pop | arts whatever

Tuesday, April 03, 2007

Jakarta, Buku Itu, Film Ini

Jakarta Undercover (strd: Lance, skrip: Joko Anwar), ternyata, bukan film yang diangkat dari buku berjudul sama karya Moamar Emka. Melainkan, ini film yang dibuat dengan mendompleng"kesuksesan" buku tersebut. Saya kira, kalau film ini diberi judul lain mungkin tidak akan ada bedanya apa-apa. Apakah para kreator di balik film ini segitu tak percaya dirinya sehingga harus meminjam judul buku itu untuk cerita yang sebenarnya memang sudah menjadi fenomena umum di Jakarta, dan bukan monopoli liputan eksklusif Emka?

Tapi, ada baiknya juga bahwa film ini sebenarnya tak memfilmkan buku itu. Maksud saya, buku sampah berselera murah(an) itu. Ah, Anda terlalu tahulah maksud saya. Bagaimana membayangkan bahwa buku "seperti itu" difilmkan? Tentu saja saya tahu benar bahwa buku itu laris bukan kepalang. Tapi, ya, justru itulah soalnya. Bukankah yang laku itu biasanya buku yang buruk --atau, Anda pura-pura tak tahu itu?

Jadi, sekali lagi, bahwa film ini ternyata tidak benar-benar memfilmkan buku itu, adalah fakta yang paling menggembirakan dari film ini. Selebihnya? Setelah banci itu mati, penonton sudah tahu apa yang akan terjadi. Kita sudah menyaksikannya beribu-ribu kali dalam film-film Hollywood. Intinya, saksi pembunuhan harus dilenyapkan. Dan, semua itu terjadi dalam semalam. Viki (Luna Maya), saksi itu, harus terus berlari dari kejaran para pelaku, Haryo (Lukman Sardi) dan dua kawannya.

Selebihnya? Semuanya berjalan sesuai rumus yang sudah dihafal di luar kepala. Ada yang mencoba melindungi Viki, tapi si pelindung ternyata musuh lama para pelaku, sehingga terjadi negosiasi. Tentu saja Viki bisa lolos, untuk mencari tempat bersembunyian yang lain. Tapi, para pelaku itu kan anak-anak pejabat, yang punya banyak teman, yang sekali telepon, banyak yang bisa membantu mendeteksi keberadaan Viki. Jadi, ke mana pun dia lari, dengan gampang Haryo dkk menemukannya. Memang begitulah aturannya. Kalau semua bisa digampangkan, kenapa harus susah-susah.

--Dibikin begini saja, pasti juga ada yang memuji kayak gini kok, "Yang membuat Jakarta Undercover berbeda dengan film Indonesia lainnya, yang lain mencoba jadi pintar tapi jatuhnya bodoh. Jakarta Undercover bodoh dengan sengaja tapi tak jarang jatuhnya pintar." Puji Tuhan, kita hidup di zaman ketika satu-satunya cara yang dianggap sah untuk menjadi pintar adalah dengan tidak terlihat pintar, atau berpura-pura tidak pintar.--

Tinggal diperkuat saja dengan penokohan yang "aneh-aneh": Haryo yang gemar nge-fuck banci sampai (si banci) mati; lesbian tua bertato naga di punggungnya. Dan, hei, keduanya sangat berkuasa, dan saling berebut wilayah kekuasaan. Selebihnya? Tentu saja setelah berkali-kali hampir tertangkap, Viki akhirnya bisa melakukan serangan balik lewat cara yang unik dan tak tersangka-sangka oleh para pengejarnya. Selebihnya? Sebuah kesimpulan: di kota ini tak ada yang benar-benar kalah atau benar-benar menang. Ah, ternyata hanya sebuah dongeng-modern lain tentang "sekejam-kejamnya ibu tiri lebih kejam ibu kota."

Joko Anwar, dapat salam dari (alm) Ateng!