pop | arts whatever

Thursday, March 29, 2007

Yang Resah dan Yang Romantis: Subkultur Remaja di Jakarta

Situasi yang tak bisa saya jelaskan di sini, menyemplungkan saya dalam sebuah pensi. Ini dunia kaum remaja yang tak pernah diperhitungkan oleh para pengkaji budaya. Remaja, selama ini, hilang dari halaman media massa; atau, hadir sesekali sebagai berita buruk: tawuran, ebege jual diri di mall dan catatan-catatan lain tentang "sebuah kalangan yang dangkal dan seragam." Memang susah melihat sekeping koin dari dua sisi sekaligus. Satu sisi pasti lebih terlihat dari yang lain, atau kadang-kadang satu sisi menutupi sisi yang lain. Pensi-pensi itu biasanya memang terkurung di balik dinding stadion, atau lingkungan sekolahan. Ada juga sih yang digelar di lapangan terbuka tapi koran hanya memberitakan kalau ada kejadian rusuh, huru-hara dan lempar-lemparan molotov. Ah, bagaimana membuat mereka mengerti bahwa remaja-remaja itu adalah anak-anak yang manis, yang datang hanya untuk musik, seperti selalu diteriakkan Jimmy, vokalis The Upstairs dari atas panggung, "Kita datang hanya untuk musik, My friend!."

The Usptairs adalah band (indie) yang tergolong paling laris diminta tampil di pensi. Malam itu mereka tampil dan saya berada di tengah-tengah para modern darling --sebutan untuk penggemar The Upstairs-- yang berpenampilan unik. Mereka berdansa resah --sebutan untuk goyangan tubuh para modern darling ketika mendengarkan lagu-lagu band pujaan mereka. Atau, dalam istilah Utha Likumahua pada 1980-an: dansa suka-suka. Tapi, dari segi musikalitas, The Upstairs mengusung harmonisasi yang lebih jadul dari itu, yakni 70-an. Jimmy meniru habis Rolling Stone dan para penggemarnya barangkali tidak tahu-menahu bahwa idola mereka berkiblat pada seorang musisi veteran berbibir dower yang sekarang sudah sangat tuwir. Belakangan, ikon lidah menjulur lambang Rolling Sote kembali ngetren, tercetak di kaos-kaos, termasuk yang berharga 15 ribu yang dijajakan di Blok M bawah tanah.

Musik memang tak pernah lepas dari fashion, dan gaya-gaya tertentu, seperti tarian. Bagi Jimmy, remaja adalah masa yang paling bergejolak, meresahkan sehingga perlu dilampiaskan dengan sebuah pembebasan dalam bentuk dansa, dan mereka menamakannya dansa resah. Salah satu lirik mereka berbunyi, "bebaskan kami, kami frustrasi". Tapi, ketika menirukan lirik tersebut, sambil berjoget, wajah-wajah para modern darling yang memenuhi Istora Senayan malam itu jauh dari ekspresi frustrasi. Jelas mereka anak-anak sebenarnya tak pernah menghadapi problema hidup, bahkan yang paling sepele sekalipun. Berbeda dengan puluhan anak-anak lain sebaya mereka yang tak mampu membayar Rp 33 ribu untuk tiket masuk sehingga hanya bergerombol di luar. Untuk pensi-pensi yang digelar di lapangan, golongan ini biasanya "menunggu pagar jebol" agar bisa masuk gratis, tapi pensi gelaran SMU Labschool Rawangun yang bertitel Labs Project in Evolution itu (17/3/07) itu tak akan pernah memberi kesempatan itu. Sebelum acara bubar, ketika DJ Riri beraksi sebagai penutup, saya keluar dan masih menyaksikan anak-anak itu berdiri di depan pintu pagar, yang dibiarkan terbuka tapi dijaga tentara. Mereka berpenampilan sama dengan anak-anak yang ada di dalam Istora, tapi orang mudah sekali mengenali kelas sosial mereka. Sembah sujud untuk Marx yang maha benar dengan teori kelasnya, yang berlaku juga untuk kehidupan sosial para remaja.

Tapi, mungkin terlalu nyinyir kalau soal kelas tersebut dimasukan dalam pembicaraan tentang subkultur remaja. Pada kenyataannya, meskipun tak bisa dihapuskan, jurang perbedaan itu tersamarkan oleh penyeragaman penampilan. Para modern darling mengenakan celana katun motif kotak-kotak warna gelap, atau polos warna ngejreng, dipadu dengan kemeja lengan panjang yang membungkus tubuh dengan ketat. Kacamata berbingkai plastik warna putih tak pernah ketinggalan. Kostum kebesaran seperti itu bisa didapat dari hunting di Pasar Senen, tapi bisa juga dari distro-distro di sepanjang Tebet Utara. Dalam pensi, semua lebur di bawah siraman lampu panggung dan keringat dingin, membaur dalam kolektivitas gerak. Mereka berdansa dengan memutar-mutar kedua lengan ke segala arah, merendahkan badannya dengan menekuk lutut dan menggoyang-goyangkan kepala. Ada yang membentuk lingkaran-lingkaran kecil, tapi ada yang benar-benar asik sendiri. Di sinilah ambiguitas yang ajaib dari musik The Upstairs diuji: lagu-lagu mereka bisa mewadahi aspirasi kebersamaan dan individualisme sekaligus.

Pada bagian atas tribun, beberapa cowok berderet menari bersama sambil membuka bajunya. Sebuah pemandangan yang cukup mencolok di atara mereka adalah seorang remaja bertelanjang dada namun mengikatkan suspender di tubuhnya dan menutupi kepalanya dengan topi koboi. Ketika penampil berikutnya muncul, yakni Club Eighties, cowok-cowok tanpa baju tadi melepas celana pipa sempit mereka dan hanya menyisakan boxer pink, seolah mereka adalah remaja-remaja 80-an ala Si Boy, yang alim sekaligus nakal. Agak sulit, tentu saja, menarik kesimpulan tentang misalnya identitas seksual mereka berdasarkan ketelanjangan di arena pensi. Namun, setidaknya inilah satu sisi potret subkultur remaja di Jakarta yang unik. Saya menemukan keasikan dari menonton para penonton itu, karena selalu ada yang "baru" dari sudut-sudut yang berbeda. Di deretan remaja-remaja yang duduk rapi di bangku tribun, terdapat empat cowok berkaos hitam. Dua orang di antara mereka menarik perhatian karena: yang satu membawa boneka robot yang bisa menyala dan yang satunya meskipun berkaos gambar tengkorak, tapi di tas selempangnya bergelayut boneka mungil nan lucu!

Ketika Club Eighties menyanyikan lagu andalan mereka, Dari Hati --salah satu lagu terindah yang pernah diciptakan musisi Indonesia-- penonton yang beberapa saat sebelumnya berdansa resah itu, berdiri kaku, khitmad dan dengan penuh perasaan ikut menyanyi. Termasuk, empat cowok berkaos metal itu --salah satu dari mereka mengacung-acungkan robotnya yang menyala sambil bersenandung: kuingin kau menjadi milikku walau bagaiaman caranya lihatlah mataku untuk memintamu...Bagi saya tak ada adegan dari film atau sinetron apapun yang tingkat keromantisannya melebihi pemandangan itu.

Pensi menjadi area bertemunya sebuah subjek yang tak lagi hanya bisa dimaknai sebagai sebuah kategori umur psikologis, melainkan juga kecenderungan-kecenrungan yang lebih politis. Yang resah dan yang romantis adalah satu kesatuan: mereka menyukai band-band yang sama, cita rasa dan selera mereka pada fashion juga tak jauh beda. Mereka mengenakan kaos metal karena salah satu band yang tampil bernama Siksa Kubur, tapi mereka juga melengkapi diri dengan boneka dan aksesori lain karena mereka adalah para modern darling, yang juga menyimpan histeria pada Desta dkk.

3 Comments:

Blogger @beradadisini said...

wow. saya jadi terharu baca tulisan ini. kebayang banget suasananya. dan saya setuju kalau DARI HATI itu adalah salah satu lagu indonesia terindah :) musiknya bagus, liriknya juga ... duh.

6:35 PM  
Blogger oakleyses said...

louis vuitton outlet, oakley sunglasses, michael kors handbags, cheap jordans, prada handbags, uggs outlet, michael kors outlet, oakley sunglasses, uggs on sale, ray ban sunglasses, burberry outlet, tiffany jewelry, uggs on sale, kate spade, gucci handbags, ray ban sunglasses, prada outlet, longchamp outlet, louboutin uk, burberry factory outlet, tory burch outlet, nike air max, tiffany jewelry, christian louboutin, louboutin shoes, oakley sunglasses, cheap oakley sunglasses, chanel handbags, michael kors outlet store, louis vuitton outlet, nike outlet, ralph lauren polo, louis vuitton, christian louboutin, michael kors outlet online, longchamp outlet, uggs outlet, michael kors outlet online, nike air max, longchamp bags, replica watches, ralph lauren outlet, oakley sunglasses, ray ban sunglasses, louis vuitton outlet online, nike free, michael kors

6:58 PM  
Blogger Unknown said...

oakley sunglasses wholesale
adidas outlet
puma outlet
ray ban outlet
michael kors outlet
jordan shoes 2015
north face outlet store
new orleans saints
cyber monday deals
giuseppe zanotti outlet
ugg boots
nike running shoes
green bay packers
juicy couture tracksuit
babyliss flat iron
ugg boots
swarovski outlet
oklahoma city thunder
michael kors outlet online
moncler outlet

12:58 AM  

Post a Comment

<< Home