Film "Mereka Bilang, Saya Monyet": Sebuah Esei Biografis
Film yang tengah diputar di Blitz dan dirayakan sebagai bagian dari "revolusi digital di jagat sinema" ini bagi saya lebih menyerupai sebuah esei ketimbang fiksi.
Sebuah esei biografis tentang bagaimana seorang perempuan merebut tempat di tengah pusaran sastra Indonesia. Tentang kekerasan yang melatari lahirnya sebuah cerpen berjudul "Lintah". Tentang menjadi perempuan simpanan seorang mentor, dan tentang menulis sambil menenggak bir kalengan.
Semua terasa begitu "nyata", antara lain diwakili oleh syut atas halaman koran Kompas yang memuat cerpen itu. Dan, penonton pun, sebagian penonton, menduga-duga, siapakah si mentor? Siapa pula pengusaha yang muncul sekilas itu?
Menonton debut penyutradaraan Djenar Maesa Ayu ini jadi terasa seperti sebuah petualangan mencocok-cocokkan antara fakta dan fiksi, dan saya begitu menikmati kesibukan itu. Dan, dalam banyak hal, ini jauh lebih menarik ketimbang filmnya itu sendiri. Sulit bagi saya untuk peduli dengan cerita tentang pelecehan seksual yang dialami oleh perempuan yang kelak di kemudian hari bisa begitu leluasa untuk memilih lelaki yang menidurinya karena "butuh belanja, bayar apartemen dll".
Dan, apa sih makna pelecehan seksual jika kelak yang bersangkutan bisa dengan sentausa menjadi simpanan seorang penulis tua agar terorbit karir menulisnya?
Terlalu banyak gosip tentang Djenar sejak pertama kali kemunculannya di jagad sastra, sehingga ketika semua yang pernah terdengar secara bisik-bisik itu terproyeksikan dalam film ini, sepertinya sudah tak ada yang menarik lagi.
Tapi, saya suka dengan metafor lintah itu. Saya suka dengan cara film ini bertutur. Gambar-gambar yang tampil lugu, bahkan mentah, menjadi begitu termaafkan berkat struktur penceritaan yang bagus. Saya terbuai oleh dinamisasi adegan demi adegan yang dengan tangkas keluar-masuk berpindah-pindah dari masa kini ke masa lalu dengan lompatan-lompatan yang smooth. Meskipun, layaknya sebuah esei, film ini memuat begitu banyak ide, dan dalam film kadang-kadang ide hanyalah kata lain dari "komentar sosial" yang disisipkan di sana-sini, dari soal bagaimana realitas harus dipandang sampai ke isu sastra wangi.
Satu lagi yang menarik, soal moralitas. Film ini begitu ngotot untuk melarikan diri sejauh-jauhnya dari unsur tersebut, namun semakin jauh itu bisa dihindari, semakin tampak bahwa ada ketikdajujuran di sana. Hingga pada akhirnya, Djenar menyerah, oke, menjadi liar itu memang tidak mudah, ketika film sampai pada adegan pertengkaran sang tokoh utama dengan dua perempuan sahabatnya.
Setelah tokoh kita itu membentak kedua sohibnya untuk turun dari mobil, kamera terus mengikuti masing-masing, dan saya seperti terbanting ke "dunia nyata": yang satu sampai di rumah menangis karena ingat hidupnya yang hampa tanpa anak, yang satu lagi menangis menyaksikan anaknya tidur di sisi pembantu --wajah-wajah mereka seperti pendosa yang insaf. Gubrak. Jangan-jangan itulah "wajah" Djenar yang sesungguhnya, yang sepanjang film tadi ia tutupi dengan adegan-adegan ngewe, kaleng-kaleng bir kosong dan dialog-dialog vulgar. Duh.

3 Comments:
jadi overall, film ini bagus? ah, harus nonton. secara aku lumayan suka tulisan2nya, dan si mbak satu itu seksi banget banget banget :D
Setuju ini memang bagus..dan saya membayangkan sedikit ' lebih noir ' daripada harus vulgar.
Welcome Jenar..
Keliaranmu membuat batas itu tak pernah ada.
Waduh... jadi penasaran. Padahal kayaknya nggak bakal main di Semarang nih. Nunggu di rental lama nih...
Salam kenal
Post a Comment
<< Home