetarkan, yang didukung dengan ensambel pemain yang bagus, terutama -sudah barang tentu- Tora Sudiro sebagai Bonaga, dan juga Wulan Guritno.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, satu adegan di Dukuh Atas itu rasanya sudah cukup...untuk membungkam mulut saya yang nyinyir ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-1061871559859188792?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/1061871559859188792/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=1061871559859188792' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1061871559859188792'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/1061871559859188792'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/turunkan-tanganmu-jenderal.html' title='Turunkan Tanganmu, Jenderal!'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6698573599327150953</id><published>2007-04-04T01:50:00.000-07:00</published><updated>2007-04-04T02:04:54.393-07:00</updated><title type='text'>Legend of the Fall</title><content type='html'>Sekarang dia harus bekerja. Terakhir ketemu, dia bahkan menjual HP-nya kepada saya. Karena harganya cukup &lt;em&gt;reasonable&lt;/em&gt;, dan kebetulan saya juga lagi ada sedikit uang, langsung saja saya tarik dia ke ATM &lt;em&gt;basement &lt;/em&gt;Plaza EX. Itung-itung sekalian nolong juga, pikir saya. Dia salah satu teman terbaik yang pernah saya punya. "Saya mau nyari kos," katanya. Wajahnya yang putih tampak makin pias oleh nada suara yang sedih. Seleret senyum yang memperlihatkan behel warna pink coba dipaksakan, namun saya justru lebih melihatnya sebagai sebuah upaya untuk menelan kepahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pertama kali mengenalnya lebih dua tahun lalu. Namanya Dodi. Dia "dibawa" oleh teman saya, Boy yang kala itu juga belum lama saya kenal. Mereka tampak sangat akrab dan mesra, dan itu membuat saya penasaran. Setahu saya, Boy sudah punya pacar, dan bahkan tinggal serumah dengan Mas Rudi. Saya juga pernah diperkenalkan dengannya. Belakangan saya tahu, Boy memang jadian sama Dodi. Awalnya, mereka sembunyi-sembunyi, tapi lambat laun, Boy justru memperkenalkan Dodi ke Mas Rudi dan akhirnya Dodi justru diajak tinggal bareng dengan mereka! Agak shock juga saya dengan kenyataan itu: pacaran bertiga, gimana ceritanya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, saya menyaksikan, segalanya tidak hanya baik-baik saja, tapi juga tampak serba indah. Saya bahkan sempat agak iri dan kepengen. Mereka bahkan kemudian seperti menjadi magnet yang berhasil menghubungkan dan mengumpulkan banyak orang, dan melahirkan sebuah komunitas kecil. Rumah Mas Rudi yang cukup besar dan nyaman di Cilandak menjadi tempat nongkrong. Pada malam-malam tertentu, kami beramai-ramai pergi ke Centro atau Heaven, dan pulangnya menginap di kamar-kamar di bagian belakang rumah, yang dibangun untuk disewakan kelak kalau Mas Rudi sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai pada suatu hari, Dodi curhat pada saya. Ia mulai tahu perangai asli Boy yang ternyata masih suka selingkuh dengan brondong lain. Konon, itu kebiasaan sejak lama, dan Mas Rudi juga sudah tahu itu. Bahkan, konon lagi, Mas Rudi pernah mengusir Boy dari rumah itu karena ketangkap basah. "Ternyata, udah ada gue, dia belum berubah juga," saya masih ingat kesedihan yang membayang di mata Dodi ketika itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin karena merasa sama-sama "korban" kenakalan Boy, Mas Rudi jadi lebih dekat dengan Dodi. Mereka kemudian bahkan sepakat untuk "menindak tegas" Boy jika suatu saat terbukti selingkuh lagi. Dan, saat itu akhirnya memang tiba. Tapi, segalanya ternyata tak semudah yang dipikirkan. Dodi sempat lari dan bersembunyi ke rumah saya waktu itu."Kalau Boy nelpon jangan bilang gue di sini," pesannya wanti-wanti. Sampai malam Dodi di rumah saya, dan dia curhat sambil nangis-nangis. Tiba-tiba Boy nelpon dan mereka bicara lama sekali. Hampir tengah malam, Boy muncul di rumah saya. Ternyata Dodi akhirnya mengaku bahwa dia sembunyi di rumah saya. Dan, mereka baikan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gue nggak tega, Mu," kilah Dodi ketika saya komplain mengapa ia tak menjalankan rencananya dengan konsisten. Lama-lama saya jadi tahu, Dodi hanyalah seorang yang lemah dan peragu. Setelah kejadian itu, Boy masih saja selingkuh dan selingkuh lagi, dan Dodi lagi-lagi hanya mengancam dan mengertak tapi akhirnya memaafkan dan mereka baikan lagi. Saya lama-lama capek karena selalu menjadi tempat mereka lari jika sedang berantem. Bahkan, saya mulai bisa "mengerti" dan "menerima" kebiasaan buruk Boy. Diam-diam, saya justru "berpihak" padanya, setidaknya dalam hati kecil saya yang paling tersembunyi. Saya benar-benar gemas dan masygul dengan ketakberdayaan Dodi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, datang masa ketika saya tak lagi dekat dengan mereka. Dan, ketika suatu hari saya bertemu dengan Dodi, segalanya sudah berubah. Dodi menggandeng cowok item manis, dan bercerita bahwa Boy sudah pergi dari rumah itu. "Mas Rudi sudah nggak tahan," katanya. Terus, ini pacar baru, tanya saya dengan isyarat pandangan mata pada brondong yang baru diperkenalkan ke saya itu. "Ini Aston, temen kok," sanggahnya. Saya percaya saja. Dodi masih seperti dulu, banyak curhat dan banyak mengeluh. Kali ini keluhannya tentang Mas Rudi. "Suka aneh, Mu, kalau gue jalan gini suka ditelponin, macem-macem aja alasannya, intinya sih gue nggak boleh keluar, ya kan bosen di rumah mulu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari setelah itu, saya jadi sering jalan sama Dodi dan Aston. Dan dia tetap saja mengeluh tentang Mas Rudi. Tapi, kali ini saya mulai paham mengapa Mas Rudi "suka aneh", karena ternyata Dodi memang hampir setiap malam jalan dan itu bagi Mas Rudi "hanya menghabis-habiskan uang". Saya mengerti psikologi orang "setua" Mas Rudi. Tapi, saya juga tidak menyalahkan Dodi. Meskipun, saya mulai curiga Dodi dan Aston tak hanya berteman biasa. Dan, seperti kata Trie Utami, hari-hari pun berlalu bagaikan kereta biru. Gosip demi gosip tersebar dan kabar demi kabar bertukar: Dodi kini tak di rumah itu lagi, diusir sama Boy yang tiba-tiba balik lagi bersama brondong barunya, dan diterima dengan baik oleh Mas Rudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalaman kabar itu menjadi bahan diskusi teman-teman dekat Dodi. "Ih, Boy itu nggak tahu diri banget sih, bisa-bisanya balik lagi dan bawa brondongnya pula!"&lt;br /&gt;"Gue justru heran, kok Mas Rudi bisa nerima Boy lagi. Parah banget sih tuh orang, maunya apa sih. udah tuwir nggak tahu balas budi banget deh, Dodi kan selama ini udah baik banget ama dia, ngurusin dia, nyuci baju dia, masak, bersih-bersih rumah."&lt;br /&gt;"Brondongnya Boy itu juga lacur banget sih, nggak tau malu banget!"&lt;br /&gt;"Pasti mobil Mas Rudi sekarang jadi milik mereka berdua."&lt;br /&gt;"Sundal!"&lt;br /&gt;"Perempuan busuk!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lebih banyak jadi pendengar. Lalu, terpikir untuk mengirim sepatah-dua patah kata untuk menguatkan hati Dodi lewat SMS sambil bertanya apa yang sebenarnya telah terjadi. "Ceritanya panjang, Mu, ntar aja kalau kita ketemu gue ceritain. Thx perhatiannya, seharusnya gue dengerin kata-kata lu sejak dulu," balas dia. Ketika saya tanya sekarang tinggal di mana, ia bilang di rumah kakaknya. Kabar berikutnya yang saya dengar, Dodi diterima kerja di Starbuck Setia Budi. Saya senang dan ikut bersyukur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam Minggu, akhirnya saya bertemu lagi dengannya, dan beberapa teman lain geng-nongkrong-ohlala. Wajahnya tak seceria dulu lagi. Penampilannya juga tak seglamor dulu. Tubuhnya tampak makin kurus. Dia datang bersama Aston yang masih juga belum dia akui sebagai pacarnya. Tapi, dengan segala yang telah terjadi, kami tetap dan makin sayang padanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6698573599327150953?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6698573599327150953/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6698573599327150953' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6698573599327150953'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6698573599327150953'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/legend-of-fall.html' title='Legend of the Fall'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-7056569859164267728</id><published>2007-04-03T03:20:00.000-07:00</published><updated>2007-04-03T20:24:10.575-07:00</updated><title type='text'>Jakarta, Buku Itu, Film Ini</title><content type='html'>&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Jakarta Undercover&lt;/span&gt; (strd: Lance, skrip: Joko Anwar), ternyata, bukan film yang diangkat dari buku berjudul sama karya Moamar Emka. Melainkan, ini film yang dibuat dengan mendompleng"kesuksesan" buku tersebut. Saya kira, kalau film ini diberi judul lain mungkin tidak akan ada bedanya apa-apa. Apakah para kreator di balik film ini segitu tak percaya dirinya sehingga harus meminjam judul buku itu untuk cerita yang sebenarnya memang sudah menjadi fenomena umum di Jakarta, dan bukan monopoli liputan eksklusif Emka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ada baiknya juga bahwa film ini sebenarnya tak memfilmkan buku itu. Maksud saya, buku sampah berselera murah(an) itu. Ah, Anda terlalu tahulah maksud saya. Bagaimana membayangkan bahwa buku "seperti itu" difilmkan? Tentu saja saya tahu benar bahwa buku itu laris bukan kepalang. Tapi, ya, justru itulah soalnya. Bukankah yang laku itu biasanya buku yang buruk --atau, Anda pura-pura tak tahu itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, sekali lagi, bahwa film ini ternyata tidak benar-benar memfilmkan buku itu, adalah fakta yang paling menggembirakan dari film ini. Selebihnya? Setelah banci itu mati, penonton sudah tahu apa yang akan terjadi. Kita sudah menyaksikannya beribu-ribu kali dalam film-film Hollywood. Intinya, saksi pembunuhan harus dilenyapkan. Dan, semua itu terjadi dalam semalam. Viki (Luna Maya), saksi itu, harus terus berlari dari kejaran para pelaku, Haryo (Lukman Sardi) dan dua kawannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selebihnya? Semuanya berjalan sesuai rumus yang sudah dihafal di luar kepala. Ada yang mencoba melindungi Viki, tapi si pelindung ternyata musuh lama para pelaku, sehingga terjadi negosiasi. Tentu saja Viki bisa lolos, untuk mencari tempat bersembunyian yang lain. Tapi, para pelaku itu kan anak-anak pejabat, yang punya banyak teman, yang sekali telepon, banyak yang bisa membantu mendeteksi keberadaan Viki. Jadi, ke mana pun dia lari, dengan gampang Haryo dkk menemukannya. Memang begitulah aturannya. Kalau semua bisa digampangkan, kenapa harus susah-susah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;--Dibikin begini saja, pasti juga ada yang memuji kayak gini kok, "Yang membuat &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Jakarta Undercover&lt;/span&gt; berbeda dengan film Indonesia lainnya, yang lain mencoba jadi pintar tapi jatuhnya bodoh. &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;Jakarta Undercover&lt;/span&gt; bodoh dengan sengaja tapi tak jarang jatuhnya pintar." Puji Tuhan, kita hidup di zaman ketika satu-satunya cara yang dianggap sah untuk menjadi pintar adalah dengan tidak terlihat pintar, atau berpura-pura tidak pintar.--&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal diperkuat saja dengan penokohan yang "aneh-aneh": Haryo yang gemar nge-&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;fuck&lt;/span&gt; banci sampai (si banci) mati; lesbian tua bertato naga di punggungnya. Dan, hei, keduanya sangat berkuasa, dan saling berebut wilayah kekuasaan. Selebihnya? Tentu saja setelah berkali-kali hampir tertangkap, Viki akhirnya bisa melakukan serangan balik lewat cara yang unik dan tak tersangka-sangka oleh para pengejarnya. Selebihnya? Sebuah kesimpulan: di kota ini tak ada yang benar-benar kalah atau benar-benar menang. Ah, ternyata hanya sebuah dongeng-modern lain tentang "sekejam-kejamnya ibu tiri lebih kejam ibu kota."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joko Anwar, dapat salam dari (alm) Ateng!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-7056569859164267728?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/7056569859164267728/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=7056569859164267728' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7056569859164267728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/7056569859164267728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/04/jakarta-buku-itu-film-ini.html' title='Jakarta, Buku Itu, Film Ini'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4986145911100141069</id><published>2007-03-29T02:41:00.000-07:00</published><updated>2007-03-29T02:48:57.841-07:00</updated><title type='text'>Yang Resah dan Yang Romantis: Subkultur Remaja di Jakarta</title><content type='html'>Situasi yang tak bisa saya jelaskan di sini, menyemplungkan saya dalam sebuah pensi. Ini dunia kaum remaja yang tak pernah diperhitungkan oleh para pengkaji budaya. Remaja, selama ini, hilang dari halaman media massa; atau, hadir sesekali sebagai berita buruk: tawuran, ebege jual diri di mall dan catatan-catatan lain tentang "sebuah kalangan yang dangkal dan seragam." Memang susah melihat sekeping koin dari dua sisi sekaligus. Satu sisi pasti lebih terlihat dari yang lain, atau kadang-kadang satu sisi menutupi sisi yang lain. Pensi-pensi itu biasanya memang terkurung di balik dinding stadion, atau lingkungan sekolahan. Ada juga sih yang digelar di lapangan terbuka tapi koran hanya memberitakan kalau ada kejadian rusuh, huru-hara dan lempar-lemparan molotov. Ah, bagaimana membuat mereka mengerti bahwa remaja-remaja itu adalah anak-anak yang manis, yang datang hanya untuk musik, seperti selalu diteriakkan Jimmy, vokalis The Upstairs dari atas panggung, "Kita datang hanya untuk musik, &lt;em&gt;My friend&lt;/em&gt;!."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The Usptairs adalah band (indie) yang tergolong paling laris diminta tampil di pensi. Malam itu mereka tampil dan saya berada di tengah-tengah para &lt;em&gt;modern darling&lt;/em&gt; --sebutan untuk penggemar The Upstairs-- yang berpenampilan unik. Mereka berdansa resah --sebutan untuk goyangan tubuh para modern darling ketika mendengarkan lagu-lagu band pujaan mereka. Atau, dalam istilah Utha Likumahua pada 1980-an: dansa suka-suka. Tapi, dari segi musikalitas, The Upstairs mengusung harmonisasi yang lebih jadul dari itu, yakni 70-an. Jimmy meniru habis Rolling Stone dan para penggemarnya barangkali tidak tahu-menahu bahwa idola mereka berkiblat pada seorang musisi veteran berbibir dower yang sekarang sudah sangat tuwir. Belakangan, ikon lidah menjulur lambang Rolling Sote kembali ngetren, tercetak di kaos-kaos, termasuk yang berharga 15 ribu yang dijajakan di Blok M bawah tanah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Musik memang tak pernah lepas dari &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt;, dan gaya-gaya tertentu, seperti tarian. Bagi Jimmy, remaja adalah masa yang paling bergejolak, meresahkan sehingga perlu dilampiaskan dengan sebuah pembebasan dalam bentuk dansa, dan mereka menamakannya dansa resah. Salah satu lirik mereka berbunyi, "bebaskan kami, kami frustrasi". Tapi, ketika menirukan lirik tersebut, sambil berjoget, wajah-wajah para &lt;em&gt;modern darling&lt;/em&gt; yang memenuhi Istora Senayan malam itu jauh dari ekspresi frustrasi. Jelas mereka anak-anak sebenarnya tak pernah menghadapi problema hidup, bahkan yang paling sepele sekalipun. Berbeda dengan puluhan anak-anak lain sebaya mereka yang tak mampu membayar Rp 33 ribu untuk tiket masuk sehingga hanya bergerombol di luar. Untuk pensi-pensi yang digelar di lapangan, golongan ini biasanya "menunggu pagar jebol" agar bisa masuk gratis, tapi pensi gelaran SMU Labschool Rawangun yang bertitel &lt;em&gt;Labs Project in Evolution&lt;/em&gt; itu (17/3/07) itu tak akan pernah memberi kesempatan itu. Sebelum acara bubar, ketika DJ Riri beraksi sebagai penutup, saya keluar dan masih menyaksikan anak-anak itu berdiri di depan pintu pagar, yang dibiarkan terbuka tapi dijaga tentara. Mereka berpenampilan sama dengan anak-anak yang ada di dalam Istora, tapi orang mudah sekali mengenali kelas sosial mereka. Sembah sujud untuk Marx yang maha benar dengan teori kelasnya, yang berlaku juga untuk kehidupan sosial para remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, mungkin terlalu nyinyir kalau soal kelas tersebut dimasukan dalam pembicaraan tentang subkultur remaja. Pada kenyataannya, meskipun tak bisa dihapuskan, jurang perbedaan itu tersamarkan oleh penyeragaman penampilan. Para &lt;em&gt;modern darling&lt;/em&gt; mengenakan celana katun motif kotak-kotak warna gelap, atau polos warna ngejreng, dipadu dengan kemeja lengan panjang yang membungkus tubuh dengan ketat. Kacamata berbingkai plastik warna putih tak pernah ketinggalan. Kostum kebesaran seperti itu bisa didapat dari hunting di Pasar Senen, tapi bisa juga dari distro-distro di sepanjang Tebet Utara. Dalam pensi, semua lebur di bawah siraman lampu panggung dan keringat dingin, membaur dalam kolektivitas gerak. Mereka berdansa dengan memutar-mutar kedua lengan ke segala arah, merendahkan badannya dengan menekuk lutut dan menggoyang-goyangkan kepala. Ada yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil, tapi ada yang benar-benar asik sendiri. Di sinilah ambiguitas yang ajaib dari musik The Upstairs diuji: lagu-lagu mereka bisa mewadahi aspirasi kebersamaan dan individualisme sekaligus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian atas tribun, beberapa cowok berderet menari bersama sambil membuka bajunya. Sebuah pemandangan yang cukup mencolok di atara mereka adalah seorang remaja bertelanjang dada namun mengikatkan suspender di tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan topi koboi. Ketika penampil berikutnya muncul, yakni Club Eighties, cowok-cowok tanpa baju tadi melepas celana pipa sempit mereka dan hanya menyisakan &lt;em&gt;boxer pink&lt;/em&gt;, seolah mereka adalah remaja-remaja 80-an ala Si Boy, yang alim sekaligus nakal. Agak sulit, tentu saja, menarik kesimpulan tentang misalnya identitas seksual mereka berdasarkan ketelanjangan di arena pensi. Namun, setidaknya inilah satu sisi potret subkultur remaja di Jakarta yang unik. Saya menemukan keasikan dari menonton para penonton itu, karena selalu ada yang "baru" dari sudut-sudut yang berbeda. Di deretan remaja-remaja yang duduk rapi di bangku tribun, terdapat empat cowok berkaos hitam. Dua orang di antara mereka menarik perhatian karena: yang satu membawa boneka robot yang bisa menyala dan yang satunya meskipun berkaos gambar tengkorak, tapi di tas selempangnya bergelayut boneka mungil nan lucu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Club Eighties menyanyikan lagu andalan mereka, &lt;em&gt;Dari Hati&lt;/em&gt; --salah satu lagu terindah yang pernah diciptakan musisi Indonesia-- penonton yang beberapa saat sebelumnya berdansa resah itu, berdiri kaku, khitmad dan dengan penuh perasaan ikut menyanyi. Termasuk, empat cowok berkaos metal itu --salah satu dari mereka mengacung-acungkan robotnya yang menyala sambil bersenandung: &lt;em&gt;kuingin kau menjadi milikku walau bagaiaman caranya lihatlah mataku untuk memintamu...&lt;/em&gt;Bagi saya tak ada adegan dari film atau sinetron apapun yang tingkat keromantisannya melebihi pemandangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pensi menjadi area bertemunya sebuah subjek yang tak lagi hanya bisa dimaknai sebagai sebuah kategori umur psikologis, melainkan juga kecenderungan-kecenrungan yang lebih politis. Yang resah dan yang romantis adalah satu kesatuan: mereka menyukai band-band yang sama, cita rasa dan selera mereka pada &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt; juga tak jauh beda. Mereka mengenakan kaos metal karena salah satu band yang tampil bernama Siksa Kubur, tapi mereka juga melengkapi diri dengan boneka dan aksesori lain karena mereka adalah para &lt;em&gt;modern darling&lt;/em&gt;, yang juga menyimpan histeria pada Desta dkk.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4986145911100141069?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4986145911100141069/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4986145911100141069' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4986145911100141069'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4986145911100141069'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/yang-resah-dan-yang-romantis-subkultur.html' title='Yang Resah dan Yang Romantis: Subkultur Remaja di Jakarta'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-4925050794976152486</id><published>2007-03-27T01:53:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T02:10:59.536-07:00</updated><title type='text'>Blitz</title><content type='html'>Tentang apa warga kota saling berkabar dalam sepekan ini? Ke mana mereka berbondong-bondong sejak menjelang akhir pekan lalu? Apa yang paling &lt;em&gt;updat&lt;/em&gt;e, heboh dan &lt;em&gt;happening&lt;/em&gt; di Jakarta saat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anggota barisan depan komunitas anak gaul Jakarta yang tak rela ketinggalan momen sedikit pun, sebagai penikmat sejati kapitalisme hiburan, sebagai orang yang selalu ingin dikomentari (dipuji?) sebagai "beredar banget", malam Minggu (24/3/07) lalu saya dengan penuh semangat meluangkan waktu, meniatkan secara khusus dan menyempatkan diri untuk "meninjau" Blitz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, sudah barang tentu, tergoda dengan informasi yang menyebar lewat Yahoo Massenger (YM) berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bioskop BARU Lebih SERU !! ...with 11 screens, smoking lounge, food lounge, party room, music dowload, and cool bathroom !! - Be there today and get .." BELI SATU GRATIS SATU" ..hanya hari ini di BLITZ Megaplex Grand Indonesia Lantai 8 ..(masuk lewat depan apartemen Ascott) ... !!&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Belakangan, saya baru tahu, iklannya juga dimuat di &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat, bergerak dari Plaza Indonesia. Ketika memasuki areal Grand Indonesia, yang belum seratus persen jadi itu, saya sempat berseloroh, "Ntar kalau pas nonton film kejatuhan batu bata gimana!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai di areal parkir, saya terbengong-bengong. Baru Blitz saja yang buka, orang yang datang sudah penuh sesak begini, apalagi nanti kalau sudah buka buka semuanya. Kesimpulan "penuh sesak" itu tercermin dari berjubelnya mobil yang parkir. Sampai di dalam, di lantai 8, bayangan saya tentang "penuh sesak" itu semakin nyata. Orang-orang mengantri berderet-deret, tidak hanya di depan meja tiket, tapi juga di depan konter makanan dan minuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang juga berjubel di berbagai sudut, ramai sekali, dan banyak yang kebingunan mau nonton film apa atau yang mana. Ada 11 studio --3 memutar film Hollywood dan selebihnya film-film dari belahan lain bumi ini. Dalam masa perkenalan ini, kebanyakan film non-Hollywood yang diputar berasal dari Asia. Saya mencari-cari poster-poster dari film-film "asing" yang tengah diputar itu, tapi tak kunjung ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kami jalan-jalan, melihat-lihat sudut lain. Blitz menempati dua lantai, dengan areal yang sangat luas. Nuansa merah menyergap mata dan kesan mewah begitu terasa. Apalagi bila memandang ke dinding-dinding kaca, terhampar pemandangan malam Jakarta yang begitu indah. Namun, karena keseluruhan bangunan belum selesai, sambil menyeruput kapucino di &lt;em&gt;food lounge&lt;/em&gt;, kau juga bisa melihat tukang-tukang yang sedang lembur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu sudut, akhirnya saya menemukan poster-poster yang saya cari. Salah satunya poster film berjudul &lt;em&gt;The Host&lt;/em&gt;, yang memuat komentar Rizal Mantovani: Jantung dibikin deg-degan, perut mules, tegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, salah seorang teman yang namanya tertera di list YM saya memasang status yang intinya memuji setinggi langit film tersebut. Di milis, ada orang yang posting, isinya juga memuji habis-habisan film itu, dan secara umum ngomongin tentang Blitz. Tiba-tiba seluruh dunia dengan suka rela mempromosikan Blitz, termasuk saya dengan tulisan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada lagi teman saya yang juga nonton film yang sama, tapi ketika SMS saya sama sekali tidak berkomentar tentang filmnya, melainkan, "Gue nggak suka tempat duduknya." Tapi, teman saya yang lain lagi punya cerita yang berbeda: Aku nggak suka harus ditanya mbak-mbak yang jaga, sukanya film apa? Akhirnya aku nggak jadi nonton di situ, pindah ke Megaria nonton &lt;em&gt;Jakarta Undercover&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga tidak jadi nonton malam itu, dengan alasan yang lain. Pertama, karena sejak awal memang hanya berniat "meninjau" --agar kalau ada orang bertanya, &lt;em&gt;lu udah liat Blitz?&lt;/em&gt;, dengan bangga saya bisa menjawab, &lt;em&gt;udah dong, iiih keren banget tempatnya!&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, saya malas karena ternyata harga tiketnya maharani alias mahal --Rp 50 ribu untuk film Hollywood dan Rp 40 ribu untuk non-Hollywood. Padahal, jauh-jauh hari sebelumnya sudah tersiar bahwa tiket di Blitz hanya Rp 25 ribu --dan, oleh karenanya Bioskop 21 buru-buru menurunkan secara drastis harga tiket mereka.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-4925050794976152486?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/4925050794976152486/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=4925050794976152486' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4925050794976152486'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/4925050794976152486'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/blitz.html' title='Blitz'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-6888506490344395591</id><published>2007-03-27T00:56:00.000-07:00</published><updated>2007-03-27T01:05:25.190-07:00</updated><title type='text'>Artis</title><content type='html'>&lt;i&gt;Industri ya industri, tapi kalau kayak gitu ya lama-lama hancur juga...&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Irawan dan El Manik akhirnya tak tahan untuk mengungkapkan kegeliannya menyaksikan persegeran "sistem" keartisan kita di era industri sinetron saat ini. Ini tidak terjadi dalam sebuah seminar sehari berjudul "Tiada Hari Tanpa Sinetron: Menjadi Bangsa Bebal Cara Raam Punjabi". Ini terjadi di sebuah diskusi santai kecil-kecilan di tengah program bertajuk "Sejarah adalah Sekarang" yang digelar KineForum, TIM, selama Maret ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, malam itu, saya menyaksikan pemutaran film &lt;em&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh&lt;/em&gt; yang dihadiri oleh pemeran utamanya, yang tak lain dua nama yang telah saya sebutkan di awal tadi. Usai acara, panitia memanggil keduanya ke depan untuk merefleksikan aksi masa lalu sebagai pijakan untuk melangkah pada masa kini dan akan datang --pokoknya sesuai tema acara yang dahsyat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada penonton yang bertanya, apa pertimbangan menerima peran tersebut. Yang lain ingin tahu pandangan kedua veteran itu terhadap situasi perfilman dewasa ini. Namun, seperti halnya terjadi pada setiap diskusi dan forum-forum sejenisnya, yang menarik bukan obrolan yang berada dalam tema itu, melainkan "ngalor-ngidulnya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi misalnya, curhat tentang proses casting yang harus dia lewati ketika hendak bermain dalam sebuah film. "Yang ngasting saya umur 23 tahun, dan bertanya, punya pengalamana apa? Saya bilang, pernah sih sesekali masuk nominasi piala citra." Dewi menceritakan itu sambil tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi termasuk artis veteran yang terangkat kembali di era-Riri Riza saat ini. Setelah muncul sebagai cameo dalam &lt;em&gt;Berbagi Suami&lt;/em&gt; karya Nia Dinata, belum lama ini dia tampil "utuh" dalam &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; (BPB) karya Teddy Soeriaatmaja. Sutradara yang sebelumnya menggarap &lt;em&gt;Ruang&lt;/em&gt; ini mengklaim bahwa BPB versi dirinya merupakan karya &lt;em&gt;remake &lt;/em&gt;pertama dalam sejarah perfilman Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi, Dewi hanya bisa geli. "Saya sih diem aja, saya nggak mau ngerusak suasana mereka yang sedang bersemangat mempromosikan film itu." Tapi, tentang "kualitas" BPB sendiri, Dewi tak bisa diam. "Teddy kurang greget. Dulu liat Christine Hakim menderita, kita ikut merasa sengasa. Sekarang, liat yang ini, &lt;em&gt;lu nangis nangis aja bodo amat&lt;/em&gt;."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi, tentu saja, bukan hanya saksi, melainkan juga pelaku karya &lt;em&gt;remake&lt;/em&gt;, yang tak lain film yang malam itu tengah diputar dalam rangkaian peringatan Bulan Film Indonesia itu. &lt;em&gt;Titian Serambut Dibelah Tujuh&lt;/em&gt; yang diputar malam itu adalah versi 1982, yang merupakan &lt;em&gt;remake &lt;/em&gt;dari karya yang sama pada 1959.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi berperan sebagai perempuan desa korban fitnah laki-laki yang gagal memperkosanya. Peran ini mengantarkannya masuk nominasi FFI. Tapi, "Saya kalah sama Christine Hakim. Waktu itu Christine juga udah Piala Citra yang kelima," kenang dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, atas nama industri, semua sudah tak sama lagi. Sesekali Dewi harus "puas" hanya bisa melampiaskan kerinduannya berakting lewat sinetron-sinetron kejar tayang. "Itu pun saya pilih-pilih. Tapi, kalau yang FTV-FTV gitu sih lebih lumayan, jadi biasanya saya mau."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang dirasakan Dewi juga dialami oleh El Manik. Baginya, "menjadi artis" di zaman sinetron sama artinya dengan bertahan dalam absurditas. Datang ke lokasi syuting, disodori selembar skrip, lalu syuting buru-buru karena sang sutradara, juga artis-artis muda, harus segera pergi lagi untuk syuting produk lain di tempat lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sekarang ini banyak sekuter, selebriti kurang terkenal. Datang bersama manajernya, &lt;em&gt;take &lt;/em&gt;satu adegan, lalu buru-buru cabut karena ditunggu untuk syuting di tempat lain."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-6888506490344395591?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/6888506490344395591/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=6888506490344395591' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6888506490344395591'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/6888506490344395591'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/artis.html' title='Artis'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117386626202876667</id><published>2007-03-14T03:46:00.000-07:00</published><updated>2007-03-14T03:59:52.546-07:00</updated><title type='text'>Detik Pertama 14 Maret 2007</title><content type='html'>sisa hujan&lt;br /&gt;tengah malam&lt;br /&gt;mengganti hari&lt;br /&gt;menggenapi usia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kau terjaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tak ada kue tar&lt;br /&gt;tak ada teman-teman&lt;br /&gt;dan lagu panjang-umurnya&lt;br /&gt;hanya SMS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"bertahanlah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;yang telah lama&lt;br /&gt;berumah di hatimu&lt;br /&gt;selalu terjaga&lt;br /&gt;mengusir sunyimu"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117386626202876667?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117386626202876667/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117386626202876667' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117386626202876667'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117386626202876667'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/detik-pertama-14-maret-2007.html' title='Detik Pertama 14 Maret 2007'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117377496642691363</id><published>2007-03-13T02:22:00.000-07:00</published><updated>2007-03-13T03:00:07.820-07:00</updated><title type='text'>Belanja Murah: (Strategi) Konsumsi, Kemewahan, Resistensi</title><content type='html'>&lt;em&gt;Dimulai dari tgl 19 Feb s/d 28 Feb 2007, SOGO PI mengadakan program THANK YOU SALE, terutama untuk barang barang Direct kami seperti : FCUK, MEXX, THEME, CK, EV, SOUL EDGE, dll dengan discount dari 50% s/d 70% dan ada juga yang setelah discount 50% ditambah lagi dgn discount 40% sehingga total discount menjadi +/- 90%. Tolong forwardkan email ini kesemua rekan rekan...karena program ini adalah program terakhir untuk SOGO PI – dikarenakan pada tgl 01 Maret 2007 SOGO Dept Store sudah tidak ber-operasi lagi di Plaza Indonesia. Terimakasih dan salam.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan itu saya terima lewat &lt;em&gt;offline messege&lt;/em&gt; di Yahoo Messenger (YM) pada 22 Februari. Artinya, masa program sale yang diumumkan itu sudah berjalan tiga hari. Saya segera mem-&lt;em&gt;forward&lt;/em&gt; ke teman saya, sekaligus mengajak untuk memanfaatkan momen itu. Cukup mengagetkan jawabab teman saya: &lt;em&gt;Wah, sudah tinggal yang jelek-jelek, Mu.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu mengaku belum ke sana, tapi soal "tinggal yang jelek-jelek" itu dia tahu dari temannya. Artinya, pesan itu sudah menyebar ke mana-mana. Saya kenal orang yang mengirim pesan di YM itu, tapi saya yakin bahwa pesan itu tak diketahui asal-muasalnya, alias menyebar terus-menerus dari satu komputer ke komputer lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Info tentang diskon, dan sumber-sumber belanja murah lainnya, selalu menyebar dengan cepat, melebihi gosip perceraian artis. Sebab, lebih banyak orang yang tak peduli dengan gosip selebritas ketimbang tak peduli dengan diskon yang sedang digelar sebuah &lt;em&gt;departement store&lt;/em&gt;. Kita semua (setidaknya saya) bahkan dengan sukarela dan senang hati, tanpa dikomando, menjadi agen marketing dari dikson-dikson itu, dengan menyebarkannya ke orang lain, dan mengajak teman-teman terdekat kita untuk beramai-ramai menyerbunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada era ketika semua orang begitu melek &lt;em&gt;fashion&lt;/em&gt;, program-program dan tempat-tempat belanja murah merupakan sesuatu yang tak henti ditunggu dan dicari. Program diskon dan tempat belanja murah merupakan informasi penting yang senantiasa menjadi bahan obrolan dalam komunitas-komunitas urban. Pesan berantai lewat internet seperti "Thank You Sale" Sogo di atas merupakan kasus yang cukup istimewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Program diskon lain biasanya diumumkan melaui iklan di koran. &lt;em&gt;Departement store&lt;/em&gt; kelas menengah-bawah semacam Ramayana/Robinson termasuk yang cukup progresif mengiklankan program-program diskonnya, baik melalui koran nasional maupun -bahkan- televisi, dengan bintang iklan artis-artis yang populer di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kendati tempat-tempat belanja itu dengan sendirinya terkelompokkan dalam kelas-kelas, namun program diskon itu sendiri jelas tak mengenal aturan kelas, dalam arti, kalangan atas pun menganggap diskon sebagai kesempatan yang paling baik untuk berbelanja. Diskon di gerai Mango di Plaza Indonesia akhir tahun lalu misalnya, menyedot pengunjung selama berjari-hari. Perempuan-perempuan muda urban-mapan rela mengantri panjang di depan empat bangku kasir sehingga membentuk barisan panjang berderet-deret.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, belanja murah bukan hanya berkaitan dengan momen, melainkan juga tempat-tempat tertentu. Masyarakat Jakarta sudah lama mengenal tempat-tempat semacam Sogo Jongkok, Taman Puring, Pasar Uler, Poncol/Senen sebagai lokasi-lokasi yang menyediakan arena belanja murah. Di antara tempat yang disebut itu, Poncol/Senen merupakan tempat yang paling populer sampai saat ini, terutama di kalangan anak-anak muda yang menggilai band-band indie. Menonton White Shoes &amp; The Couple Company atau The Upstair menuntut mereka untuk tampil dengan &lt;em&gt;fashion &lt;/em&gt;tertentu, meniru vokalis dan awak band-band itu, yang bisa diwujudkan dengan berburu baju &lt;i&gt;vintage&lt;/i&gt; di Senen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang tak bermasalah dengan soal keuangan, distro merupakan pilihan yang lebih bergengsi. Pergi ke Tebet Utara, keluar masuk dari Bloop ke Nanonine hingga Endorse, jelas lebih memberi kenyamanan, juga kebanggaan, dibandingkan harus berkeringat di antara tumpukan baju-baju yang baru saja dikeluarkan dari karung. Tapi, jika kita percaya dengan realitas sosiologis, bahwa jauh lebih banyak anak muda yang miskin ketimbang kaya, maka Senen adalah alternatif, terutama tentu saja dalam segi harga. Selain, juga dalam segi eksklusivitas. Baju distro memang diproduksi dalam jumlah terbatas, tapi "produk" Senen jauh lebih terbatas lagi, karena kemungkinan jumlahnya hanya ada satu per item, sehingga pembeli/pemakainya akan merasa sangat eksklusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseoarang yang sering nonton acara musim Kamis malam di Aksara akan sangat bangga kalau dapat, misalnya &lt;em&gt;old school cardigan&lt;/em&gt; yang keren dari Senin. Dia akan memajang foto dirinya di &lt;em&gt;Blog&lt;/em&gt; atau &lt;em&gt;Friendster&lt;/em&gt; dalam balutan baju hasil buruannya itu. Lalu, teman-temannya akan berkomentar, &lt;em&gt;iiih bajunya lucu, &lt;/em&gt;dan dia akan menjawab balik, dengan nada bangga, &lt;em&gt;belinya di Senen lho, cuman 15 ribu lho.&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belanja murah, sampai titik ini, juga bermakna kemewahan, lebih-lebih kalau kau sebenarnya cukup kaya untuk memborong baju-baju di Zara tanpa diskon serupiah pun. Namun, bagi lebih banyak orang, belanja murah merupakan sebuah strategi konsumsi: tetap bisa bergaya tanpa harus keluar (lebih) banyak uang. Dan, pada saat yang sama, belanja murah juga menjadi benteng terakhir resistensi: dengan kemampuan yang (se)ada(nya), kau tetap bisa melakukan usaha-usaha untuk terlihat sebagai anak gaul Jakarta yang &lt;em&gt;update&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;fashionable.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan tempat belanja (murah) seperti Senen, menjadi lebih penting artinya bagi terbentuknya subkultur anak muda, karena dikukuhkan dengan pengakuan-pengakuan dari kalangan selebriti yang mereka puja. Personel White Shoes &amp;amp; The Couple Company yang digilai kaum &lt;em&gt;hipster&lt;/em&gt; Jakarta, dalam sebuah wawancara di &lt;em&gt;Kompas&lt;/em&gt; mengaku berburu baju di Senen untuk memenuhi hasrat kecintaan mereka pada hal-hal yang bermakna retro.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para pedagang di Senen sendiri dengan bangga akan bercerita kepada pembelinya, bahwa celana bahan motif kotak-kotak yang dipakai Aming di Extravaganza itu belinya di sini lho. Belanja murah bukan sekedar budaya, tapi gaya (hidup) dan semacam strategi untuk mereproduksi gaya(-gaya) tersebut. Ini sebuah bentuk cara bertahan di tengah deras dan kuatnya arus tuntutan pergaulan (budaya) urban yang tak pernah memberi maaf --apalagi tempat-- kepada orang-orang yang secara tipikal biasa diolok dengan istilah-istilah "cupu" dan "masteng".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117377496642691363?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117377496642691363/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117377496642691363' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117377496642691363'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117377496642691363'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/belanja-murah-strategi-konsumsi.html' title='Belanja Murah: (Strategi) Konsumsi, Kemewahan, Resistensi'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117343158444814202</id><published>2007-03-09T01:09:00.000-08:00</published><updated>2007-03-09T01:13:08.406-08:00</updated><title type='text'>Penyair itu Bunuh Diri di Konser Musik Pop</title><content type='html'>Apakah penyair dengan sendirinya dan serta merta lebih mulia daripada pencipta (lirik) lagu pop? Dan, apakah puisi dengan demikian juga otomatis dan selalu lebih spiritual ketimbang lirik lagu (pop)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepintas, pertanyaan di atas pastilah terdengar nyinyir dan mengada-ada. Namun, sebuah pertanyaan --apalagi yang di dalamnya mengandung perbandingan antara dua subjek nyata dalam ikatan sosial-- tentu muncul bukan tanpa alasan. Selama ini ada --untuk tak mendramatisir dengan mengatakan cukup banyak-- preseden dalam masyarakat kita, yang cenderung menempatkan puisi (dan penyair) dalam tatapan-tatapan yang serba dan senantiasa bombastik-heroik-sentimentil.&lt;br /&gt;A&lt;br /&gt;lkisah, tersebutlah seorang penyair muda Bali bernama Pranita Dewi. Dalam kata pengantar untuk buku kumpulan puisi pertamanya, &lt;em&gt;Pelacur Para Dewa&lt;/em&gt; (Depok: Komunitas Bambu, 2006), ia dengan agak panjang lebar mengenang kembali awal perjumpaannya dengan puisi. Suatu malam, ketika sedang panik memburu tiket konser Sheila on 7 di Taman Budaya Denpasar bersama teman-temannya, ia bertemu dengan penyair Warih Wisatsana yang disangkanya calo (tiket). Mengundang Pranita dan kawan-kawan untuk duduk, sang penyair senior yang mirip calo itu pun berpetuah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan puisi, kalian pun bisa terkenal seperti Sheila on 7. Lagu-lagu seperti grup band itu cenderung memanjakan keriangan di permukaan saja, sedangkan puisi memanggil kita merenungi kedalaman dan kebahagiaan gidup."Sejak itu, demikian kisah Pranita, semangat untuk menonton konser Sheila tiba-tiba saja luntur, sambil heran dengan teman-temannya yang hingga kini kian menggemari grup band itu. Berkat pertemuan itu, Pranita sadar bahwa puisi dan jalan kepenyairan merupakan suatu anuegrah. Dan, Berkat Warih, Pranita jadi yakin bahwa puisi bisa membuatnya untuk tidak menjadi "perempuan sekadar".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah mengulang romantisme usang ala film cerita minggu siang zaman TVRI, Pranita tak ketinggalan menceritakan risiko yang harus dihadapinya kemudian: &lt;em&gt;orang tua yang menginginkan saya berkarier dalam industri pariwisata, tidak bisa mengerti dengan dunia yang saya cintai. Mereka selalu berkata sinis, "Kalau jadi penyair, kamu mau makan apa? Tapi saya tidak peduli dengan omelan dan sinisme mereka. Saya terus melangkah dengan keyakinan bahwa puisi akan menyelamatkan saya seperti pesan penyair Goenawan Muhamad.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film &lt;em&gt;Music and Lyrics&lt;/em&gt; (sutradara: Marc D. Lawrence) yang tengah diputar di bioskop-bioskop di Jakarta menjungkirbalikkan semua mistifikasi ideal tentang puisi dan (ke)penyair(an) yang dengan penuh kebanggaan diyakini dan dipijaki Pranita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex Fletcher adalah vetaran band yang masih bisa menikmati sisa-sisa kejayaannya. Di tengah kesibukan kecilnya tampil di acara reuni SMA atau taman hiburan umum, seorang penyayi remaja idola masa kini, bernama Cora, memintanya membuatkan lagu. Merasa bahwa itu kesempatan emas untuk meraih kembali popularitas, Alex pun bekerja keras menciptakan lagu. Tapi, segalanya ternyata tak semudah dulu lagi. Ia pun mengundang temannya, seorang penyair, untuk membantunya menulis lirik yang bagus. Namun, ternyata kehadiran sang penyair tak cukup membantu melancarkan urusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mereka sedang berdebat menimbang-nimbang lirik lagu yang cocok dengan melodi, perawat tanaman di apartemen Alex, yang bernama Sophie Fisher, tanpa sengaja ikut-ikutan nyambung. Perempuan itu tak hanya menyenandungkan lirik yang sedang diperdebatkan oleh Alex dan sang penyair, melainkan juga melengkapinya. Keisengan Sophie itu mengejutkan Alex, dan meminta perempuan itu mengulangi kalimat yang baru saja disendungkannya. Tapi, Sophie yang tak sadra dengan apa yang dilakukannya, mengaku tak bisa mengingatnya lagi. Setelah dipaksa-paksa dan dipancing-pancing terus, akhirnya tercipta beberapa larik dari mulut Sophie yang mengena di hati Alex.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alex pun beralih perhatian ke Sophie, yang tentu saja membuat si penyair tersinggung. Ia pun meninggalkan Alex setelah sempat melecehkan Sophie sebagai orang yang tidak berkompeten dengan penciptaan lirik-lirik yang indah --karena dia hanya seorang perawat tanaman. Singkat cerita, Alex dan Sohie --yang belakangan diketahui bahwa dia sebenarnya seorang penulis yang, katakanlah, gagal-- pun sepakat untuk berlokaborasi menciptakan lagu untuk pesanan Cora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhasil, dengan kerja keras yang panjang, terciptalah sebuah lagu dengan melodi dan lirik yang kuat dan indah. Ketika lagu itu dinyanyikan dalam konses megah Cora, si penyair hadir menyaksikan dan merasa terpukul oleh kehebatan lirik hasil ciptaan orang yang pernah dilecehkannya. secara simbolis, film ini menggambarkan betapa sang penyair akhirnya mengaku kalah dan bunuh diri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apakah penyair dengan sendirinya dan serta merta lebih mulia daripada pencipta (lirik) lagu pop? Dan, apakah puisi dengan demikian juga otomatis dan selalu lebih spiritual ketimbang lirik lagu (pop)?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117343158444814202?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117343158444814202/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117343158444814202' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117343158444814202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117343158444814202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/penyair-itu-bunuh-diri-di-konser-musik.html' title='Penyair itu Bunuh Diri di Konser Musik Pop'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117317876283578647</id><published>2007-03-06T02:48:00.000-08:00</published><updated>2007-03-06T03:13:03.366-08:00</updated><title type='text'>Sibuk dan Ada</title><content type='html'>&lt;em&gt;Bagaimana cara mengada di Jakarta?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah kau mengalami hari-hari yang begitu menyibukkan, sekaligus menggairahkan, seperti hari-hari belakangan ini. Kau mulai saja dari Sabtu (24/2/07) lalu. Pagi-pagi kau sudah berada di Kampus UI Salemba untuk menghadiri sebuah forum &lt;em&gt;sharing&lt;/em&gt; praktek manajemen &lt;em&gt;human resource&lt;/em&gt; (HR) yang menampilkan narasumber dari PT Astra. Habis makan siang, menjelang sore, kau duduk di kafe tenda TIM bersama para penulis dan editor. Kalian terlibat obrolan penuh gosip tapi inspiratif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore menjelang petang, kau meluncur jauh ke PIM untuk bertemu manajer HR perusahaan asing tambang batubara. Kau mewawancarainya dengan santai dan akrab di Coffee Bean &amp; Tea Leaf. Usai itu, kau berjalan-jalan mengitari &lt;em&gt;mall &lt;/em&gt;yang mewah itu sambil menunggu pacarmu yang sedang &lt;em&gt;on the way&lt;/em&gt; menyusulmu. Jam setengah delapan pacarmu datang, dan kalian langsung menuju Solaria untuk makan malam. Dari situ, kalian sepakat melanjutkan acara ke Ohlala Djakarta Theater. Bertemu dan bergabung dengan beberapa teman, kalian nongkrong di situ sampai dini hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggunya, setelah seharian memanjakan diri dengan tidur dan bermalasan-malasan, malamnya kau bertemu lagi dengan pacarmu untuk menyaksikan penampilan The Upstairs di Bulungan. Dan, awal pekan pun datang lagi. Senin, usai makan siang kau kembali ke Kampus UI di Salemba untuk mewawancarai direktur Lembaga Manajemen FEUI. Malamnya, kau meluncur ke Hotel Kartika Candra untuk bertemu dengan direktur HR perusahaan asing yang memproduksi tisu dan pembalut wanita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua hari kemudian, bertepatan dengan hari terakhir Bulan Mei, pagi-pagi sekali kau sudah berada di Hotel Sultan untuk --selain makan pagi, tentu saja-- menyaksikan presentasi tentang produk baru dari sebuah perusahaan konsultan HR asing. Sorenya, kau meluncur ke Binus di Kebun Jeruk untuk meliput &lt;em&gt;career expo&lt;/em&gt; yang digelar oleh kampus tersebut --setelah siangnya menyempatkan diri menengok pameran distro di Departemen Perindustrian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan harinya, Kamis, pulang kerja kau kembali bersama pacarmu, kali ini janjian ketemu di Tebet untuk mencari &lt;em&gt;cardigan&lt;/em&gt; di deretan distro yang ada di sana. Jumat malam, usai jam kerja, bersama temanmu kau datang ke sebuah acara peluncuran buku kumpulan cerpen Gunawan Maryanto di Warung Apresiasi. Lalu, Sabtu datang lagi. Betapa cepat waktu berputar. Jam dua siang kau menemui seorang perempuan berusia 38 tahun yang ingin berkonsultasi tentang menerbitkan novel. Kalian ngobrol di Cofee Bean Citos dan dia memintamu untuk menyunting naskahnya, yang baru saja ditolak Gramedia. Menjelang sore kau pulang, dan malamnya, kira-kira pukul 10.00, kau kembali ke Citos dan duduk di kafe yang sama, kali ini bersama pacarmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minggunya, setelah hujan mengguyur pada tengah hari, kalian melewatkan waktu dengan jalan-jalan ke Blok M, Senayan City dan makan serta "belanja-belenji" di Metro Plaza Senayan yang sedang menggelar diskon. Bertemu lagi dengan Senin, kalian lagi-lagi ke citos untuk nomat &lt;em&gt;Music and Lyrics&lt;/em&gt;. Selasa pagi, kau sudah bersiap dengan pakaian formal, karena akan mewawancarai direktur HR PT Coca Cola. Tapi, sebelum melangkah keluar rumah, sebuah SMS masuk ke HP-mu, mengabarkan bahwa calon narasumbermu sakit sehingga wawancara terpaksa ditunda. Kau pun meluncur ke kantormu seperti hari-hari biasa yang telah lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pendek kata, kalau kau hidup di Jakarta, dan umurmu sudah berkepala tiga, maka satu-satunya cara untuk bertahan dan merasa ada, tak lain dengan menandai diri dengan kesibukan demi kesibukan. Agar, orang-orang di sekelilingmu menganggap dirimu orang yang cukup penting, atau setidaknya kau berpikir seperti itu. Sehingga, kau merasa hidupmu berarti, dan memiliki alasan untuk berkali-kali berbisik, meyakinkan diri, "Aku bahagia."&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117317876283578647?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117317876283578647/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117317876283578647' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117317876283578647'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117317876283578647'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/sibuk-dan-ada.html' title='Sibuk dan Ada'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117273719040997740</id><published>2007-03-01T00:03:00.000-08:00</published><updated>2007-03-01T00:19:51.286-08:00</updated><title type='text'>Wartawan</title><content type='html'>*&lt;em&gt;teriring simpati dan duka yang sedalam-dalamnya atas tragedi kematian wartawan di bangkai kapal levina&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dari kolom Emha Ainun Nadjib di &lt;em&gt;Tempo&lt;/em&gt; pada 80-an, ke "Resonansi" Zaim Uchrowi di &lt;em&gt;Republika&lt;/em&gt; akhir 90-an, hingga novel &lt;em&gt;Imperia&lt;/em&gt;-nya Akmal Nasery Basral (2005), wartawan direfleksikan sebagai sosok yang serba-heroik. Emha misalnya, mengungkapkan kebanggaannya sebagai -orang yang pernah menjadi- wartawan yang menurut dia mirip Tuhan dalam hal kemahatahuannya. "Wartawan itu tahu siapa pejabat yang korupsi, dan menyimpan foto bugil sejumlah artis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaim memuji anak buahnya yang bernama Muhammad Subarkah --tentu dalam kolom itu namanya disamarkan-- yang gagah berani menembus sarang GAM di Aceh. Sedangkan, Akmal menciptakan sosok fiktif bernama Wikan Larasati, yang dimakasdkan sebagai potret reporter pemula yang tangkas dan hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membaca kolom Emha, saya masih kuliah di Solo, dan terlongong-longong membayangkan, betapa luar biasa makluk berprofesi wartawan itu. Tak lama setelah membaca "Resonansi" Zaim, saya mendapat panggilan kerja di Jakarta, di sebuah koran baru yang dipimpin Zaim sendiri! Tapi, liputan pertama saya bukanlah medan perang Aceh, melainkan konser musik simakDialog di GKJ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Koran tempat saya bekerja itu hanya bertahan dua bulan, namun tak sampai setahun kemudian, saya kembali mendapat panggilan, kali ini dari sebuah media &lt;em&gt;online &lt;/em&gt;pertama di Indonesia. Saya memang mengalami hal-hal yang luar biasa, namun tidak dalam hal pengalaman meliput di lapangan, melainkan luar biasa kerja keras! Berita tidak menunggu terbit keesokan hari, melainkan detik itu juga. Saya menjadi bagian dari generasi pertama wartawan &lt;em&gt;dotcom&lt;/em&gt; di negeri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritme dan irama kerja media &lt;em&gt;online&lt;/em&gt; yang banyak berbeda dengan media konvensional, memberi saya pengalaman yang lain pula. Menjadi wartawan, pikir saya, ternyata "tak seheroik itu". Tentu saja, apa yang saya alami dan rasakan berkaitan langsung dengan bidang liputan saya, yang memang tidak memberi saya kesempatan untuk, misalnya, pergi ke daerah-daerah konflik. Sebagai wartawan, pekerjaan saya "hanya" nonton konser-konser musik, baik lokal maupun asing, berpindah dari kafe ke kafe untuk menyaksikan syukuran peluncuran album atau film baru, dan sesekali berdesakan di antara wartawan &lt;em&gt;infotainment&lt;/em&gt; meliput jumpa pers perceraian artis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai wartawan "hiburan" -katakanlah begitu- saya bahkan tidak mengalami apa yang dialami Wikan dalam novel Akmal itu. Sebab, selama saya menjadi wartawan, tak pernah ada kasus pembunuhan yang melibatkan artis terkenal, yang harus saya investigasi sampai ke luar negeri. Jadi, saya ini wartawan apaan? Ketika suatu hari saya mau "nembak" bikin KTP, ayah melarang saya mencantumkan profesi saya. "Jangan ditulis wartawan, nanti petugas keluarahannya malah takut." Ayah tidak tahu bahwa sebagai wartawan, yang paling banter bisa saya lakukan hanyalah mengejar Desi Ratnasari ke Sukabumi untuk mendapatkan konfirmasi tentang kabar pernikahan terbarunya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belakangan ini, lahir satu generasi baru lagi dalam dunia kewartawanan di Tanah Air, yakni wartawan media (majalah) gratisan. Pasti mereka juga punya pengalaman dan karakteristik yang berbeda dengan wartawan media konvensional maupun &lt;em&gt;dotcom&lt;/em&gt;. Ladang liputan mereka umumnya tempat-tempat &lt;em&gt;hang out&lt;/em&gt; di Jakarta. Di antara mereka, saya berkenalan dengan wartawan majalah gratis khusus perfilman. Suatu kali, ia menulis resensi yang agak pedas atas film &lt;em&gt;Long Road to Heaven&lt;/em&gt; yang diproduseri Nia Dinata. Rupanya, sang produser tidak suka dengan resensi itu, dan menelpon pemimpin redaksi. "Saya jadi &lt;em&gt;down&lt;/em&gt;, Mu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimarahi --dan, dianggap "nggak ngerti film"-- oleh seorang produser sekaligus &lt;em&gt;filmmaker&lt;/em&gt; beken tentu saja tak seberapa jika dibandingkan dengan risiko kehilangan nyawa saat melakukan tugas peliputan berita. Tapi, dalam konteks tertentu, itu bisa tak kalah heroik. Pengalaman, berikut segala kebanggaan yang ada di dalamnya, bagi seorang wartawan, pada akhirnya memang tak pernah bermakna tunggal. Setiap zaman punya dinamika yang berbeda, dan arti "menjadi-wartawan" tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, apalagi yang berlainan zaman.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117273719040997740?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117273719040997740/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117273719040997740' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117273719040997740'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117273719040997740'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/03/wartawan.html' title='Wartawan'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117256730076994536</id><published>2007-02-27T01:04:00.000-08:00</published><updated>2007-02-27T01:08:21.000-08:00</updated><title type='text'>PIM 2</title><content type='html'>Senja yang asing&lt;br /&gt;terkurung dalam dinding&lt;br /&gt;mengurung manekin-manekin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tubuh-tubuh ramping&lt;br /&gt;terlalu belia untuk&lt;br /&gt;tak selalu ceria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;seorang lelaki&lt;br /&gt;melihat bayangannya sendiri&lt;br /&gt;di kotak-kotak kaca&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tiba-tiba merasa&lt;br /&gt;sangat tua untuk&lt;br /&gt;ikut menikmati senja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PIM 2 (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang merasa&lt;br /&gt;hampir sempurna hidupnya&lt;br /&gt;ketika menunggu kekasihnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sambil menonton atraksi cina&lt;br /&gt;tak seorang pun pada akhirnya&lt;br /&gt;pernah merasa tua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 24/2/07/pk 19.08&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117256730076994536?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117256730076994536/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117256730076994536' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117256730076994536'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117256730076994536'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/pim-2.html' title='PIM 2'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117213765255743637</id><published>2007-02-22T01:43:00.000-08:00</published><updated>2007-02-22T01:47:32.786-08:00</updated><title type='text'>Setelah Banjir Berlalu</title><content type='html'>Setelah banjir berlalu, apakah orang-orang lantas berbondong-bondong pergi meninggalkan Jakarta, karena sudah kapok dan tak mau lagi mengalami hal yang sama tahun-tahun depan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah celetukan menggelikan sejumlah orang yang mengusulkan pemindahan ibukota negara, lantas benar-benar dilaksanakan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hohoho...alih-alih membenci Jakarta. Kita semua, saya rasa, justru makin mencintai kota ini. Banjir, angin puting beliung, kemacetan...tak satu pun bisa membuat kita lari dari Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo, bersama-sama kita akui, kita telah cinta mati pada Jakarta --walau mungkin untuk alasan yang berbeda-beda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, ada tak kurang dari 10 alasan yang membuat saya belum ingin lari dari Jakarta, setidaknya sampai setahun ke depan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Q! Film Festival 2007 digelar Agustus&lt;br /&gt;2. Busway Koridor VI&lt;br /&gt;3. Citos&lt;br /&gt;4. Kantor Baru, Bos Baru, Bidang Pekerjaan Baru&lt;br /&gt;5. Plaza E.X&lt;br /&gt;6. Gaynight di Babyface&lt;br /&gt;7. Blok M Bawah Tanah&lt;br /&gt;8. PIM 2&lt;br /&gt;9. Kafe Ohlala Djakarta Theater&lt;br /&gt;10. Grand Indonesia (dengan Blitz di dalamnya) selesai tahun ini&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117213765255743637?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117213765255743637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117213765255743637' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117213765255743637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117213765255743637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/setelah-banjir-berlalu.html' title='Setelah Banjir Berlalu'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117205301620154853</id><published>2007-02-21T02:08:00.000-08:00</published><updated>2007-02-22T01:50:12.816-08:00</updated><title type='text'>Bos</title><content type='html'>Pagi-pagi, kami dikejutkan oleh pekikan-pekikan kecil namun cukup gaduh dari ruangan bos. Tak lama kemudian, pekikan itu terdengar makin keras dan dekat, karena si bos ternyata sudah berada di tengah-tengah kami yang sedang tenggelam di depan komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hore! Hore! Hore!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya bisa saling pandang dengan wajah berkerut penuh tanda tanya. Tapi, yang lebih heran tentu saja tiga mahasiswa dari Yogya yang sedang magang di kantor kami. Mereka bengong dengan kepala mendongak dan mulut terganga lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyadari hal itu, si bos langsung berkata kepada mereka. "Kalau kalian magang di kantor lain, bosnya itu jaim banget. Tapi, kalau di sini...(bosnya) &lt;em&gt;kenthir&lt;/em&gt;!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami semua tertawa ngakak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, si bos memang sedang gembira. Kemarin, ia menandai peluncuran produk terbaru perusahaan kami dengan sebuah konferensei pers, dan sukses. Hari ini, baru saja dia dihubungi oleh sebuah stasiun televisi untuk diminta menjadi narasumber acara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, tapi kami memang sudah terbiasa mendapati si bos berkelakuan seperti anak kecil, melonjak-lonjak kegirangan. Misalnya, ketika tendernya menang atau proposal proyeknya disetujui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk karyawan baru di kantor tempat saya kerja sekarang. Dengan demikian, si bos itu juga bisa dibilang bos baru bagi saya. Meskipun, juga nggak baru-baru amat. Dia salah satu direktur di kantor lama saya dulu. Dia keluar dan mendirikan perusahaan sendiri. Dan, sekarang saya bergabung dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantor yang dulu, saya tak sempat mengenalnya, kecuali sebatas tahu bahwa dia salah satu pimpinan perusahaan. Saya bukan bawahan dia langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari pertama saya datang di kantor dia sekarang, saya canggung-canggung masuk ke ruangannya. Tapi, dia menyambut saya dengan gelegar suara yang mencairkan suasana. Setelah obrolan beberapa saat, saya langsung marasa, saya akan cocok bekerja sama dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari bekerja, saya mulai mengenali kebiasaan dia. Berjalan dari bangku ke bangku, menyapa satu per satu anak buahnya sambil mengeluarkan kelakar-kelakar ala Srimulat. Kalau ada &lt;em&gt;desainer &lt;/em&gt;atau &lt;em&gt;programmer&lt;/em&gt; yang memperlihatkan hasil karya yang bagus dan memuaskan hatinya, dia akan berkata dengan gayanya yang khas. "Ukuran sepatumu berapa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebiasaan lain, yang mungkin tak lazim dijumpai pada seorang bos, dia suka menyanyikan lagu-lagu Agnes Monica. &lt;em&gt;Cinta ini, terkadang tak ada logika&lt;/em&gt;. Di ruang kerjanya tersandar sebuah gitar listrik dan pada saat senggang dia memainkannya. Suatu hari, kami mendengar dia memetik gitar itu sambil lirih menembang. &lt;em&gt;Dalam hitam gelap malam, kuberdiri melawan sepi&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suaranya berat dan mantap, seperti seorang pemain teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari ini, dia lagi senang menyenandungkan lagu terbaru Bunga Lestari. &lt;em&gt;Sunny...sunny&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Sabtu, kami diminta masuk karena ada pekerjaan yang harus dikejar penyelesainnya. Tapi, si bos mengajak kami untuk pulang tak terlalu malam. Mau nonton &lt;em&gt;grand final&lt;/em&gt; Indonesian Idol di televisi, katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam &lt;em&gt;lift &lt;/em&gt;dia memberi kami tebakan. Siapa yang akan menang? Ada yang menjawab Ihsan, ada yang Dirly. Menurut si bos, dua-duanya punya peluang menang sama besar, karena sama-sama bertampang &lt;em&gt;melas&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehari setelah Hari Raya Imlek, Minggu (18/2/07) lalu, si bos menghampiri salah seorang manajer kami, yang beretnis Tionghoa. "Met Imlek ya, semoga rejekinya makin lancar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar lamat-lamat, dan saya terharu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bos saya yang dulu, kalau melihat anak buahnya &lt;em&gt;chatting&lt;/em&gt; di YM atau &lt;em&gt;browsing&lt;/em&gt; yang tak berkaitan dengan pekerjaan, akan langsung berseru, "Mendingan kamu wawancara deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, bos saya yang sekarang justru selalu bilang, "Jangan kerja terus, kamu tetap harus punya kehidupan pribadi." Tak jarang saya juga mendengar dia berkata, "Pikirin deh idenya, kalau perlu keluar sana, ngopi-ngopi sambil diskusi."&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117205301620154853?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117205301620154853/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117205301620154853' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117205301620154853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117205301620154853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/bos.html' title='Bos'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117188279962456693</id><published>2007-02-19T02:57:00.000-08:00</published><updated>2007-02-19T03:12:29.070-08:00</updated><title type='text'>Dalam Remang Merah</title><content type='html'>Sebuah SMS masuk ke HP saya, Minggu (11/2/07) pagi. Dari seorang teman, penulis naskah film yang karya terbarunya -horor- menjadi film terlaris 2006. Isinya sebuah undangan untuk menghadiri &lt;em&gt;opening gaynight&lt;/em&gt; di Babyface. Dia menjadi salah satu &lt;em&gt;host&lt;/em&gt;. Begitu selesai membacanya, saya langsung tahu, saya tak akan melewatkan undangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan terakhir saya pergi ke &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt;?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lupa. Yang jelas, sudah cukup lama tak ada &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt; baru di Jakarta, setelah yang ada di Centro dan tentu saja Heaven. Sebelumnya, kabar bahwa Babyface akan mengadakan &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt; memang sudah cukup santer tersiar dari mulut-(ke telinga dan kembali)-ke-mulut. Dan, sejak Minggu malam itu, sempurnalah "Sarinah-Thamrin &lt;em&gt;Area&lt;/em&gt;" sebagai &lt;em&gt;gayspot&lt;/em&gt; paling hot di Jakarta. Bayangkan: Malam Minggu nongkrong di Ohlala sampai pagi, Minggu Malamnya ke Babyface. Keduanya terletak di satu lokasi. Lengkaplah hidup cowok-cowok gay Jakarta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya datang, bareng teman saya tadi, sekitar pukul 11. Tidak seheboh yang saya kira, tapi tak bisa dibilang sepi juga. Saya sempat membayangkan, pasti suasana keriuhan sudah terasa di teras antara Pizza Hut dan Ohlala. Tapi, ternyata tidak. Namun, setelah saya naik tangga berjalan, barulah terasa &lt;em&gt;crowd&lt;/em&gt;-nya. Serombongan brondong china berdiri di sudut, depan tangga naik menuju Djakarta Theater. Teman saya menyapa ke arah gerombolan itu, dan mengajak beberapa orang di antaranya masuk. Tapi, mereka bilang masih menunggu teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karpet merah terbentang di depan pintu masuk, bertabur bunga mawar. Di antara beberapa cowok &lt;em&gt;mature &lt;/em&gt;yang menyambut kedatangan kami, terlihat seorang bapak-bapak cina di balik bangku penerima tamu. Kami mengenalinya sebagai Koh Santo, lelaki bertubuh gempal, pendek dengan rambut belah pinggir yang rapi dan klimis, yang selalu terlihat di berbagai &lt;em&gt;crowd&lt;/em&gt; gay. Dia menyambut teman saya, sebelum teman saya itu digiring untuk difoto sebagai tamu kehormatan di depan papan yang bertuliskan tema acara itu: &lt;em&gt;XXX - The Premiere&lt;/em&gt;. Saya masuk duluan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nuansa serba merah mendominasi ruangan. Orang-orang membentuk kerumunan-kerumunan kecil dalam gelap. &lt;em&gt;Dress code&lt;/em&gt; yang ditetapkan dalam undangan: &lt;em&gt;express your body&lt;/em&gt;, tapi itu sama sekali tak terpantul dari penampilan mereka. Apa yang terlihat tak jauh beda dengan pemandangan yang selalu terbentang dalam berbagai acara &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt; yang pernah ada dan saya datangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai &lt;em&gt;host&lt;/em&gt;, teman saya mendapat jatah &lt;em&gt;table&lt;/em&gt; --tepat di sebelah kiri pintu masuk. Di sisi kanan, terdapat bar memanjang hampir dari ujung ke ujung. Sedangkan di sisi kiri, selain meja DJ, juga difungsikan sebagai semacam panggung utama. selebihnya, bangku-bangku panjang tempat orang-orang duduk menikmati minuman. Satu deret dengan sofa yang kami duduki, terdapat dua sofa lagi --yang satu diduduki oleh dua orang waria bersama beberapa brondong, dan pada sofa satunya lagi saya lihat --lagi-lagi-- seorang bapak-bapak cina berpenampilan ala pejabat BUMN.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami hanya berbisik-bisik, menebak-nebak, kalangan bapak-bapak cina itu pastilah &lt;em&gt;crowd&lt;/em&gt; yang dibawa Koh Santo. "Mereka mungkin salah satu penyandang dana," bisik teman saya, seraya menambahkan, bahwa berkebalikan dengan sofa di ujung itu, sofa kami akan menjadi tempat berkumpulnya para brondong. Tapi, dari sekian puluh brondong yang diundang teman saya lewat SMS, saya ada tiga orang yang muncul, itu pun tidak sepenuhnya bergabung dengan teman saya, tapi berkali-kali minta izin untuk bergabung dengan teman-temannya sesama brondong. Mereka tidak cukup betah untuk hanya duduk di sofa meneguk &lt;em&gt;wine&lt;/em&gt; di gelas bertangkai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, sofa kami memang sepi, hanya saya dan teman saya si penulis skenario itu saja yang mengisi. Namun, tak lama berselang, teman saya yang bekerja di Starbuck Plaza EX datang menyusul membawa seorang temannya. Dan, teman dari salah satu undangan si penulis skenario juga datang menyusul, katanya meluncur dari Centro karena di sana sepi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya lirik, sofa sebelah tak jauh beda. Akhirnya hanya terlihat dua waria duduk kesepian di sana, sementara brondong-brondong yang tadi ada, juga tak selalu bertahan di situ. Rupanya memang banyak hal jauh dari perkiraan saya. Dari awal saya menduga, akan banyak selebriti beken menjadi &lt;em&gt;host&lt;/em&gt; malam itu. Dan, akan ada acara dengan MC dari kalangan seleb juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata semua itu tak ada. Satu-satunya yang akhirnya bisa kami tunggu hanyalah &lt;em&gt;fashion show&lt;/em&gt;, yang itu artinya lelaki-lelaki bercelana dalam meliuk-liuk di atas meja bar. Mereka muncul pukul 12 tepat: dua lelaki di bar panjang, dua lagi di bar sayap kiri dan dua di panggung utama. Mereka mengenakan celana dalam merk Metrox --satu dari beberapa sponsor acara malam itu selain sebuah panti pijat khusus pria di kawasan Jalan Blora, dan Kafe Ohlala di lantai bawah dalam kompleks yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga pasang lelaki itu melakukan aksi-aksi yang tak jauh beda dengan yang sudah sering kami lihat di berbagai &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt;. Mereka menari-nari, meliuk, mengesankan sebuah adegan yang intim, erotik. Pada satu saat, mereka memelorotkan bagian bekalang celananya, memamerkan pantatnya yang dalam remang lampu klab tampak indah mulus tanpa cela. Sekitar setengah jam mereka beraksi. Dan, muncul lagi sejam kemudian dengan aksi yang lebih hot. Kali ini mereka muncul berbalut handuk putih kecil, dan ketika dibuka barulah kelihatan bahwa mereka mengenakan &lt;em&gt;G-string&lt;/em&gt;. Dua pasang cowok di atas bar yang berbeda melakukan aksi yang "normatif", sedangkan sepasang cowok di panggung utama menarik perhatian karena melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi dalam acara-acara &lt;em&gt;gaynight&lt;/em&gt; di Jakarta selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua cowok itu masuk ke ruangan sempit yang tercipta dari tirai-tirai merah yang menjuntai dari atap. Di balik remang tirai merah itu, tubuh mereka menjelma siluet hitam, tak sepenuhnya siluet, melainkan masih tampak cukup jelas, ketika mereka merogoh-rogohkan tangannya ke dalam celana, meremas dan menarik-narik penisnya seolah sedang masturbasi. Lambat laun, mereka mulai melepas celana dalamnya, dengan gerakan sedemikian rupa sehingga tak memungkinkan penis mereka kelihatan. Beberapa saat mereka menari-nari, sambil menggenggam penisnya, dan pada saat yang lain menggosok-nggosok bagian penis itu dengan handuk putih tadi. Sebelum akhirnya kembali melilitkan handuknya lagi ke pinggang, meraih celana dalamnya dan menentengnya turun dari panggung, dan menghilang...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu, sepertinya tak ada lagi alasan yang cukup kuat untuk membuat orang-orang masih tetap bertahan di situ. Satu per satu kerumuman memudar, menyusut dan menyisakan kelengangan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117188279962456693?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117188279962456693/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117188279962456693' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117188279962456693'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117188279962456693'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/dalam-remang-merah.html' title='Dalam Remang Merah'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117136412142783492</id><published>2007-02-13T02:51:00.000-08:00</published><updated>2007-02-13T04:01:12.163-08:00</updated><title type='text'>Citos</title><content type='html'>&lt;em&gt;Sudah tak terhitung kali saya ke Citos, menyusuri koridor-koridornya, nongkrong di kafe-kafenya. Tapi, segalanya tampak berbeda ketika kau datang pada waktu dan dengan tujuan yang tak sama dengan biasanya.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Pukul 10.00 pagi. Hujan yang turun cukup deras sejak pagi tinggal menyisakan gerimis dan dingin. Saya duduk di sudut &lt;em&gt;Coffee Bean and Tea Leaf&lt;/em&gt;. Secangkir &lt;em&gt;double capuccino&lt;/em&gt; meruapkan aroma harum di atas meja. Tiga lembar &lt;em&gt;free magazine&lt;/em&gt; yang saya ambil dari rak saya tumpuk di sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya belum sempat menuangkan gula ke dalam minuman ketika HP di kantong saya bergetar. Orang yang akan saya wawancarai berdiri di depan sana, namun saya tak mungkin meneriakinya. Akhirnya saya jawab telepon itu dan dia segera menghampiri saya. "Musiknya kenceng banget," kata dia sebelum mengajak saya pindah ke bangku di bagian luar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia seorang praktisi HR yang punya lembaga konsultan sendiri, di samping mendirikan yayasan yang bergerak dalam area yang sama. Masih cukup muda, idealis dan penuh semangat. Saya senang dengan gayanya yang gaul dan akrab, sehingga bisa mencairkan suasana formal sebuah aktivitas kerja bernama wawancara. Ditambah, tentu saja, atmosfer Citos yang hangat dan bergairah, hampir tiga jam berlalu tanpa terasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami masih duduk untuk ngobrol santai beberapa saat sebelum kemudian berpisah. Inilah bagian yang paling menyenangkan dari pekerjaan saya: bertemu orang. Apalagi kalau pertemuannya berlangsung di luar kantor seperti pagi ini, sudah pasti jauh lebih menyenangkan. Berada di tengah keramaian ruang publik semacam Citos pada jam kerja, bukankah itu sebuah kemewahan yang langka?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, saya juga baru tahu, kalau tempat-tempat &lt;em&gt;hang out&lt;/em&gt; macam Citos itu ternyata ramai juga pada jam-jam ketika kebanyakan orang sibuk di kantor, bahkan ketika cuaca tak cukup bersahabat seperti hari ini. Sempat terbetik tanya dalam benak: siapakah orang-orang yang begitu bikin iri ini? Jam 10 pagi sudah duduk di kafe, minum kopi dan menyantap roti?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya sih jelas, saya berada di sini pada jam segini karena sedang bekerja. Tapi, orang-orang itu? Seorang lelaki muda duduk sendirian, kusuk memelototi layar &lt;em&gt;laptop-&lt;/em&gt;nya. Serombongan pria bertampang oom-oom berbincang santai di sudut sana. Sepasang muda-mudi tengah asyik ngrumpi. Di luar kafe, di koridor yang luas dan panjang, tengah digelar &lt;em&gt;bazaar&lt;/em&gt;. Di lobi utama ada panggung &lt;em&gt;catwalk&lt;/em&gt; bertuliskan &lt;em&gt;Fashion Tuesday&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melangkah ke toilet sambil berpikir, &lt;em&gt;makan siang di mana ya?&lt;/em&gt; Dua lelaki duduk berjauhan dan saling diam dalam &lt;em&gt;smoking room. &lt;/em&gt;Yang satu tidak merokok, tapi duduk dengan kepala tersandar letih dan mata terpejam. Earphone terpasang di kedua telinganya. Rambutnya model Jepang. &lt;em&gt;Cakep sekali&lt;/em&gt;. Selesai dengan urusan di toilet, saya kembali menyusuri koridor yang telah menjadi "pasar elit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa ibu-ibu "sosialite" tengah memilih-milih baju atau tas. Sepasang brondong melintas. Tiga bule belia bertubuh jangkung masuk ke salah satu resto. Sebuah kalimat di kaos yang dipajang dengan manekin terekam di ekor mata saya: &lt;em&gt;I Hate Valentine&lt;/em&gt;. Dunia dan kehidupan begitu indah di dalam &lt;em&gt;town square&lt;/em&gt; menjelang pukul 12 siang. Sampai akhirnya saya sadar, saya harus segera kembali ke kantor, ke dunia nyata.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117136412142783492?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117136412142783492/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117136412142783492' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117136412142783492'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117136412142783492'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/citos.html' title='Citos'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117127817641918637</id><published>2007-02-12T03:01:00.000-08:00</published><updated>2007-02-12T03:02:57.073-08:00</updated><title type='text'>Busway</title><content type='html'>Seorang bapak menelepon sebuah acara pagi di radio pada hari ketika busway koridor 6 dan 7 dibuka beberapa waktu lalu, sebelum Jakarta banjir. Dengan nada khas seorang pengecam busway, dia menginformasikan bahwa Jalan Buncit Raya macet "gara-gara busway". Ia bicara seolah-olah para pendengar radio itu berada dalam situasi gawat sehingga harus diperingatkan dengan kata 'awas' dan semacamnya. Bagi dia, busway adalah ancaman, yang mengganggu dan merugikan kaum pengendara mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, gema suara bapak itu seolah kembali ke telinga saya, ketika dalam angkot 61 (Cinere - Pasar Minggu) saya dengar seorang ibu mengeluhkan kemacetan yang luar biasa di Jalan Marga Satwa. Ibu itu juga menyalahkan busway sebagai penyebab --penambah-- kemacetan, dan bukannya seperti dimaksudkan Gubernur Sutiyoso, untuk mengatasi kemacetan. Saya heran, mengapa ibu itu bisa punya pikiran seperti itu, padahal jelas-jelas, angkot yang dia tumpangi tidak bisa bergerak karena mobil-mobil pribadi, dan bukannya karena busway yang punya jalur sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sempat berhenti beroperasi karena banjir, busway koridor 6 (Ragunan - Manggarai) kembali dibuka, dan pagi ini, Senin (12/2/07) pukul 09.00 WIB saya berniat untuk naik karena saya lihat armadanya sudah cukup banyak. Terbukti, jarak antara satu bus dengan bus berikutnya tak begitu lama. Saya turun angkot dan naik tangga untuk mencapai halte SMK 37. Perempuan muda yang menjaga loket tersenyum manis dan ramah menyambut saya, begitu pun laki-laki muda yang bertugas menyobek tiket.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak orang yang duduk menunggu --wajah-wajah yang sumringah dan memancarkan sinar semangat menyongong hari pertama pekan aktivitas rutin mereka. Tak sampai lima menit busway datang. Masih banyak bangku kosong di dalam, sehingga saya bisa memilih tempat duduk dengan leluasa dan menikmati perjalanan dengan nyaman, sampai ke tempat tujuan, halte perempatan Mampang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan, saya begitu bahagia melihat mobil-mobil merayap seperti keong. Busway yang melaju cepat tanpa hambatan seperti mengejek dengan telak mobil-mobil pribadi yang berderet panjang dalam kemacetan. Sebaliknya, orang-orang yang duduk dengan sentausa di dalam mobil-mobil mewah itu pastinya sewot dan terbete-bete melihat busway yang nyelonong mendahului mereka tanpa ampun. Saya makin gembira membayangkan mereka menyumpah-nyumpah dengan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, busway adalah salah satu hal yang paling menyenangkan dari kehidupan kota Jakarta saat ini. Sejak awal, saya sepenuhnya mendukung pengadaan sarana transportasi umum yang dikritik banyak orang itu. Sejak awal pula, saya percaya bahwa busway --sampai saat ini-- merupakan satu-satunya cara paling mungkin dan masuk akal untuk mengatasi kemacetan di Jakarta. Bahwa, dalam kenyataannya, dengan adanya busway kemacetan sama sekali tidak berkurang, saya kira bukan salah busway-nya, melainkan sikap mental dan cara berpikir kaum bermobil-lah yang harus diubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan orang-orang mereka meninggalkan mobil mereka di rumah dan memilih naik busway, jelas hanyalah mimpi di siang bolong. Meskipun, saya bukannya tidak yakin, orang seperti itu ada. Tapi, jumlahnya jelas masih sangat jauh panggang dari api untuk mampu membuat tujuan busway terwujud. Para pengritik --dan pembenci-- busway, seperti tersirat dari sikap yang ditunjukkan bapak penelepon di atas merupakan tipikal khas kaum bermobil Jakarta, yang merasa paling berhak atas jalan-jalan raya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menutup mata bahwa merekalah pihak yang sebenarnya paling bertanggung jawab --dan, dengan demikian paling bisa diharapkan untuk mengurai-- atas keruwetan lalu lintas di Jakarta. Okelah, mereka tak perlu meninggalkan mobil mereka dan beralih naik busway, tapi plis deh, tidak usah lantas menyalahkan busway sebagai penambah kemacetan. Karena itu sungguh melukai hati masyakarat luas yang tela lama menunggu adanya fasilitas tansportasi umum yang murah, aman, nyaman dan cepat. Kaum tak bermobil juga berhak untuk sampai di kantor dalam keadaan tetap rapi dan tak berkeringat, seperti mereka yang bermobil.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117127817641918637?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117127817641918637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117127817641918637' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117127817641918637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117127817641918637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/busway.html' title='Busway'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117099211622954222</id><published>2007-02-08T19:34:00.000-08:00</published><updated>2007-02-09T00:54:29.473-08:00</updated><title type='text'>Menghidupkan Kembali Romantisme Jadul di Zaman-"Capek Deh"</title><content type='html'>Di tengah cuaca Jakarta yang masih dibayang-bayangi hujan dan ancaman banjir, saya berkesempatan menonton &lt;em&gt;press screening&lt;/em&gt; film &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; di Planet Hollywood. Mendung gelap sama sekali tak menyurutkan semangat wartawan untuk datang. Semua sudah tak sabar untuk menyaksikan hasil usaha sutradara Teddy Soeriaatmadja (&lt;em&gt;Banyu Biru&lt;/em&gt;, &lt;em&gt;Ruang&lt;/em&gt;) me-r&lt;em&gt;emake&lt;/em&gt; film Teguh Karya yang sangat populer pada 1970-an itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian di antara kami, para wartawan yang hadir siang itu, adalah generasi yang lahir pada paro kedua dasawarsa 70. Artinya, ketika film itu dirilis pertama kali dan meledak, kami belum tahu merah-hitamnya dunia. Namun, film itu memiliki gema yang sangat panjang. Album &lt;em&gt;soundtrack&lt;/em&gt; film itu misalnya, terus diproduksi dan bahkan diaransemen ulang oleh Erwin Gutawa pada 2001 lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Remake&lt;/em&gt; atas film itu sendiri tentu saja juga merupakan bagian dari gema panjang itu. Sekaligus, memperpanjang dan bahkan mungkin mengabadikan gema itu untuk terus melintasi perjalanan waktu. Agaknya memang sudah ditakdirkan, &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; adalah ikon abadi dalam khasanah budaya pop di Indonesia. Kini, lewat kerja keras Teddy dan timnya, generasi saya yang belum sempat menyaksikan film itu, dan lebih-lebih generasi yang lebih muda, mendapatkan giliran untuk melihat langsung sumber suara itu, dan bukan hanya gemanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sebuah karya daur-ulang, &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; versi Teddy tak bisa menghindarkan diri dari semangat zaman ketika versi asli film itu dibuat. &lt;em&gt;Setting&lt;/em&gt; lokasi, gaya berpakain dan aspek-aspek yang berkaitan dengan konteks situasi, tentu saja bisa diubah, digeser dan disesuikan dengan kekinian. Tapi, perasaan-perasaan, psikologi tokoh-tokoh dan &lt;em&gt;feel&lt;/em&gt; keseluruhan film itu harus dipertahankan. Me-&lt;em&gt;remake&lt;/em&gt; film tahun 1970-an, sampai batas tertentu, sama artinya dengan mengusung kembali romantisme jadul ke masa kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, masa kini itu adalah zaman ketika anak-anak usia belasan tahun merupakan konsumen terbesar film Indonesia. Mereka adalah generasi yang &lt;em&gt;moody&lt;/em&gt;, sedikit-sedikit merasa bete, sebentar-sebentar bilang "cuape de", dan cenderung menyederhanakan setiap pengalaman ke dalam ungkapan-ungkapan "basi!", "gak segitunya" dan "penting ya?" Saya kira, itulah tantangan terbesar yang akan dihadapi &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; versi Teddy.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nanti, setidaknya yang saya bayangan, ketika orang-orang dewasa sibuk membanding-mbandingkan akting Roy Martin dengan Vino Bastian sebagai Leo, penonton dari generasi-capek deh tadi hanya akan manggut-manggut karena mendapatkan pengetahuan sejarah: Ya, ya, ya...jadi cewek zaman dulu tuh begitu ya, kalau patah hati pergi menyendiri ke vila ortunya yang mewah di pinggir pantai di Bali, menghabiskan waktu sepanjang hari dengan membaca buku dan bermain ayunan di atas pasir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak tahu apakah kisah cinta yang dibangun dari estetisasi patah hati semacam itu akan cukup mengena di hati remaja sekarang. Yang jelas, menurut saya, sebagai karya yang diangkat dari novel pop (karya Marga T) dengan tokoh utama antara lain mahasiswa kedokteran tingkat akhir, film ini terlalu "dewasa" untuk penonton remaja. Itu kalau saya boleh berasumsi bahwa versi &lt;em&gt;remake&lt;/em&gt; ini terutama --dan sudah semestinya-- ditujukan kepada penonton remaja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sutradaranya sendiri tidak secara eksplisit menyatakan bahwa karyanya tersebut untuk remaja. Ia menggunakan ungkapan --yang membuat saya tertawa-- "ramah untuk penonton Indonesia". Saya adalah bagian dari penonton Indonesia itu, dan sejujurnya, saya begitu menikmati &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; hasil &lt;em&gt;remake&lt;/em&gt; Teddy. Saya senang dengan &lt;em&gt;printilan-printilan&lt;/em&gt; yang memikat: adegan ketika Slamet Rahardjo menyanyikan lagu &lt;em&gt;Sabda Alam&lt;/em&gt;-nya Ismail Marzuki dan kemunculan sekilas Niniek L Karim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sudah barang tentu, akting keren Winky Wiryawan sebagai penjahat halus yang flamboyan. Dalam konteks kekinian, kisah yang diangkat &lt;em&gt;Badai Pasti Berlalu&lt;/em&gt; memang tak teramat istimewa. Namun, menurut saya tetap penting dan relevan, yakni kompleksitas hubungan-hubungan antarmanusia: antara lelaki dan perempuan, antara suami dan istri, antara orangtua dan anak, antarsaudara kandung, dan antarsahabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Film ini merangkum semua itu dalam jalinan-jalinan yang lembut, misterius dan tak jarang "kejam". Sebab, di dalamnya tak hanya ada ketulusan, niat baik dan kesetiaan, tapi juga penghinaan, pengkhianatan dan dendam. Perselingkuhan, misalnya, ditampilkan dengan begitu "manis" dan "alami" namun tetap terasa memedihkan. Orang-orang "jahat" digambarkan dengan demikian "elegan". Begitu pula dengan kesedihan dan derai air mata: cukup banyak tangis, tapi tak ada kecengengan. Sebuah drama kehidupan yang maskulin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117099211622954222?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117099211622954222/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117099211622954222' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117099211622954222'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117099211622954222'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/02/menghidupkan-kembali-romantisme-jadul.html' title='Menghidupkan Kembali Romantisme Jadul di Zaman-&quot;Capek Deh&quot;'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-117015093624329267</id><published>2007-01-30T01:52:00.000-08:00</published><updated>2007-02-09T00:58:07.256-08:00</updated><title type='text'>Egois</title><content type='html'>Seorang teman -ya, dia gay tentu saja- yang sudah lama tak bertemu bercerita bahwa ia baru saja putus dengan pacarnya. "Cuman sebulan," katanya dengan nada sedih. Sepanjang pertemanan saya dengannya, sudah tak terhitung kali ia ganti pasangan, dan ceritanya selalu sama, tak pernah bertahan lama. Hubungan pacarannya maksudnya, bukan hubungan badannya. Dan, cerita seperti itu cukup sering saya dengan dari teman saya yang lain. Yang paling tragis, sebelum cerita teman yang tadi, adalah cerita tentang putusnya hubungan dua temen saya yang sudah berencana mau menikah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka jadian bulan September, dan telah mengumumkan kepada "semua orang" bahwa Desember mereka akan melangsungkan pertunangan di Bali. Disusul, Februari-nya mereka akan merayakan resepsi pernikahan di sebuah tempat di Kemang. Waktu teman ini mengungkapkan rencananya itu, saya terganga saking takjubnya. Saya yakin kalau ada buah kelapa jatuh pastilah langsung masuk ke mulut saya. Dan, mungkin karena ketakjuban itu tadi, sampai-sampai setengah sadar -bukan setengah pingsan- saya nyeletuk, "Emang kalian yakin hubungan kalian akan bertahan sampai Desember atau bahkan Februari?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya langsung terdiam, seperti ada tangan yang membekap mulutnya secara tiba-tiba dari belakang. Dan, saat itu pula saya langsung menyesali celetukan saya. Mendadak saya merasa sangat jahat telah mementahkan deretan rencana yang begitu indah itu dengan pertanyaan yang lancang dan kurang ajar. Saya sudah siap kalau teman saya itu terdiam karena tersinggung. Tapi, ternyata tidak. Dia akhirnya berkata setelah menarik nafas dalam-dalam, "Insya Allah, doakan saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang beriman, saya langsung menyahut, "Amin," dengan khusyuk. Habis itu saya langsung membayangkan betapa akan hebohnya kelak ketika hari yang direncanakan teman saya itu tiba. Naluri kewartawanan (alaaah!) saya langsung mencuat ke ubun-ubun, dan dalam hati saya berniat akan mendokumentasikan peristiwa besar itu dengan menuliskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam benak saya terbayang, pertunangan dan pernikahan teman saya itu akan menjadi perkawinan gay pertama yang dilangsungkan di Jakarta, yang kalau terendus media massa pasti akan menjadi berita yang memicu kontroversi besar-besaran. Saya tak sabar menunggu momen bersejarah itu. Saya pun dalam hati berdoa, agar hubungan teman saya itu bertahan setidaknya sampai akhir bulan Februari. Setelah itu, mereka boleh bubaran. Betapa jahatnya pikiran saya kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika awal bulan lalu saya mendengar gosip bahwa hubungan teman saya itu akhirnya "bubar jalan", sedikit-banyak saya merasa bersalah. Jangan-jangan doa saya kala itu ikut menyumbang putusnya hubungan mereka. Tapi, pikiran seperti itu tentu tidak cukup rasional. Saya jadi penasaran, mengapa mereka putus? Sebab, selama masa pacaran, saya sempat menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa mesranya mereka. Hasrat keingintahuan saya yang meledak-ledak akhirnya reda ketika dalam sebuah kesempatan kumpul-kumpul, teman saya itu hadir dan memberikan klarifikasi seputar putusnya dia dengan kekasihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, teman saya itu tidak tahan menghadapi sang pacar yang menurut dia "sangat drama". Bahkan, si pacar sempat melakukan usaha bunuh diri ketika dia mengungkapkan keinginannya untuk mengakhiri hubungan mereka. Seperti saat pertama kali mendengar cerita tentang rencana pertunangan mereka, kali ini pun saya kembali terganga, sampai teman di sebelah saya melemparkan sebutir kacang hingga saya tersedak dan tersadar. Luar biasa kisah cinta teman saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari acara kumpul-kumpul itu, sepanjang perjalanan, saya tercenung dan terus menimbang-nimbang banyak hal yang sudah lama tercetak di benak saya. Bahwa, hubungan homoseksual itu tak pernah mengenal yang namanya cinta, apalagi yang diembel-embeli sejati. Yang ada cuman nafsu, atau paling banter kepentingan sesaat dalam berbagai bentuk dan variannya. Bahwa dalam keintiman antara dua lelaki itu tak ada ketulusan, apalagi kesetiaan, yang ada hanya bla bla bla, dan berderet "bahwa-bahwa" yang lain lagi, yang selalu saya dengar dalam berbagai pembicaraan tentang hubungan gay, sehingga seolah-olah telah menjadi hukum kebenaran yang harus diyakini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saya jadi sedih. Mengapa sampai muncul asumsi-asumsi yang sekuat itu? Saya tidak akan dengan defensif menyangkal semua itu. Saya rasa, sebagian dari stigma-stigma -kalau boleh disebut begitu- itu memang ada benarnya. Tapi, "ada benarnya" bukan berarti sepenuhnya benar. Stigma -ya sudah untuk sementara kita gunakan saja istilah ini- seperti itu mungkin muncul dari pengalaman, yang kebetulan menunjukkan kencenderungan yang sama, sehingga kemudian dengan menyederhanakan banyak fakta lain, ditarik menjadi kesimpulan yang seolah berlaku umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, yang namanya cinta sejati (atau setengah-sejati), berikut prasyarat yang harus menyertainya (ketulusan, kesetiaan) bukanlah monopoli satu kaum tertentu, kelompok tertentu, orientasi seksual tertentu. Begitu pula dengan "nafsu", "kepentingan sesaat" dan hal-hal yang bersoasiasi buruk lainnya, juga bukan tipikal khas yang melekat pada satu komunitas tertentu. semuanya berjalin-berkelindan, mewarnai setiap hubungan (romantis) antarmanusia, baik hubungan heteroseksual maupun homoseksual. Di samping, tentu saja, saya juga percaya bahwa masalahnya bukan mengikuti kebenaran tertentu dalam hubungan (pacaran), melainkan menemukan (bentuk) hubungan yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kecenderungan sifat kita sebagai individu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, ketika teman yang saya ceritakan di awal tadi kemudian mengeluh, "Mantan-mantan gue selalu bilang gue egois", saya tak langsung buru-buru menyarankan dia untuk berubah. Saya juga tidak setuju ketika dia menyambung dengan, "Mungkin gue harus belajar nggak egois dulu baru gue pacaran." Yang mengherankan saya, mengapa seolah-olah hanya ada satu bentuk hubungan dalam dalam dunia homoseksual, yakni pacaran --dan, bahkan ada yang sampai memimpikan pernikahan? Mengapa persahabatan tidak pernah diperhitungkan sebagai bentuk yang juga signifikan dan bermakna --seperti pernah diangankan oleh Foucault?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;...&lt;em&gt;tidak harus dalam bentuk pasangan, tapi sebagai eksistensi, bagaimana kemungkinan para lelaki untuk bisa bersama-sama? Hidup bersama, saling berbagi waktu, makanan, ruangnya, waktu senggangnya, kesedihannya, pengetahuannya, rahasia-rahasianya?&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-117015093624329267?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/117015093624329267/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=117015093624329267' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117015093624329267'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/117015093624329267'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/egois.html' title='Egois'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116963546926638397</id><published>2007-01-24T02:02:00.000-08:00</published><updated>2007-01-24T02:44:30.323-08:00</updated><title type='text'>Satu Malam Minggu dalam Hidup Seorang Lelaki Gay (dan Teman-teman Barunya) di Jakarta</title><content type='html'>Ketika Aray datang, mereka tampak sedang bersiap untuk meninggalkan lokasi. Tapi, ternyata tidak. Mereka hanya akan pindah ke Solaria. Sebagian ada yang belum makan. Aray mengikuti mereka. Jodi, Idam, Kinu dan...oh, banyak muka baru yang tak dia kenal. Aray sendiri memang belum lama kenal sama geng-nya Jodi, lewat salah seorang temannya. Semalam mereka --Aray, Jodi, Idam, Kinu-- nongkrong di Ohlala Djakarta Theater sampai jam 4 pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aray tak bosan bertemu dengan mereka lagi malam ini, karena mereka semua teman-teman baru yang menyenangkan. Tak rugi dia bela-belain jauh-jauh naik bis sendirian dari Cileduk untuk bergabung dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru jam 8. Food court PIM 2 ramainya minta ampun. Banyak sekali brondong yang modis dan lucu. Solaria juga penuh. Mbak-mbak pelayan menyarankan mereka untuk naik ke lantai dua. Tapi, sama saja, penuh. Mereka kembali ke bawah, dan setelah menunggu beberapa saat akhirnya mendapat tempat duduk juga. Setelah acara pesan-pesan makanan dan minuman selesai, Jodi mulai mengenal-ngenalkan Aray sama wajah-wajah baru yang ada di situ. Iwan, Ale, Toro. Juga Fidel dan Gogik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iwan teman sekampus Kinu. Ale dan Toro datang sama dia. Toro dari Bandung, dan sama dengan Idam, dia artis yang sedang merintis karir. Maksudnya, sejauh ini baru sebatas rajin ikut casting sana-sini dan kalaupun ada yang nyantol paling banter dapat peran-peran kecil pada dua dari 30 episdose. Ale dari Bandung juga, baru lulus SMU, tapi sekarang ngekos di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fidel masih SMU dan Gogik terlihat sudah agak berumur. Mereka pasangan. Usai makan mereka terbagi dalam dua kelompok obrolan. Aray sangat tertarik dengan penampilan Fidel yang menurutnya sangat unik. "Lu kayak editor fashion majalah gaya hidup deh!" komentar dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fidel langsung menjerit histeris, dan Gogik tertawa-tawa sambil melihat ke arah pasangannya. Lalu, ia menjelaskan bahwa Fidel memang bercita-cita jadi fashion journalist dan sedang nyari-nyari informasi tentang kampus yang membuka jurusan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aray jadi memperhatikan sosok Fidel lebih lekat. Kurus sekali. Mengenakan celana bahan hitam dengan pipa sempit dan kaos putih berleher V yang dilapis dengan kaos lengan panjang hitam berleher V pula tapi dengan potongan yang lebih rendah. Kalung manik-manik kecil warna hitam menggelayut di lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba, Iwan dan rombongannya pamit untuk pulang lebih dulu karena mereka harus bersiap-siap untuk pergi ke Retro. Tak lupa, Iwan menawari, kalau ada yang mau gabung, nanti langsung ketemu di sana. Ia bilang ia punya jatah guest list banyak. Sebelum rombongan itu menghilang, perhatian Aray sempat tersita oleh sosok Ale yang mengenakan kaos putih yang menggantung di perutnya, sehingga tepian boxernya yang trendi kelihatan, dan dari balik boxer itu masih menyembul tepian celana dalam bermotif seragam tentara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gila, keren banget! Aray merutuk dalam hati. Wajahnya yang putih dan bibirnya yang merah membentuk komposisi yang di matanya begitu cantik, tapi penbawaannya secara keseluruhan tetap terkesan manly, agak-agak punk. Benar-benar penampakan yang menggoda. Sepeninggalan Iwan dkk, Fidel lansung melonjak kegirangan. "Yeee...kita clubbing!" sambil menggerak-ngerakkan tubuhnya dengan centil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang lu diajak? Lu kan masih di bawah umur, belum punya KTP," goda Aray. "Sembarangan!" balas yang digoda. Mereka masih duduk di Solaria sampai kira-kira setengah jam kemudian sebelum akhirnya berjalan-jalan mengitari lantai demi lantai PIM 2 yang masih ramai. Jodi menanyai anggota geng-nya, apa mereka yakin akan bergabung dengan geng Iwan ke Retro. Semua mengiyakan dengan penuh semangat, kecuali Kinu yang tampak ogah-ogahan karena mengaku sangat capek. Lalu, mereka bergosip tentang "dua brondong yang dibawa Iwan tadi". Dan, Aray baru tahu bahwa dirinya tak sendiri ketika mengangumi Ale. Toro memang tergolong cakep juga, secara dia artis. Tapi, Ale lebih eksotik, tidak seperti Toro yang standar dan cakepnya konvensional, sehingga agak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, Aray juga baru tahu bahwa Ale itu pacar Iwan! Ia langsung menjerit tak rela. Iwan tampangnya kayak mas-mas dan Ale --dengan sedikit melebih-lebihkan- mirip Junot. Tapi, kata Jodi, "Ya itu sih pengakuan Iwan, kita nggak tahu ya, Iwan kan gitu, suka speak-speak doang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa Aray jadi sedikit terhibur dengan kata-kata Jodi. Jam 10 mereka bersiap meninggalkan PIM 2. Jodi menelpon Iwan untuk memastikan rencana ke Retro. Iwan menyuruh mereka ke Sarinah saja, dan dia akan menjemput mereka di sana. Mereka naik Kopaja 102 dari depan PIM 2 dan turun di depan Senayan City, lalu menyeberang dan berjalan ke depan Ratu Plaza. Tiba-tiba Iwan menelpon, memberi tahu bahwa teman-teman dia tidak jadi ke Retro, sehingga ia juga batal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fidel yang pertama kali langsung mengumpat. "Ih, bete deh, maksudnya apa sih Iwan itu, bilang aja deh kalau dia sebenarnya nggak punya gustlis, tapi temennya, uh, pake ngaku-ngaku, dasar sundal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jodi tertawa kecut dan kembali mengatakan, "Iwan mah udah biasa begitu, dibilangin, dia itu speak-sepak doang." Kinu langsung menyergah, meminta semua untuk melupakan rencana ke Retro, dan lebih baik nongkrong saja di Ohlala sarinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka naik mikrolet yang biasa jalan malam. Di atas angkot, tiba-tiba terbetik ide untuk turun dulu di E.X sebelum ke Ohlala. "Masih kepagian," kata Jodi. Mereka turun di E.X, muter-muter sebentar, lalu menyapa teman mereka yang bekerja di Starbuck. Jodi mendapat secangkir hot chocolate untuk diminum rame-rame. Setelah bosan di E.X barulah mereka bergerak ke Sarinah, jalan kaki menyusuri trotoar Thamrin yang dingin dan lengang. Sebelum masuk Ohlala, mereka naik ke Djakarta Theater. Kinu dan Idam dandan dulu di toilet. Yang lain menunggu sambil mengecek harga baru tiket bioskop yang baru saja mengalami penurunan cukup drastis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Idam dan Kinu kembali, mereka pun turun lagi, dan mendapati, seperti malam-malam minggi biasanya, Ohlala penuh sesak. Fidel berseru mengajak Idam dan Kinu foto-fotoan dengan HP. Jodi menelpon. Gogik merokok di luar. Aray memperhatikan Idam dan Kinu. Sejak kemarin dia suka sekali memperhatikan Idam yang mungil namun agak sedikit chubby. Malam ini dia mengenakan sweater ketat warna kuning yang ketika berada di toko pastilah dipajang di bagian rak perempuan. Kinu juga mengenakan sweater ketat, tapi lengan pendek, warna merah tua garis-garis horiontal hitam. Sedangkan Odi tamnpak lebih dewasa dibandingkan yang lain dengan kaos putih berkrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, mereka mendapat tempat duduk, dan melanjutkan melewatkan sisa malam minggu dengan menikmati kopi, minuman ringan dan obrolan ngalor ngidul serta gosip-gosip dan saling bertukar cerita pengalaman pribadi. Gogik bertanya kepada Idam apakah selama ikut-ikut casting pernah mengalami perlakuan yang melecehkan, seperti banyak diceritakan di majalah-majalah. Idam bilang tidak pernah. Fidel memberi tahu Jodi tentang cowok di bangku lain yang "lucu banget". Kinu menerima telpon dari Iwan yang mengatakan akan menyusul ke Ohlala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai anggota baru, Aray banyak ditanya mengenai pengalaman pribadinya. Idam yang katanya belum pernah "berhubungan seks sampai jauh", penasaran apakah Aray "melakukan" dan gimana rasanya. Aray bilang pernah, dan karena ia merasa dirinya agak chubby, maka ia suka lelaki berbadan besar agar bisa duduk di atas. "Gue kan women on top," katanya blak-blakan dengan gaya ngondeknya yang membuat semua tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu Aray banyak memberi nasihat, dan Idam serta Kinu mendengarkan dengan serius. Jodi sibuk mendengarkan lagu-lagu dari HP, dan Fidel sibuk memindahkan foto-foto dari HP Idam yang tadi banyak merekam dirinya, ke HP-nya sendiri. Gogik pura-pura menikmati rokoknya padahal sebenarnya mencuri dengar obrolan yang berlangsung. Aray bilang, jangan pernah one night stand karena kau akan menyesal. Dia juga bilang, paling benci kalau dapat laki-laki yang mainnya singkat. "Masak baru tiga detik udah keluar, langsung aja aku pakai baju lagi dan pergi gitu aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aray baru berumur 19 tahun, tapi wajahnya tampak seperti berumur 25 tahun. Jodi mahasiswa Jurusan Teknik Informatika tingkat skripsi, giginya berbehel dan wajahnya sebersih artis-arstis sinetron. Idam dan Kinu juga sepantaran dengan mereka, namun keduanya tampak masih sangat belia. Gogik menjuluki mereka berdua sebagai brondong abadi, dan mereka tampak senang disebut begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali Aray menyesali kenapa rokok yang dibawa Gogik bukan methol. Tapi, akhirnya ia tak tahan juga, dan mulai menyulut sebatang. Meskipun kemudian ia menyesal karena ia sebenarnya sedang berusaha berhenti merokok demi usaha perawatan wajahnya yang berjerawat. Ia juga sedang berusaha mati-matian menghilangkan lemak yang bersemayam di perut dan pinggulnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aray mengaku, sejak SD sudah rajin membaca majalah-majalah fashion dan gaya hidup, dan sampai sekarang masih melakukannya. Ia sangat terobses dengan kontes-kontes kecantikan dan paling suka mengimajinasikan dirinya sebagai Putri Puerto Rico yang tampil di ajang Miss Universe. Mereka terus mengobrol di riuh orang-orang yang terus datang dan pergi. Di samping mereka tiba-tiba sudah ada serombongan lelaki-lelaki gay yang salah satu di antaranya mereka akrabi wajahnya sebagi pemilik salon bridal terkenal di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lewat jam 12 Iwan, Ale, Toro muncul dan bergabung. Toro sudah mengganti celana panjangnya dengan celana tigaperempat. Sedangkan Ale dan Iwan masih dalam konstum yang sama. Tapi, rupanya tak ada yang respek dengan kehadiran mereka. Iwan berkali mengajak minum jus di Sabang tapi tak ada sambutan. Akhirnya, merasa kalau dirinya dicueki, Iwan pun tak lama kemudian pamit. Idam langsung membuka obrolan begitu mereka pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain sih mereka ke sini?"&lt;br /&gt;"Ih Ale kok mau sih ama Iwan. Jelek gitu, kayak mas-mas..." Fidel memanaskan situasi&lt;br /&gt;"Tapi, kan bawa mobil," sergah Aray.&lt;br /&gt;"Alaaa...kijang aja!" Fidel ngotot&lt;br /&gt;"Tenang aja, kata Mama Loren mereka nggak akan bertahan lama, paling seminggu juga bubaran," Idam menyambut.&lt;br /&gt;"Abis itu, Ale kita perebutkan," sahut Aray.&lt;br /&gt;"Kita jadiin arisan aja, jadi bisa giliran sapa yang dapet," timpal Kinu.&lt;br /&gt;Jodi dan Gogik geleng-geleng kepala, dan semua tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, satu malam minggu akan segera lewat bagi Aray, dan teman-teman barunya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116963546926638397?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116963546926638397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116963546926638397' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116963546926638397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116963546926638397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/satu-malam-minggu-dalam-hidup-seorang.html' title='Satu Malam Minggu dalam Hidup Seorang Lelaki Gay (dan Teman-teman Barunya) di Jakarta'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116945829978291359</id><published>2007-01-22T01:21:00.000-08:00</published><updated>2007-01-22T03:04:03.843-08:00</updated><title type='text'>Dekonstruksi</title><content type='html'>Mantan Putri Indonesia Artika Sari Dewi, yang belum lama ini dinobatkan sebagai aktris terbaik Festival Film Asia Pasific, dikomentari "cantik sekali" oleh pelawak Thukul. Tentu itu hal biasa. Yang tidak biasa adalah pertanyaan susulannya, "Kenapa kamu nggak jadi kenek angkot aja?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thukul tidak sedang melawak bersama Srimulat. Ia sedang membawakan acara Empat Mata di Trans7 --perubahan nama dari TV7 setelah bergabung dengan Trans TV. Belum pernah acara talkshow televisi di Indonesia mendapat sambutan yang sedemikian luas layaknya Empat Mata. Sambutan luas yang saya maksud tercermin dari populernya idiom-idiom yang digunakan oleh Thukul di tengah-tengah masyarakat belakangan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dimana-mana orang mengatakan "kembali ke laptop", "puas? puas?", "ndeso kamu!" dan "katro!" yang selalu diucapkan Thukul selama membawakan acara (dari Senin-Kamis, pukul 10.00 wib). Ungkapan-ungkapan itulah yang kemudian menjadi daya tarik utama sekaligus nilai jual Empat Mata, di samping tentu saja spontanitas Thukul yang khas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang "Kembali ke laptop"&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Dalam membawakan acaranya, Thukul dipandu dengan laptop. Tim acara tersebut menyusun daftar pertanyaan, lengkap dengan detail-detail petunjuk, kapan Thukul harus memanggil narasumber berikutnya dan seterusnya. Di sela-sela itu, Thukul mengembangkan interaksi dengan penonton yang ada di studio. Setiap jawaban narasumber ia komentari, dan setiap gemuruh tawa dan sorak-sorai penonton ia respon sehingga tercipta sebuah pertunjukan live yang hangat, akrab dan riuh. Dan, setiap selesai dengan interaksi spontan yang ngalor-ngidul itu, Thukul akan berkata, sambil memberi komando penonton untuk menirukan bersama-sama, "kembali ke laptop", sebelum ia membacakan pertanyaan berikutnya kepada narasumber. kepada narasumber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang "Puas? puas?"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selain menjual "kebodohan" Thukul yang seolah-olah tak bisa ngapa-ngapain tanpa laptop itu, Empat Mata juga mengandalkan "keburukrupaan" fisik Thukul sebagai sumber eksplorasi bahan lelucon. Acara ini dimeriahkan oleh sebuah band pengiring, yang seolah-olah bermain di sebuah bar, lengkap dengan pelayan-pelayan yang cantik. Salah seorang personel band dan pelayan-pelayan itu dilibatkan secara aktif untuk sesekali mengeluarkan celetukan-celetukan yang mengejek, menghina dan mengomentari keburukan Thukul. Semua itu akan direspon oleh Thukul dengan mengakui bahwa dirinya memang jelek, dan kemudian dia akan lebih menegaskannya lagi dengan menyebutkan keburukan-keburukannya yang lain, sehingga penonton akan tertawa dan bersorak, dan Thukul pun berseru ke arah mereka, "Puas? puas?" dengan nada dan ekspresi ornag marah dan kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang "Ndeso kamu!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Selama acara berlangsung, penonton dikondisikan untuk selalu merespon apapun yang dikatakan dan dilakukan Thukul, sehingga memungkinkan dia untuk memberi respon balik. Misalnya, Thukul memuji kecantikan narasumber, penonton akan bergemuruh, dan Thukul pun akan beralih ke arah penonton dan mengatakan, "Ndeso kamu, belum pernah liat orang cantik." Tak jarang celaan seperti itu seolah ditujukan kepada individu penonton tertentu yang dia tunjuk secara khusus. Kadang-kadang kata "ndeso" itu dia tujukan pada dirinya sendiri, misalnya ketika ia kesal karena dihina-hina sebagai orang jelek, lalu dengan sedih dan putus asa dia mengatakan, "Aku emang wong ndeso."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tentang "Katro!"&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ketika menampilkan narasumber artis muda Dimas Beck, Thukul berlagak menanyai dengan Bahasa Inggris, tapi yang ditanya justru menjawab dengan Bahasa Jawa. Thukul tertawa geli dan seolah memberi tahu penonton dia berkata, "Cakep-cakep ternyata katro!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum pernah terjadi sebelumnya, dalam sebuah talkshow televisi, narasumber dipermainkan, dihina dan direndahkan seperti terlihat dalam Empat Mata. Thukul tak segan-segan mencela narasumbernya, dan sebaliknya sang narasumber pun kadang membalas. Hal itu biasanya berawal dengan pertanyaan Thukul yang ngaco, seperti yang ia tujukan pada Artika tadi, dan dijawab oleh sang narasumber dengan sekenanya pula. Jawaban itu membuat Thukul marah dan mengomentari dengan nada mencela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang disebut talkshow, yang selama ini bercitra angker, penting dan harus cerdas, dijungkirkan oleh Thukul menjadi acara yang sepenuhnya bercanda dan sepele. Artis-artis itu dihadirkan untuk ditanyai hal-hal yang remeh-temeh, main-main dan tidak serius. Sering pertanyaan yang diajukan justru lebih bertujuan untuk memuji dan menaikkan harkat pembawa acaranya sendiri, ketimbang dimaksudkan untuk memperoleh jawaban. Lewat pertanyaan-pernyataan yang diajukan, Thukul menempatkan dirinya sebagai sosok yang berada di atas narasumbernya. Dan, semua itu diungkapkan dengan konteks dan nada yang sepenuhnya bercanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan terminologi yang seram, namun tak kalah bercanda, bisa dikatakan bahwa diam-diam Thukul sedang mendekonstruksi talkshow, sekaligus mendekonstruksi sebuah kalangan yang selama ini dengan penuh gegap-gempita dijuliki selebriti. Tampil di Empat Mata tidak membuat mereka tampak hebat -seperti ketika mereka tampil di acara talkshow lain pada umumnya, atau di infotainment- karena di sini tak ada kesempatan untuk, misalnya, mengklarifikasi gosip terbaru yang sedang merundung mereka. Sebaliknya, di Empat Mata mereka dihadirkan untuk dicela dan ditertawakan, oleh seorang pembawa acara yang dicitrakan sebagai orang bodoh yang bahkan tak berdaya tanpa laptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sukses Empat Mata dari seminggu sekali di zaman TV7 hingga seminggu 4 kali setelah menjadi Trans7, dengan iklan yang makin berdesakan, tak pelak adalah kisah sukses Thukul sebagai pelawak. Televisi telah cukup banyak melahirkan pelawak-pelawak yang sukses tanpa grup: Ulfa, Komeng, Taufik Savalas. Tapi, Thukul agak berbeda dengan mereka. Pada awal kemunculannya, ia tak pernah benar-benar single fighter, tapi juga tak pernah benar-benar dianggap anggota grup tertentu. Di Srimulat, ia bukan anggota tetap yang selalu muncul. Ia mungkin lebih dikenal dalam kolaborasinya dengan individu-individu pelawak yang lain, atau dalam penampilannya di luar panggung lawak: model video klip, pembawa acara panggung dangdut, dan belakangan sinetron "illahi-illahian" (biasanya berperan sebagai orang miskin yang menderita tapi jujur, sehingga akhirnya mendapatkan harta dan hidup bahagia).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai pelawak, yang khas dari Thukul adalah gaya sok perlentenya, yang agaknya diadopsi dari seniornya di Srimulat, Triman. Thukul selalu tampil necis, sok ganteng, mengaku dirinya cover boy, memperkenalkan diri bernama Reynaldi yang diucapkan dengan artikulasi tertentu, atau setidaknya menganggap dirinya mirip Ari wibowo. Gaya ini terus-menerus diperlihatkannya dalam setiap kesempatan melawak, sehingga lama-lama melekat dan menjadi trade mark dirinya. Setiap ia muncul, penonton akan menunggu saat ia memperkenalkan dirinya sebagai Reyanaldi sambil mengelus rambutnya yang sudah klimis. Inilah resep lawakan tradisional yang terbukti ampuh: mengulang-ulang perkataan dan perilaku tertentu sampai melekat dan menjadi bagian tak terpisahkan darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gepeng, Asmuni, Timbul dan para pelawak Srimulat lainnya sukses dengan pendekatan seperti itu. Dari Asmuni, misalnya, kita mendapatkan idiom plesetan "hil yang mustahal", dan dari Timbul kita selalu menunggu saat ia mengucapkan "maka dari itu..." lalu terdiam lama, atau ucapan "makbedunduk". Penonton bukannya bosan tapi justru, ya itu tadi, menunggu kapan ungkapan itu keluar. Para pelawak modern di Ekstravaganza (acara panggung komedi yang sukses di Trans TV) sedikit-banyak menerapkan pendekatan itu, dan lahirlah karakter-karakter yang cukup kuat, seperti Tora Sudiro dan, terutama, Indra Birowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thukul adalah kasus yang istimewa. Sebelum sukses di Empat Mata, ia telah memperkenalkan banyak idiom yang kemudian sangat populer di masyarakat, seperti "sobek-sobek mulutmu!" dan gaya bertepuk tangan dengan posisi dan gerak tangan vertikal. Ketika pertama kali menonton acara empat mata, sampai beberapa episode kemudian, saya agak sinis dan menganggap acara itu hanya mengeksploitasi kebodohan. Dan, sampai batas tertentu itu memang bisa dibenarkan sebab konsep acara itu sendiri memang sengaja memanfaatkan keawaman Thukul (sekaligus citra dirinya sebagai pelawak bodoh yang memiliki kemauan belajar tinggi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lama-kelamaan saya mulai berubah pikiran. Maksud saya, ada sesuatu yang lebih dari sekedar jualan kebodohan, yang bikin acara itu kemudian sukses besar. Yakni, kejujuran acara itu sendiri dalam melihat dan menempatkan dirinya. Dengan 'ndeso' dan 'katro' yang disengaja, Thukul selalu mewacanakan kesuksanan dirinya sebagai pelajaran bagi penonton. Di tengah acara ia sering berdiri menghadap penonton, memberi petuah agar orang selalu belajar, berusaha dan berpikir positif agar sukses seperti dirinya, lalu ia kembali ke kursinya dengan setengah terbungkuk-bungkuk dan langkah sepongah Raja Blambangan Minak Jinggo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Thukul sadar benar dirinya tengah berada di atas dalam putaran roda kehidupan, dan berkali-kali celetukan dan komentar spontannya mengisyaratkan nasihat kepada dirinya sendiri agar tidak lupa diri. Dalam konteks dunia lawak tradisional, orang juga bisa membaca nasihat-nasihat Thukul itu sebagai otokritik bagi korps dan koleganya agar tidak mengulangi sejarah kelam yang diwarnai cerita-cerita penderitaan seorang pelawak di usia tua karena mereka biasanya "lupa diri" bila sedang sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara konkret, dalam salah satu episodenya Thukul menampilkan narasumber orang-orang dari masa lalunya ketika ia masih miskin dan hidup senin-kemis di Jakarta. Antara lain mantan majikannya ketika ia menjadi sopir, dan Tony Q dari grup rege terkenal Rastafara. Tanpa malu-malu Thukul mengenang masa ketika untuk bisa makan saja ia harus menunggu Tony pulang dari mengamen. Begitulah, dengan kejujuran dan kepolosan yang luar biasa, Thukul menelanjangi dirinya sendiri, dan pada saat yang sama juga menelanjangi para selebriti untuk melepaskan dekor-dekor kemewahan dan segala mistik yang melekat pada diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artika Sari Dewi tak perlu berbasi-basi apalagi jaim, demikian pula Laudya Cyntia Bella, Melly, Pinkan Mambo, Rafi Ahmad hingga aktris paling kinyis-kinyis saat ini, Chelsea Olivia, dan semua narasumber yang pernah tampil di Empat Mata. Mereka semua memanggil "mas" kepada Thukul, dan memperlihatkan sikap yang menghormat dan salut atas kebeberhasilan dia membawakan acara Empat Mata. Kita bisa melihat semua selebriti tampak bangga dan bahagia tampil di acara itu, sekaligus, ini yang lebih penting, tampak lebih lepas, dan tak sungkan untuk menjadi dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tak perlu was-was, atau tegang, kalau-kalau ditanya mengenai sesuatu yang tak ingin mereka bicarakan. Sebab, di Empat Mata tak ada Farhan, Tika Panggabean, Indra Bekti, Indy Barents, Oki Lukman, Dorce, atau lebih-lebih Ulfa dan Eko Patrio, orang-orang yang dengan putus asa berusaha mati-matian membangun citra publik sebagai pembawa acara yang kritis, tajam dan cerdas, namun sebenarnya hanyalah orang-orang yang berisik dan membosankan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116945829978291359?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116945829978291359/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116945829978291359' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116945829978291359'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116945829978291359'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/dekonstruksi.html' title='Dekonstruksi'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116902631351866556</id><published>2007-01-17T01:21:00.000-08:00</published><updated>2007-01-17T01:31:54.506-08:00</updated><title type='text'>Sosiologi Toilet</title><content type='html'>Beberapa teman-jalan-malam-minggu saya punya kebiasaan yang menyebalkan setiap kami janjian untuk ketemuan. Saya sudah menunggu agak lama -kalau saya yang datang duluan- eh, giliran dia datang, tidak langsung menemui saya, tapi melambaikan tangan dari jauh, memberi isyarat bahwa dia akan ke toilet dulu. Tujuannya: ngaca, merapikan rambut, dan kalau perlu cuci muka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gara-gara berteman dengan beberapa orang yang memiliki kebiasaan seperti itu, saya jadi paham mengapa toilet-toilet di mal-mal di Jakarta diberi label &lt;em&gt;restroom&lt;/em&gt;. Atau, bahkan ada yang cuma "&lt;em&gt;men's room&lt;/em&gt;"/"&lt;em&gt;women's room&lt;/em&gt;". Artinya, fungsi toilet bukan sekedar untuk buang air, besar maupun kecil. Dalam bahasa yang lebih 'ngelmu', entah kita sadari atau tidak, toilet memiliki fungsi sosial yang cukup luas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat toilet di sekolah saya dulu yang dinding-dindingnya penuh coretan. Ada gambar hari ditembus panah, ada nama-nama perempuan dan laki-laki dan ada pernyataan-pernyataan yang bersifat pribadi. Setiap membaca coretan-coretan itu, dulu, saya sering mikir, kok ya sempat-sempatnya orang yang melakukan itu. Apakah mereka memang niat dari awal, sehingga ketika hendak buang air menyiapkan pulpen/spidol di kantong?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bertahun kemudian, setelah mendapat kuliah Pengantar Sosiologi, saya baru bisa mengatakan bahwa itulah salah satu fungsi sosial toilet umum. Termasuk toilet di sekolah. Bahkan, semasa kuliah itu, saya melihat toilet di kampus pun -yang penghuninya notabene orang-orang yang dicitrakan sebagai kelompok intelektual- tak luput dari grafiti konyol seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu adegan dalam film &lt;em&gt;Janji Joni&lt;/em&gt; karya Joko Anwar dengan sangat baik menggambarkan fungsi sosial lain dari toilet. Yakni, sebagai salah satu arena bagi berlangsungnya salah satu bentuk ikatan sosial: bergosip. Mungkin Anda sendiri melakukannya. Begitu keluar dari bioskop, Anda biasanya setengah berlari ke toilet dan di situlah, sambil berdiri di urinoir membuang air kencing, Anda membicarakan film yang baru saja Anda tonton dengan teman atau pasangan Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa-masa awal saya meniti karir (&lt;em&gt;ceileee!&lt;/em&gt;) kewartawanan di Jakarta, saya mendengar dari teman saya, seorang wartawan tabloid 'esek-esek' bahwa toilet di Blok M Plaza sering digunakan oleh cowok-cowok gay mencari mangsa. Mereka bahkan melakukan aksinya di situ, baik sekedar saling melihat penis atau lebih jauh lagi, seks oral. Belakangan saya tahu, saling melihat penis itu namanya "nyontek", dan melakukan hubungan seks kilat (apapun bentunya) itu namanya "&lt;em&gt;cruising&lt;/em&gt;". Itu bahasa "slang" kaum gay Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, belakangan saya tahu lebih banyak lagi. Bahwa toilet umum (baca: di mall) merupakan titik penting bagi perjumpaan sosial kaum gay metropolitan. Ini bukan cerita yang sangat baru, meskipun juga bukan cerita lama. Yang jelas, ini cerita yang selalu menarik, bikin penasaran dan membuat sebagian orang 'ah-ih-ah-ih' karena jijik. Ah, tahukah Anda bahwa semua itu bagian dari budaya sebuah masyarakat yang terus berubah, sedang tumbuh dan akan terus tumbuh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat-pusat keramaian di Jakarta, dalam aneka bentuk dan sebutan, dari mall hingga &lt;em&gt;town square&lt;/em&gt;, telah melahirkan komunitas-komunitas gay yang memang tak pernah henti mencari ruang-ruang sosialisasi. Toilet barangkali hanya bagian kecil, dan mungkin tahap awal, dari modus sosialisasi itu. Di toilet, kau tak perlu kenal siapa lelaki di sebelahmu, dan tanpa perlu saling menyebutkan nama terlebih dahulu, kau sudah langsung bisa melihat seberapa besar penisnya, apa warnanya dan sebagus apa bentuknya. Ini tentu gambaran ekstremnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang jelas, karena gay adalah sebuah orientasi seksual, maka sah saja bagi siapa pun yang menyimpan hasrat-hasrat seksual pada setiap perjumpaan yang sedang dicarinya. Orang bisa menyebut itu seks instan, atau petualangan, tapi setiap orang -saya percaya- cukup dewasa untuk tahu apa yang dilakukannya. Saya punya teman yang bahkan diajak ketemuan di mall pun ogah dengan alasan ini dan itu. Tapi, saya juga berteman baik dengan orang yang telah kecanduan "nyontek", bahkan "cruising" di toilet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia, teman saya yang ini, hafal wajah orang-orang yang suka "main" di toilet Plaza Indonesia (dan E.X), Ada bule tua, dan ada juga brondong, katanya. Teman saya pernah mencoba hampir semua dari mereka, baik cuman "contek-contekan", atau sekedar pegang-pegangan sampai tegang, maupun oral. Di dalam toilet yang berdinding? Tidak, melainkan ya di depan deretan urinoir itu. Menurut dia, kalau di dalam toilet yang berdinding justru berisiko lebih besar karena kalau ketahuan mau lari ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, kalau di luar, maksudnya di depan urinoir yang terbuka, bisa mengantisipasi kalau sewaktu-waktu ada orang masuk. Begitu terdengar suara pintu dibuka, langsung berhenti dan pura-pura kencing lagi, katanya. Apa tidak takut kepergok satpam? Apa tidak begini? Apa tidak begitu? Kalau begini gimana? Kalau begitu gimana? Pertanyaan saya tak ada habisnya, tapi teman saya selalu punya jawaban yang membuat segalanya seolah-olah jadi begitu sederhana. Memang susah membayangkannya, tapi teman saya menceritakannya dengan wajah yang berseri-seri, menandakan bahwa ia sangat bahagia dan menikmati petualangannya itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116902631351866556?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116902631351866556/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116902631351866556' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116902631351866556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116902631351866556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/sosiologi-toilet.html' title='Sosiologi Toilet'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116842402859114326</id><published>2007-01-10T02:02:00.000-08:00</published><updated>2007-01-10T02:13:48.806-08:00</updated><title type='text'>Gila</title><content type='html'>Kapan tekahir Anda bertemu orang gila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keriuhan lalu lintas pertigaan Pasar Pondok Labu pagi itu terasa semakin chaos oleh teriakan seorang perempuan di satu sisi jalan. Ia terlihat mengalamatkan teriakannya itu dua lelaki berboncengan motor yang sedang lewat. Orang-orang pun mulai tersita perhatiannya, dan barangkali seperti saya, mereka langsung berpikir, ah, orang gila.&lt;br /&gt;Saya terus memerhatikannya. Dia berbalik badan, menghampiri lapak koran, membeli Lampu Merah lalu. Sambil melangkah pelan ia membaca agak keras salah satu judul berita di halaman depan, seperti anak kecil yang sedang belajar mengeja kalimat kata per kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia menghampiri seorang perempuan muda berbusana kerja dan menanyakan sebuah kata dari judul berita yang baru saja diejanya. Yang ditanya tampak agak takut, menggeleng dan berusaha menghindari. Si gila berlalu, dan pindah ke lelaki muda bertubuh tinggi dan menanyakan kata yang sama. Reaksi yang didapat pun tak jauh beda. Saya segera menduga, si gila akan beralih ke saya, dan memang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, ia tak benar-benar menginginkan jawabab dari pertanyaannya, terbukti sebelum pergi ia memencet hidung saya sedemikian rupa seolah-olah saya ini brondong imut yang menggemaskan. kebetulan hari itu saya mengenakan skinny jeans dan kaos agak ketat layaknya cowok-cowok belia yang hendak pergi ke pensi yang menampilkan The Upstairs. Padahal, oalah, kalau dia tahu berapa umur, dia pasti akan menyesal telah "memperlakukan saya dengan segemas itu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya berusaha tak bereaksi berlebihan, kecuali spontan mengucapkan 'anjing', tanpa nada memaki. Sebelum berlalu, saya sempat mendengar si gila ngedumal, dan saya tiba-tiba memahami sesuatu. Rupanya dia telah kehilangan anak lelakinya, dan apa yang dilakukannya dengan memencet hidung saya tadi rupanya salah satu ekspresi untuk melampiaskan kerinduannya pada anak lelakinya yang dia bilang 'sudah nggak ada' itu.&lt;br /&gt;Saya masih memperhatikannya sebelum ia benar-bnenar menjauh, dan kembali menyaksikan: perempuan itu mencolek anak lelaki yang berada di gendongan ayahnya. Lagi-lagi ia ngedumal panjang-pendek yang intinya menimang bocah kecil itu. Nadanya begitu iri, begitu rindu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan (ke tempat kerja), saya tercenung-cenung memikirkan perempuan gila tadi. Penampilannya tak terlalu mencerminkan orang gila. Masih agak muda, badannya yang tergolong gemuk terbukung you can see dan lehernya berlilit kalung manik panjang yang mudah dijumpai di lapak-lapak Blok M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya baru sadar, dia tadi memencet hidung saya begitu keras, sehingga sisa sakitnya masih terasa. Tapi, apa artinya rasa sakit ini dibandingkan dengan rasa kehilangan yang dialami perempuan itu? Berapa umur anaknya yang sudah tiada itu? Apakah anak itu hilang? Diculik orang? Meninggal? Seperti apa rasanya kehilangan anak yang dicintainya? Perempuan itu memang pantas gila, pikir saya. Ia punya alasan yang terlalu kuat untuk (menjadi) gila.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam percakapan sehari-hari, orang gila sering dianggap sebagai orang yang menderita sakit jiwa. Saya kok sudah agak sejak lama ragu dengan anggapan atau teori seperti itu. Apalagi melihat kondisi Indonesia (alaaah!) yang makin ruwet belakangan ini. Menurut saya, orang-orang gila yang sering atau kadang kita jumpai di jalan itu belum se-sakit jiwa orang-orang yang selalu menjadi bahan berita di koran-koran dan TV. Untuk menjadi anggota DPR, ada yang bela-belain malsuin ijazah. Setelah jadi anggota DPR, eh ada yang merekam sendiri adegan seks yang dilakukannya dengan perempuan, dan kemudian beredar luas di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah orang-orang seperti itu tidak lebih sakit jiwa ketimbang perempuan yang ngomong sendiri sepanjang jalan karena terpukul oleh rasa kehilangan yang besar dan tak tertanggungkan oleh jiwanya? Saya pasti nyinyir membandingkan orang gila di jalan dengan anggota DPR yang merekam sendiri adegan seks dengan pasangannya. Tapi, percayalah, di sekitar kita banyak sekali orang-orang yang lebih pantas disebut sakit jiwa ketimbang orang-orang yang kita pandang gila yang kita temui di jalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti orang gila jalanan yang gembel, kumal, bau dan ngomong sendiri, orang-orang sakit jiwa di sekitar kita tampak begitu lumrah dan biasa saja. Penampilan mereka rapi, karirnya bagus, temannya banyak, wajahnya tampak selalu riang dan bahagia, pembawaannya ramah, baik hati, dan suka menolong. Pendek kata, kalau boleh meminjam terminologi yang biasa dipakai oleh orang beriman, mereka adalah hamba-hamba Allah yang paling diberkati hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, tanpa sepengetahuan lingkaran pergaulannya, di rumah mereka menyiksa pembantunya. Di kantor suka menjegal rekan sekerja dengan cara memfitnah atau menjelek-jelekannya di depan bos. Hatinya sentosa kalau melihat temannya jatuh. Tertawa di saat temannya menderita dan puas kalau temannya mendapat kesulitan dalam hidupnya. Oh ya, ngomong-ngomong saya punya lho teman seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan salah. Dia teman yang sangat baik, hubungan kami sangat akrab dan kebersamaan dengannya merupakan saat-saat yang selalu menyenangkan, penuh inspirasi dan memperkaya wawasan serta memompa semangat hidup. Dengan kata lain, dia teman yang nyaris perfect. Tapi, ya itu tadi, teman seperti itu tidak menutup kemungkinan bahwa di balik semua yang tampak manis dan menyenangkan itu, dia ternyata dia seorang pengidap sakit jiwa kronis, yang tak jarang membuat saya repot dan jengel engkel engkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya itu bekerja di sebuah majalah, dan beberapa hari lalu dia mengirimi saya edisi terbaru ke alamat kantor. Sebelumnya dia sempat menelpon dan bertanya, Mu, kalau nanti di amplop gue tulis bahwa lu penulis masalah homoseksual, nggak papa kan? Dia memang suka bercanda, dan kadang saya malas menanggapinya. Saya kaget ketika kiriman majalah itu akhirnya datang, dan ternyata memang benar --setelah "Kepada: Mumu Aloha" ada tulisan dalam kurung "Penulis Masalah Homoseksual".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tak habis pikir, apa sebenarnya maunya teman saya itu. Apa yang dia lakukan benar-benar bukan suatu kelaziman. Pernahkah Anda mengirim surat kepada teman atau siapapun dengan mengembel-embeli predikat atau profesi atau aktivitas yang bersangkutan? Buat apa coba? Saya anggap teman saya itu sudah keterluan karena dia hanya ingin agar orang sekantor saya (saya karyawan di situ) bahwa saya adalah orang yang dekat dengan dunia homoseksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia puas dan bahagia kalau saya kerepotan harus menjawab teman-teman saya yang mungkin gara-gara kiriman itu jadi bertanya, "Mas Mumu nulis soal homoseksual juga ya? Apa mas mumu gay juga?" Cukup sakit jiwa kan teman saya itu? Dan, itu bukan ulah pertama. Dulu, ketika masih berkantor di sebuah perusahaan dotcom terbesar, suatu hari saya melamar ke sebuah majalah gaya hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu saya dipanggil untuk wawancara, dan sebagai salah satu yang terdekat, teman saya tadi termasuk orang pertama yang saya kasih tahu. Apa yang terjadi? Dia mengirim email ke sejumlah teman, intinya memberi kabar bahwa hari itu saya sedang wawancara kerja di sebuah majalah. Sejauh itu tentu tak ada masalah, dong. Ya, tentu, seandainya dia tidak men-cc email itu ke bos saya! Dampaknya memang tidak serius, misalnya saya dipecat karena ketahuan sedang mencari kerjaan di tempat lain. Saya cuma dipanggil, ditanya-tanyain, tapi itu sudah cukup merepotkan, dan sangat menjengkelkan, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bentuk lain dari sakit jiwa-nya teman saya itu adalah terobsesi dengan citra diri (sebagai teman) yang baik. Ya, kira-kira begitulah, meskipun menurut saya pasti lebih kompleks daripada itu kalau ditilik dari teori psikologi. yang jelas, gara-gara obsesinya untuk dianggap baik itu, dia jadi sering pura-pura dan bohong. Misalnya begini. Suatu kali dia bercerita bahwa dia sedang mengerjakan penulisan buku biografi seorang tokoh terkenal. Berbulan-bulan setiap kami bertemu, dia selalu cerita soal itu, bagaimana suka dukanya, prosesnya, sudah sampai di mana bla bla bla.&lt;br /&gt;Tapi, lama-lama ceritanya itu menguap tak tersisa, tak ada endingnya, dan ternyata dia memang tak sedang mengerjakan proyek apa-apa. Lagi: ia bercerita dapat dana penelitian yang besar dari sebuah funding, dan bingung mau digunakan untuk apa. Belakangan saya tahu, dia bohong. Dia juga selalu mengaku kenal si A si B, si C, ketemua si X di acara ini, berdiskusi seru dengan si Y tentang film anu, pernah pacaran dengan si Z bla bla bla. Tapi, semua itu hanya isapan jempol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Modus lainnya lagi. Dia suka menawari saya untuk mewawancarai seseorang untuk majalahnya. Tapi, kalau saya sudah bilang iya, dia akan plintat-plintut, yang katanya si narasumber belum masih sibuklah, inilah-itulah. Dan, tawaran itu tak berlanjut sampai kemudian saya lihat si narasumber sudah nongkrong di majalah --dia sendiri yang mewawancarai. Saya tahu, dia hanya ingin tampak sebagai teman yang "suka bagi-bagi proyek sama teman", seolah-olah itu akan mengantarkannya memperoleh penghargaan dari Freedom Institute.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kapan terakhir Anda bertemu orang gila?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bahkan berteman baik dengan orang seperti itu, bertahun-tahun, sampai hari ini. Jangan-jangan Anda juga.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116842402859114326?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116842402859114326/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116842402859114326' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116842402859114326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116842402859114326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/gila.html' title='Gila'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116825011959916459</id><published>2007-01-08T01:53:00.000-08:00</published><updated>2007-01-08T01:58:04.916-08:00</updated><title type='text'>Bagaimana Mengetahui Seseorang (Bukan) Gay?</title><content type='html'>1. Lupakan semiotika. Kalau kau belum pernah membaca --atau bahkan mendengar namanya sekali pun-- Saussure maupun Barthes, juga jangan berkecil hati. Kajian budaya hanyalah jualan baru penerbit-penerbit asal Yogyakarta yang menerjemahkan tanpa membeli hak cipta. Di lapangan, kau hanya akan bertemu dengan orang-orang yang tak terlau susah untuk kau kenali sebagai cowok gay.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Tak terlalu susah itu artinya memang bisa agak susah atau tak gampang-gampang amat. Artinya lagi, kemungkinan untuk salah memang ada. Tapi, itu tidak buruk bukan? Toh, permainan mengenali gay ini bukanlah kuis yang jika kau salah kau akan kehilangan kesempatan untuk membawa pulang hadiah jutaan rupiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Tapi, mengapa harus mempelajari ciri-ciri cowok gay? Apa pentingnya? Pertama, ini untuk para cewek (terutama yang sedang nyari pacar atau selingkuhan):karena jumlah cowok gay semakin banyak, dan umumnya keren-keren, maka dengan mengenalinya kau akan terhindar dari salah-taksir. Kedua, ini untuk umum: dengan mengenali, kita akan semakin sadar akan keberadaan kita di tengah pergaulan sosial yang terus berubah. Ini agak-agak teoritis ya, tapi kira-kira begitulah. Dengan kata lain, percayalah, bab tentang cara mengenali gay merupakan pengetahuan praktis yang berguna bagi siapa pun dan akan semakin berguna dalam konteks dinamika kehidupan kota megapolitan serupa Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Pernah dengar istilah homofobia kan? Nah, kalau kau orang seperti itu, kau akan menghindari tempat-tempat yang sering menjadi titik-ngumpul para cowok gay. Itu lebih baik bagimu ketimbang nanti kamu merasa terjebak, lalu mengumpat dan mencaci-maki. Dengan mengenali sejak dini, kau bisa sedini pula menghindari tempat-tempat yang akan membuatmu merasa "salah-masuk" atau tidak nyaman, seperti Blok M Plaza, Kafe Ohlala Djakarta Teater dan Pasar Festival. Pastilah yang lebih baik adalah, kau bukan seorang homofobia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Ya, sebab, di era keterbukaan (duh, basi banget ya ungkapannya) seperti sekarang, makin tak ada tempat bagi orang-orang yang tak memiliki toleransi terhadap perbedaan, termasuk perbedaan orientasi seksual. Dengan kata lain, siapun pun dirimu, kau tak akan pernah bisa lari dari homoseksualitas. Cowok gay ada di mana-mana dan dan sekali lagi, kau hanya harus mengenalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Caranya? Pernahkah kau mendengar ungkapan seperti: semua perancang busana (pasti) gay. Ini namanya stereotip. Orang biasanya menghindarinya karena dianggap terlalu menyederhanakan persoalan. Tips dari saya untuk mengenali gay, jangan takut menggunakan stereotip. Kau memang akan kedengeran dangkal, setidaknya pada awalnya, tapi percayalah, stereotip akan menuntunmu pada kebenaran sejati (alah!) karena separo dari stereotip itu benar, alias mencerminkan kenyataan yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Inilah beberapa stereotip terkini yang melekat pada cowok gay: jalan sendirian di mall; bersama rombongan yang semuanya cewek; pakai behel dengan warna ijo muda; mengenakan tas selempang; kaos ketat dobel-dobel; rambut ekstrem-funky; memakai kaos bertuliskan 'no ejaculation'; milih-milih baju di departmen store sambil nyanyi-nyayi lirih atau bersenandung menirukan lagu yang tengah diputar; jam setengah dua belas malam ada di halte Sarinah-Thamrin; kau cowok dan dia menoleh dua kali ke arahmu; setiap lima detik mengucapkan 'nek', 'cuepe dee' dan 'bok'; setiap mendengar kata 'manis' dia akan menyahut 'makasiiy!' sambil mengerjap-ngerjap centil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Sampai di sini, mungkin kau heran dan bertanya: hanya karena mengenakan tas selempang seseorang bisa diidentifikasi sebagai gay -yang bener aja?! Sabar. Sekali lagi, jangan takut berpikir secara stereotip: jangan takut salah, tapi juga jangan takut benar. Toh, kau tidak akan mendatangi yang bersangkutan dan bertanya, lo gay? untuk mencocokkan dugaanmu benar atau salah. Permainan tebak-tebakan ini hanya untuk dinikmati dalam hati saja. Ingat: jangan takut salah, karena stereotip mengandung separo kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Jadi, kalau mau disimpulkan atau ditarik rumus umumnya: seorang cowok gay bisa dikenali pertama kali dan terutama (cukup) lewat penampilannya. Cowok-cowok yang mengenakan kaos bergambar Iwan Fals, atau partai politik tertentu, atau bertuliskan nama toko besi, memakai jaket jins ala tukang ojek atau sepatu converse bajakan, hampir pasti bukan gay. Tapi, secara ironis, tak menutup kemungkinan bahwa mereka (juga) gay. Sekali lagi ingat, bila itu terjadi, itu ironi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. Tulisan ini hanya pengantar. Untuk konsultasi lebih lanjut, nomer HP saya 81585480...hehehehe.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116825011959916459?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116825011959916459/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116825011959916459' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116825011959916459'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116825011959916459'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/bagaimana-mengetahui-seseorang-bukan.html' title='Bagaimana Mengetahui Seseorang (Bukan) Gay?'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116823576051825325</id><published>2007-01-07T21:53:00.000-08:00</published><updated>2007-01-07T22:33:32.486-08:00</updated><title type='text'>Antara Pondok Labu - Blok M</title><content type='html'>Ini 610 ya? Lelaki buta itu bertanya&lt;br /&gt;Aku membenarkan dengan satu kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang perjalanan, ia terkantuk-kantuk&lt;br /&gt;Kuurungkan niat untuk bertanya, mau ke mana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah kemacetan ia terbangun. Sampai di mana?&lt;br /&gt;Di bangku deretan belakang tinggal kami berdua&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menjawab dengan menyebut nama tempat&lt;br /&gt;Ia mempererat genggamannya pada tongkat lipat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu menggeser tubuhnya ke sisi jendela kaca&lt;br /&gt;Metromini menerebos lampu merah dan membelok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyusuri Melawai, melintasi kedai kopi Amerika&lt;br /&gt;Lelaki buta berdiri, tertatih menghampiri pintu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa bertanya lebih dulu kepadaku&lt;br /&gt;Bagaimana ia tahu sudah sampai pada yang dituju?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116823576051825325?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116823576051825325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116823576051825325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116823576051825325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116823576051825325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/antara-pondok-labu-blok-m_07.html' title='Antara Pondok Labu - Blok M'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116790281299967301</id><published>2007-01-04T01:23:00.000-08:00</published><updated>2007-01-04T01:26:53.686-08:00</updated><title type='text'>Beredar</title><content type='html'>"Lu beredar banget sih!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu komentar pacar teman saya, ketika kami bertemu di Plaza EX suatu hari. Teman saya cowok, dan pacarnya cewek. Teman saya baru saja bercerita bahwa semalam ia juga bertemu saya di Sabang. Maka, keluarlah komentar itu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kata 'beredar' yang terlontar dari pacar teman saya itu merujuk pada fakta bahwa, bahkan tengah malam pun, dan bukan malam Minggu pula, saya bisa dijumpai di Sabang. Seperti mendapat dorongan dari dalam yang otomatis, saya menangkis dengan memberi alasan, "O, semalem itu saya abis nonton, trus kelaperan, trus makan." Tentu saja nonton itu maksudnya nonton film, bukan nonton orang adu-jangkrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai dengan tangkisan itu, saya langsung terheran-heran dengan diri saya sendiri. Mengapa saya merasa perlu memberi klarifikasi atas komentar bahwa saya "beredar banget"? Seolah-olah, bawah sadar saya telah bekerja bahwa kata 'beredar' itu berkonotasi negatif. Sehingga, ketika saya dikatai seperti itu, saya buru-buru menjelaskan konteks ke-'beredar'-an saya agar orang lain tahu bahwa saya sebenarnya "tak seberedar itu". Atau, setidaknya orang harus tahu bahwa malam itu saya benar-benar hanya makan, dan bukan beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah kata dalam Bahasa Indonesia memang merepotkan. Ada kata tertentu yang mengalami perluasan atau pun penyempitan makna, menjadi identik dengan citra negatif. Misalnya, kata 'abege' yang awalnya digunakan untuk menunjuk kelompok usia remaja, belakangan jadi berkonotasi seksual bahkan mesum. Kata 'abege' menjadi terkait dengan pencitraan tertentu, misalnya remaja (perempuan) yang menjual diri di mal. Ah, ada-ada saja, masak diri kok dijual. Kalau pun bukan itu maknanya, maka 'abege' diartikan sekelompok remaja yang dangkal dan seragam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Media massa sebagai intitusi penyebar informasi dalam masyakarat modern tentu memberi sumbangan penting bagi proses perluasan maupun penyempitan makna kata-kata tertentu sehingga menjadi konotatif semacam itu. Dalam "kasus" abege misalnya, media (cetak) selalu menulis dalam konteks komersialisasi seks remaja perempuan di mal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata 'beredar' memang belum "resmi" menjadi kata yang digunakan dalam ragam tulis oleh media massa. Kata ini baru muncul dalam percakapan sehari-hari, dari mulut ke mulut (sebenarnya sih dari mulut ke telinga dulu baru kembali ke mulut lagi). Dulu, kata 'beredar' tentu melekat pada barang atau benda, misalnya narkoba, majalah, selebaran. Menilik konteks pemakaiannya, kata 'beradar' yang muncul belakangan ini lebih banyak mengacu pada makna 'gaul'. Atau, boleh dibilang kata beradar itu bahkan menggantikan, atau setidaknya menjadi sinonim, kata 'gaul'. Ini kira-kira sama dengan kata 'dugem' yang tak lama kemudian digantikan dengan kata 'klabing'&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada orang mengatakan, "Lu beredar banget", itu kurang-lebih sama artinya dengan "Lu gaul banget". Kalau kau muncul di mana-mana, hadir di berbagai party di klab-klab yang sedang happening, mudah ditemui di pusat-pusat nongkrong Jakarta...maka kau gaul. Dan, itu artinya kau beredar. Kau selalu ada di acara-acara yang dibicarakan orang dan diberitakan media massa. Kau selalu mengisi ruang-ruang publik kota. Kalau kau belum pernah ke Senayan City, maka kau tidak gaul, kau tidak beredar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam subkultur tertentu, misalnya kaum homoseks, kata 'gaul' atau 'beredar' ini memiliki makna khusus. Bahwa, hampir setiap orang gay pastilah seorang yang gaul, pastilah beredar. Atau, dalam bahasa kaum gay sendiri, 'menter' (kedua e dalam kata itu dibaca seperti pada kata pete, cabe). Yakni, kecenderungan untuk selalu "pasang badan", menampaki orang-orang di sekitarnya dengan kehadirannya, yang ditandai dengan mobilitas yang tinggi. Ini termasuk kosa kata yang relatif baru, atau setidaknya, lagi-lagi, juga merupakan pengganti kata sebelumnya yang pernah ada. Menurut saya, kata 'menter' ini menggantikan apa yang dulu populer disebut TP alias tebar pesona. Kadang diucapkan TTP, kadang TP-TP sesuka mulut yang mengucapkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Menter' telah menjadi salah satu stereotip yang melekat pada para lelaki gay. Layaknya semua bentuk stereotip, ini bisa memberi kesan negatif, walau pun tentu saja ada benarnya. Stereotip bisa menjebak, mengaburkan pemahaman, tapi dengan penggunaan yang proporsional, sebaliknya, bisa menjadi bahan awal untuk mempelajari sebelum memahami lebih lanjut. Atau, lebih enaknya saya bilang saja begini: meskipun tidak semua, tapi kebanyakan laki-laki gay adalah individu yang tak pernah betah diam di rumah. Mereka selalu ingin beredar di ruang-ruang publik, bisa sendirian, dengan pasangannya, bisa juga bergabung atau berkumpul dengan teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dia anak sekolah atau kuliahan, jarang ada cerita usai sekolah/kuliah langsung pulang. Kalau dia sudah gawe, rasanya tidak afdol kalau pulang kantor langsung ke rumah atau kos-kosan. Tak pernah ada kata capek. Selalu ada energi untuk menter ke mall, nongkrong di gerai kopi atau melihat-lihat koleksi terbaru di galeri kaset atau toko buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam saya duduk di sebuah kedai kopi di Citos bersama, ehm, pacar saya. Tak lama kemudian, muncul satu rombongan kecil, yang dua orang di antaranya saya kenal -mereka mantan pasangan. Yang satu mahasiswa film di IKJ, dan satunya kuliah di UI. Mereka sama-sama cowok, tentunya. Setelah saling sapa, saya bertanya kepada si IKJ, cowok berbehel yang cantik, tinggi, ramping dan gemulai, "Dari mana?" Jawabannya mencengangkan saya. "Tadi dari kampus, trus ke Senayan City, trus ke PIM, trus ke sini deh." Benar-benar beredar banget!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116790281299967301?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116790281299967301/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116790281299967301' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116790281299967301'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116790281299967301'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/beredar.html' title='Beredar'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116773354314042618</id><published>2007-01-02T02:17:00.000-08:00</published><updated>2007-01-02T02:32:50.786-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>(Masih dalam suasana Tahun Baru, inilah salah satu novel yang bisa dijadikan rujukan bahan renungan karena di dalamnya tersirat pemikiran tentang hakikat perjalanan waktu)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Biografi Kehilangan&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Pastilah ada sesuatu di dunia ini yang lebih penting daripada kebenaran; ada sesuatu yang lebih penting ketimbang emosi; lebih penting ketimbang uang; lebih penting daripada hidup itu sendiri. Apakah sesuatu itu?&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Beijing Doll&lt;/em&gt; (penerjemah Ferina Permatasari, Banana Publishing, Jakarta, 2006) adalah sebuah pencarian seorang remaja perempuan terhadap sesuatu yang barangkali tak pernah ada. Chun Sue, penulisnya, tak pelak, adalah seorang nihilis, dan ia belajar dari Nietzsche yang pernah berkata, lebih baik aku mencari yang tidak ada daripada tidak mencari sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diangkat dari buku hariannya, novel ini menjadi catatan semi autobiografis atas perjalanan hidup Sue dari usia 14 tahun, ketika pertama kali keperawanannya hilang hingga usia 18, ketika ia memutuskan keluar dari sekolah untuk selamanya. Dituturkan dengan terbata-bata dan melompat-lompat, buku ini menjadi hidup karena dinafasi dengan filsafat dan puisi. Dengan getir Sue mengidentifikasikan dirinya sebagai “bunga yang mekar pada pagi hari dan mati pada malam yang sama” dan menjalani hari-harinya dengan “berpegang pada konsep yang eksistensial bahwa hidup adalah melakoni derita.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sue menyadari bahwa sifatnya yang sangat introvert membuatnya susah mengekspresikan diri. Bahkan ia merasa susah bersosialisasi. &lt;em&gt;Begitu sepi&lt;/em&gt;, katanya. &lt;em&gt;Tapi, itulah hidup&lt;/em&gt;. Pernyataan-pernyataan sederhana, pendek namun muram dan menusuk seperti ini bertebaran di sepanjang buku setebal 292 halaman ini dan membuat kita berkali-kali tak percaya bahwa itu ditulis oleh remaja 17 tahun. Rasa kesepian yang mencekam di usia yang begitu muda itu membuat segalanya terasa asing, dan pada akhirnya menjatuhkan Sue ke dalam sikap yang serba sinis terhadap kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baginya, menjadi remaja adalah “terperosok” dan membuatnya murung dan sensitif. Tak ada yang indah karena, &lt;em&gt;kapan pun aku sedang menikmati hidup bayarannya pasti mahal. Jadi, satu-satunya jalan untuk menghindari penderitaan adalah menjauhkan diri dari hal yang menyenangkan dalam hidup.&lt;/em&gt; Meskipun, itu berarti harus menangis karena, &lt;em&gt;aku akan pergi berkencan dan tidak punya baju baru dan tak punya sepatu yang pantas. Aku menangis karena gitar elektrik harganya di luar kemampuan kantongku.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Di tangan remaja 17 tahun ini, pemberontakan menjadi tema yang jauh lebih kompleks, lebih urban. Yang harus dilawan bukan hanya represi politik atau tatanan sosial, tapi juga kemiskinan yang menjengkelkan, dan individu-individu dengan idealisme palsu: sok beridentitas proletar tapi mental borjuis. Tak heran jika kemudian ia merasa satu gerbong dengan &lt;em&gt;setiap orang yang mencemooh kehidupan, yang memandang kehidupan seperti gundukan tahi, yang merasa bahwa hidup tidak punya arti dan tidak menawarkan apapun selain penderitaan berkepanjangan&lt;/em&gt;. Baginya, seperti itulah “orang yang berpikiran tajam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mau ditarik keluar, untuk tujuan pelabelan, bisa saja dikatakan dengan gagah bahwa Sue mewakili suara sebuah generasi baru yang sebaru-barunya (tepatnya yang lahir pada era 1980-an). Dan, jika klaim itu bisa dipegang, maka apa yang disuarakan Sue lewat novel ini pada dasarnya tiada beda dengan remaja lain yang kerap menulis tentang perasaan disalahpahami, tak dihargai dan kebosanan. Yang membedakannya secara telak adalah kejujurannya yang luar biasa dan kepolosannya yang bening.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika umumnya remaja seusianya menulis tentang gadis cantik-agak-tolol yang jatuh cinta pada anak teman papanya yang baru kembali dari sekolah di Paris, Sue menulis tentang darah di sprei yang menandai hilangnya kegadisan di usia 14 tahun. Dan, cewek itu bukan siapa-siapa melainkan dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi kebanyakan pembaca dewasa, novel ini barangkali hanya akan tampak tak lebih dari gerutuan seorang remaja narsis-liar: Meninggalkan sekolah dan lebih memilih untuk nongkrong dengan anak-anak band jalanan, lalu ML (berhubungan seks) dengan mereka. Namun, tidak mungkinkah kita menemukan “kebenaran” dalam sebuah gerutuan dan caci-maki kemarahan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh jadi novel ini sebenarnya tidak mewakili siapa pun dan generasi mana pun, seperti dilabelkan oleh penerbitnya maupun sementara kritikus. Lupakan pula fakta-fakta tentang kontroversi yang berujung pelarangannya di negeri asalnya, China. Tanpa embel-embel apapun, karya ini bagi saya telah mendekati sebuah memoar yang jernih tentang masa muda yang hilang, &lt;em&gt;karena mungkin memang tak pernah ada, karena tidak ada perbedaan yang dapat dilihat antara detik yang baru saja berlalu dengan detik yang segera bakal datang&lt;/em&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116773354314042618?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116773354314042618/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116773354314042618' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116773354314042618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116773354314042618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/masih-dalam-suasana-tahun-baru-inilah.html' title=''/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116772575252599590</id><published>2007-01-02T00:11:00.000-08:00</published><updated>2007-01-02T00:34:30.596-08:00</updated><title type='text'>Sama</title><content type='html'>Di mana kau melewatkan malam tahun baru? Dalam acara apa? Dengan siapa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak seorang pun ingin sendirian pada malam tahun baru. Tak seorang pun ingin diam dan tak berada di mana-mana pada malam menjelang pergantian tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman saya punya tamsil yang sangat bagus. Orang-orang mempersiapkan perayaan malam tahun baru "kayak ibu-ibu pejabat bingung dengan arisannya". Dasar teman saya itu gay (pastinya!), jadi bikin perumpaan saja memakai personifikasi ibu-ibu pejabat. Sebagian cowok gay memang suka mengindentifikasikan diri mereka sebagai perempuan, dan entah kenapa, banyak di antara mereka yang memilih ibu-ibu pejabat sebagai &lt;em&gt;role model&lt;/em&gt;. Menurut saya, ibu-ibu pejabat (maksudnya tentu saja para istri pejabat yang sudah 'ibu-ibu', dan bukannya ibu dari pejabat alias perempuan yang melahirkan pejabat) adalah protret paling karikatural dari kehendak manusia untuk berkuasa. Para istri pejabat itu, lebih-lebih di zaman Orba Baru, sering bersikap dan bertingkah jauh lebih berkuasa ketimbang suami mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkiraan saya, mengindetifikasikan diri dengan sosok ibu-ibu pejabat merupakan bagian dari kreativitas cowok-cowok gay yang memang cenderung selalu ingin melucu, sambil menertawakan dirinya sendiri berikut lingkungan sosial yang tak pernah kalis dari pretensi, arogansi dan hipokrisi yang memuakkan. Waduh, saya sendiri rupanya sedang berpretensi menjadi antropolog atau sosiolog UI yang kerap tampil sebagai komentator sosial dengan analisis-analisis yang kadang lebih glamor ketimbang realitasnya sendiri hihihi. Saya memang memuakkan. Jadi, lupakan saja analisis saya yang sok itu. Mendingan kita kembali ke &lt;em&gt;laptop&lt;/em&gt;-nya Thukul, eh maksudnya, kembali ke teman saya tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kagum dengan kata 'bingung' yang dia gunakan, yang menurut saya pas sekali melukiskan keadaan orang-orang kota berkenaan dengan perayaan tahun baru. Kata dia, "Mo pada senang-senang aja bingung." Dan, saya seolah disadarkan, iya ya kenapa setiap tahun baru tiba, orang-orang -termasuk saya tentunya- menyambutnya dengan kebingungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari sebelumnya saya sudah tanya sana-sini, tahun baruan ke mana? Salah seorang teman sudah punya acara: ia ambil cuti untuk pergi ke Yogya. Teman yang lain, seorang penulis skenario film yang sukses, mengajak saya ke kampung halaman saya sendiri, Solo. Gubrak, tiba-tiba saya jadi rindu pulang, tapi sesaat kemudian jadi sedih, karena saya tak ada rencana mudik berkenaan dengan libur tahun baru. Untunglah, kemudian teman-teman dari "genk ohlala" (kami biasa nongkrong sepanjang malam minggu di Kafe Ohlala, Djakarta Theater) mengajak saya gabung untuk melewatkan malam tahun baru bersama mereka. "Kita bakar-bakaran," kata Odi, yang akan menjadi tuan rumah. Saya heran, mengapa perayaan tahun baru, terutama yang digelar secara private dan bukannya di hotel-hotel, identik dengan acara bakar-bakaran?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika siang hari menjelang malam tahun baru saya menemani Odi belanja di Pasar Minggu, para pedagang menawari kami dengan kata-kata, "Mari, Mas...beli, Mas buat bakar-bakaran malam tahun baru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di lingkungan tempat tinggal saya, di kampung Karang Tengah, Lebak Bulus, tetangga-tetangga juga punya tradisi bakar-bakaran di malam tahun baru. Tentu yang dimaksud adalah bakar ikan, bakar daging, bakar jagung...dan bukannya bakar rumah. Dan, karena kebetulan malam tahun baru kali ini bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, maka acara bakar-bakaran memperoleh konkretisasinya: semua orang punya bahan untuk dibakar, dan kita saksikan, di mana-mana orang-orang merayakan malam tahun baru dengan bakar kambing. Ditambah, tentu saja, bakar petasan dan kembang api bagi yang suka, tepat pada pukul 00.00.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah Odi di Jalan Jerut Purut, Cilandak, menjelang pukul 00.00, kami bersepuluh menghadapi aneka masakan yang kami buat sejak sore. Semur kentang dan daging sapi buatan Odi, tumis buncis dan jagung muda buatan saya, soto ceker ayam buatan kami berdua, dan dua ekor ayam yang kami bakar rame-rame. Tapi, karena saya dan Odi merebusnya kelamaan, ketika dibakar ayamnya berantakan, sampai tulang-tulangnya lepas dari dagingnya ketika kami bolak-balik. Tapi, soal rasa jangan ditanya. Pakar kuliner Bondan Winarno pasti akan berkomentar: empuk sekali, bumbunya meresap sampai ke dalam. Kami juga membakar daging kambing (yang ini daging kurban yang dibawa salah satu di antara kami), serasa sedang membuat stik sirloin, tapi ketika dimakan keras sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang di antara kami berdoa lama sekali, memanjatkan harapan-harapan untuk tahun yang baru. Beberapa yang lain saling memberi ucapan selamat tahun baru sambil cium pipi kiri dan kanan. Saya tak mau banyak basai-basi dan langsung menciduk nasi. Jarum jam pun menggenapi detaknya untuk mencapai angka 12. Kami bersorak-sorai tanpa tiupan terompet. Di luar, anak-anak kampung menyalakan petasan dan kembang api. Beberapa di antara kami berlarian ke teras, menyaksikan bunga-bunga api meluncur menerangi udara yang gelap. Sesaat kemudian kami kembali ke piring-piring kami, melanjutkan santapan masing-masing sambil terus bercanda-canda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya merasa bahagia bahwa pada malam tahun baru tahun ini, saya berada di antara orang-orang yang dalam satu-dua tahun belakangan merupakan teman-teman terdekat saya. Tapi, setelah acara makan selesai, dan kami terduduk kekenyangan -dan kecapekan- di depan televisi, saya merasa dunia mendadak kembali sunyi. Malam pergantian tahun yang selalu kita persiapan dengan penuh kebingungan, ternyata lewat begitu cepat, sebelum akhirnya kita dapati diri kita masih berada di tempat yang sama, dengan rasa kesepian yang tak berkurang sedikit jua.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116772575252599590?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116772575252599590/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116772575252599590' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116772575252599590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116772575252599590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2007/01/sama.html' title='Sama'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116711915791117155</id><published>2006-12-25T23:38:00.000-08:00</published><updated>2006-12-25T23:45:58.536-08:00</updated><title type='text'>Bulan-bulanan</title><content type='html'>Anak-anak, hari ini pelajaran Bahasa Indonesia kita sampai pada bab tentang &lt;strong&gt;kata ulang&lt;/strong&gt;. Pada dasarnya, pengulangan kata dimaksudkan untuk memberi makna lain pada kata itu. Misalnya, kata &lt;em&gt;kucing&lt;/em&gt;, kalau diulang maknanya menjadi &lt;strong&gt;banyak kucing&lt;/strong&gt;. Tapi, di samping soal makna, kita juga mengenal adanya jenis-jenis kata ulang yang berbeda. Kembali ke contoh kucing tadi, kalau diulang menjadi &lt;em&gt;kucing-kucing&lt;/em&gt;, maka tergolong ke dalam jenis &lt;strong&gt;kata ulang penuh.&lt;/strong&gt; Jenis lainnya adalah &lt;strong&gt;kata ulang berimbuhan&lt;/strong&gt;. Misalnya, &lt;em&gt;kucing-kucingan&lt;/em&gt;. Maknanya menjadi lain, bukan &lt;strong&gt;banyak kucing&lt;/strong&gt; tapi bisa berati &lt;strong&gt;kucing mainan&lt;/strong&gt;, atau nama sebuah permainan anak-anak. Mungkinkah ada makna lain lagi? Mungkin saja, misalnya pada kalimat: &lt;em&gt;Polisi dan penjahat kucing-kucingan&lt;/em&gt;. Dengan kata lain, selain bermakna denotatif, kata ulang juga bisa bermakna konotatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, untuk latihan, coba buatlah kalimat dengan kata ulang berimbuhan dari kata dasar &lt;em&gt;bulan&lt;/em&gt;. Pertama, tentukan dulu kata ulangnya. Iya betul, &lt;em&gt;bulan-bulanan&lt;/em&gt;. Nah, sekarang masukkan kata itu ke dalam sebuah kalimat agar maknanya menjadi jelas. Mungkin di antara kalian nanti ada yang membuat kalimat seperti ini: &lt;em&gt;Adikku gemar membuat bulan-bulanan dari bola plastik yang digantungkan di langit-langit kamar&lt;/em&gt;. Dalam kalimat itu, apa makna bulan-bulanan? Iya betul, artinya &lt;strong&gt;bulan mainan&lt;/strong&gt; atau sesuatu yang dianggap mirip bulan. Tapi, mungkin juga di antara kalian ada yang membuat kalimat seperti ini: &lt;em&gt;Kaum gay dan lesbian sering menjadi bulan-bulanan sinetron bertema reliji di televisi.&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;Dalam kalimat tersebut, makna bulan-bulanan tentu saja berbeda dari kalimat pertama tadi. Sebelumnya, ada yang tahu, kata &lt;em&gt;bulan-bulanan&lt;/em&gt; dalam kalimat itu bermakna denotatif atau konotatif? Iya, betul sekali. Setelah mengetahui sifat maknanya, sekarang siapa yang tahu apa yang dimaksud dengan kata tersebut? Saya mendengar sayup-sayup di belakang ada yang menjawab: &lt;strong&gt;menjadi bahan olok-olokan&lt;/strong&gt;. Ya, itu bisa, ditampung dulu jawabannya. Ada yang berpendapat lain? Barusan dari sudut sana saya mendengar ada yang berbisik-bisik, menyebutkan bahwa bulan-bulanan dalam kalimat itu artinya &lt;strong&gt;dipermainkan&lt;/strong&gt;. Jawaban yang bagus. Baiklah, dari dua jawaban tadi, kita sudah cukup mendapat gambaran tentang makna kata ulang berimbuhan bulan-bulanan dalam kalimat tersebut. Lalu, setelah kita tahu maknanya, apa implikasi atau akibat lebih jauh dari itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kaum gay dan lesbian menjadi bahan olok-olokan atau dipermainkan oleh sinetron bertema relijius yang belakangan marak di televisi, maka kita bisa mengatakan bahwa para pembuat sinetron itu seperti anak-anak yang mendapatkan mainan baru. Di mana, mainan baru itu demikian besar memberi kegembiraan kepada mereka sehingga kita bisa melihat betapa seringnya mereka mengangkat cerita tentang hukuman atau kutukan berupa malapetaka yang menimpa seorang gay atau lesbian. Umumnya kita saksikan malapetaka itu berujung pada kematian. Penyebabnya bisa macam-macam, kadang penyakit HIV/AIDS, kadang siksaan dari orangtua si gay atau lesbian itu sendiri. Yang jelas, pesan moral dari semua itu tegas bahwa Tuhan membenci kaum gay dan lesbian. Dengan pesan yang ingin ditanamkan kepada penonton semacam itu, maka kegembiraan macam apa sebenarnya yang kemudian didapat oleh para pembuat sinetron yang diklaim sebagai tayangan relijius itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pula yang didapat oleh penonton jika pesan tadi kemudian benar-benar tertanam di benak mereka? Mungkin, sebagian dari penonton yang kritis lama-lama akan tertegun dan berpikir: Seandainya Tuhan bisa dilihat, pasti akan tampak menyedihkan karena dia membenci makluk ciptaannya sendiri. Tapi, menurut saya, lebih banyak yang menelan mentah-mentah tontonan yang menjadikan kaum gay dan lesbian sebagai bulan-bulanan itu, tanpa mengunyahnya dan langsung memasukkannya ke dalam otak sebagai semacam indoktrinasi yang membenarkan atau memperkuat "kebenaran" yang sebelumnya telah mereka yakini. Bahwa, kaum gay dan lesbian memang makluk yang terkutuk. Mereka layak mati dengan menggenaskan, kalau perlu dari mulutnya keluar darah, atau sekujur tubuhnya dirubung belatung, entah apapun sebabnya dan tak peduli bagaimana logikanya bisa seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka -sebagian besar penonton itu- lama-lama akan lupa bahwa siapun kaum gay dan lesbian itu, mereka tak pernah merugikan siapa-siapa, tak pernah meminta ongkos sosial apa-apa, tidak seperti kaum koruptor yang jelas-jelas merongrong keuangan negara dan merugikan sebesar-besar usaha memakmurkan rakyat. Mereka lama-lama juga akan lupa bahwa gay dan lesbian itu manusia biasa saja, tak ubahnya seperti diri mereka, yang sehari-hari hidup saling berdampingan dalam pergaulan sosial; beribadah di satu masjid atau gereja dengan mereka, atau bahkan tetangga terdekat mereka, guru ngaji anak-anak mereka, anak buah yang paling potensial di kantor, atau bahkan mungkin anak kandung mereka sendiri! Hingga pada suatu titik, tanpa mereka sadari, para gay dan lesbian yang terkutuk di sinetron reliji itu telah membuat mereka hidup dalam dunia pelarian, sebuah dunia di mana mereka menjadi orang-orang yang lebih suci, lebih tidak berdosa, lebih berhak masuk surga, karena segala kutuk dan siksa hanya untuk para gay dan lesbian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang kita tahu, mengapa sinetron seperti itu terus dibuat, dengan cerita yang sebenarnya sama, hanya nama-nama tokoh dan latar yang berbeda. Tak lain dan tak bukan, karena hampir semua manusia penghuni negeri ini sudah sedemikian frustrasi dengan berbagai persoalan dan krisis yang membelit mereka sehingga harus ada satu kelompok yang secara kolektif diangkat dan diabadikan sebagai simbol keburukan, agar kelompok lain -mereka sendiri- bisa merasa lebih baik. Nah, anak-anak, sekian dulu pembahasan mengenai kata ulang. Maaf kalau dari contoh kalimat yang menggunakan kata ulang &lt;em&gt;bulan-bulanan&lt;/em&gt; tadi, saya jadi bicara ke mana-mana, berpanjang lebar, dan agak emosional. Selamat siang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116711915791117155?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116711915791117155/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116711915791117155' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116711915791117155'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116711915791117155'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/bulan-bulanan.html' title='Bulan-bulanan'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116677136634959287</id><published>2006-12-21T22:56:00.000-08:00</published><updated>2006-12-21T23:38:54.536-08:00</updated><title type='text'>Tahi FFI</title><content type='html'>Waktu Jiffest kemarin, saya duduk bersebelahan dengan seorang anak SMP ketika nonton film &lt;i&gt;Foto Kotak dan Jendela&lt;/i&gt;. Saya gembira ketemu anak sebelia itu yang sangat fasih ngobrol soal film Indonesia. Dia mengaku film favoritnya sampai sekarang adalah &lt;i&gt;Catatan Akhir Sekolah&lt;/i&gt;. "Kalau &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; gimana?" saya mencoba memancing karena tiba-tiba teringat bahwa film tersebut belakangan menghebohkan milis Dunia-Film karena masuk nominasi film terbaik FFI 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ih, enggak banget. Masak ampe digantung-gantung gitu. Lagian, cuman ngatasin anak SMU gitu aja polisinya ampe sebanyak itu, yang bener aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Anda sudah menonton &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt;, Anda paham komentar anak SMP tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semalam, peraih Anugerah Piala Citra FFI 2006 diumumkan. Saya tidak tahu apakah anak SMP yang saya ceritakan itu menonton siaran langsungnya di Indosiar. Dan, kalau menonton, pasti menarik mendengar komentarnya. Tapi, komentar pertama yang saya dapat datang dari seorang teman yang saya kenal sebagai penonton film Indonesia yang getol. Dia bilang lewat SMS: &lt;i&gt;All thats winner should be surprising. Anyone but Eric Sasono, of course.&lt;/i&gt;" Dia menyebut nama pememang kritikus terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini, saya langsung buka milis Dunia-Film begitu sampai di kantor. Saya berharap sudah ada komentar yang masuk mengenai FFI 2006. Benar saja.&lt;br /&gt;Kementerian Desain RI yang dipimpin Aditya Mulya mem-posting pernyataan "turut berduka cita atas kemenangan film terbaik FFI 2006".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena nyaris tak ada tanggapan yang berarti, saya pun pindah dan membuka &lt;a href="http://www.layaperak.com"&gt;www.layaperak.com&lt;/a&gt; untuk melihat kembali rewiew saya atas film &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; yang saya tulis kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di luar dugaan, saya menemukan pernyataan duka cita juga "atas pilihan para juri untuk film terbaik di FFI 2006. Dukung perfilman Indonesia, bersihkan dari segelintir pion-pion oportunis. FFI hanya sebuah Extra Kurikuler."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kemudian memasang status di YM saya, yang mengungkapkan sikap saya atas FFI 2006. Saya berharap ada teman yang tergelitik untuk mengomentarinya. &lt;i&gt;Feedback&lt;/i&gt; pertama saya dapat dari mantan kolega saya di detikcom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut gw mas, ekskul itu kan keluaran indika, taun lalu kan indika ngamuk2 tuh karena &lt;i&gt;detik terakhir&lt;/i&gt; ngga menang, mungkin jurinya gini kali "udah, jangan marah, taun depan gw menangin deh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya yang kuper ini pun dengan naif bertanya, "Bos indika siapa? Orang berpengaruh gak?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya laah, Shanker gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menyambung, "Multivision dapet buat &lt;i&gt;heart&lt;/i&gt;, Alenie dapet buat denias, indika dapet best picture, "udeh, adil &lt;i&gt;yeee&lt;/i&gt;, jangan pada protes lagi, udah rata neh," ujar salah seorang juri FFI yang enggan disebut namanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para juri dan Ketua parfi dapet amplop," tambah saya.&lt;br /&gt;"Amplop ngga muat kali mas, brankas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, teman saya yang lain, editor sebuah majalah (gratisan) film mengomentari status YM saya, "FFI udah gila mu. Jurinya buta kali ye. udah berbagi suami gak masuk, eh yang memang malah &lt;i&gt;ekskul&lt;/i&gt;. Kalau mereka mau gembosin &lt;i&gt;Berbagi Suami&lt;/i&gt; karena isu poligami dengan &lt;i&gt;Denias&lt;/i&gt; sih gue masih bisa "terima" deh, tp Eskul gitu lhoooo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah kehabisan kata-kata. Tiba-tiba teman saya yang lain lagi nyelonong dengan messege: ada FFI to? baru denger! Untuk pertama kalinya sejak semalam, saya bisa tertawa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak bisa brosing untuk menemukan artikel saya di laparperak karena halamannya diganti dengan pernyataan duka cita itu. Akhirnya saya search di google dan saya temukan. Ini dia review saya kala itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekskul: Ilham dari Colorado&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di zaman “Ari Hanggara” dulu, klaim “berdasarkan kisah nyata” yang ditempelkan pada sebuah film sudah cukup menjadi daya tarik dan daya jual yang kuat. Namun, jika sampai pada zaman Tengku Firmasyah-bikin-film sekarang ini, masih ada produser yang jualan filmnya dengan mengandalkan stempel “diilhami kejadian nyata”, sumpah, itu sesuatu yang norak. Dan, Anda tahu, kejadian nyata apa yang telah mengilhami film &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; karya Nayato Fio Nuala? Saya nyaris terjengkang dari tempat duduk dan nyungsep di kolong beberapa menit setelah film berjalan, dan mulai tahu bahwa kejadian itu tak lain penembakan di SMU Columbine, Colorado, AS pada 1998 yang telah difilmkan oleh Gus Van Sant.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu saya tidak akan menghina Pak Van Sant dengan membandingkan Elephant  dengan &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt;. Dan, meskipun diilhami oleh kejadian yang sama, keduanya jelas tidak bisa dibandingkan karena memang sangat tidak sebanding. Film &lt;i&gt;Elephant&lt;/i&gt; yang memenangi Palem Emas Cannes (tahun berapa ya?) tidak diembel-embeli “based on true event” tapi sungguh terasa begitu nyata. Sedangkan &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; tak ubahnya omong kosong belaka. Elephant film yang sangat dingin dan nyaris tak bercerita apa-apa, tapi membuat kita berdecak-decak kagum. Sedangkan…ah, sudahlah, saya tak mau bilang bahwa Ekskul film yang sangat gegap-gempita dan banyak bercerita, tapi tak memberi kita apa-apa, tak meninggalkan kesan apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Joshua (Ramon Y Tungka) dikisahkan sebagai remaja yang tertekan baik di sekolah maupun di rumah. Sebagai pelampiasan, ia menyandera enam teman sekolahnya dengan pistol. Kejadian itu mendapat liputan besar-besaran dari media massa dan polisi pun turun tangan. Sepanjang adegan penyanderaan itu, penonton beberapa kali diajak mengilas balik, menelusi penyebab Joshua bisa melakukan tindakan nekat yang cenderung kriminal itu. Namun, sejak adegan kilas balik pertama ditampilkan, saya jadi tahu bahwa teknik ini sengaja dipilih agar segalanya menjadi gampang. Misalnya begini. Untuk meyakinkan penonton bahwa Joshua mengalami tekanan di sekolahnya, cukup dengan menampilkan adegan kilas yang menggambarkan ia tiba-tiba disambangi tiga seniornya, lalu diangkat ramai-ramai dan digantung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk meyakinkan penonton bahwa di sekolah Joshua selalu menjadi bahan hinaan, maka ditampilkanlah kilas balik singkat di mana ia dikerubuti siswa satu sekolah yang semuanya sedang tertawa. Lalu, untuk meyakinkan penonton bahwa Joshua juga mengalami tekanan dalam keluarga, ini dia salah satu yang digambarkan dalam adegan kilas baliknya: ketika makan malam bersama papa dan mamanya, Joshua hendak buru-buru meninggalkan meja makan, tapi papanya membentak keras dan garang meminta dia untuk menghabiskan dulu makanannya. Joshua bilang tidak lapar. Sang Papa makin meradang dan menampar anaknya. Penonton pun mengangguk-angguk paham: O, jadi cuma soal anak yang susah makan toh, kenapa nggak disuruh minum vitamin penambah nafsu makan saja. Masak, gitu aja kok merasa tertekan, lalu secara sembunyi-sembunyi membeli pistol dan menyandera teman sekolahnya. Plis deh, Josh!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duapuluh lima juta pelajar di Indonesia menunggu film ini, demikian &lt;i&gt;Ekskul&lt;/i&gt; mengklaim. Jika ini benar, berapa dari jumlah itu yang akan bisa dibuat percaya bahwa Joshua memang anak yang bermasalah sangat berat? Bahwa ia, seperti pengakuannya sendiri, sakit (jiwa)? Dua kali adegan percakapan Joshua dengan seorang psikiater sama sekali tak memberi kita informasi apa-apa tentang sakit jiwanya Joshua. Dan, semua dialog yang terhampar dalam film ini juga sama sekali tak menjelaskan apa-apa tentang Joshua, selain perdebatan-perdebatan yang tidak bermutu. Simak percakapan Joshua dengan guru BP. Sang Guru mempersoalkan Joshua yang ke sekolah membawa pisau. Menurut guru BP, pisau itu senjata. Tapi, sampai diulang dua kali, Joshua ngotot bahwa pisau bukan senjata. Pak Penulis Skenario, pernah nonton tayangan Fokus, Buser dan sejenisnya nggak sih? Dalam acara-acara itu, “sajam” termasuk kata yang paling sering disebut, dan kata itu kependekan dari “senjata tajam”, yang di dalamnya termasuk pisau. Plis deh, Pak bikin tokoh yang agak pinter dikit napa, biar kalau ada adegan berdebat tidak membuat penonton seperti habis digebuki saking capeknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tampak bodoh, Joshua tak lebih dari karakter yang dibikin sok-aneh. Sakit(jiwa)nya Joshua misalnya, hanya diterjemahkan dengan perilakunya mencuri kalung, lipstik dan kaos kaki dari loker cewek yang disukainya. Dan, tokoh-tokoh lainnya pun tak kalah menyedihkan. Saya melihat banyak karakter yang seolah-olah tersesat di film ini, sebab mestinya mereka ada di dalam sinetron, misalnya tokoh kepala sekolah, beberapa teman sekolah Joshua yang tampil sepintas-sepintas lalu, dan kedua orangtua Joshua. Bahkan, dalam sinetron pun saya sudah tak pernah lagi mendengar ada tokoh yang berdialog dengan kalimat “dasar anak tak tahu diuntung”, seperti yang diucapkan oleh mama Joshua. Puncak dari ketakjelasan karakterisasi dalam Ekskul ada pada salah satu tokoh perempuan teman sekolah Joshua. Dia di kisahkan selalu mengikuti Joshua dan merasa punya kesamaan kejiwaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, ternyata oh ternyata, dia ini anak dari kapten polisi yang memimpin operasi pembebasan sandera Joshua. Tapi, semua itu tak ada artinya karena tokoh tersebut ternyata tak punya peran apapun sampai akhir cerita, selain ditampilkan sekali-sekali, dibikin-bikin sok misterius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari awal sampai akhir, gerak kamera menghasilkan gambar-gambar yang membuat mata sakit. Setiap adegan ditampilkan dalam pencahayaan yang gelap, seolah-olah orang-orang dalam film ini hidup di sebuah kota yang harinya selalu malam. Persis seperti yang terlihat dalam garapan pertama Nayato, “The Soul” (2003). Ilustasi musik tak banyak membantu. Pada adegan yang maunya menegangkan, musiknya terasa sangat berisik, dan pada adegan yang maunya sedih, musiknya terkesan bombastis. Pendek kata, film ini membosankan, dengan klimaks pada adegan ketika Joshua akhirnya mau bicara dengan papa dan mamanya lewat HT. Joshua menangis-nangis, demikian pula papa dan mamanya sehingga sebagian dari apa yang mereka bicarakan tak tertangkap dengan jelas. Satu-satunya yang membuat saya betah bertahan menonton film ini sampai akhir adalah pemeran salah satu dari tiga cowok yang disandera Joshua yang tampangnya lucu banget.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116677136634959287?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116677136634959287/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116677136634959287' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116677136634959287'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116677136634959287'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/tahi-ffi.html' title='Tahi FFI'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116591201449005219</id><published>2006-12-12T00:24:00.000-08:00</published><updated>2006-12-12T00:26:54.786-08:00</updated><title type='text'>Tapi, Saya Bukan Gay lho, Mas!</title><content type='html'>Seorang lelaki berusia 18 tahun menyeruak kerumunan orang-orang yang baru saja membubarkan diri dari sebuah acara peluncuran buku dan diskusi bertema homoseksualitas dalam masyakarat urban, di tengah-tengah perhelatan Q Film Festival 2006 yang diadakan oleh Qmunity, September lalu. Seperti seekor kucing yang dicengkiwing lalu dilemparkan, tiba-tiba makblek dia sudah berada di hadapan saya dan mengagetkan saya dengan memperkenalkan diri tanpa basi-basi. Namanya Gandri, baru lulus SMU di Lampung, dan ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah. Dia tahu nama saya, dan menyodorkan buku Rahasia Bulan, kumpulan cerpen gay dan lesbian yang saya editori setahun lalu. Dia minta saya menandatangai buku itu tepat pada halaman yang memuat cerpen saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menyaksikan saya melakukan permintaannya itu, dia nyerocos seperti popocorn tumpah. Banyak hal yang dia utarakan, saya tidak bisa mengingatnya satu per satu, selain juga tak semuanya penting diungkapkan kembali di sini. Tapi, antara lain, dia mengatakan ingin sekali bergabung dengan Qmunity dan bertanya bagaimana caranya kalau ingin ikut menjadi volunteer Q Film Festival tahun depan. Saya belum sempat menjawab apa-apa ketika dia sudah lebih dulu buru-buru mengimbuhi rentetan kalimatnya dengan penegaskan, "Tapi, saya bukan gay lho, Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkat pernyataan itu, untuk pertama kalinya saya benar-benar memperhatikan wajah anak muda itu sejak dia ada di depan saya beberapa menit yang lalu. Dalam hati saya terheran-heran, mengapa ia merasa perlu membuat penjelasan seperti itu? Qmunity sendiri meskipun kegiatan utamanya menggelar festival film gay dan lesbian, tak pernah sekalipun mengklaim sebagai organisasi gay. Anggota dan orang-orang yang terlibat di dalamnya juga tidak semuanya gay. Saya berpikir, pastilah dia tidak tahu hal itu. Dia pikir, ikut atau terlibat dengan kegiatan Qmunity akan langsung dicap sebagai gay, dan karena dia "bukan gay" maka dia tidak mau hal itu terjadi. Dia takut kena stigma, kalau istilah teman saya. Tapi, kalau memang benar begitu, kenapa juga dia begitu ngotot dan antusias ingin bergabung dengan Qmunity?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia wanti-wanti agar saya mengabarinya kalau Qmunity mengadakan acara lagi. Tapi, entahlah, saya kok merasa langsung tidak begitu respek gara-gara pernyataan dia yang menegaskan identitas seksualnya tadi. Saya merasa, kalau kau straight, kau tak perlu membuat penegasan yang menjelaskan itu. Sebelum berpisah, anak muda itu memberi saya prin out tiga cerpen karyanya, meminta saya membaca dan mengomentarinya. "Salah satu cerpen saya itu temanya gay lho, Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kira-kira sebulan kemudian, saya secara tak sengaja bertemu Gandri lagi di acara Tadarus Puisi di TIM. Bersama-sama dengan para penulis, kami nongkrong di depan TIM usai acara, sampai jauh malam. Seperti biasa, dia banyak sekali bicara, bertanya ini-itu soal dunia tulis-menulis dan lagi-lagi ia menunjukkan rasa penasarannya yang besar pada Qmunity. Hari-hari setelah pertemuan kedua yang tak disengaja itu, tak saya sangka, saya agak direpotkan oleh anak muda itu. Dia berkali-kali SMS saya, biasanya di akhir pekan, mengajak ketemu saya di TIM. Dia melakukan hal yang sama kepada temen-temen saya, para penulis beken itu. Saya bukan penulis, apalagi beken. Tapi, Gandri tetap getol mengajak saya ketemuan dengan alasan untuk berdiskusi tentang proses kreatif. Tak pernah lupa, ia selalu mengembel-embeli SMS-nya dengan, "Ajak teman-teman Qmunity ya, Mas." Saya tak paham dengan gaya sok-akrab dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena memang belum ada kesempatan, saya tak kunjung bisa memenuhi permintaannya, dan lama-lama karena mulai agak terganggu, bahkan saya tak membalas SMS-nya. Hingga suatu hari, datang lagi SMS dari dia, kali ini dengan nada yang agak berbeda. Tetap dengan alasan ingin belajar menulis dan berdiskusi tentang proses kreatif, kali ini ditambahi dengan "ingin curhat, karena sedang krisis identitas". Serta merta saya langsung teringat kembali pernyataan dia kala itu, yang menegaskan bahwa dia bukan gay. Saya pun dengan menyederhakana langsung menyimpulkan bahwa dia memang gay. Lagi-lagi semata karena memang belum ada kesempatan saya tak memenuhi permintaan ketemuan itu. Saya baru bisa menemuinya ketika KineForum - TIM menggelar program film-film bertema Ruang dan Pertikaian di Dalamnya. Saya ingin menonton (lagi) film Impian Kemarau yang diputar, dan saya pikir, kenapa tidak sekalian mengajak Gandri ketemu. Dia langsung menyambut ajakan saya. Begitulah, akhirnya kami ketemu lagi. Usai nonton saya ajak dia ngobrol di salah satu kedai tenda yang berderet-deret di kompleks TIM.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal pembicaraan dia bilang dia sedang menyusun kumpulan cerpen serupa Rahasia Bulan, tapi tulisan dia sendiri -bukan mengumpulkan karya-karya penulis lain. Dengan kata lain, dia sedang menyusun buku kumpulan cerpen bertema gay dan lesbian. Kenapa tertarik tema itu, pancing saya. Mungkin itu pelampiasan dari kebingungan saya pada identitas seksual saya. Dia menghindar untuk berbicara terus-terang, dan kemudian mengalihkannya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang mengirim naskah ke penerbit. Ketika saya kembali berusaha mendedak soal kebingungan identitas tadi, dia tetap bicara muter-muter, tapi intinya, dia merasa dirinya punya ketertarikan dengan sesama laki-laki. Dan, itu sebenarnya sudah sata tebak sejak pertama kali dia bilang. "Tapi, saya bukan gay lho, Mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami melanjutkan obrolan di emperan Graha Bhakti Budaya, dan dia mulai makin terbuka. "Mas, salah satu volunteer Slingshort yang orangnya gini gini gini itu anak Qmunity bukan?" Slingshort itu festival film pendek yang baru saja digelar di Jakarta, yang para volunteer-nya sebagian besar dari Qmunity.&lt;br /&gt;"Wah, yang mana ya? Siapa namanya? Cowok apa cewek?"&lt;br /&gt;"Cowok, waktu itu sempet ngobrol tapi saya lupa tanya namanya."&lt;br /&gt;Dia kembali menjelaskan ciri-ciri orang yang dimaksud, tapi saya tetap tak berhasil mengidentifikasi.&lt;br /&gt;"Memangnya kenapa?"&lt;br /&gt;"Aku suka sama dia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gubrak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita belum selesai&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari setelah itu, saya bertemu dengan seorang teman, gay, dan terbilang senior dari segi umur dan tentu saja pengalaman. Tiba-tiba saya punya ide menjodohkan Gandri yang masih terbingung-bingung dengan identitas(seksual)-nya itu dengan temen saya yang selalu mengeluh "nggak laku" dan setiap ketemu saya selalu menodong minta dikenalin dengan seseorang --karena di mata dia saya itu banyak kenalannya padahal tidak juga. Ya sudah, saya kasih nomer telepon Gandri dan saat itu juga teman saya si gay senior itu dengan bersemangat menelponnya. Saya sempat khawatir, jangan-jangan nanti Gandri marah karean saya lancang memberikan nomer HP dia ke orang tanpa izin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar teman saya ngobrol di telpon sama Gandri dan saya lega, ternyata tak ada tanda-tanda kemarahan dari anak itu. Saya bahkan mendapat kesan, Gandri seperti orang "kegatelan" merespon telepon teman saya. Mereka janjian ketemu dan lain-lain dan begitu menutup telepon, teman saya mengaku ilfill. "Belum-belum kok sudah gitu sih, Mu?"&lt;br /&gt;"Gitu gimana?"&lt;br /&gt;"Masak dia tanya ntar kalau jadian gue yang pindah ke kontrakan dia apa dia yang pindah ke kontrakan gue."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terhenyak. Untuk ukuran gay-bingung macam Gandri, obrolan seteknis itu terasa mengejutkan. Saya kembali terheran-heran. Seseorang yang pada awal mengaku bukan gay, lalu curhat dengan malu-malu mengaku soal kebingungan akan identitasnya, kok dengan cepat mengubah perilakunya menjadi ekstremnya. Saya tidak sedang menilai buruk atau negafif tentang teman baru saya itu. Saya justru menemukan satu fakta lagi yang mendukung keyakinan selama ini bahwa kebingungan akan identitas seksual itu bukan sesuatu yang mengada-ada. Gandri bahkan bukan kasus yang cukup "parah" karena ia masih muda. Saya tahu, ada orang-orang yang sudah terlalu tua untuk bingung, tapi kenyataan benar-benar masih bingung dengan identitas seksualnya. Bahkan seumur hidupnya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116591201449005219?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116591201449005219/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116591201449005219' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116591201449005219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116591201449005219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/tapi-saya-bukan-gay-lho-mas.html' title='Tapi, Saya Bukan Gay lho, Mas!'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116581955228409676</id><published>2006-12-10T22:44:00.000-08:00</published><updated>2006-12-10T22:45:52.366-08:00</updated><title type='text'>Hampa</title><content type='html'>cinta begitu fana&lt;br /&gt;kesetiaan begitu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sia-sia&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116581955228409676?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116581955228409676/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116581955228409676' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116581955228409676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116581955228409676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/hampa.html' title='Hampa'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116581837272296228</id><published>2006-12-10T22:25:00.000-08:00</published><updated>2006-12-10T22:27:18.866-08:00</updated><title type='text'>Pesan Pendek Setelah Putus Cinta</title><content type='html'>&lt;em&gt;everything have an end&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;manusiawi sekali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pesan Pendek Setelah Putus Cinta&lt;/strong&gt; (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;selamat!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116581837272296228?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116581837272296228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116581837272296228' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116581837272296228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116581837272296228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/pesan-pendek-setelah-putus-cinta.html' title='Pesan Pendek Setelah Putus Cinta'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116539735023417332</id><published>2006-12-06T01:26:00.000-08:00</published><updated>2006-12-06T01:29:10.420-08:00</updated><title type='text'>Surat</title><content type='html'>Mas/mbak,&lt;br /&gt;Salam Sejahtera&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Uraian pemikiran anda sungguh teratur. Bahasa yang anda gunakan sangat indah, hingga anda menempatkan diri seakan akan anda adalah teh Nini (alinea 6 dan 7). Sudahkah anda menginterview teh Nini personally (supaya mendapatkan jawaban terjujur si teteh). Saya masih merasakan ada kekurangan anda dalam tulisan ini. "Pisau bedah" yang anda gunakan masih bersifat subyektif. Yang paling baik adalah, coba masuk ke kepala dan tubuh Aa Gym. Pertimbangan apa sebenarnya yg membuat dia menikah lagi ? Saya yakin, umur Aa Gym dan pengalaman dia sebagai da'i (terlepas dari pandangan anda yg menilai dia hanya fiksi Islami)pasti ada sedikit banyak berfikir risk and gain serta satu-dua ayat2 hukum tentang penalty Tuhan terhadap mereka yg berbuat zhalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada berita hangat ttg pernikahan (bukan perzinahan) ke-2 Aa Gym, saya melihat banyak dari kita terseret pada objek yang membingungkan, pernikahan ke2 itu sendiri atau siapa si mempelai perempuannya. Apakah reaksi akan tetap didapat Aa Gym jika beliau menikahi seorang janda dari pelosok tanah Atjeh yang berumur 60 tahun, cacat fisik, yang hidup dalam tempat penampungan pengungsi korban Tsunami, misalnya ?&lt;br /&gt;Bagaimana mas/mbak? Dapatkah anda menulis yang lebih objektif ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menikmati tulisan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakcik Ahmad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- penuhi hatiku dengan-MU&lt;br /&gt;&lt;a href="http://pakcik-ahmad.net" target="_blank"&gt;http://pakcik-ahmad.net&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;http:&lt;a href="http://pakcikahmad.multiply.com/" target="_blank"&gt; pakcikahmad.multiply.com&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116539735023417332?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116539735023417332/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116539735023417332' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116539735023417332'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116539735023417332'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/surat.html' title='Surat'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116530946198044402</id><published>2006-12-05T00:53:00.000-08:00</published><updated>2006-12-05T01:04:22.090-08:00</updated><title type='text'>Manajemen Syahwat</title><content type='html'>Bangsa ini ternyata lebih membutuhkan manajemen syahwat ketimbang manajemen hati. Aa Gym adalah sebuah ironi sekaligus kesalahan besar yang baru tersadari hari-hari ini dan harus ditanggung renteng oleh bangsa keledai ini: ya masyarakat yang memujanya, ya media massa yang mengangkatnya. Ini memang watak &lt;em&gt;ndablek&lt;/em&gt; dan membingungkan dari fenomena idola: kita tak pernah benar-benar tahu siapa dia karena dia yang kita kagumi tak lebih dari sekumpulan citra yang dibentuk oleh koran dan televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tak pernah tahu makna airmata seorang artis yang baru saja cerai dari suaminya dan sedang berusaha mendapatkan hak asuh atas anak mereka. Demikian pula, kita sebenarnya tak pernah bisa dan boleh benar-benar percaya jika ada seorang ustad muda tampil dengan tutur kata yang begitu lembut, pembawaan yang serba tenang dan kearifan yang menembus batas perbedaan agama. Karena media massa tak pernah bertanggung jawab dengan segala yang telah dan pernah mereka lahirkan. Dia bisa siapa saja, namanya bisa Aa Gym atau yang lain, tapi hanya satu yang menjelaskan kenapa media massa memilih dia: karena dia layak dan laku dijual, karena dia bisa jadi alat untuk mendongkrak &lt;em&gt;rating&lt;/em&gt; dan mendulang uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak awal, bagi saya, Aa Gym adalah sebuah kebetulan. Sebagaimana Arifin Ilham, Jefry al Bukhori dan ustad-ustad muda lain anak emas televisi. Tak ada yang istimewa pada mereka selain ilusi yang tiap hari terus-menerus dibentuk dan dijejalkan kepada masyarakat. Televisi bisa "menutup matanya" lalu secara acak men-&lt;em&gt;cengkiwing&lt;/em&gt; seseorang bernama Klowor, didandani sedemikian rupa dan tampilkan tiap hari lewat berbagai acara. Dalam waktu singkat dia bisa terkenal, punya nama besar dan jadi idola yang dikangeni, dikagumi dan dipuja-puja bangsa. Oleh karenanya, saya tak pernah mengidolakan siapapun sejauh dia makluk yang lahir dan besar oleh televisi. Saya juga tak pernah mengidolakan Aa Gym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi, saya cukup rajin mengikuti acara-acara dia di televisi karena "tertarik" dan "pengen tahu", seperti dilakukan juga oleh ayah saya. Bukan hanya non-muslim, ayah saya punya trauma politis terhadap segala sesuatu yang berbau Islam, tapi dia dengan objektif memuji Aa Gym sebagai tokoh yang menyejukkan (tentu saja dalam perbandingan dengan orang-orang Islam lain yang ditokohkan dan gemar teriak-teriak mengkafirkan orang sambil merusak tempat-tempat hiburan malam). Dan, jujur, saya bisa begitu terlena dan menikmati gaya tutur Aa Gym yang santun, rendah hari dan tak jarang lucu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hadirin &lt;em&gt;teh &lt;/em&gt;setuju tidak..." itu salah satu ungkapan khas dia yang selalu terngiang di telinga saya, dan kalau ingat itu, saya bisa tersenyum-senyum sendiri. Dan, pada saat tampil bersama dengan istrinya, saya selalu menunggu bagian ketika Aa Gym berkata, "Kalau menurut mama gimana?" O, anggunya, o, mesranya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tersiar kabar bahwa Aa Gym menikah lagi, pikiran yang segera menclok ke kepala saya adalah, apakah Aa Gym bertanya dulu pada istri(pertama)nya dengan kesabaran yang sama: menurut mama gimana? Saya membayangkan, si istri yang alim pastilah tak bisa berkata lain kecuali setuju, tapi dalam hati menangis sejadi-jadinya. Banyak perempuan di luar sana, saya kira, juga menangis untuk alasan yang sama: idola kita yang lembut itu ternyata bisa juga melukai hati orang. Dan, tiba-tiba kita pun mendapat pemahaman baru tentang segala yang pernah dia katakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia yang menganjurkan "mulailah dari diri sendiri", ternyata telah memulai sebuah tindakan yang menyakiti hati semua perempuan. Dia yang pernah mengecam film &lt;em&gt;Buruan Cium Gue&lt;/em&gt; dan menyindirnya sebagai seruan untuk berzina, ternyata kini mencontohi "umat"-nya untuk buruan kawin lagi. Persis buku-buku fiksi Islam karya penulis-penulis muda yang dengan gagah menyuarakan ajakan moral untuk menikah dini. Rejeki? Ah, sebatang rumput pun diurus kok oleh Tuhan, apalagi manusia yang mencoba mendeketkan diri kepada-Nya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aa Gym, juga fiksi Islami itu, adalah satu sisi wajah baru generasi Islam Indonesia yang dibangun dan ditegakkan dengan poligami dan pernikahan dini. Mereka tak pernah benar-benar mengaji kitabnya, tapi lebih gemar &lt;em&gt;grudak-gruduk&lt;/em&gt; memadati tablik akbar dan doa bersama. Di tengah acara tunduk kusuk mendengarkan kutbah sambil sesekali meneteskan airmata pertanda takut neraka, tapi sampai di rumah sudah lupa apa tadi pesan Pak Kiai di atas mimbar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giliran nonton TV, ketemu pelawak yang kini menjadi anggota DPR, diwawancarai &lt;em&gt;infotainment&lt;/em&gt; tentang poligami dan dengan cengengesan menjawab, "Masak ada sunah yang enak kok nggak mau!" Ketika sampai pada kata 'enak', wajahnya menampakkan ekspresi yang luar biasa mesum. O, kelak, bangsa ini harus membayar sangat mahal untuk kegagalan kaum laki-lakinya mengendalikan syahwat mereka. Makan tuh, manajemen kalbu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116530946198044402?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116530946198044402/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116530946198044402' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116530946198044402'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116530946198044402'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/manajemen-syahwat.html' title='Manajemen Syahwat'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116522878582045732</id><published>2006-12-04T02:36:00.000-08:00</published><updated>2006-12-04T23:10:41.400-08:00</updated><title type='text'>Gema</title><content type='html'>Novel &lt;em&gt;Waiting&lt;/em&gt; (diterjemahkan oleh Rahmani Astuti, &lt;em&gt;Sebuah Penantian&lt;/em&gt;, Bandung: Q Press, Agustus 2006) karya Ha Jin dibuka dengan kalimat yang menakjubkan. &lt;em&gt;Setiap musim panas, Lin Kong kembali ke Desa Angsa untuk menceraikan istrinya, Shuyu. &lt;/em&gt;Terpesona oleh keajaiban kalimat itu, saya pun iseng mengetik di &lt;em&gt;Google &lt;/em&gt;dengan kata kunci 'first line novel'. Di luar dugaan, keisengan saya bersambut. Saya menemukan daftar &lt;em&gt;100 Best First Lines from Novels&lt;/em&gt; bikinan &lt;em&gt;American Book Review&lt;/em&gt;. Dan, aha, saya menemukan kalimat pembuka &lt;em&gt;Waiting &lt;/em&gt;berada di peringkat 29 -setingkat di bawah &lt;em&gt;The Stranger&lt;/em&gt;-nya Albert Camus yang dibuka dengan kalimat, &lt;em&gt;Mother died today&lt;/em&gt;, dan jauh di atas &lt;em&gt;Mrs. Dalloway said she would buy the flowers herself&lt;/em&gt; dari novel &lt;em&gt;Mrs Dalloway&lt;/em&gt; karya Virginia Woolf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tahun ke tahun, Lin Kong berusaha menceraikan Shu Yu karena ia menikahi perempuan itu tanpa cinta. Ketika masih menjadi mahasiswa kedokteran militer, Lin Kong sudah ditunangkan dengan Shu Yu untuk sebuah alasan yang tak bisa ia hindari oleh siapapun yang ingin menjalankan tugasnya menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Namun, ketika pulang dan bertemu dengan tunangannya itu, ia kecewa. Kekecewaan itu ia pendam sampai 18 tahun, ketika akhirnya berhasil menceraikan Shu Yu untuk menikahi perempuan yang dicintainya, Manna Wu, perawat sekaligus mantan muridnya di rumah sakit militer tempat dia bekerja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Waiting&lt;/em&gt; adalah sebuah kisah cinta yang sederhana, dan dituturkan dengan bahasa yang tenang dan bersahaja pula. Tak ada emosi yang meledak-ledak, bahkan boleh dibilang nyaris tak ada ekspresi, namun ketenangannya itu begitu berwibawa, menyimpan pesona yang mampu menyedot pembaca untuk terus-menerus menyediakan kesabarannya. Daya tarik utama novel ini memang bukan pada kisah cintanya itu sendiri, namun bagaimana semua itu diungkapkan lewat tokoh-tokoh yang mewakili sebuah situasi zaman: China di masa abad ke-20 yang berjalan gamang di atas revolusi kebudayaan. Yakni, ketika buku-buku bermuatan ideologi dan sintimen borjuis Barat (asing) dilarang, dan hubungan dengan negara tetangga (Rusia) masih diwarnai ketegangan militer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lin Kong dan Manna Wu mewakili karakteristik manusia urban kota yang telah dicerahkan dengan ilmu pengetahuan, sedangkan Shu Yu mewakili kekolotan dan keluguan masyarakat yang belum tersentuh modernitas. Ia selalu setuju setiap Lin hendak menceraikannya, tapi begitu duduk di depan hakim, ia menangis sehingga perceraian itu selalu gagal. Dan, Lin harus kembali ke kota dan memberi tahu Manna Wu bahwa mereka harus menunda pernikahan mereka sekali lagi. Novel ini adalah metafor tentang hidup itu sendiri, tempat manusia-manusia terkurung dalam ritme yang membingungkan, antara nasib dan usaha untuk berdamai dengannya. Lin dan Manna memang berhasil melewati masa penantian yang panjang. Tapi, setelah itu apa? Cinta ternyata tak seagung seperti yang dipuja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ha Jin, lewat &lt;em&gt;Waiting&lt;/em&gt;, telah menampilkan sebuah dunia yang tak hitam-putih. Konsep-konsep keyakinan manusia dijungkirbalikkan dan pembaca dibentur-benturkan dengan keras sebelum akhirnya tercenung, terengah-engah: kesetiaan tak seperti yang dipikirkan dan hanya dipisahkan oleh garis yang sangat tipis dengan pengkhianatan. Impian-impian kebahagiaan hanyalah ironi yang tak pernah benar-benar terpahami. Menanti, pada akhirnya, ternyata tak punya ujung selain kesia-siaan yang menyakitkan. Tapi, apakah lantas hidup menjadi tidak bermakna setelah tahu bahwa segala yang dikejar dengan penuh perjuangan ternyata tak seindah yang dibayangkan? Novel yang baik tidak pernah selesai dibaca walaupun sudah sampai di halaman terakhir. Novel yang baik meninggalkan gema yang panjang di benak dan hati pembacanya. Begitulah &lt;em&gt;Waiting, Sebuah Penantian&lt;/em&gt; karya Ha Jin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116522878582045732?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116522878582045732/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116522878582045732' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116522878582045732'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116522878582045732'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/12/gema_04.html' title='Gema'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116477526868277313</id><published>2006-11-28T20:38:00.000-08:00</published><updated>2006-11-28T20:41:08.746-08:00</updated><title type='text'>Nopember</title><content type='html'>sebatang rumput&lt;br /&gt;menggigil&lt;br /&gt;di atas genangan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;lelaki di bawah payung&lt;br /&gt;melangkah&lt;br /&gt;menyeberangi hujan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/33530138-116477526868277313?l=mumualoha.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://mumualoha.blogspot.com/feeds/116477526868277313/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=33530138&amp;postID=116477526868277313' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116477526868277313'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/33530138/posts/default/116477526868277313'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://mumualoha.blogspot.com/2006/11/nopember.html' title='Nopember'/><author><name>mumu</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14140719804479163592</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-33530138.post-116477472208497916</id><published>2006-11-28T20:24:00.000-08:00</published><updated>2006-11-28T20:32:02.323-08:00</updated><title type='text'>Dongeng yang Me(nye)mbunyikan Realitas</title><content type='html'>Semua orang pada dasarnya menyukai dongeng atau cerita fantasi. Pesona dongeng tak membedakan usia. Serial &lt;em&gt;Harry Potter&lt;/em&gt; yang  notabene cerita anak-anak, nyatanya digandrungi pula oleh orang dewasa. Penerbitan kembali karya-karya fantasi dari khasanah klasik seperti serial &lt;em&gt;Lord of the Rings&lt;/em&gt;-nya Tolkien atau pun &lt;em&gt;Chronicle of Narnia&lt;/em&gt;-nya Lewis juga disambut dengan gegap gempita oleh pembaca segala kalangan dan usia. Dan, ketika karya-karya tersebut difilmkan pun, berhasil menyedot perhatian dan menyihir penonton di seluruh dunia dari segala lapisan umur pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangkitnya kembali minat dan gairah dunia pada kisah fantasi mengimbas pada penulisan cerpen di Tanah Air. Dari yang sudah mapan seperti Linda Christanty (&lt;em&gt;Kuda Terbang Maria Pinto&lt;/em&gt;) hingga penulis dari generasi yang datang belakangan, seperti Intan Paramadhita (&lt;em&gt;Sihir Perempuan&lt;/em&gt;). Namun, cerpenis yang paling kuat mengembangkan daya fantasi dalam karya-karyanya adalah Ucu Agustin, yang meluncurkan buku kumpulan cerpen berjudul &lt;em&gt;Dunia di Kepala Alice &lt;/em&gt;di ajang &lt;em&gt;Q! Film Festival 2006&lt;/em&gt; di Jakarta, September lalu. Ini merupakan buku kumpulan cerpen kedua setelah tahun lalu dia menerbitkan &lt;em&gt;Kanakar&lt;/em&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari &lt;em&gt;Kanakar&lt;/em&gt; ke &lt;em&gt;Dunia di Kelapa Alice&lt;/em&gt;, Ucu memperlihatkan diri sebagai penulis yang konsisten dengan gaya dan bentuk dongeng dalam cerpen-cerpennya. Pada Linda, juga Intan, dongeng memang menjadi nafas, namun belum merupakan nada dasar yang digeluti secara total dan intens untuk membangun cerita. Sedangkan pada Ucu, cerpen seolah-olah langsung identik dengan dongeng, dan itu tampak jelas pada 11 cerpen dalam buku ini. Setelah Danarto, barangkali baru Ucu Agustin penulis di negeri ini yang sejak  semula sudah dengan sangat sadar menciptakan -apa yang disebut Umar kayam- "dunia alternatif" dalam cerpen-cerpennya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang pernah dilakukan Danarto, Ucu memahami dunia dan kehidupan bukan sebatas pengalaman rutin sehari-hari. Bedanya, pada Danarto, setidaknya yang tampak dalam empat kumpulan cerpen pertama dia (&lt;em&gt;Godlob, Adam Ma'rifat, Berhala&lt;/em&gt; dan &lt;em&gt;Gergasi&lt;/em&gt;), ada suasana mistis yang dikembangkan, yang terpengaruh oleh alam pikiran dan batin Islam serta Kejawen. Sementara pada Ucu, mungkin karena tumbuh di masa yang berbeda, lebih kosmopolit. Atau, dalam bahasa Ayu Utami yang memberikan komentar singkat di sampul belakang buku, yang diusung Ucu adalah “perkara kontemporer”. Dari soal kekerasan seksual terhadap anak-anak,  perempuan yang diperkosa alien hingga nekrofilia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, realitas yang suram, "ganjil" dan pedih diramu dalam dongeng-dongeng indah, kadang ajaib. Bagi Ucu, seperti terbaca dari pikiran salah satu tokoh ciptaannya, Alice dalam cerpen yang menjadi judul buku ini, “Semua masuk akal di kepala." Dengan keyakinan seperti itu, maka  kita saksikan begitu tangkas Ucu sebagai juru cerita mengaduk-aduk dunia nyata dan khayal, mempertemukan mitos dan modernitas (astronomi, teknologi), serta mengaburkan batas dunia orang dewasa dan kanak-kanak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerpen yang secara kuantitatif menuntut kepadupadatan alur tutur, disiasati dengan kekayaan metafor, kekuatan bahasa puitik dan kemahiran bermain-main dengan teknik dan sudut pandang. Sehingga menjadikan dunia dalam cerita-cerita Ucu begitu luas, kompleks dan penuh kejutan. Obsesinya pada dongeng menjadikan dunia kanak-kanak -yang identik dengan &lt;em&gt;genre&lt;/em&gt; tersebut- mendapat porsi yang besar dalam cerpen-cerpen di buku ini. Cerpen &lt;em&gt;Vacuum Cleaner&lt;/em&gt; membuka antologi ini dengan kisah seorang anak penderita keterbelakangan mental yang menyedot kedua orangtuanya ke dalam alat pengisap debu. Sedangkan seorang anak kecil dalam cerpen &lt;em&gt;Dunia di Kepala Alice&lt;/em&gt; memasukkan kepalanya sendiri ke dalam &lt;em&gt;oven&lt;/em&gt; hingga mengembang seperti roti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dua cerpen yang ditempatkan pada bagian awal buku tersebut, pembaca seolah langsung diberitahu bahwa dunia yang dibangun Ucu bukanlah dunia yang kita akrabi sehai-hari. Namun, juga tidak serta merta dunia yang tak berpijak pada "realitas sosial". Di sinilah kepiawaian Ucu sebagai tukang dongeng. Ia menampilkan realitas dengan cara yang halus, tidak vulgar, kadang seperti sengaja menyembunyikannya. Alice, bocah penyendiri yang mencoba membangun dunianya sendiri dalam Dunia di Kepala  Alice tadi ternyata korban pelecehan seksual laki-laki dewasa tetangganya. Pengalaman traumatis itu teras
